Sisterzone

Sisterzone
Sedikit masalah (II)


__ADS_3

"Dua puluh menit lagi," ujar Alia. Ia memperhatikan jam di ponselnya.


Daniel bergumam kecil, melanjutkan pekerjaannya dengan tenang. Alia benar-benar berada disini untuk memastikan waktu istirahatnya. Daniel melirik Alia yang terlihat sibuk dengan ponsel. Sangat jarang melihat Alia memegang ponselnya begitu lama, mengingat wanita itu lebih sering meninggalkannya di sembarang tempat.


"Pesan dari orang itu?" tanya Daniel. Ia berusaha bersikap normal, tetapi nada bicaranya tetap ketus.


Alia menoleh sekilas lalu mengangguk. Hanya satu yang satu orang yang bisa membuat Daniel jadi seketus ini. Jarinya bergerak kaku saat mengetikkan pesan di ponselnya. Alia sangat jarang bertukar pesan, jadi jemarinya masih belum begitu lincah.


"Bukannya tidak sopan berkirim pesan malam-malam begini?"


Alia menghela napas. "Lebih tidak sopan meninggalkan orang begitu saja setelah diundang. Anggap ini bentuk permintaan maaf untuknya."


Panggilan Kevin tadi sore memang untuk membahas tentang itu. Kevin meminta maaf atas perbuatan kurang ajarnya kemarin. Takut membuat Alia marah. Alia sendiri lebih khawatir Kevin tersinggung karena ia pergi meninggalkannya begitu saja. Mereka akhirnya membuat perjanjian dengan saling bertukar pesan secara rutin, agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai kekhawatiran masing-masing.


"Apa pria itu begitu penting? Kalau sampai membuat tidak nyaman, lebih baik ditinggalkan," sinis Daniel.


"Namanya Kevin. Kau ini enggan sekali memanggil namanya." Alia berusaha menghindar dari pertanyaan Daniel.


Upaya Alia yang membela Kevin membuat Daniel diliputi perasaan tak nyaman. Ia menutup laptopnya dan menghadap Alia dengan penuh.


"Kau sungguh menyukainya?" tanya Daniel dingin.


Alia ikut menghadap Daniel, sedikit gentar ditatap setajam itu. Mata biru gelap yang sering menatapnya lembut itu kini memancarkan kemarahan dan hal lain yang tak Alia tahu. "Panggil 'Kak'," cicitnya.


"Apa itu penting sekarang? Jawab pertanyaanku," tekan Daniel.


"Ti- Belum. Saat ini belum. Tapi nanti pasti-"


"Mengapa kau begitu teguh mempertahankan pria itu? Padahal menyukainya saja tidak." Daniel masih di tahap bisa mengontrol ucapannya, tetapi bagi Alia, dirinya sekarang sangat menakutkan.


Alia menggigit bibir dan menunduk. Pesan baru dari Kevin yang masuk ke ponselnya semakin mengacaukan perasaan Alia. "Bisa kita bicarakan nanti, Daniel?"


"Tidak. Kita selesaikan sekarang." Daniel menggeleng tegas dan mengambil ponsel Alia. "Mengapa kau begitu putus asa untuk mencoba menyukainya?"


Alia tidak ingin membahas tentang ini karena ia sendiri sangat malu mengakuinya. "Kembalikan ponselnya."


"Jawab, Alia."


"Kau sudah kurang ajar, Daniel. Hentikan ini." Alia berpura-pura marah agar Daniel bisa melepaskannya.


"A-LI-A RE-DA-LI-A." Daniel tidak berniat mengalah. "Jawab."


Alia menghela napas berat, tahu kalau ia tak lagi memiliki celah. "Kakak putus asa. Ini sangat memalukan, tidak ada wanita dewasa yang suka membicarakan ini. Kevin satu-satunya pria yang berani mendekati Kakakmu ini. Tidak mungkin Kakak juga melewatkan pria serius sepertinya."

__ADS_1


Wajah Alia sepenuhnya merah karena malu. Ia mencoba menutupi dengan kedua tangannya.


Daniel masih menatap tajam. Ia hampir gagal mempertahankan wajah seriusnya. Ekspresi malu Alia membuatnya berdebar kembali. "Itu bukan alasan yang bagus untuk tetap membuat Kevin bertahan."


Alia menghela napas berat. "Kau benar. Ini tidak adil baginya. Tapi masalah ini akan selesai kalau Kakak juga menyukainya."


