
Alia meletakkan piring berisi dua potong roti bakar dan mendorong segelas susu pada Carla. Ia lalu mengambil satu roti miliknya dan melenggang meninggalkan dapur. Meskipun sudah melihat sendiri Daniel pergi, bukan berarti Alia jadi lega berada di dapur seperti ini. Tidak ada yang bisa menjamin kemunculan Daniel yang tiba-tiba seperti dua hari lalu.
Emosinya yang masih buruk membuat Alia lebih ingin mengunci diri di kamar, meski belum mengetahui akan melakukan apa seharian ini.
Carla menggigit rotinya, memperhatikan Alia. Perilakunya hampir sama persis seperti yang dilakukan Daniel tadi. Sepanjang membuatkan Carla sarapan, Alia terus menatap pintu dapur dengan gelisah.
Niat jahil yang muncul tiba-tiba di kepala membuat Carla membawa piring roti dan susunya menyusul Alia. "Tunggu!"
Alia menoleh. Senyum lembutnya terkembang begitu berhadapan dengan Carla. Mau bagaimanapun, Alia tetap tidak bisa mengabaikan anak-anak begitu saja. "Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu lagi?"
Carla berdecak kesal dan membuang muka. "Kau menatapku seperti sedang menatap anak kecil."
"Tapi aku tidak salah. Kau memang anak kecil," sanggah Alia. "Kau tak suka dianggap anak kecil?"
Carla tidak menjawab dan berjalan mendahului Alia, menapaki tangga satu persatu. "Aku ikut ke kamarmu."
Alia menatap punggung Carla yang terus naik. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. Carla sedang mengelak dari pertanyaannya. Biasanya gadis itu selalu menolak keras setiap hal yang tidak ia setujui. Diamnya Carla bermakna kalau dia tak masalah dengan itu.
"Aku akan mengunci pintunya dan meninggalkan kuncinya disini." Alia menutup pintu begitu sampai di kamarnya.
Carla tidak menjawab, hanya terus berjalan menuju balkon. Matahari semakin naik. Terdapat sedikit bagian di balkon yang sudah tidak terkena panasnya sinar matahari. Carla duduk disitu dan meletakkan piring serta gelasnya, mulai lanjut makan.
Tak berapa lama, Alia sudah ikut duduk di sebelah Carla. Termenung menatap puncak pohon pinus berlatar biru cerah langit.
"Kau tak marah padaku?" Carla tiba-tiba bertanya setelah mereka cukup lama saling berdiam.
"Mengapa aku harus marah padamu?" Alia bertanya ulang.
Carla mengendikkan bahu. "Mungkin karena aku yang memaksamu bertemu Kak Daniel tadi malam?"
Alia menatap tak mengerti.
"Kau dan Kak Daniel sedang bertengkar, kan? Apa kau tak menyalahkan aku yang membuatmu mendatangi Kak Daniel dan berakhir seperti ini?" Carla menghela napas lelah. "Jangan lagi bertanya darimana aku tahu pertengkaran kalian."
Alia tersenyum kecut. Sangat mudah membuat kesimpulan tepat seperti itu oleh siapapun. "Itu bukan karenamu. Masalah kami disebabkan hal yang… lebih kompleks."
"Kak Daniel menyatakan rasa cintanya padamu?" tebak Carla dengan santai.
Kali ini Alia menoleh cemas dengan mata melebar. Ia bisa memaklumi tebakan Carla sebelumnya karena memang terlihat jelas. Tapi masalah ini? Carla menebak dengan sangat tepat maski topiknya tentu sangat sensitif juga.
"K-kau tahu darimana?"
Carla menatap Alia seperti melihat orang paling aneh. "Cuma orang bodoh yang tidak sadar dengan cara Kak Daniel menatapmu selama ini. Kau salah satunya."
Alia menelan ludah. "Apa itu berarti Riki dan yang lainnya juga tahu?"
"Entahlah. Tapi mereka harusnya sadar karena mereka sedikit lebih pintar darimu," jawab Carla. Ia menghabiskan potongan terakhir rotinya.
