Sisterzone

Sisterzone
Kesepakatan


__ADS_3

Peresmian cabang WR Coffee dipimpin oleh Wilda secara langsung. Acara utamanya disegerakan begitu tamu sudah lengkap. Setelah pemotongan pita, acara dilanjutkan dengan perjamuan. Alia mendapat tempat khusus bersama dengan Carla dan Daniel. Risa dan Bram berada di meja khusus yang lain.


"Kau terlihat pucat. Ada apa?" Carla memperhatikan Alia yang sedikit lebih pendiam daripada sebelum mereka memasuki tempat ini.


Alia sedang menatap kosong ke panggung tempat musik lembut dialunkan. Ia mengerjap beberapa kali sebelum menatap Carla. "Tidak ada. Um… Apa kau menyukai kuenya?"


Carla nampak tidak percaya dengan jawaban itu. Tetapi ia mengangguk untuk pertanyaan Alia. "Ini lumayan."


Alia memang sedang tidak fokus pada sekitarnya. Banyak pemikiran liar yang menari-nari di kepalanya.


Tentang boks kardus.


Hingga yang berkaitan dengan pesan Ibunya dulu.


Jika benar boks kardus itu dikirim oleh Bram, atau setidaknya pria itu punya hubungan dengan hal ini, maka Alia tak bisa berhenti memikirkannya. Setahunya, Bram orang yang disuruh langsung oleh Rinda untuk menjadi orang yang mengantarnya rutin setiap hari sepulang kerja. Akan tetapi, di satu sisi, ia juga tahu kalau Bram sendiri bukan orang biasa. Tentu ia berpikir kalau Rinda pastilah orang yang dekat dengan Bram untuk bisa menyuruhnya seperti itu.


Alia menyimpulkan kalau boks kardus itu juga berkaitan dengan Rinda. Bukankah wanita itu juga yang merekomendasikannya untuk bekerja di WR Coffee sebelumnya? Tidak mustahil kalau semuanya berkaitan, terutama karena Wilda pernah berkata kalau Rinda mempunyai koneksi untuk mendapatkan banyak informasi.


Alia merinding memikirkan bahwa ia sudah diamati selama ini. Apalagi ia juga tahu kalau bulan ini, tidak ada boks kardus yang datang kesana. Seakan siapapun yang mengirim itu tahu benar kalau ia sudah tak lagi tinggal disana.


"Ini hanya ketenangan sebelum badai, sayangku, Al. Kau harus tahu ada banyak hal yang berbahaya di luar sana. Bagi kita, itu tak kasat mata. Tapi bagi Daniel, itu nyata dan sungguh akan terjadi. Lindungi dia. Lindungi adikmu dengan baik ya, sayang?"


Alia mengingat pesan yang hampir ia lupakan itu. Benar, selama ini ia sudah meremehkan pesan dari ibunya. Jika Rinda memiliki kekuatan untuk menyembunyikan ini, maka bukan tak mungkin hal besar yang sama tak akan menimpa Daniel seperti yang dikatakan Ibunya.


Ia harus berbicara dengan Rinda. Tetapi tidak bisa sekarang juga. Rinda tidak datang ke peresmian ini meskipun ia juga pengurus WR Coffee bersama Wilda.


"Memikirkan apa sampai mengerutkan dahi seperti ini?"


Alia tersadar saat tangan Daniel menyentuh dahinya lembut. Sontak Alia memundurkan tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang. Tidak jelas antara kaget atau sebab sentuhan Daniel. Bisa jadi justru karena dua-duanya.


"A-aku harus ke toilet." Alia berdiri dan pergi dengan segera.

__ADS_1


Daniel terus mengawasi Alia hingga wanita itu hilang dari pandangannya.


"Tidak mau menyusulnya?" Carla bertanya seraya menusuk kuenya dengan garpu. Ia tersenyum kecil.


"Kau ini sebenarnya mendukungnya atau mendukungku?" Daniel menyilangkan tangannya.


"Dia," jawab Carla singkat. "Tapi lebih setuju kalau Alia menyerah. Kalian akan jadi pasangan kontroversial yang bagus."


Daniel menghela napas, lalu menggeleng. Ia berdiri dan melangkah pergi dari meja itu, meninggalkan Carla sendirian. Bukan masalah juga bagi gadis itu karena memang ia yang menyuruh Daniel pergi.


"Aku duduk disini sebentar, ya."


Carla mendongak. Ia baru berpikir bisa mendapatkan kesempatan makan dengan tenang sebelum Risa mendekatinya. Terang-terangan Carla memberikan tatapan tak suka.


"Kalau tak ada kepentingan kau bisa pergi," ketus Carla.


Risa tertawa kecil, menganggap gadis di depannya ini menarik. "Aku punya kepentingan denganmu tentu saja."


Carla yang sejenak tak ingin menggubrisnya jadi mengangkat kepala. Sudut bibirnya terangkat. "Mengapa bertanya seperti itu?"


"Kak Alia selalu menghindari kontak dengan adiknya," jawab Risa masih dengan senyum.


