Sisterzone

Sisterzone
Izin


__ADS_3

Alia mengerjap pelan. Pemandangan yang menyambutnya ketika ia membuka mata adalah tangannya yang tergenggam erat oleh tangan lain yang lebih besar. Alia mendongak, menatap wajah tampan yang sedang pulas tertidur. Jarak wajah mereka tidak begitu jauh, membuat Alia bisa lebih memperhatikan bentuk sempurna wajah itu.


Perlahan, senyum Alia mengembang. Ia senang bisa melihat Daniel nyenyak tertidur seperti ini. Alia terlalu mengantuk tadi malam, sehingga ia tak tahu kapan tepatnya Daniel menyusul ke alam mimpi.


Alia terbangun karena tubuhnya lumayan pegal setelah berbaring miring terus menerus. Ia perlahan memposisikan tubuhnya untuk duduk. Dengan hati-hati ia melepaskan tangan yang digenggam Daniel. Alia tidak ingin membangunkan pria itu, takut tidurnya tidak cukup semalam.


"Dia bahkan masih memakai jam tangannya," gumam Alia dengan suara sangat kecil. Ia menyempatkan melihat waktu, masih pukul dua dini hari. Alia masih punya cukup waktu untuk tidur, tapi ia menundanya.


Alia kembali menatap Daniel. Hanya di kondisi seperti ini ia tidak perlu mendongak untuk menatapnya. Alia mengusap lembut rambut Daniel. Ia sendiri suka dengan usapan di kepalanya, membuat tenang dan nyaman. Tapi Alia sama sekali tak suka jika Daniel yang melakukan itu padanya. Sebagai kakak, itu cukup menyakiti perasaannya.


Semalam, ia meletakkan bukunya di meja dekat ranjangnya. Alia berusaha mengambil lagi buku itu tanpa harus turun dari ranjang. Ia tak langsung membuka bukunya, melainkan melirik pintu kaca. Sengaja ia tak menarik gorden tebalnya tadi malam. Cuacanya masih bagus. Alia menatap berkas cahaya rembulan yang menembus tirai tipisnya, membentuk pola jaring di lantai.


"Tidurlah lagi."


Suara berat itu membuat Alia cepat menoleh. Ia melihat kelopak mata Daniel yang sedikit terbuka.


"Kau saja yang lanjut tidur," ujar Alia pelan.


Daniel menggeleng, lalu mengerang pelan. "Bantu aku tidur lagi."


Dengan satu gerakan cepat, Daniel meraih Alia yang sedang duduk. Satu tangannya diselipkan di belakang lutut Alia, sementara tangannya yang lain ada di punggung wanita itu, mengapit kedua lengannya.


"E-eh!" pekik Alia.


Daniel melakukannya dengan cepat. Ia setengah mengangkat tubuh Alia dan menggesernya ke arah Daniel. Rapat pada tubuhnya. Alia sendiri tidak menyangka gerakan cepat itu. Ia melihat Daniel masih setengah tertidur. Pria itu masih menutup mata saat ia merapikan selimut dan membuat Alia terbungkus olehnya.


Alia tak bisa berbuat apapun saat Daniel lanjut memeluknya erat. Ia tidak lagi bisa memperhatikan wajah Daniel sebab sekarang dagu pria itu ada di puncak kepalanya. Dada bidang Daniel yang tertutup piyama tipis menjadi pemandangannya ketika menatap lurus. 


Satu tangan Daniel ada di atas kepala Alia. Satunya lagi memeluk pinggang rampingnya. 


Alia tersenyum tipis. Ia berpikir bahwa Daniel pasti masih kelelahan, sehingga alih-alih memberontak, Alia turut membalas pelukan itu.


"Hm?" Alia meletakkan satu tangannya di dada Daniel, merasa heran saat menyadari deburan keras disana. Tapi Alia tidak berniat menanyakan kondisi Daniel. Ia berharap tidak terjadi sesuatu dan ingin Daniel segera mendapatkan kembali ketenangan tidurnya.


'Hangat,' pikir Alia. 


Hanya butuh waktu beberapa menit sebelum Alia kembali tenggelam dalam buaian mimpi.


Bertolak belakang dengan Alia, Daniel justru masih terjaga. Walau matanya terpejam, tapi jantungnya masih berdebar. Terlebih saat Alia ikut melingkarkan tangan kecilnya. Ini tindakan nekat Daniel yang sama sekali tidak berdasar. Daniel berusaha menenangkan diri. Rasa senang di hatinya kadang disertai celaan. Ia tak ingin memastikan perasaannya sendiri. Hanya saja, jika waktu bisa dihentikan, ia ingin berada di posisi ini selamanya.

__ADS_1


Daniel bisa merasakan perubahan napas Alia yang semakin teratur. Ia cukup lega Alia tidak terganggu oleh perbuatannya. Daniel mengendurkan pelukannya, menunduk untuk menatap wajah Alia. 


"Imut," gumamnya lirih.


Tangan Daniel bergerak sendiri, mengelus lembut pipi wanita itu. Tangannya kemudian mengarah ke hidung, lalu turun ke bibir merah mudanya yang lembab. Daniel mengusap pelan bibir itu sambil meneguk ludah. Ia menyudahi kegiatannya saat merasa tubuhnya memanas. Daniel kembali mendekap Alia. Pikirannya kosong.


"Ah, sekali ini saja."


Daniel menarik pinggang Alia semakin merapat ke tubuhnya. Lalu melepas hati-hati pita biru gelap yang dipakainya. Daniel mendekatkan wajahnya di kepala Alia, menghirup aroma shampo yang dipakai wanita itu. Bibir tipis Daniel diletakkan di puncak kepala Alia, mengecupnya lembut.


