
Alia menatap tegang pada jalanan yang nampak dari kaca depan angkutan umum yang dinaikinya. Ia mencengkram erat kursi supir di depannya dan menahan tas besar dengan tangannya yang lain.
Jalanan memang tak semacet seperti yang ia bayangkan. Ia menebak bahwa itu disebabkan oleh hari yang sudah mulai siang. Cuaca hari ini sangat baik. Jadi, sangat disayangkan kalau dirinya harus mati sekarang akibat supir angkutan umum yang ugal-ugalan.
Daniel yang duduk disamping Alia malah tak merasa khawatir sama sekali. Ia menghabiskan waktunya dengan menatap tajam para pria yang terlihat tertarik pada Alia. Tatapan Daniel membuat pria-pria itu mengalihkan pandangannya tak nyaman. Daniel juga sesekali menengok keluar jendela kecil angkutan umum itu.
Diantara empat kota besar, Kota Barat berada di urutan terakhir dalam kepadatan penduduknya. Situasi yang disebut lengang di kota ini bisa dikatakan adalah situasi paling ramai di Kota Barat pada jam-jam sibuknya.
Angkutan umum itu merapat ke kiri secara serampangan. Alia sampai melotot kaget. Mereka hampir saja menabrak pengendara motor di sebelah kiri saat supir hendak menaikkan penumpang.
Alia ingin menegur, tetapi di satu sisi, kecepatan angkutan umum ini bisa membantu mereka untuk cepat sampai di tujuan.
"Pak, bisakah berkendara dengan lebih santai lagi?"
"Eh? Oh, maaf-maaf. Saya kira kalian mau lebih cepat." Supir itu jadi salah tingkah.
Alia menoleh.
Daniel sedang menggeser posisinya jadi lebih rapat pada Alia saat rombongan gadis yang baru masuk mengambil tempat di sebelahnya. Alia melirik gadis di samping Daniel yang wajahnya sudah memerah. Bisa ditebak bagaimana perasaan gadis itu yang berkesempatan duduk di sebelah Daniel.
Alia mendekatkan wajahnya pada Daniel, berbisik pelan. "Tapi kalau lebih lambat lagi-"
"Jam penerbanganku masih satu setengah jam lagi. Melambat sedikit takkan ada masalah," potong Daniel tanpa memelankan suaranya.
Alia tersenyum, ia mengambil tangan Daniel dan menggenggamnya.
Daniel pasti menyadari ekspresi tegang Alia sejak mereka memasuki angkutan umum ini atau kebimbangan wanita itu untuk meminta angkutan umum ini melambat. Atas bantuan Daniel menegur supir itu, Alia juga akan melakukan sesuatu untuk membantu Daniel.
Walau tak terlihat, tapi Daniel pasti merasa tak nyaman berada di sebelah gadis yang tertarik padanya. Sebab itu Alia menggenggam tangan Daniel saat ini. Ia menahan senyum saat melirik gadis itu yang terlihat kecewa. Pasti para penumpang lain tak ada yang mengira kalau mereka sebenarnya bersaudara. Daniel dan Alia yang terlihat sebaya saat ini biasanya akan dianggap sebagai pasangan.
Alia memanfaatkan itu untuk membuat gadis di sebelah Daniel jadi menggeser posisinya lebih jauh. Daniel yang menyadari usaha Alia itu tidak mengubah ekspresi wajahnya, tetapi ia ikut membalas genggaman Alia dengan lebih erat.
Mereka sedang menuju bandara. Sekitar dua jam lalu, mereka menaiki bus dari Kota Barat menuju ke Kota Pusat. Setelah tiba di terminal, mereka harus menaiki satu angkutan umum untuk menuju bandara yang ada di kota pusat. Sebenarnya, ada juga bandara di Kota Utara, tetapi letaknya terlalu jauh.
Seperti yang Daniel prediksikan, ia lulus dalam tes untuk beasiswa kuliah di luar negeri itu. Bahkan dengan nilai yang sangat baik. Hari ini adalah hari keberangkatannya, jadi Alia mengantar hingga ke bandara.
Rombongan gadis itu turun begitu sampai di tujuan mereka. Salah satu gadis yang tadi duduk di sebelah Daniel menatap Alia sengit dan memberi pandangan sedih pada Daniel yang bahkan tidak berkenan memperhatikan. Hati gadis itu lebih sakit saat melihat Daniel lebih sibuk merapikan rambut Alia daripada melihat padanya untuk yang terakhir kali.
"Sudah menyerah saja. Pacarnya lebih cantik darimu." Temannya yang memperhatikan menasihati.
Gadis itu memukul keras kepala temannya sebelum turun dengan terburu-buru.
Alia yang menyaksikan semua tertawa pelan saat angkutan umum itu kembali melaju.
"Lucu?" tanya Daniel datar.
__ADS_1
"Mereka sangat imut, cuma kau yang tak berpendapat begitu," jelas Alia.
"Oh begitukah? Tapi yang lebih imut ada di depanku," tukas Daniel dengan nada serius.
Alia tertawa kecil dan menanggapinya dengan santai. "Jangan buat orang semakin salah paham dengan kata-kata itu, Daniel."
Daniel masih menatap lama sebelum memalingkan wajah dalam diam.
Hanya sisa beberapa penumpang yang kebetulan ingin menuju bandara juga. Sekitar lima belas menit kemudian baru angkutan umum itu sampai. Daniel diharuskan menemui rombongan anak-anak beasiswa lain dan pembimbing mereka satu jam sebelum keberangkatan. Saat ini Daniel memiliki waktu tersisa lima belas menit lagi, tapi ia masih dengan santai turun dari angkutan umum itu.
"Terimakasih, Pak." Alia ikut turun setelah membayar.
