
Daniel membukakan pintu mobil untuk Alia tanpa berkata apapun. Hingga ia masuk ke mobil dan menjalankannya, Daniel tidak juga berbicara.
"Kau sungguhan akan mengantar?" tanya Alia setelah beberapa saat. Jika hanya ada mereka berdua, Alia akan jadi orang yang lebih banyak bicara dari biasanya. Sebagai ganti dari Daniel yang lebih banyak diam.
"Apa masih perlu bertanya meski kita sudah keluar gerbang begini?" jawab Daniel sarkas tanpa menoleh.
Alia seketika merengut, rasanya ingin menimpuk kepala adiknya itu. Apa coba salahnya berbasa-basi?
"Kau, kan, sangat sibuk. Apa tidak merepotkan mengantar untuk hal-hal seperti ini?" jelas Alia lagi. Ia masih cukup berpengalaman untuk sekadar menahan diri saja.
"Ya, repot juga," ketus Daniel. Masih enggan menatap Alia.
Biasanya Alia yang akan menjadikan itu sebagai awal mula perdebatan. Ia akan memutar kata-katanya dan berakhir dengan menyalahkan Daniel yang mau-maunya direpotkan. Atau hal-hal semacamnya.
Namun, kali ini Alia terdiam. Ada denyutan menyakitkan di dadanya. Ia sudah terbiasa tidak mengambil hati tiap ucapan Daniel. Pria itu dulu juga sering melontarkan kata-kata sarkas. Tapi akhir-akhir ini Alia sedikit sensitif. Kata-kata Daniel tadi dan pemikiran yang berusaha ia enyahkan sejak beberapa hari terakhir justru bergabung, membentuk tekanan.
"Benar, ya. Pasti merepotkan," gumam Alia samar. "Sudah diberi tempat tinggal yang nyaman, kamar luas, makanan enak… sekarang masih harus membelikan pakaian mahal, dan mengantar segala. Pasti merepotkan."
Alia merasa tubuhnya kehilangan tenaga. Ia menganggap Daniel pastinya tidak begitu mendengar ucapannya tadi. Alia menatap jendela sampingnya, termenung kosong. Memikirkan ucapannya sendiri membuat Alia lemas.
Alia tahu Daniel bukanlah orang yang sepicik itu. Tapi ia lebih tahu isi pikirannya yang semakin menggerogoti kepercayaan dirinya sendiri. Alia menatap bayangannya di kaca mobil. Menatap kosong pantulannya yang hari ini dianggapnya lebih baik dari keseharian.
"Hei, Daniel. Bagaimana menurutmu penampilan Kakak hari ini?" Alia berusaha mengulas senyum, meskipun yakin Daniel lagi-lagi tak akan menatapnya.
"Hm."
Hanya itu jawaban Daniel.
Alia mengerutkan wajahnya, berusaha untuk tidak menangis disini. Ia mengangkat tangannya dan memerhatikan dengan mata nanar. Dulu ia selalu membanggakan tangannya ini. Tangan seorang pekerja keras, begitu pikirnya. Tapi sekarang tangan itu lunglai. Tak punya kekuatan.
Selama ini ia selalu menjadi seorang kakak yang bangga. Walau hidup pas-pasan, ia tetap merasa itu lebih baik. Alia tidak terbiasa hidup bergantung pada orang lain, bahkan adiknya sendiri.
__ADS_1
"Ah… Aku memang tidak berguna." Alia mendesah pelan. Sekarang menyandarkan kepalanya di kaca mobil.
"Daniel, maaf sudah membuatmu kerepotan. Jika kita kembali sekarang, apa kau akan kesal? Kakak akan membatalkan pertemuan ini." Alia menggigit bibir, merasa seperti pengecut. Ia bahkan tidak berani melihat ekspresi Daniel. "Maaf, ya. Kakak memang tidak tahu diri. Meminta yang aneh-aneh, padahal kau yang sebenarnya membantu Kakak."
Daniel mengerutkan kening, menoleh untuk yang pertama kalinya kepada Alia. "Apa maksudnya itu? Mengapa kita harus kembali lagi?"
"Kau bilang merepotkan, kan? Maka dari itu, ayo kembali. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu yang tertinggal."
Daniel terperangah. Ia segera menepikan mobilnya dan menghadap Alia secara penuh. "Kakak percaya dengan kata-kata yang tadi?"
Alia sudah menoleh ke arah Daniel sejak mobil berhenti. "Tentu saja." jawabnya lemas.
Mata Alia mulai berkaca-kaca. Inilah sebab ia tak mau melihat Daniel. Alia takut tidak bisa mengendalikan diri dan malah menangis disini.