Pernyataan itu membuat pusing kembali membayangi kepala Alia. Ia memegang kepalanya, mengutuk kenaifannya yang menganggap maksud sorot lembut Daniel itu karena hubungan saudara mereka.
"Selain itu, apa lagi yang Kak Daniel lakukan?" Carla menggoyangkan kakinya, menimang susu yang tinggal separuh gelas. Ia lalu menatap Alia dengan senyum jahil. Jarinya menyentuh bibir. "Apa dia melakukan ini?"
__ADS_1
Alia menahan napas, ia menatap Carla ngeri. Takut kalau sebenarnya Carla ada disana semalam. "A-apa yang kau maksud?"
"Maksudku, kalau hanya bertengkar karena pernyataan perasaan Kak Daniel, kalian mungkin masih bisa membahas ini dengan tenang dan dingin." Carla tersenyum miring. Dari respon panik Alia, tebakannya boleh jadi benar. "Kecuali Kak Daniel melakukan sesuatu yang lebih. Itu akan menjelaskan sikapmu yang seperti menghindarinya. Jadi, apa Kak Daniel menciummu? Atau memegang-"
"Hentikan, jangan dilanjut. Tidak ada anak kecil yang membahas tentang ini." Alia menyela dengan cepat. Ia tidak ingin benaknya kembali terbayang kejadian itu lagi.
Carla tertawa kering, raut wajahnya menjadi datar. "Kau mungkin tak tahu. Tapi aku cukup berpengalaman tentang hal itu."
Ucapan itu membuat Alia tertegun. Ia tidak berani menerka sembarang, tetapi ini mungkin berkaitan dengan masa lalu Carla.
"Apa kau masih merasa berat untuk membaginya denganku?" Alia bertanya lirih.
Carla menegakkan tubuhnya, menatap Alia datar. Ia tidak langsung menjawab, matanya kini terpaku pada sinar matahari yang kian menjauh dari kakinya yang terjulur.
"Aku selalu siap membicarakan ini dengan siapapun dan kapanpun. Aku bahkan tak peduli dengan reaksi orang lain setelah mendengar ceritaku. Mereka bisa bebas merasa jijik, bebas menjauhi. Terserah. Lagipula aku selalu berbicara semauku," ujar Carla pada akhirnya.
Ia memang berkata begitu, tetapi dadanya merasakan nyeri. Orang lain bisa bebas menjauhinya, tetapi membayangkan Alia melakukan itu tidak bisa membuatnya tenang. Carla dan Alia sama-sama suka mengganggu satu sama lain. Akan sulit jika tiba-tiba salah satunya memilih menjauh. Sebab itu Carla mempertimbangkan ini sejak lama.
Baru kali ini ia kembali merasa takut ditinggalkan. Biasanya Carla tidak peduli. Namun, sekarang ia mengkhawatirkan respon Alia kedepannya.
"Aku pernah bekerja di tempat prostitusi." Carla melirik Alia.
Wanita itu jelas sangat terkejut. Mata bulat hitamnya melebar. Mulutnya terbuka, namun tak ada kata yang keluar dari sana.
"Usiaku tujuh saat itu dimulai. Aku disana tiga tahun. Melayani orang-orang bejat dan gila," lanjut Carla. "Orang tuaku? Entahlah. Aku hidup di panti asuhan sejak bayi. Kelanjutannya sangat lucu. Saat itu panti sedang krisis. Butuh pengurangan mulut yang hendak diberi makan agar bisa bertahan. Sebab itu, kepala panti tidak mengurus dan memerhatikan dengan benar setiap orang yang ingin mengadopsi anak-anak panti."
Carla lanjut bercerita sambil memalingkan wajahnya dari Alia. Ia menatap kedepan, tidak seperti dirinya yang biasa. Setiap Carla menceritakan ini, ia selalu ingin memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan lawan bicaranya. Tetapi jika itu Alia, Carla rasanya tak sanggup melihat wajah terkejutnya. Ia takut melihat ekspresi yang ditunjukkannya. Apakah setelah ini Alia akan segera menjauhinya dengan tatapan jijik?