"Kenapa turun?" tanya Daniel sedikit heran. Ia pikir Alia akan langsung kembali dengan angkutan umum itu. Lebih mudah mendapat kendaraan umum menuju bandara daripada menemukannya untuk kembali. Orang-orang yang akan menuju bandara kebanyakan akan pergi atau diantar dengan mobil pribadi.
Alia tersenyum. "Tidak apa-apa. Kakak ingin mengantarmu sampai pintu bandara."
Daniel berpikir antara menahan angkutan umum itu atau membiarkannya berputar arah. Tapi ia memilih mengangguk singkat karena melihat tekad di mata Alia. Wanita itu jika sudah bertekad pasti akan memaksa hal yang dia inginkan.
"Daniel, kau harus rajin menghubungi Kakak," pesan Alia.
"Mungkin tak akan sesering itu."
"Perhatikan makanmu disana. Jangan tidur terlalu larut juga."
"Jaga kesehatan."
Daniel berbalik. Alia yang berjalan di belakangnya jadi terhenti. Daniel hanya membawa dua tas. Ia menggendong salah satunya, sementara Alia membawa satu lagi.
"Perhatikan keselamatan dan keamanan," nasihat Daniel.
Alia berkedip sambil ternganga, setelah itu tertawa lepas.
"Kita sedang beradu pesan, huh?" kata Alia setelah tawanya usai. "Baiklah, keamanan bisa dipastikan. Tak usah khawatir."
"Jangan ambil shift malam. Kalau perlu ambil pekerjaan yang tidak memberatkan. Harusnya bisa, kan?" tanya Daniel memastikan.
Alia mengangguk sambil tersenyum lembut.
"Dan terakhir, tak perlu mengantar sampai pintu bandara. Sampai disini saja."
Senyum Alia seketika menghilang. Tapi sebelum ia melayangkan protes, Daniel sudah menunjuk ke arah pintu masuk bandara yang dipadati banyak calon penumpang. Alia terhenyak sendiri membayangkan harus berdesakan dengan orang-orang itu.
"Baik kalau begitu. Ini tasmu." Alia menyerahkan tas di tangannya.
Daniel baru hendak membalik badannya sebelum Alia memanggilnya lagi.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Kau tak ingin memberikan pelukan perpisahan?" Alia mengangkat tangannya. "Kita tak akan bertemu bukan hanya sebulan dua bulan saja."
"Tak perlu."
Alia tertawa kecil, tidak merasa kecewa dengan jawaban yang kurang lebih sudah diprediksinya itu. Akan tetapi, saat ia baru akan menurunkan tangan, Daniel tiba-tiba menyambut dan memeluknya erat.
Alia sedikit kaget dan tidak menyangka. Ia melirik tas yang Daniel jatuhkan sebelum membalas pelukan Daniel sama eratnya. Beberapa saat sebelum Daniel melepas pelukannya.
"Pendek sekali."
Alia refleks memukul bahu Daniel. "Tak usah disebut. Sudah, sana pergi."
Daniel tersenyum. Boleh jadi senyum terakhirnya untuk beberapa tahun ke depan. "Saat aku kembali, semua akan benar-benar kuubah."
Alia tak mendengar. Ia mendorong Daniel untuk segera pergi agar tidak terlambat. Daniel memberi lambaian terakhirnya dan menuju bandara tanpa menoleh lagi.
Alia memandang hingga Daniel tenggelam dalam kerumunan manusia. Senyumnya perlahan memudar.
Tak ada yang bisa dengan tepat menyebutkan jenis kekosongan yang melanda Alia. Alasannya tidak segera kembali dengan angkutan umum itu adalah karena ia tak ingin terburu-buru sampai ke rumahnya. Bukankah akan terasa asing saat pulang dan menyadari ada kekosongan baru di rumah?
Alia tak ingin buru-buru hanya untuk merasakan perasaan seperti itu. Oleh karenanya, ia ingin setidaknya merasa puas bisa mengantar Daniel dengan lebih baik. Alia membalik badan, berjalan pelan di trotoar, mengikuti arah jalan pulang.
Ia tidak menangis meski dadanya terasa sedikit sesak. Alia tak tahu kapan akan bertemu lagi dengan Daniel. Tetapi jika Daniel berjuang disana, maka Alia tak akan kalah dan akan ikut berjuang dengan keras.
"Selamat siang!"
Alia terlonjak kaget saat seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang. Ia menoleh cepat dan menurunkan kewaspadaan saat melihat seorang wanita berusia sekitar empat puluhan tahun sedang tersenyum ramah padanya.
"Selamat... siang?" Alia berusaha mengingat-ingat, tetapi memang ia tak merasa mengenal wanita di depannya itu.
Walau ditutupi oleh kacamata hitam, Alia menebak kalau wanita ini jika bukan cantik, maka harusnya sangat menarik. Rambut cokelat pendeknya yang lurus ditutupi topi merah muda yang nampak tidak cocok dengan usia dan penampilannya yang terlihat sederhana tetapi mewah disaat bersamaan.
Wanita itu mengulurkan tangannya. "Namaku Wilda. Panggil Kak Wilda juga boleh."
Alia dengan ragu menyambut uluran tangan itu. Tetapi pada saat itu juga wanita bernama Wilda itu menangkap tangannya dan menariknya pergi dengan cepat.
"Sepertinya kita harus pindah tempat dengan segera."
"Eh?" Alia masih belum bisa mencerna situasi dari kejadian cepat itu.
'gawat!'
Baru beberapa menit lalu Daniel berpesan untuk menjaga keselamatan dan keamanan dirinya, tapi sekarang ia sudah ditarik oleh seorang wanita yang tak dikenal, menuju satu tempat yang tak diketahuinya juga!
__ADS_1