
"Tetap hubungi aku, Alia. Mengerti?"
Alia mengangguk dan tersenyum cerah. "Aku juga akan sering mengunjungi Kota Barat."
Wilda masih merasa berat meninggalkan Alia. Tapi ia memutuskan untuk tetap pergi dari tempat itu. Meskipun Alia sudah meminta untuk tinggal sedikit lebih lama agar dirinya bisa beristirahat, Wilda tetap ingin segera pergi. Ada suatu hal yang membuatnya harus cepat pergi dari sini. Alia memahami perasaan berat Wilda. Yang pasti permintaan Alia tadi pastinya sedikit mengguncang Wilda.
Dengan kondisinya sekarang, Alia tidak bisa lagi bekerja di WR Coffee. Daniel juga tidak mengizinkan jika Alia harus tinggal lagi di Kota Barat, atau menempuh perjalanan pulang balik setiap harinya. Wilda pun tidak memiliki alasan apapun untuk menahan Alia tetap bekerja di tempatnya. Apalagi kehidupan Alia terlihat sangat terjamin disini. Tapi Wilda sudah terlanjur menyayangi Alia seperti adik kandungnya sendiri. Jadi ia terus mengulang kalimat yang meminta Alia untuk tidak putus hubungan dengannya.
"Orang bernama Wilda ini terlihat tulus."
Alia menoleh. Daniel sudah berada di belakangnya, menyusul Alia yang sedang mengantar Wilda. Saat ini mereka bisa lihat dari kejauhan, mobil Wilda yang baru melewati pintu gerbang.
"Kak Wilda memang orang baik. Dia banyak membantu," komentar Alia dengan senyum tipis.
"Bagaimana bisa Kakak mengenal bos dari WR Coffee? Itu bukan kebetulan kalian bertemu, kan?" Daniel bertanya tanpa merubah ekspresi datarnya, satu hal yang tidak berubah dalam lima tahun ini. "Hm? Kakak sudah setinggi leherku. Bagaimana bisa?"
Alia menepis tangan Daniel yang berusaha menyetarakan puncak kepala Alia dengan lehernya sendiri. "Latihan menambah tinggi badan," jawab Alia ringan.
"Oh." Daniel tidak peduli tangannya ditepis beberapa kali. Ia tetap meletakkannya di atas kepala Alia, sementara tubuhnya direndahkan. Kini wajah Daniel sudah setara dengan Alia. Hidung mereka hampir bersentuhan. "Tapi tetap saja lebih pendek."
Alia memberontak kesal dan meninju lengan Daniel. "Olokanmu dari dulu tak pernah berubah, ya."
Daniel menghindari beberapa pukulan Alia, lalu dengan wajahnya yang selalu serius ia menangkap kedua tangan wanita itu. "Latihan apa yang bisa menambah tinggi badan secepat itu?"
"Cepat darimananya? Lima tahun dan cuma bisa mengejar tinggi lehermu. Itu tidak adil," protes Alia. Ia tidak bisa menarik kedua tangannya dari cengkeraman kokoh Daniel. "Kau bertanya latihan seperti apa? Nah seperti ini."
Alia berhenti menarik tangannya. Ia justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi yang membuat lengan Daniel juga ikut naik. Wajah Daniel menjadi lebih serius dari sebelumnya. Ia menatap Alia yang sedang mendongak ke arahnya.
Untuk sesaat, Daniel mengagumi wajah manis yang sedang menatapnya itu. Menyadari bahwa Alia memang memiliki pesona tersendiri yang membuatnya menarik. Iris matanya yang hitam legam menarik penasaran dan menimbulkan decak kagum. Sisanya menghias manis dengan sangat sempurna. Pipinya yang bersemu, alis tebal, bulu mata lentik, dan bibir kecilnya yang sering menyunggingkan senyum terbaik selalu menjadi daya tarik unik seorang Alia. Daniel merasa hidung mungil Alia yang tidak mancung atau tidak juga pesek itu sangat pas dengan proporsi kemanisannya.
"Mau peluk?" tanya Daniel, sesaat setelah sadar dari lamunannya. Ia masih tak mengerti alasan Alia melakukan gerakan itu.
"Pull-up atau bergantung! Peluk apanya? Peluk kepalamu," jawab Alia sebelum menyentakkan tangannya, lolos dari pegangan Daniel. "Latihan gerakan itu secara konsisten. Sepertinya tetap membantu walau tak banyak. Sudah tua juga sih."