Tiga tahun itu adalah neraka baginya. Jurang paling dalam yang membawa dirinya pada rasa benci terhadap dirinya yang sudah kotor. Tentu saja Carla pernah mengalami masa ingin menyerah dan mengakhiri hidupnya. Namun, ia tak bisa. Ada cukup banyak anak seusianya yang lebih dulu bunuh diri. Mulai dari membenturkan kepalanya di dinding hingga menggigit lidah sendiri.
Bagi Carla, jauh lebih menyakitkan melihat kematian mereka hanya membawa kesia-siaan. Daripada rasa kotor dan bencinya, ia lebih memendam dendam. Ia sudah melihat kematian anak lain tidak berdampak apapun pada kondisi mereka selain layaknya barang yang tidak terpakai lagi. Carla ingin bebas, tetapi bukan dengan ajal. Ia ingin bebas dan merdeka dari kegilaan ini secara total.
"Prinsipku saat itu hanya satu. Aku akan kalah kalau mati. Karena hanya dengan hidup, jalan dan harapan akan terus ada." Carla tertawa miris.
Alia terus diam sepanjang percakapan ini.
"Aku bertahan dengan prinsip itu, selalu berusaha mencari celah. Aku berumur sepuluh saat Kak Daniel datang kesana. Membeliku dengan harga fantastis. Haha, itu sangat mengejutkan. Aku adalah permata di neraka itu. Rambut pirang platinum dan mata biru terang termasuk favorit pelanggan." Carla mengangkat kepalanya, menatap ke atas.
"Aku kira Kak Daniel hanya orang gila lain yang menginginkan pelacur kecil sepertiku. Tetapi aku seperti melihat kesempatan disana. Aku dilepas dengan harga yang fantastis," tambah Carla. "Itu rupanya hanya salah sangka. Kak Daniel benar-benar menyelamatkanku, membawaku ke tempat rehabilitasi."
Carla menoleh perlahan. Alia masih dengan wajahnya yang semula. Bahkan lebih pucat.
"Kak Daniel bekerja sama dengan keamanan setempat dan meringkus tempat prostitusi itu. Jelas sekali, kan, mempekerjakan anak kecil di tempat mengerikan itu adalah hal yang ilegal. Sedikit sulit karena wanita gila itu punya orang berkuasa di belakangnya. Tetapi Kak Daniel menyelesaikan semuanya dan membawa anak-anak lain ke tempat rehabilitasi yang sama." Carla menghela napas perlahan. Menahan kecewa dan takutnya. "Aku keluar duluan dari tempat rehab itu dan berusaha bermanfaat untuk Kak Daniel untuk membalas jasanya. Sebab itu aku belajar keras."
"Dan, seperti awal tadi, aku sudah berpengalaman. Aku sudah pernah melakuka-"
"Sudahi ceritamu disana, Carla." Alia memotong. Berbicara untuk yang pertama kalinya sejak Carla mulai bercerita.
Carla menoleh. Perasaan sesak mengimpit dadanya. Tatapan Alia padanya tajam, menusuk seluruh kesombongan Carla.
"Ceritamu ini cukup sekali dan tidak perlu diulang lagi," tambah Alia lirih.
__ADS_1
Carla menarik lutut, memeluknya dengan tatapan kosong. Ah, ia sudah mempersiapkan ini sebelumnya. Reaksi Alia yang terdengar keras, Carla sudah menduganya. Untuk seseorang dengan kepolosan sepertinya, cerita Carla pasti sangat mengerikan. Carla merasakan sebongkah kekosongan di hatinya.
Setelah ini, harusnya Alia akan meminta waktu untuknya beristirahat sendiri. Esok-esok, ia akan merasa ngeri setiap bertemu Carla.
"Carla," panggil Alia.
Carla hanya mendengungkan kata tak jelas, mempersiapkan hati untuk benar-benar pergi.
