
"Meski begitu, aku juga tak ingin Daniel berakhir dengan anak yang bahkan belum berusia lima belas tahun. Apa karena itu, kau kesal saat ada wanita dewasa yang tiba-tiba berada di dekatnya?" Alia menangkupkan tangan, menatap Carla dengan penasaran.
"Kau tadi mengatakan aku terlihat dewasa, tapi sekarang kau jelas-jelas menganggapku anak kecil," gerutu Carla.
Alia tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya, menjangkau atas kepala Carla, lalu mengusapnya lembut. "Tidak ada yang benar-benar dewasa kalau menata rambut saja masih tidak bisa."
Dengan keras Carla menepis tangan Alia. "Jangan menyentuh kepala orang sembarangan."
"Biarkan aku merapikannya." Alia tiba-tiba saja sudah memegang cermin kecil dan sisir rambut. Ia menggeser posisinya semakin mendekati Carla.
"Darimana kau dapatkan it-AARGHH jangan sentuh-sentuh!" berontak Carla yang langsung menjauh.
"Sekali saja."
"Tidak mau!"
"Ayolah...."
"TIDAK!"
Alia masih bersikeras. "Aku tidak macam-macam. Hanya menyisirkan saja."
"Tidak! Sudah sana pergi!"
Carla mulai menyesal tidak segera mengusir Alia. Sekarang ia takkan bisa mendapatkan ketenangannya apabila keinginan Alia belum ia penuhi. Sebenarnya itu permintaan yang sangat mudah. Carla hanya tidak ingin seseorang menyentuhnya lagi. Tapi wajah Alia yang tidak menyiratkan apapun selain harapan itu membuatnya luluh.
"Huh! Anggap saja imbalan karena sudah membawakan sarapan," ketus Carla. "Ingat! Hanya menyisir saja."
Alia mengangguk senang. Ia menggeserkan posisi Carla sehingga membelakanginya. Alia juga memberikan satu buku secara otomatis. Berniat mencegah Carla tiba-tiba memberontak lagi di tengah-tengah.
Pekerjaan seperti ini adalah hal yang paling dinantinya. Alia sebenarnya akan lebih senang memiliki adik perempuan. Dengan begitu, ia bisa melakukan banyak eksperimen yang dipahami perempuan, seperti memasak, atau melakukan hal sederhana semacam menata rambut. Kehadiran gadis kecil dengan rambut dan mata indah ini menarik perhatiannya terhadap keinginan masa lalu itu.
Dulu jika Alia sedang bosan, ia sering berceloteh sembarang yang meminta Daniel untuk memanjangkan rambutnya. Di lain sisi, Daniel tidak keberatan menemaninya memasak, sehingga Alia tidak merasa terlalu kesepian. Itu juga yang membuat kekhawatiran Alia sedikit berkurang saat Daniel jauh darinya. Setidaknya ia tahu adiknya itu cukup mahir memasak karena sering membantunya sehingga tak akan berakhir kelaparan di negeri orang.
"Kau ternyata orang yang banyak bicara, ya?" celetuk Carla.
Alia menyisir rambut platinum Carla, mengagumi warna cantik itu. Sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Alia.
Bisa dibilang, Alia akan banyak bicara dalam kondisi tertentu, seperti keakrabannya dengan seseorang atau ketika ia memiliki ketertarikan terhadap sesuatu. Alia sangat tidak suka berbicara disaat dirinya sedang bekerja, jadi banyak rekan-rekan kerjanya yang memanggilnya pendiam. Sesuatu yang cukup bertolak belakang dengan sifat aslinya.
"Sudah selesai, kan? Sekarang mau kau apakan lagi rambutku?" protes Carla pada Alia yang masih memegang rambutnya meski sudah meletakkan sisir.
"Anak kecil harus terlihat seperti anak kecil. Imut dan menggemaskan." Alia merapikan sisa rambut Carla dan mulai membuat kepangan pada helai cantik itu.
Ucapan yang Alia keluarkan dengan lalu itu tidak diketahuinya begitu berdampak pada Carla. Gadis itu menjadi lebih diam dan kembali larut dalam lamunan.