Alia melewati Daniel untuk masuk ke dalam, meninggalkan pria itu yang masih tercenung diam. Daniel batuk pelan, menggosok hidungnya salah tingkah. Wajahnya yang biasa diliputi ketiadaan ekspresi itu kali ini sedang memanas tak karuan.
__ADS_1
Apa ia baru saja mengatakan sesuatu yang tak masuk akal?
Daniel menggelengkan kepalanya, sedikit aneh dengan rasa malunya sendiri. Ia berbalik dan kembali menyusul langkah Alia.
"Apa kau pernah bertemu Kak Wilda sebelumnya?" tanya Alia saat tahu Daniel mengikutinya.
Daniel belum menjawab hingga Alia berbalik penuh ke arahnya. "Tidak pernah," jawabnya. Ia mencoba mencari perubahan pada wajah Alia atas kejadian memalukan tadi. Namun, wanita itu terlihat biasa saja.
"Tapi Kak Wilda terlihat tidak nyaman saat bertemu denganmu." Alia maju selangkah dengan berjinjit, menangkupkan dua tangan kecilnya di pipi Daniel sambil melotot. "Tidak mungkin kau membuatnya takut, kan? Wajahmu tampan begini dari sisi mananya yang bisa menakutkan?"
Daniel tidak menduga pergerakan cepat Alia.
"Wow, wajahmu merah. Apa kau demam?" tanya Alia memindahkan tangannya ke dahi Daniel dan dahinya sendiri, membandingkan panas dengan raut cemas. "Tapi suhu badan kita sama."
Daniel mundur menjauh dari tangan Alia. "Entahlah, rasanya sedikit panas. Sepertinya disini perlu ditambahkan pendingin ruangan."
Mendengar itu, Alia akhirnya mengangguk paham. Ia mengambil duduk di salah satu kursi, menunggu Daniel ikut duduk di kursi lain.
"Kau mungkin tidak merasakannya, tapi cara Kak Wilda memandangmu tadi memang seperti itu," lanjut Alia masih membahas topik yang sama.
Alia memiringkan kepala, menyadari ada satu pertanyaan Daniel yang terlewat dijawab olehnya saat masih di depan. "Oh bukan. Pertemuan kami tepat setelah Kakak mengantarmu ke Bandara. Saat itu, Kak Wilda menghampiri dan menawarkan pekerjaan."
Daniel mengerutkan dahi, merasa itu sebagai satu pertemuan yang aneh. "Menghampiri secara langsung? Maksudnya, Kak Wilda ini melihat Kak Alia, lalu tiba-tiba mengajak untuk bekerja di tempatnya?"
Raut wajah Daniel saat ini kembali menajam. Alia menyadari bahwa pilihan kata untuk kalimat penjelas berikutnya haruslah tepat. "Um, tidak seperti itu juga. Kak Wilda mengenalku dari seseorang dan atas perintah orang itu juga."
"Siapa?" tanya Daniel semakin agresif.
"Tante Rinda. Kau pasti mengenalnya. Dia dulu sering bermain dengan kit...." Volume mata Alia membesar. Ia merasa tubuhnya mendingin dalam satu waktu. Alia memperhatikan Daniel yang kini menatapnya penasaran.
Alia mengumpat dalam hati. Merasa telah membuat pilihan bodoh. Mengapa ia tidak memikirkan konsekuensi ini sebelumnya?
"Tante Rinda?" ulang Daniel. "Ah, sebentar, kurasa aku tak pernah mengingat nama dan orang ini. Siapa dia?"
'habislah,' pikir Alia sambil meneguk ludah.
__ADS_1
"Orang baik lainnya. Dia yang merekomendasikan Kakak pada Kak Wilda dan mengurus banyak hal. Kau masih kecil, jadi mungkin tidak begitu ingat," jawab Alia dengan senyum santai. Berusaha terlihat normal.
Daniel tidak segera merespon. Ia terlihat sedikit ragu untuk ucapan selanjutnya. "Ah, aku tak ingin menyimpannya sendiri lagi. Tapi, Kak, aku sungguh tidak ingat apapun. Setidaknya untuk ingatan di usia delapan tahun ke bawah. Sebenarnya apa yang terjadi dulu?"
Sebuah pertanyaan yang sangat ingin dihindari Alia akhirnya didengarnya jua.
"Ahahaha, jangan mengada-ada. Itu tidak mungkin, kan?"
