Sisterzone

Sisterzone
Kunjungan ke makam


__ADS_3

"Berapa persen keyakinanmu bisa masuk ke universitas ini?"


"100%," jawab Daniel yakin.


Alia tersenyum bangga. Kalau Daniel sendiri berkata demikian, maka tak ada lagi yang boleh meragukannya. Perhitungan Daniel selalu tepat, dan jika berurusan dengan keyakinannya setelah melakukan sesuatu, Daniel tidak pernah menyebut angka secara sembarangan.


Mereka baru saja melewati gerbang penanda makam. Alia dan Daniel sama-sama mengenakan pakaian hitam. Masing-masing dari mereka juga membawa sekeranjang bunga. Alia mengikat rendah rambut gelombangnya dengan pita berwarna sama dengan yang selalu ia pakai. Pita biru gelap.


Seperti yang telah disepakati sejak sebulan setelah kelulusan, mereka mengunjungi makam setelah Daniel menyelesaikan tes beasiswanya tiga hari lalu.


Provinsi ini memiliki empat kota besar. Kota pusat, Kota Barat, Kota Selatan, dan Kota Utara. Daerah pemakaman besar ada di bagian pinggir Selatan dari Kota Barat, hampir mendekati Kota Selatan itu sendiri. Bagi Daniel dan Alia yang kediamannya dekat dengan pinggiran Kota Barat, pemakaman dapat dijangkau hanya dalam waktu setengah jam saja.


"Eh? Ada yang datang kesini?" Alia mempercepat langkahnya saat sudah bisa melihat makam kedua orangtuanya. Daniel mengikuti dari belakang.


Makam kedua orang tua mereka memang berdekatan, bahkan benar-benar bersebelahan. Alia memang menginginkan hal itu. Namun, karena ini pemakaman besar, ia sempat berhenti berharap. Tetapi secara kebetulan, lokasi pemakaman Ibunya memang tepat berada di sebelah Ayahnya. Alia tidak pernah mempertanyakan ini, tapi diam-diam merasa aneh juga.


Ibu mereka meninggal dua tahun lalu, saat Alia berusia sembilan belas dan Daniel di usia enam belas saat itu. Sementara ayah mereka wafat dua tahun sebelumnya lagi atau empat tahun lalu. Dalam dua tahun sejak ayahnya wafat, pastinya selalu ada pemakaman lain. Akan tetapi, ruang di sebelah makam ayah mereka seakan sengaja dikosongkan dan dilewati. Namun, Alia tidak membiarkan rasa penasarannya terus membesar. Selagi itu bukan hal yang buruk, ia tidak akan mengurusnya lebih jauh.


Daniel berjongkok di samping makam ayahnya. Ia bisa melihat taburan bunga segar dan tanah yang basah di kedua makam orang tua mereka. Lingkungan di sekitar makamnya juga sudah bersih. "Sepertinya belum lama," ujarnya.


Rumput-rumput yang telah dicabut dan dikumpulkan dalam satu tumpukan kecil bahkan juga masih segar, menandakan orang yang melakukan itu, belum lama pergi dari tempat ini.


Alia ikut berjongkok, tampak memikirkan sesuatu. Seingatnya, kedua orangtuanya itu tidak memiliki sanak saudara lagi disini. Itu juga yang menjadi penyebab sulitnya kehidupan mereka setelah kepeninggalan kedua orangtuanya.


"Siapa kira-kira yang melakukannya? Apa Ayah dan Ibu punya teman atau sahabat? Tapi bagaimana mereka tahu letak makam ini?" gumam Alia dengan suara kecil.


Daniel memperhatikan sekeliling dengan tajam. Ia berharap bisa menemukan seseorang di sekitar untuk ditanyai, atau lebih baik jika menemukan orang yang sudah melakukan semua ini.


Sayangnya, hanya ada mereka berdua disini. Ini memang tidak pada hari-hari biasa kunjungan makam, jadi suasananya benar-benar sedang sepi. Hanya gundukan makam dan pepohonan rindang sepanjang penglihatan. Gemerisik dedaunan dan semilir angin menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Daniel menatap lama pada sebuah pohon beringin terbesar di tengah kawasan makam yang cukup dekat dengan posisinya dan Alia saat ini. Ia memiliki insting yang tajam secara natural. Daniel baru hendak berdiri untuk memeriksa sebelum Alia menahannya.


