Sisterzone

Sisterzone
Gangguan kecil


__ADS_3

Alia dan Daniel yang sedang berjalan bersama menarik perhatian banyak orang. Selain paras keduanya yang menawan, orang-orang juga kebanyakan memberi jalan untuk mereka berdua karena menganggap mereka pasangan. Apalagi pakaian yang dikenakan keduanya terlihat serasi dengan warna biru gelap yang sama.


"Wah, terimakasih, Kak." 


"Aku juga mau balon!"


"Aku mau bunganya!"


Mereka semakin menjadi pusat perhatian karena banyak anak kecil yang mengelilinginya. 


"Senyum dulu yang manis, baru akan Kakak berikan." Alia lebih dulu menebar senyum, membuat banyak anak-anak ikut memberi senyuman lebar.


"Aku duluan, Kak. Senyumku lebih manis. Dia giginya ompong, tidak manis." 


"Apa itu? Jahat sekali. Anak jahat tidak dikasih, kan, Kak?!"


Daniel yang ikut terjebak disana memijat kepalanya. Baru kali ini ia berada di sekeliling keributan oleh anak-anak kecil. Anak-anak kecil selalu suka berteriak. Daniel melirik Alia, melihat wajah gembira itu yang seperti tidak terganggu dengan keramaian di sekitarnya. Ia terlihat menikmati waktunya disekeliling mereka.


Alia memang suka anak kecil. Senyumnya selalu menarik anak-anak untuk dekat dengannya. Ia selalu menginginkan waktu seperti ini, tetapi itu cukup sulit untuk didapatkan. Di WR Coffee saja ia harus menahan diri jika ada kumpulan keluarga dengan anak-anak mereka yang mengajaknya bermain. 


"Tidak lelah?" tanya Daniel setelah bunga dan balonnya habis. Anak-anak dengan sendirinya langsung pergi menjauh dan bermain dengan barang-barang yang mereka dapatkan.


Alia menggeleng dan tersenyum puas. "Ini menyenangkan."


"Tunggu disini. Aku akan membeli minum." Daniel bergerak cepat setelah menunjuk sebuah kursi taman panjang yang masih kosong.


Alia menunggu disana sembari melihat-lihat sekeliling. Ada bianglala dan wahana permainan anak lainnya disini. Senyum Alia mengembang saat mendengar tawa anak-anak di komidi putar. Sebab terlalu asyik, ia sampai tidak menyadari sekitarnya.


"Sendirian saja, Kak?" 


Alia menoleh kaget. Seorang pemuda tiba-tiba duduk disebelahnya. Senyumnya terlihat tengil dan khas, membuat Alia sampai mengerutkan kening.


"Kalau sendiri, aku bisa menemani Kakak, loh," tawar pemuda itu dengan nada genit.


Alia yang ingin berbicara baik-baik jadi kehilangan minatnya. "Tidak perlu. Sudah ada yang mene-"


"Di tempat ramai seperti ini, sangat berbahaya untuk wanita semanis Kakak berjalan sendiri. Banyak laki-laki yanh mencoba mengambil kesempatan," potong pemuda itu tidak peduli.


Alia semakin naik pitam. "Kau sedang membicarakan dirimu sendiri, ya? Apa kau sedang mencoba melindungi wanita dari orang-orang sepertimu?"


Wajah pemuda itu langsung berubah. "Hei, kau ini tidak bisa diajak bicara baik-baik, ya."


"Saya punya hak untuk tidak berbicara dengan Anda," balas Alia tidak peduli.


"Cih, sok jual mahal sekali. Apa baru berkenan jika aku memberikan uang muka, heh?" Pemuda itu menggeser posisinya semakin mendekati Alia.


Namun, belum sempat ia meraih Alia. Seseorang tiba-tiba datang dan duduk diantara mereka. Membuat Alia dan pemuda itu bergeser menjauh.


"Ini minumannya," ujar Daniel sambil menyodorkan gelas plastik pada Alia, tidak memedulikan pemuda di sebelahnya. "Pasti bosan menunggu sendiri, harusnya kita pergi bersama-sama. Tadi ada yang menjual gelang-gelang kecil cantik. Kita harus kesana untuk melihat-lihat."

__ADS_1


Alia menatap Daniel heran. Pria itu datang tiba-tiba dan langsung banyak bicara. Tetapi kemudian ia sadar alasan Daniel tiba-tiba seperti itu. Alia tertawa kecil, lalu mulai melemaskan tubuhnya dan mulai menikmati minumannya. Ia merasa lebih tenang dengan Daniel disampingnya.