Carla menatap Risa datar. Ia meletakkan alat makannya. Awalnya Carla menganggap Risa sebagai gadis biasa yang dekat dengan Alia, tetapi sepertinya tidak sesederhana itu. Risa jelas pengamat yang tajam dan cerdas.


"Kalau benarpun, kau mau apa?"


Risa mematung, lalu tertawa keras. Beberapa tamu sampai menatap meja mereka. "Ahahaha, kau sangat keren. Berapa usiamu?"


"Apa itu penting?"


"Tidak juga." Risa menyentuh dagunya, menutup tawa. "Tetapi sekarang aku yakin bisa membicarakan ini denganmu. Sepertinya terlepas dari usiamu yang muda, kau mengerti dan mengetahui banyak hal. Oh, aku juga suka dengan warna rambutmu, tidak seperti wig yang kau pakai waktu itu. Sangat tidak cocok dengan kulit putih pucatmu."

__ADS_1


Carla terlihat malas meladeni Risa. Terlebih ia terlihat mencoba menyinggungnya. Meski begitu ia cukup penasaran bagaimana gadis sepertinya punya ketajaman ini.


"Aku mengira Kak Al disukai oleh adiknya sendiri. Suka disini maksudnya benar-benar dalam artian romansa lelaki dan perempuan. Dari caranya menatap Kak Al, itu sangat jelas. Tapi tenang, hanya aku yang bisa memikirkan hal ekstrim seperti ini. Yang lain tak akan sadar," tutur Risa dengan suara pelan yang tenang.


"Apa kau mencoba mengambil keuntungan dari tebakanmu?" tanggap Carla.


Risa mengendikkan bahu. "Aku bukan orang yang suka ikut campur urusan orang kalau bukan karena keuntungan. Tetapi khusus Kak Al, beda lagi. Aku suka Kak Al."


"Lebih tepatnya, sayang. Ya seperti itu. Aku sangat normal ngomong-ngomong. Salah satu kesukaanku adalah melihat-lihat pria tampan eksotis yang lebih muda dariku" koreksi Risa setelah melihat perubahan ekspresi Carla.


Kerutan di kening Carla hanya semakin bertambah mendengar pemberitahuan tak berguna di akhir kalimat Risa.


"Aku hanya tak suka melihat Kak Al terlihat tidak nyaman begitu." Risa menggaruk kepalanya kikuk. "Ini sedikit aneh, kau tahu? Aku bukanlah orang yang suka memikirkan tentang orang lain. Tetapi sekarang aku merasa terganggu melihat Kak Al terlihat kesulitan begitu."


Carla tidak berkomentar. Ucapan Risa mengingatkannya pada perasaan hangat ketika Alia merangkulnya tadi sebelum mereka masuk kemari. Memang aneh.


"Aku selalu berusaha sepanjang hidupku. Kau lihat pria tadi yang ada disana? Bramasta Wibisana. Ayah angkatku. Aku tak akan bisa mendapatkan kesempatan ini jika kemampuanku biasa saja. Ayahku awalnya mengadopsiku untuk memanfaatkan kemampuan analisis dan pengamatan yang kumiliki. Semua tentang keuntungan masing-masing." Risa mulai bercerita lancar seakan ini kisah yang sudah diceritakannya berkali-kali.


"Meski begitu, aku bersyukur. Ayahku jauh lebih hangat beberapa tahun terakhir. Daripada alat, sekarang rasanya aku benar-benar menjadi anaknya," sambung Risa. Ia menoleh, memperhatikan Bram yang sedang mengawasi Wilda. "Yah, kuharap aku bisa mendapatkan ibu angkat yang sama baiknya nanti."


Carla mendengarkan dengan baik. Nasib awal mereka kurang lebih sama, jika Risa tidak sedang mengada-ngada.


"Nah… Sekarang, bisakah kau menceritakan hal lengkap diantara mereka? Mungkin dengan itu, aku bisa mempertimbangkan menyetujui hubungan mereka atau tidak." Risa menopang dagunya sembari menatap Carla dengan antusias.


Carla menghela napas dan menggeleng. "Tidak ada untungnya buatku. Aku juga tidak percaya padamu."


"Aaah, memang tidak mudah." Risa menelungkupkan wajahnya di meja. Ia mengira dengan lebih dulu membuka dirinya, Carla akan lebih mudah dibujuk. Nyatanya, dengan cerita yang sering ia ulang-ulang itu, Carla tetap bergeming. "Ugh, begini saja, mari kita bertukar informasi. Aku punya sesuatu yang menarik tentang Kak Alia dan adiknya. Kalau begini kau pasti tak heran mengapa aku juga mendukung hubungan mereka."


Carla menjadi lebih serius. Senyuman miring terkembang perlahan begitu ia selesai berpikir cepat. "Aku akan mempertimbangkan nilai informasimu itu terlebih dahulu."


Risa mengangguk. Ia sangat tahu kalau Carla adalah gadis kecil yang amat cerdas. Bukan masalah besar untuknya memasang kartu lebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2