"Daniel sangat tampan ya, sampai anak sekecil dirimu sampai menyukainya." Alia kini melepas ikat rambutnya, membiarkan rambut hitam legamnya mengayun lembut. Dengan ikat rambut itu, ia mengakhiri kepangannya. "Sayang sekali aku lupa menanyakan pita biru gelapku pada Daniel. Tapi sepertinya tidak cocok juga untukmu. Mungkin biru langit akan pas."
Carla tidak mendengarkan ucapan Alia yang selanjutnya. Ia menerima cermin dari Alia dan mulai membayangi diri di dalamnya. "Kak Daniel memang tampan. Tapi bukan itu yang membuatku suka. Kau tak perlu tahu alasannya. Wanita polos sepertimu akan langsung terguncang jika mendengar ceritaku."
__ADS_1
Alis Alia naik-turun mendengar ucapan itu. Ia merasa kesal dengan sebutan 'wanita polos', tapi merasa tak perlu memaksa Carla bercerita lebih jauh. Dari bayangan di cermin itu, ia bisa melihat ekspresi wajah Carla yang mengeras. Satu hal dari yang ia pahami dari siapapun yang membentuk ekspresi itu adalah bahwa Alia tidak bisa masuk lebih jauh. Kecuali orang itu sendiri yang mengizinkannya.
"Baiklah, baik. Sekarang bagaimana? Bukankah jadi lebih manis?" alih Alia dengan senyum riang. Ia sangat puas bisa meluapkan keinginannya itu.
"Jelek."
Alia mengangkat bahu, pura-pura tidak peduli dengan komentar itu. "Terimakasih sudah mengizinkanku menata rambutmu. Kau bisa melepasnya kalau tidak suka."
"Nanti saja, saat kau keluar."
Mendengar itu, membuat Alia tertawa pelan.
Carla yang sedang menatap Alia sedikit terkesan dengan tawa manis itu. Tapi sedetik kemudian kembali pada wajah juteknya. "Apa-apaan, sepertinya memang rival yang berat sekali."
"Kau terus membicarakan itu. Sudah kubilang, kan? Aku kakaknya Daniel. Rival darimananya?" Alia menggelengkan kepalanya pelan.
Mendengar ucapan Alia membuat Carla memutar bola matanya. "Bodoh sekali. Kau dan Kak Daniel mau dilihat siapapun akan lebih tampak seperti pasangan. Benar, benar. kau pasti terlalu bodoh sampai tidak menyadari makna tatapan Kak Daniel."
"Tatapan apa? Kau bicara aneh sekali. Tapi memang, banyak yang mengira kami pasangan jika berjalan bersama. Lucu sekali. Kami juga memang terpisah tiga tahun saja sih." Alia tidak terlalu memikirkan ucapan Carla. Ia hanya mengibaskan tangannya pelan.
Carla menghembuskan napas, memilih menyerah dengan argumentasi ini. "Ya... sepertinya dia juga belum sadar, sih," gumamnya pelan.
Tanpa Carla sadari, ia sudah memberikan tempat untuk Alia di perpustakaan itu. Carla merasa wanita di depannya tidak terlalu buruk menjadi teman bicara.
'Teman? Orang ini? Ih,'
Percakapan mereka yang mulai mengalir santai tiba-tiba terhenti saat ponsel Alia tiba-tiba berdering. "Ah, maaf, apa kau keberatan jika aku mengangkatnya disini saja?"
Carla mengendikkan bahu. "Kalau kau tak peduli aku mengetahui privasimu, ya aku juga tak masalah."
Alia tersenyum kecil, lalu mengangkat telepon itu setelah melihat nama yang tertera. "Halo-"
"AL!"
Baik Alia dan Carla langsung terlonjak saat panggilan keras itu terdengar. Alia merasa menyesal sudah mengaktifkan pengeras suaranya.
"Ya, Kevin. Ada ap-"
"Apa kau baik-baik saja?"
Alia menjawab perlahan. Ia menebak pria itu sangat panik saat mengetahui Alia tidak bekerja hari ini. Kevin memberitahukan semuanya tepat setelah Alia berpikir demikian. Setelah memastikan Alia baik-baik saja sebanyak tiga kali, barulah Kevin bisa bernapas lega.