"Aku serius," sanggah Daniel. "Beritahukan kejadian sebenarnya. Apa yang membuatku tidak bisa mengingat itu dan... kenapa harus di usia delapan?"
Alia membuka mulut lalu menutupnya lagi, terlihat ragu. Tetapi kemudian menghela napas dan bersandar seakan melewati hal yang sangat melelahkan. "Aduh... sebenarnya ini rahasia. Tapi apa boleh buat, lagipula kau sudah dewasa. Dengar ya, Daniel. Kau dulu itu anak yang nakal sekali. Susah diatur dan terlalu aktif. Kami lelah menasihatimu sampai kau jatuh dari dahan pohon tinggi dengan kepala terbentur lebih dahulu. Kau takkan ingat jika dulu pernah melalui masa kritis di rumah sakit. Untung saja kau berhasil selamat dan bisa melanjutkan hidup tanpa cacat sama sekali. Sayangnya kau kehilangan ingatanmu. Sekian alasan mengapa kau tidak bisa mengingat apapun sebelum umur delapan tahun itu."
Daniel tidak langsung percaya. Satu hal yang membuat Alia merasa was-was. Ia sudah mencoba yang terbaik untuk tetap santai dan tidak mencurigakan.
Penjelasan itu sebenarnya masuk akal. Daniel memang pertama kali mengingat saat ia membuka mata di sebuah ruangan putih, rumah sakit. Semua serba tiba-tiba. Seperti sudah digariskan untuknya, ia memiliki keluarga hangat dengan ayah yang berwibawa, ibu yang penyayang, dan kakak perempuan yang baik. Meski begitu, ia merasa seperti terasing dari keluarga ini, padahal perlakuan yang diterimanya bisa dikatakan sangat istimewa. Daniel hanya tidak bisa merasakan ikatan yang benar-benar seperti Keluarga di tempat itu. Beberapa hari setelah ia keluar dari rumah sakit, Daniel merayakan ulangtahun yang kedelapan. Itu sebabnya ia bisa mengingat pasti batas waktu hilangnya ingatan miliknya.
"Kak Alia tidak menyembunyikan hal lain?" tanya Daniel lebih bertujuan untuk memeriksa respon Alia.
"Memangnya apa lagi yang bisa disembunyikan?" tanya Alia ringan sembari mengangkat bahunya. Sesekali ia bergidik sendiri menyadari kemampuan aktingnya yang semakin membaik.
Daniel mencoba mencari celah dari respon Alia, tapi kemudian tidak melanjutkan. "Sekarang apakah kita berkesimpulan kalau Tante Rinda ini seorang penguntit?"
"Hei, jangan sembarang bicara. Tante Rinda katanya punya jaringan yang luas. Lagipula Kakak tak akan meragukan beliau hanya karena itu. Tante Rinda itu sahabat Ibu. Kakak juga sangat percaya padanya." Alia terlihat tidak suka oleh pilihan kata Daniel.
"Hanya untuk berjaga-jaga. Kak Alia bisa menganggap seperti itu. Tapi aku tidak," ujar Daniel tidak begitu peduli dengan reaksi Alia. Ia beranjak dari duduknya dan merapikan jasnya. "Ayo, Riki."
Alia menoleh ke belakang, pada Riki yang baru datang. Dari raut wajahnya, terlihat ia sedikit terkejut karena Daniel bisa menyadari keberadaannya dengan cepat. Ia baru saja selesai dengan bantuannya pada Dichey dan baru akan mengurus kegiatan selanjutnya. "Ah, aku akan mempersiapkan berkas-"
"Aku sudah menyelesaikan semua. Beberapa orang mengantarnya ke mobil, kita tinggal jalan," sela Daniel ringan.
Riki menatap sambil membuka mulutnya, mulai mencap diri sendiri tidak berguna.
"Mau kemana?" tanya Alia penasaran.
"Ada banyak yang harus diurus dalam pekerjaanku. Aku pergi sebentar." Daniel menepuk pelan puncak kepala Alia, membuat wanita itu sedikit risih. "Kalau bosan, Kakak bisa mencari Carla di perpustakaan. Itu tempat favoritnya, dia akan ada disana."
__ADS_1
Alia tidak jadi protes oleh sikap kurang ajar Daniel yang terus memegang kepalanya. Sekarang justru ada binar antusias di mata bulatnya. Satu hal yang ia nantikan memang berkaitan dengan gadis kecil itu.