"Hei, kau tidak sopan sekali, ya. Tidak melihat orang sedang bicara disini?" Pemuda itu terlihat sangat tersinggung karena merasa tidak dianggap.


Daniel perlahan memutar kepalanya, memberi tatapan tajam dan dingin pada pemuda itu. "Oh, ada orang disini. Kukira hanya serangga, untung tidak kududuki, tadi."


Pemuda itu bergidik saat melihat tatapan Daniel yang seakan hendak membunuhnya saat itu juga. Tetapi perkataan Daniel juga sudah menyulut emosinya. "Kau sangat tidak tahu malu, ya. Apakah sopan orang yang mengabaikan keberadaan orang lain?"


Daniel tersenyum sinis. "Ho, saya hanya tidak menyadari keberadaan orang yang tidak penting seperti anda. Dan bukankah yang lebih tidak tahu malu itu anda karena sudah mengajak bicara kekasih orang lain?"


Alia tersedak minumannya saat Daniel menyebutnya kekasih. Ia terbatuk-batuk tanpa bisa dikendalikan.


"Hati-hati, sayang." Daniel menoleh ke arah Alia dan mengelus punggung wanita itu dengan lembut.


Alia melotot, rasanya hendak melempar minuman ini ke wajah Daniel. Tapi ia terlalu sibuk batuk untuk melakukannya.


"Heh, bukan aku yang mengajaknya bicara. Kekasihmu itu yang memanggilku lebih dulu," elak pemuda itu.


Senyuman hilang di wajah Daniel. Kali ini sungguh ada niat membunuh di matanya. Pemuda itu sampai kesulitan bernapas saat Daniel menatapnya. Ketakutan besar membuat punggung pemuda itu basah oleh keringat dingin.


"Orang menjijikan sepertimu mengaku diundang Alia. Sungguh sampah. Pergi dari sini sekarang. Aku akan menjumpaimu nanti," ujar Daniel dengan suara dalam yang mencekam


Seperti perintah mutlak, pemuda itu langsung berusaha lari dari sana. Ia sampai terjatuh dari kursinya. Baru kemudian lari terbirit-birit ke kerumunan orang, tak peduli celananya yang basah oleh air kencingnya sendiri.


Daniel menatap pemuda itu hingga tidak terlihat. Ia menarik napas dalam dan kembali menoleh kepada Alia yang tak kunjung berdamai dengan batuknya. Ia bahkan tidak menyadari kalau pemuda itu sudah pergi.


"Lihat ke atas." Nada bicara Daniel menjadi lembut. "Bukan begitu, seperti ini."


"Makanya, hati-hati." Daniel menjauhkan tangannya dan bersandar di kursi.


Alia berhenti mengusap sudut matanya yang berair dan langsung menatapnya tajam. "Kau yang memulai. Makanya jangan sembarangan bicara."


Daniel mengangkat bahu. "Itu tidak salah. Kita sedang kencan, jadi harus pura-pura. Lagipula kalau aku mengaku jadi adik, pemuda itu akan melanjutkan ocehan dari mulut kotornya itu."


"Sekarang dia dimana? Sudah pergi?" tanya Alia, celingukan mencari.


"Tidak perlu mencarinya. Aku akan mengurus anak itu nanti." Suasana hati Daniel kembali memburuk saat Alia kembali menyebutnya.


"Mengurus bagaimana?" Alia terlambat menyadari hingga Daniel menatapnya tajam, membuatnya merinding.


"Berhenti membicarakannya," tekan Daniel. Gelas minuman ditangannya sudah remuk sejak tadi.


"Maaf." Alia menunduk. Daniel selalu marah jika berkaitan dengan sesuatu yang mengganggu dan membahayakannya.


Daniel menghela napas, memijat pangkal hidungnya. Ia merebahkan kepala ke bahu Alia. "Apa aku membuatmu takut?"


Alia kembali tersenyum kecil. Daniel seperti anak kecil yang kesulitan mengungkapkan perasaannya lewat ucapan. Alia mengambil tangan Daniel yang terkepal kuat. Tangan kecilnya memaksa buka kepalan itu. Lalu menyusup dan menautkan jemari mereka. "Terimakasih sudah datang dan membantu tadi."


Daniel kembali menegakkan tubuhnya. Tatapannya fokus pada tangan kecil Alia yang menggenggamnya. Tangan milik seorang wanita yang begitu mudah membolak-balik hatinya.