"Mau kemana?"


"Pergi memeriksa."


"Tidak perlu." Alia mengibaskan tangannya. "Kerjakan apa yang bisa kita kerjakan. Tak perlu mencari tahu lebih jauh. Siapapun yang melakukan ini pasti berniat baik."

__ADS_1


Daniel tidak langsung menolak atau mengiyakan, tetapi setelah berpikir beberapa saat barulah ia kembali berjongkok di dekat Alia. Ia juga berpikir tak ada gunanya mencari tahu lebih jauh. Lagipula untuk apa orang yang melakukan hal baik seperti ini harus repot-repot bersembunyi seperti yang ia pikirkan sebelumnya.


"Ayah, Ibu, lihatlah putra kalian satu ini. Dia akan pergi jauh untuk sementara waktu dan meninggalkan kita. Alia harap, Ayah dan Ibu bisa mengawasinya dari atas sana," ujar Alia dengan suara keras.


Daniel yang sedang menaburkan bunga di makam Ibunya dan membelakangi Alia jadi terkekeh pelan saat mendengarkan ucapan itu.


"Kau baru saja tertawa?" Alia berbalik dan menatap belakang kepala Daniel dengan kesal.


"Tidak." Nada suara Daniel masih datar seperti biasanya. Kalau Alia melihat ekspresi wajahnya, pasti ia akan takjub dengan kecepatan Daniel mengubah ekspresinya.


"Bohong." Pendengaran Alia jelas masih bagus. Ia bisa mendengar tawa kecil Daniel dengan jelas tadi. Kondisi yang sepi memungkinkan Alia mendengarnya dengan jelas.


Daniel berbalik setelah mengosongkan keranjang bunganya di atas makam. Ia menatap Alia dengan wajah datar biasanya, bahkan dengan raut sedikit heran. Seakan-akan memang bukan dirinya asal tawa itu. "Aku tidak bohong. Kakak saja yang beranggapan demikian."


Alia masih menatap sengit. Ia bahkan sampai menelisik wajah Daniel.


"Pfft...."


Daniel tidak bisa mempertahankan wajah datarnya lagi. Ia menutup mulutnya, dan mulai tertawa tertahan sampai tubuhnya bergetar. Wajah dan telinga Daniel juga ikut memerah dengan cepat.


Plak.


Tawa tertahan Daniel menjadi ringisan kecil. Ia memegang bahunya yang dipukul Alia. "Ahaha, aduh... pukulan Kakak selalu pedih sekali." Daniel mengusap air diujung matanya.


Daniel tertawa sampai nyaris menangis. Pukulan Alia sebenarnya bukan apa-apa dibanding kesulitannya mengendalikan tawa tadi. Tapi Alia sudah terlanjur panik.


"Eh? Apa terlalu keras?" Alia terkejut dan mendekat. Dirinya yang pernah membuat pria dewasa pingsan seketika lewat ayunan pukulannya, jadi khawatir kalau Daniel benar-benar mengeluh kesakitan. "Ma-maaf. Kamu juga sih, siapa suruh menertawakan Kakak."


Daniel tersenyum tipis. Tawanya sudah selesai, tapi wajahnya masih kemerahan. "Kakak sudah besar, tapi kata-katanya seperti anak kecil. Ayah dan Ibu sudah tenang disana. Jangan pula diminta untuk mengawasi dunia ini lagi."


Bisa saja Alia semakin marah dan menambah protesnya setelah mendengar alasan Daniel yang menyamakannya dengan anak kecil. Tetapi senyuman Daniel membuatnya luluh. "Kakak akan memaafkanmu kali ini sebab kau jadi lebih tampan kalau sedang menurunkan harga senyumanmu yang biasanya sangat mahal itu."


"Astaga, bagaimana itu bisa berhubungan?" Daniel menggelengkan kepala, lalu mengambil keranjang di tangan Alia dan mendekatkan diri ke makam ayahnya.


