
"Apa sih yang kulakukan disini?" Carla mengembungkan pipinya, mendengus kesal. Ia disuruh Daniel mengantarkan dan memeriksa gaun yang akan dikenakan Alia. Entah mengapa pria itu malah menyuruh Carla yang lebih sering berada di perpustakaan.
"Kau juga tidak ada kerjaan." Begitu kata Daniel.
Mau tak mau Carla harus menurut. Ia sedang berbaring di ranjang Alia. Menunggu Pemilik asli kamar menampakkan diri. "Hei, cepat!"
"Ini sudah selesai, kau jangan teriak-teriak terus." Alia menyahut cepat, pusing mendengar suara keras Carla.
Gadis itu segera bangun dan menatap Alia tajam. Diam-diam kagum dengan penampilan Alia sore ini.
Alia memakai gaun selutut yang dipesankan Daniel sebelumnya. Warna biru gelap dengan ornamen sederhana yang terlihat pas dengan ukuran Alia. Pinggangnya yang ramping terbentuk dengan indah sementara bagian dada, pundak dan lengannya tertutup. "Sepertinya Daniel berniat menyamakan warna gaunnya dengan warna pitaku."
Carla tidak berkomentar. Senyum miring menghias wajahnya, membuatnya terkekeh pelan. Ia merasa Daniel memilihkan warna itu karena alasan lain. "Oh, benar kata orang. Paras seseorang kadang baru bisa terpancar dengan tepat dari pakaian tertentu yang digunakannya."
"Apa kau baru saja memuji?" goda Alia. Tahu kalau Carla biasanya tidak suka memberikan pujian pada orang lain.
"Ya, kau terlihat lebih cantik." Carla berdiri dan mendekati Alia. "Kenapa? Kau terlihat heran dengan ucapanku."
Alia terperangah sesaat, lalu kembali normal dengan kalimat kedua Carla. "Ah, tidak-tidak. Terimakasih."
Carla bukannya tidak suka memuji. Dirinya hanya selalu menilai sesuai perasaannya yang paling jujur. Makanya banyak yang menganggap mulutnya sangat pedas jika sedang berkomentar. Carla tidak bisa menolak memberi pujian atas penampilan Alia yang terlihat cemerlang hari ini. Biasanya wanita itu selalu memakai celana dan baju-baju kebesaran, menghalau setiap orang melihat lekuk asli tubuhnya. Sekarang, walau hanya mengetatkan bagian pinggang, gaun yang dikenakannya bisa memancarkan sesuatu yang terlihat istimewa.
Sekali Carla tidak jujur saat mengemukakan pendapatnya adalah waktu Alia mengepangkan rambutnya. Harga dirinya saat itu terlalu tinggi untuk memuji orang baru kenal yang tidak disukainya. Padahal ia rela tidur dengan tidak melepas kepangan rambutnya saat itu karena menganggapnya bagus.
"Apa kau mengerti cara berias? Perlukah didatangkan ahli makeup?"
"Apa-apaan itu, tidak perlu. Kalau berias tipis-tipis aku juga bisa sendiri."
Carla mengambil dua kursi, menonton Alia merias wajahnya di depan meja rias. Sebenarnya tidak banyak yang perlu dilakukan. Alia hanya memberikan bedak tipis dan mengoles bibir kecilnya dengan lip-tint. Alisnya sudah tebal dan rapi, sehingga tak perlu lagi dibentuk. Sisanya, benar-benar sederhana. Tidak berlebihan dan memberikan sensasi segar bagi yang memandang.
Terakhir, Alia menata rambutnya. Ia tidak mengikat rambutnya asal seperti biasa. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai. Alia hanya mengambil sedikit rambut di dekat telinga dan menyatukannya di belakang dengan pita biru gelap.
"Bagaimana sekarang?" tanya Alia pada Carla.
Gadis itu hanya mengangguk. Tidak berkomentar.
"Apa kau mau mencoba model rambut sepertiku ini?" tanya Alia lagi. Ia membuka laci dan mengeluarkan pita berwarna biru muda. "Aku menitip pada Daniel untuk pita ini. Dia langsung membelikannya kemarin."
Carla berpikir sejenak. Ia tidak ingin menerima tawaran itu kecuali Alia memaksanya. 'Ayolah, paksa aku cepat!'
"Ya sudahlah kalau kau tak mau." Alia berniat meletakkan kembali pita ditangannya.
__ADS_1
"Eh, tunggu."
Kekesalan Carla memuncak saat melihat senyum jahil Alia saat menatap ke arahnya. Wanita itu pasti ingin mengujinya. Tapi Carla memang tidak ingin melewatkan hal ini begitu saja dan menyesal.
"A-aku mau," ujarnya sambil membuang muka, merasa malu. Ada sedikit rasa takut juga ketika memikirkan kemungkinan Alia menolaknya.
Namun, Alia tersenyum hangat. Ia menggeser kursinya menjadi lebih dekat dengan Carla. Tidak berkata apapun dan mulai menyisir rambut gadis itu.
"Berbaik-baiklah padaku sebelum kuceritakan satu hal padamu," gumam Carla dengan senyum pahit. "Biasanya setelah mendengar ceritaku, sikap orang-orang akan berubah."
"Apa ini tentang masa lalumu?" tanya Alia.
"Ya."
Alia tersenyum tipis. Apapun yang terjadi pada gadis kecil di hadapannya ini pastilah sesuatu yang mengerikan, terlepas usianya yang masih sangat muda. "Apa semua teman-temanmu tahu tentang ini? Enam pilar?"
"Jangan ikut-ikutan Edward menyebut enam pilar. Aneh sekali kedengarannya. Ya, mereka sudah tahu semua." Carla mengangkat bahu ringan.