__ADS_1


"Ayo jalan lagi." Alia berdiri lebih dulu, lalu menghadap Daniel dengan senyum lebar. "Apa aku boleh meminta kembali mawarnya, sayang?"


Daniel melebarkan matanya, tidak bisa bertahan dari serangan Alia yang tiba-tiba menembus jantungnya. "Jangan memanggilku begitu."


"Haha, ini namanya balas dendam. Kaget, kan? Wajahmu jadi merah." Alia tertawa puas.


Daniel ikut berdiri dan memberikan mawar merah tadi. Alia tadi memintanya untuk menyimpankan satu. Ia juga ingin membawanya pulang. "Kita kemana lagi?"


"Kau bilang ada yang menjual gelang-gelang tadi. Ayo lihat disana." Alia yang kembali riang setelah mendapatkan kembali bunganya langsung menarik Daniel pergi.


Di pertengahan jalan, Daniel tiba-tiba melepas tangannya, membuat Alia bingung. Tetapi pria itu lalu merangkul Alia lebih dekat, membawanya tetap merapat sementara mereka terus berjalan. "Ada banyak orang. Takut hilang atau tertabrak."


Alia menurut saja. Ia sendiri juga merasa lebih aman dengan tindakan Daniel ini.


Mereka tiba di tempat penjual gelang-gelang itu. Alia melihat-lihat dengan antusias. Sementara Daniel memperhatikannya dan memastikan tidak ada seorangpun yang bisa bersentuhan dengan wanita itu. Melihat Alia yang terlihat bersemangat, membuat Daniel merapatkan bibirnya ke telinga Alia.


"Bagaimana jika aku membelikan semuanya?" bisik Daniel.


Alia menoleh cepat sambil melotot. Separuh kaget separuh geli. "Tidak. Untuk apa?"


Daniel mengangkat bahu. "Membagikannya seperti tadi, mungkin."


"Yang tadi saja sudah menarik perhatian, apalagi ini lagi. Tidak usah." Alia kembali memfokuskan perhatiannya pada sebuah gelang berwarna silver dengan tiga berlian imitasi di bagian atasnya. Berlian imitasi lain yang lebih kecil menghias hanya seperempat bagian gelang, membuatnya terlihat sederhana.


"Aku bisa membelikan yang asli kalau mau." Daniel melihat Alia tertarik dengan gelang itu.


Alia menggeleng kecil. "Tidak perlu. Yang seperti ini juga sudah bagus."


"Ah, apa adik cantik ini tertarik dengan gelang yang itu?" Ibu penjualnya melihat Alia dan langsung tertarik. "Tidak banyak yang mengambilnya karena terlalu polos, tapi di mata saya itu yang paling menarik."


"Sepertinya kita punya penilaian yang sama, Bu. Saya akan mengambil yang ini seperti saran ibu." Alia bisa langsung akrab dengan ibu penjual gelang-gelang ini.


Daniel dengan cepat menggantikan Alia membayar gelang itu. Ia menarik Alia cepat, agar wanita itu tidak menolak dan sekaligus menghindarkannya dari pengunjung yang mulai ramai lagi.


"Berikan tangan," perintah Daniel saat mereka sudah berada di tempat yang lebih sepi.


Alia menurut meski dengan wajah masam. Daniel baru mengambil gelang itu dan memaksa untuk memakaikannya.


"Aku bisa sendiri," rajuknya.


"Tapi aku mau memasangkan," timpal Daniel, tidak peduli Alia semakin kesal. "Akan lebih bagus kalau kita membeli yang aslinya."


Alia menatap gelang di tangannya sambil tersenyum lebar. "Terimakasih. Tapi apa kau tahu, Daniel? Nilai suatu barang tidak ditentukan oleh harganya. Ada yang lebih penting daripada menentukan apakah ini barang asli atau palsu."


Alia mendongak dengan senyum manisnya yang selalu berhasil membawa Daniel terkesima. "Itu adalah kenangan dan orang-orangnya yang membuat barang itu bernilai. Setidaknya, begitulah pendapatku."


Daniel tersenyum tipis. Ia meletakkan tangannya di puncak kepala Alia dan mengelusnya lembut. "Aku juga akan mengambil itu sebagai pendapatku."


Alia kini tidak memprotes yang dilakukan Daniel.

__ADS_1


Bukankah ini sedikit menyenangkan?


__ADS_2