Daniel terlalu terkejut untuk dapat merespon langsung. Akhirnya ia memegang kepalanya dan menggeleng pelan. "Maaf. Aku tidak bermaksud begitu."
Ia sudah melupakan hal yang penting. Alia adalah wanita yang hidup dengan usahanya sendiri selama ini. Bukankah Daniel dulu juga bergantung padanya? Harusnya ia sadar lebih awal kalau Alia akan lebih sensitif sekarang. Wanita itu menikmati waktunya di rumah dalam bayang-bayang Daniel. Sudah pasti Alia akan kehilangan kepercayaan dirinya seperti ini.
"Tidak perlu ditutupi. Memang benar ucapanmu tadi. Semuanya, kan, memang milikmu. Kakak hanya meminja-"
"Tapi kau terlihat kesal daritadi. Jawabanmu ketus sekali. Kau bahkan tidak mau menatap Kakak."
"Bukan maksudku seperti itu." Daniel kebingungan mencari alasan. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ia bersikap seperti itu karena perasaannya sangat aneh sejak tadi.
Alia sangat manis hari ini. Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Daniel tidak berani menoleh sejak tadi sebab takut jantungnya kembali bergemuruh. Walau terus memuji Alia di kepalanya, saat dimintai pendapat, Daniel tidak bisa mengungkapkannya dengan benar. Disaat pikirannya tidak stabil seperti ini, ia kembali mengingat laki-laki yang akan Alia jumpai hari ini. Itu hanya membuat perasaannya semakin tak karuan.
"Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan tadi. Jadi tidak bisa fokus," jawab Daniel pada akhirnya.
"Lihat kan! Memang ini jelas-jelas merepotkan. Maaf." Alia menatap ke atas, menahan gumpalan air yang hendak turun dari pelupuk matanya. "Ayo putar balik saja."
Daniel menghela napas, merasa ini tak akan berakhir. Ia mengambil tindakan nekat, mengabaikan detak jantungnya. Daniel mendekatkan tubuhnya ke arah Alia, mengulurkan tangannya dan mengusap lembut bawah mata Alia yang sedikit basah.
__ADS_1
"Kak Alia cantik hari ini."
Alia sedikit terkejut tetapi tidak menghindar. Ia berhenti mendongak dan menatap Daniel langsung. Akibatnya, sebulir air mata jatuh bebas ke pipinya.
"Sangat cantik." Daniel kembali mengusap jejak air mata itu. Kali ini dengan senyum paling lembut. Senyuman terlangka yang bisa ditampakkannya. Daniel tidak langsung menjauhkan tangan, melainkan membiarkannya menangkup pipi kecil Alia.
Tatapan keduanya bertemu. Memandang dalam ke iris masing-masing. Alia tenggelam oleh biru gelap dan Daniel yang terbuat oleh hitam pekat. Daniel terlalu sibuk dengan pikirannya yang mulai tak menentu sehingga tidak menyadari pipi Alia yang semakin merona.
Sebelum wajah Daniel kembali memerah, ia segera menajamkan tatapannya lagi. "Aku sempat kesal tadi."
"Karena merepotka-"
"Bukan itu. Kenapa kata itu yang sering keluar, sih?" Daniel berdecak memotong kalimat Alia. "Aku kesal karena Kakakku satu-satunya akan berkencan untuk yang pertama kali dengan pria asing yang belum kukenal. Rasanya sangat marah saat melihat Kakak yang terlihat istimewa hari ini akan bertemu seorang pria yang bisa jadi melukai hati. Apa alasan itu cukup?"
Alia menatap sejenak, lalu mengangguk. Mengulas senyum tipis. "Terima kasih."
Daniel mengangguk lalu menjauhkan diri. Ia memegang dadanya yang terasa akan jebol saat ini. Mobil kembali ia jalankan di dalam keheningan yang jauh lebih nyaman dibanding sebelumnya.
"Kau jangan melakukan yang tadi pada sembarang wanita, ya, Daniel," ujar Alia tiba-tiba.
"Melakukan yang mana?" Daniel melirik sebentar.
"Yang ini." Alia memperagakan. Mengarahkan tangan kanannya di pipi kiri. "Yang tadi itu."
Daniel berusaha mempertahankan wajahnya agar tetap normal. "Kenapa?"
Alia menggeleng kecil. "Bahaya, mereka bisa langsung jatuh hati padamu. Saat kau melakukannya saja, Kakak langsung berdebar-debar."
Daniel menoleh cepat. "Kakak? Berdebar-debar?"
Alia mengangguk.
__ADS_1
Daniel hanya meng-oh-kan, sambil kembali membuang muka. Wajahnya memanas, dan seratus persen pasti sudah memerah sekarang.
Ia masih tidak bisa mengendalikannya dengan baik.