"Apa sikap mereka berubah padamu?" Alia berhenti menyisir rambut.
Carla kini terdiam lama. "Tidak. Sikap mereka sama gilanya dengan yang semula."
"Mereka juga punya sisi gelapnya masing-masing. Lebih mudah menerima bagaimanapun layar belakangku. Berbeda denganmu yang bisa dikatakan hidup lebih normal," bantah Carla, berusaha menelan kembali air matanya. "Kau mungkin akan jadi salah satu yang bersikap berbeda."
Carla akui, Alia memang punya daya tarik yang membuat orang disekelilingnya merasa nyaman. Itulah yang membuat Carla berusaha menjauhinya. Tapi wanita itu jelas memiliki ketertarikan padanya, membuatnya sulit lepas. Carla takut jika suatu hari ia merasa dekat dengan Alia, tiba-tiba wanita itu menjauh karena jijik pada dirinya di masa lalu. Bukankah itu akan menyedihkan?
"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?" Alia mulai mengikat rambut Carla. "Jika ternyata sikapku berubah, kau harus datang dan berteriak untuk mengingatkanku."
Alia menatap pita biru muda yang menghias rambut pirang platinum Carla dengan senyum lebar.
"Seperti ini, nanti kau berteriak. 'Dasar wanita sialan! Kau lupa dengan janjimu? Apa-apaan sikapmu itu?!'" Alia mencontohkan dengan serius.
"Perjanjian apa itu? Kekanak-kanakan sekali." Carla mendengus untuk menutupi bibirnya yang hampir membuat senyuman. Carla segera membalik badan dan menatap pantulan dirinya di cermin.
"Sudah, berjanji saja." Alia mengambil tangan Carla dan menautkan jari kelingking mereka. "Wah, lihat, kalau tersenyum kau jadi manis sekali."
Carla menyentak tangan Alia dan melompat menjauh. Lebih untuk menutupi wajahnya. Ia tidak berkata apapun lagi dan langsung berjalan menuju pintu.
Alia tertawa keras sebelum menyusul Carla keluar. "Hei, tunggu!"
Carla tetap lebih dulu menuruni tangga. Bersamaan ia sampai di anak tangga paling bawah, Aslan juga baru akan naik. "Oh, apa sudah siap?" tanyanya.
__ADS_1
Aslan dan Carla sama-sama menoleh ke atas.
"Wah, lihat-lihat, Dewi Alia sudah sungguhan seperti dewi saja," puji Aslan.
"Kau kenapa disini? Mobilnya sudah siap?" Carla melipat tangannya di depan dada. Menatap Aslan dengan satu alis terangkat.
Alia baru turun tepat di dekat mereka saat Aslan baru akan menjawab.
"Ah, aku tadi mau ke atas untuk memberitahukan ini. Aku tak bisa mengantar Dewi Alia sore ini," ujarnya seraya tersenyum.
"Alia. Redalia. Bukan Dewi. Alia," koreksi Alia dengan suara kecil. Telinganya gatal mendengar sematan panggilan yang berlebihan itu. Sudah dari kemarin ia mendengarnya dan hampir tidak bisa menahan rasa mualnya lagi.
"Kau mau Kak Daniel murka? Dia, kan sudah menyuruhmu." Carla menggelengkan kepalanya.
Aslan menggaruk pipi dengan senyum kecut. "Itu masalahnya. Dia sendiri yang mau mengantar. Sekarang Daniel di ruang tamu."
"Eh?"
Mendengar itu, Carla dan Alia saling berpandangan. Alia terlihat kebingungan sementara Carla hampir tak bisa menahan tawa. Mereka bersama-sama menuju ruang tamu.
"Lihat orang sibuk itu," tunjuk Aslan saat mereka tiba. Daniel membelakangi mereka, terlihat serius dengan siapapun yang sedang ia telepon. "Dia rela meninggalkan pekerjaannya untuk melakukan ini. Untung karyawannya yang repot, bukan aku."
Daniel menyadari kedatangan tiga orang itu sejak awal. Ia menoleh kecil untuk memastikan sebelum langsung terdiam. "Ya, Riki. Seperti itu saja. Bekerjalah yang bagus," ujarnya langsung menutup telepon. Tak tahu kalau Riki diseberang sedang mengumpat frustasi.
Cukup lama Daniel hanya berdiam menatap Alia, terpana oleh penampilan wanita itu saat ini. Namun, saat tersadar, hanya ada perasaan kesal yang memenuhi hatinya. Ia tak begitu suka perubahan Alia. "Sudah siap? Ayo berangkat," ketusnya.
Alia masih kebingungan, tapi tetap melangkah mendekati Daniel.
Carla bersandar di dinding. "Yang kencan disini Alia dan Kevin atau Alia dan Kak Daniel?"
Aslan melotot, menganggap Carla gila sudah mengeluarkan pertanyaan itu. Meski begitu, ia menatap antara Daniel dan Alia. Pakaian yang keduanya kenakan senada, biru tua. Daniel memakai jas warna yang sama dengan Alia. Saat keduanya menoleh ke arah Carla secara serempak, Aslan tidak bisa tidak melihat kemistri cocok diantara mereka.
"Tentu saja aku dan Kev-"
Daniel menghentikan ucapan Alia dengan langsung menarik tangannya. Membawanya keluar bersama. Ia tidak ingin Alia menyebut nama itu di depannya.
Benar.
Alasan ia tak menyukai penampilan Alia sekarang bukan karena terlihat jelek atau tidak cocok. Alasannya adalah karena itu semua ditujukan untuk pria lain. Nyatanya, Alia sedang berusaha tampil lebih cantik dan menarik untuk orang lain.
Daniel tidak suka. Ia tidak suka dengan kenyataan itu.
__ADS_1