Kevin sebelumnya mencoba menghubungi Alia, tapi tidak diangkat, jadi ia segera menghubungi Wilda. Tapi juga mendapat perlakuan yang sama. Beruntung ia sempat diberitahukan oleh salah satu pekerja yang mendapat kabar terbaru tentang Wilda. Wanita itu memberitahukan kalau ia akan pergi menuju Kota Pusat dan akan kembali sekitar tiga jam kemudian.
"Aku mencoba menghubungimu lagi, tapi panggilan sibuk. Apa kau sengaja mematikannya?" tanya Kevin.
"Ah, sepertinya aku tak sengaja salah menekan."
"Tapi aku menghubungimu berkali-kali."
__ADS_1
Alia memijit kepalanya. Sejak tadi, Daniel yang memegang ponselnya. Dia saja baru menyerahkan ponsel itu saat panggilan Wilda sudah yang keduapuluh sekian. Alia menebak Daniel sengaja tidak mengangkat nomor Kevin. "Maaf, kalau begitu. Ponselku tadi dibuat main anak kecil. Aku baru memegangnya penuh saat ini."
Carla berdeham kecil, berusaha menahan tawa. "Anak kecil," ejeknya.
Sesuai dengan yang dikatakannya tadi, ia saat ini bahkan memilih mendengarkan percakapan Alia dengan siapapun di seberang telepon itu. Carla merasa itu bukan perbuatan tidak baik sebab Alia yang duluan memberikan kesempatan.
Alia sendiri berusaha merespon dengan sebaik-baiknya. Kevin terus meminta maaf saat mengetahui hal yang harus dihadapi Alia saat ia tidak mengantarnya dengan benar.
"Aku sudah tidak apa-apa. Itu kesalahanku karena aku yang menginginkannya. Jangan merasa bersalah seperti ini." Alia tertawa kecil, berusaha membuat atmosfer yang menyenangkan.
"Kau ada di Kota Pusat, sekarang? Apa kita bisa bertemu satu hari nanti?"
"Ya, itu... sepertinya kau tak perlu memaksakan diri menyebrang kota untuk bertemu," tolak Alia.
"Hahaha, apa aku belum memberitahumu? Rumahku sebenarnya di Kota Pusat."
Alia cukup terkejut dengan informasi itu. Ia merasa Kevin mengada-ada. Tapi pria itu terlalu meyakinkan untuk berkata jujur. Akhirnya Alia menerima tawaran itu. Membiarkan Kevin yang menentukan tempat dan waktunya.
"Pacarmu?" tanya Carla saat Alia menutup teleponnya.
Alia menggeleng, "belum."
Dengan wajah tertarik, Carla menatap Alia lebih tajam. "Kau menyukainya? Jawabanmu bukan tidak, tetapi belum. Sedikit memaksa, ya."
"Aku belum menyukainya, karena itu kami belum berpacaran. Aku sedang berusaha." Alia menggosok tengkuknya, merasa sedikit malu.
"Apa kau segitu putus asanya dengan hubungan percintaan sampai melakukan hal seperti ini?" olok Carla.
Alia mengangkat bahu, terlihat agak frustasi. "Sebenarnya iya. Aku sudah putus asa. Usiaku terus bertambah tiap tahunnya, tapi aku bahkan belum mengenal genre romantis dalam kehidupan."
"Kau akan merasakannya tak lama lagi."
"Sungguh? Wah, syukurlah. Kukira aku takkan luluh pada pria selembut Kevin."
Carla menggeleng. "Bukan dengan dia."
"Lalu?"
"Ah, kau hanya perlu menjalaninya dengan baik, Alia," nasihat Carla dengan tenang.
Alia tidak begitu menangkap maksud Carla, pun menganggap ucapan itu dengan serius.
"Ngomong-ngomong, Carla, aku punya permintaan," cetus Alia tiba-tiba.
"Apa?"
"Cobalah memanggilku dengan lebih sopan seperti kau memanggil Daniel. Bukan Alia, tapi Kak Alia."
Demi mendengar itu, Carla langsung memberikan tatapan horor dan bersikap seakan-akan hendak muntah. "Silakan bermimpi karena kau tak akan merasakan itu di dunia nyata."
__ADS_1