Usaha Daniel menutup mata dan menenangkan dirinya tidak sia-sia. Ia bisa ikut terlelap bersama Alia hingga pagi menjelang.


Sinar lembut rembulan digantikan cahaya terang mentari.


Alia menggeliat. Ia baru akan membalik tubuhnya saat menyadari sebuah lengan yang memeluk pinggangnya. Alia otomatis berhenti bergerak. Ia mendongak dan menemukan Daniel yang ikut mengerjap pelan. 


Daniel mengganti posisi tidurnya menjadi telentang, ia melepas pelukannya pada Alia. Membiarkan wanita itu terbebas.


"Maaf membangunkanmu. Kalau lelah, tidur saja lagi sebentar. Kakak akan membangunkanmu satu jam lagi." Alia duduk dan menyampirkan selimutnya.


Daniel menggeleng. "Tidak, sudah waktunya bangun."


Daniel ikut duduk. Ia menggosok matanya sambil sesekali menguap.


Daniel menatap Alia dengan mata setengah terbuka. Bibirnya melengkungkan senyum. "Terimakasih. Semalam adalah tidurku yang terbaik."


Alia mengangguk paham, ikut senang dengan keterangan itu. Ia beranjak dari ranjangnya, melangkah pelan menuju pintu kaca. Tirai tipisnya disibak dan Alia membuka pintu kaca itu, membiarkan wajahnya diterpa angin dan sinar matahari pagi.


Alia kemudian berbalik, teringat sesuatu. Ia kembali mendekati Daniel, sempat meraih ponselnya di atas meja.


"Kakak lupa memberitahukan. Nanti sore Kakak akan pergi keluar untuk bertemu teman." Alia menunjukkan pesan berisi alamat sebuah tempat. "Ke tempat ini."


Daniel mengerutkan kening, menatap lama antara Alia dan pesan itu. 


"Kakak bisa sendiri. Cukup beritahukan saja, setelah keluar gerbang, harus ke arah mana untuk mendapatkan kendaraan umum?" jelas Alia lagi.


"Mau bertemu siapa?" Daniel tidak menjawab dan mengambil alih ponsel Alia. Memerhatikan nama pengirimnya. "Kevin? Seorang laki-laki? Sejak kapan kau punya teman laki-laki?"


"'Kau'?" Alia memiringkan kepala. Bukan pertanyaan Daniel yang ia pikirkan. "Sekarang dirimu sering lupa memanggil dengan sebutan Kak, ya?"

__ADS_1


Daniel tidak menanggapi, hanya menatap layar ponsel Alia.


"Dia yang mengantar Kakak pulang malam itu. Tidak ada salahnya bertemu dengan orang yang sudah berbaik hati." Alia menjelaskan setelah menghela napas.


"Apa orang ini yang Kakak maksud waktu itu?" tanya Daniel sekali lagi. Ia menggunakan pilihan kata yang disukai Alia. Tetapi raut wajahnya tajam.


"Ya, dia orangnya." 


Alia sedikit menyesali jawabannya. Kini Daniel mengeluarkan aura aneh yang membuat suasana jadi mencekam. Wajah kakunya semakin tertekuk sampai Alia merasa kalau pria pemalu yang berdiri di depan pintu kamarnya semalam hanyalah mimpi belaka.


"Apa boleh?" tanya Alia dengan hati-hati.


Daniel menghela napas panjang, lalu melirik Alia. "Memangnya aku berhak melarang? Tentu boleh. Tapi jika pria ini mencoba macam-macam, segera hubungi aku."


Alia menghembuskan napas lega. Ia sebelumnya sempat membuat alasan andai Daniel melarang, tapi itu tidak diperlukan.


"Aku akan meminta seseorang mencarikan pakaian yang bagus, sebutkan saja ukuran Kakak," tambah Daniel.


Alia menggeleng. "Tidak usa-"


"Jangan menolak," tegas Daniel. "Kakak harus sukses di kencan pertama ini."


Wajah Alia seketika memerah. "Kencan apanya?! I-ini cuma ketemuan biasa saja."


Ada perasaan menusuk yang menjengkelkan saat Daniel melihat Alia tersipu oleh perkataannya. Meski menyetujui dan bersikap mendukung, nyatanya Daniel tidak benar-benar suka dan itu nampak pada ekspresinya.


"Tak perlu keluar sendiri. Nanti akan kusuruh Aslan mengantar." Daniel mengucapkannya dengan nada ketus.


Alia menggaruk kepala, tidak tahu harus merespon apa. Ia hanya tidak akan menolak tawaran itu. Sekarang Alia mencoba menerjemahkan makna ekspresi dan nada bicara Daniel yang lebih berat.


"Ada yang menjaga rumah di Kota barat. Katanya mereka menerima boks kardus. Apa Kak Alia yang memesan?" tanya Daniel sambil mengalihkan pandangan. Takut jantungnya kembali berulah jika Alia terus menerus menatapnya.


Alia terhenyak, ikut mengalihkan pandangan. Untungnya Daniel tidak melihat kejutan di wajahnya tadi. "Ah, iya benar-benar. Aduh, sepertinya Kakak harus menghentikan pesanan itu."


Daniel mengangguk. Menatap Alia lagi. Wanita itu baru saja menemukan pita birunya yang terjatuh dan ingin mengikat rambutnya.


"Biar kubantu," ujar Daniel yang langsung beringsut ke belakang Alia.


"Haha, apa kau jadi ketagihan mengikat rambut? Makanya, panjangkan juga rambutmu itu." Alia tertawa pelan. Menyerahkan pitanya pada Daniel dan duduk dengan tenang.

__ADS_1


Tidak ada raut dingin seperti tadi, kini Daniel bahkan tersenyum kecil.


"Benar. Ini membuat ketagihan."


__ADS_2