"Boleh aku memelukmu?"
Kepala Carla menoleh dengan cepat. Kini ekspresi terkejutnya sama seperti Alia beberapa saat lalu. Ia tertegun melihat ekspresi keras Alia melunak. Matanya berkaca-kaca, menatap Carla seperti akan menangis.
"A-apa?"
"Aku boleh memelukmu, ya." Alia mengubah kata-katanya. Ia bangkit dan menarik Carla ke dekapan erat. "Bagaimana bisa gadis kecil sepertimu sekuat ini?"
Alia mulai terisak.
Carla sendiri masih terkejut. Ini tidak sesuai dengan tebakannya tadi. Dan apa ini? Mengapa Alia menangis? Harusnya ia yang emosional disini.
Perasaan hangat kembali muncul. Carla merasakan kelegaan yang begitu besar. Perlahan, air mata juga mengaliri pipinya. Ia sendiri heran. Bahkan disaat Daniel menyelamatkannya, tak pernah sekalipun ia menangis. Carla sudah berjanji untuk menjadi gadis yang lebih kuat dan bisa berdiri untuk dirinya sendiri.
Namun, Alia tiba-tiba muncul dan mengkerdilkannya. Tidak untuk membuatnya rendah diri, tetapi mengingatkannya pada jati dirinya. Alia membuat Carla merasa nyaman mendapatkan semua perlakuan hangatnya.
Inikah rasanya menjadi yang tersayang?
Carla meletakkan dagunya di pundak Alia, mulai menutup mata. Merasakan kenyamanan dan kelegaannya. Ia buru-buru menghapus air matanya saat Alia mengusap rambutnya.
"Terimakasih sudah menceritakannya. Setelah ini, tak perlu kau mengingat hal itu lagi." Alia melepas pelukannya, menatap mata Carla yang sedikit merah. "Isi sisa hidupmu dengan hal-hal yang menyenangkan."
Carla menyatukan jarinya ragu. "Hal-hal yang menyenangkan itu, apa bisa kau membuatkanku cupcake stroberi lagi?"
Alia tersenyum sembari menyusut hidungnya. "Aku akan buatkan yang banyak sampai kau tak pernah mau makan kue itu lagi seumur hidupmu."
Carla tersenyum kecil, membayangkan gunungan cupcake yang memenuhi ruang perpustakaan.
"Kau jadi lebih manis kalau tersenyum seperti itu. Biasanya muka ini hanya terus memberi olokan dan tatapan merendahkan." Alia mencubit pelan kedua pipi Carla.
Dengan segera Carla berontak, berusaha menyembunyikan wajahnya. "Berisik, kau."
Alia tersenyum hangat. Ia menundukkan kepala, merasa bersalah. "Tapi mungkin tidak di dekat-dekat ini. Kalau aku terus bertengkar dengan Daniel begini. Jangankan membuat kue, pergi ke dapur saja mungkin tidak."
Carla jadi merengut. Gunungan cupcake yang ia bayangkan tadi raib seketika, membuatnya dongkol. "Apa kau tak punya cara berbaikan dengannya?"
"Tidak sampai dia menghilangkan perasannya padaku." Alia menunduk, tetapi kemudian kembali mendongak dengan ide di matanya. "Apa kau tahu seseorang yang bisa membuat Daniel menyukainya? Ah, lebih dulu. Wanita itu harus menyukai Daniel lebih dulu."
Carla memegang dagunya, memikirkan orang yang dimaksud. Wajahnya menjadi serius seketika. "Kau tahu, ini sangat kebetulan. Tetapi wanita itu sudah sangat siap dan berada di kota ini juga. Dia teman beasiswa Kak Daniel yang menyukainya. Sangat kukuh mengejar Kak Daniel dulu."
"Bisakah kita membuat pertemuan kencan mereka?" Alia menjadi bersemangat.
Carka terlihat berpikir, lalu kemudian mengangguk. "Aku tak begitu suka wanita ini, tapi patut dicoba."
__ADS_1