"Dispensasi. Itu namanya dispensasi khusus orang tampan. Apa kau tidak pernah mengetahui kalau orang cantik atau tampan punya tempat istimewa sendiri di masyarakat?" Alia ikut mengambil kelopak bunga di keranjang yang beralih posisi ke Daniel dan menaburkannya di atas makam.

__ADS_1


"Memangnya aku tampan?"


"Apa penggemarmu tidak pernah memberitahukan hal ini?" Alia menjawab tak peduli.


"Pendapat Kakak lebih penting." Daniel kembali ke mode pabriknya. Wajah datarnya mendominasi saat ia menunggu jawaban Alia.


"Mengapa pula seperti itu?" tanya Alia heran. Tangannya masih tetap menaburkan bunga. tanpa sekalipun tertarik menoleh dan menatap ekspresi Daniel saat ini.


"Kak Alia tidak pernah berbohong," jawab Daniel santai.


Alia langsung menoleh Daniel. Ia merasa tersindir dengan jawaban itu. Alia bukannya tidak pernah berbohong. Selama ini, bukannya ia selalu berbohong? Alia tiba-tiba merasa perlu memukul kepala Daniel. Walau terkesan sebagai jawaban santai, Daniel jelas merasakan sesuatu yang Alia tutupi sehingga membuat pernyataan menjebak seperti ini.


"Terima kasih kalau begitu." Alia mengumpat dalam hati. Ia baru saja dipuji sebagai orang paling jujur. Tapi dengan akting pura-pura santainya saat ini, Alia merasa sebagai seorang penipu ulung.


Mereka membiarkan kicau burung dan gesekan dedaunan yang mengambil alih suara. Alia dan Daniel mulai membersihkan area makam kedua orangtuanya secara lebih luas. Tak butuh waktu lama sebab tempat itu sudah dibersihkan sebelumnya oleh seseorang yang tidak mereka ketahui.


Mereka bersiap untuk pulang setelah berada di makam hampir satu setengah jam. Setelah memberi penghormatan terakhir, Alia beranjak berdiri. Tetapi ia batal melangkah saat melihat Daniel yang tidak mengikutinya.


"Ada apa?"


Daniel menoleh. "Tidak ada. Hanya saja, apa Kak Alia pernah bertemu Kakek?"


Alia mengerutkan kening, merasa heran dengan pertanyaan itu. Tetapi kemudian ia bisa menangkap dengan cepat maksud ucapan Daniel.


"Tidak pernah." Alia diam sejenak sebelum melanjutkan, "Apa kau masih memikirkannya?"


"Mustahil kalau aku lupa. Kakak sendiri yang mengatakan kalau warna mata yang kupunya ini sama seperti yang diinginkan banyak orang. Tapi kepopuleran itu tidak berguna. Aku sungguh merasa amat berbeda dengan keluarga ini. Ayah, Ibu, dan Kak Alia punya manik indah dan dalam dengan warna hitam itu," jawab Daniel.


"Sudah Kakak bilang, kan? Kau mengambil gen Kakek dari Ayah. Kakek juga punya warna mata biru gelap seperti dirimu. Ibu yang memberitahukan itu sebelumnya." Alia menjelaskan lembut.


Daniel tidak merespon apapun. Ia tidak memiliki alasan untuk membantah. Namun, dirinya juga tidak begitu yakin dengan jawaban itu.


"Daniel, jangan terlalu memikirkannya. Kau saudaraku, selamanya akan selau begitu. Jangan khawatir. Dan juga...." Alia menjeda kata-katanya, membuat Daniel ikut berdiri dan menunggu lanjutan kalimat itu.


"Ayo pulang." Alia menggaet lengan Daniel yang tidak membawa keranjang sisa bunga tadi. Ia membawa Daniel untuk segera pergi keluar dari makam itu. Daniel akhirnya hanya pasrah dan membiarkan Alia menariknya hingga keluar pemakaman.

__ADS_1


Saat mereka berada cukup jauh, barulah siluet seseorang muncul dari balik pohon beringin terbesar di tengah makam.


__ADS_2