"Mengapa masalah ini jadi sangat berat sekali? Kevin bukan satu-satunya pria yang menyukaimu."


"Usia Kakak dua puluh enam tahun ini. Tidak semudah itu mendapatkan pria yang benar-benar menyukai Kakak. Tidak ada lagi." Alia mulai menyesal terlalu apatis terhadap lingkungan romansa disekitarnya. Ia bahkan harus menggunakan Kevin seperti ini. Alia merasa seperti orang paling jahat di dunia ini.


Daniel benar, bukan alasan yang bagus mempertahankan Kevin seperti ini. Tidak ada yang menjamin perasaan Alia akan condong ke pria itu. Bagaimana jika ia akhirnya hanya memberikan harapan palsu padanya?


"Masih ada orang yang mencintaimu."


Alia menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Jangan menghibur Kakak dengan karangan seperti ini. Siapa yang mencintai Kakak selain Kevin?"


"Aku."


Alia mengerutkan keningnya. "Kau mengerti maksud percakapan ini kan, Daniel? Cinta romantis, bukan cinta antar sauda-"


"Aku mencintaimu, Alia." Daniel tidak menatap Alia setajam tadi, tetapi wajahnya menunjukkan keseriusan luar biasa. Telinga dan wajahnya mulai memerah perlahan. "Bukan sebagai Kakakku. Ini cinta seorang pria pada wanitanya."


Alia merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Tetapi itu mustahil karena ucapan Daniel begitu jelas. "Kau jangan main-main."


Jantung Alia seperti berhenti sejenak. Ia tidak pernah meragukan ucapan Daniel. Tapi apa ini? Apa adiknya baru saja menyatakan cinta padanya? Alia merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Baru saat ini ia memperhatikan maksud tatapan Daniel. Tatapan yang sama dengan yang ia terima dari Kevin. Bahkan lebih dalam dari itu.


Alia memegang kepalanya, merasa pusing seketika. Ia menggeleng pelan, menolak setiap pemikiran dan kilasan hari-hari lalu dimana Daniel mendekat padanya. "Tidak. Kau tidak serius tentang ini."


Alia berdiri dari kursinya dengan kaki bergelenyar, tak ubahnya macam agar-agar. Pernyataan itu jelas mengejutkannya. "Kembalikan ponselnya," lirih Alia.


Daniel masih duduk tenang, menatap tangan Alia yang terulur padanya.


Mata Alia melebar saat Daniel tiba-tiba menyentak tangannya, menarik Alia hingga hampir menubruk pria itu. Alia menahan dirinya dengan berpegangan pada pundak Daniel. Namun, seakan belum cukup, Daniel melepas genggamannya di tangan Alia dan memindahkannya ke pinggang wanita itu.


Satu tangan Daniel menahan belakang kepala Alia. Ia menarik Alia lebih dekat. Saat jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa senti, Daniel mengambil seluruh kenekatannya untuk menyatukan bibir mereka.


Jantung keduanya berpacu cepat. Bagi mereka yang baru melakukan ciuman ini untuk pertama kalinya, butuh waktu sejenak untuk menyadarkan diri. Alia yang tidak pernah menyangka Daniel akan melakukan ini masih dikuasai keterkejutan.


Daniel lebih dulu sadar. Ia sudah separuh terbenam di lumpur. Lebih baik menceburkan diri sepenuhnya. Daniel dengan sangat perlahan menyesap bibir bawah Alia. Ia menutup mata, membiarkan insting prianya mengambil alih. Seluruh pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan. Bagaimana bisa bibir Alia memberi rasa manis dan sengatan menakjubkan seperti ini?


Alia tersadar begitu Daniel menguatkan pegangannya di pinggang Alia. Memaksanya duduk dipangkuan Daniel. Alia terkejut bukan main. Posisi mereka sangat dekat. Tidak, daripada memikirkan ini, bukannya mereka sedang melakukan 'itu'?


Kewarasan kembali pada Alia. Ia mencoba mendorong Daniel, tapi pria itu begitu kuat menahannya. Alia mencengkram pundak Daniel saat merasakan lidah Daniel mencoba menyusup melewati bibirnya. Cara apa yang bisa Alia lakukan untuk melepaskan diri?

__ADS_1


Bagaimanapun, ia seorang wanita dewasa. Alia takut dirinya ikut terbuai oleh Daniel yang memperlakukan ciuman pertamanya dengan sangat lembut ini. Di satu sisi, ia tak ingin menyakiti Daniel. Alia akhirnya memberi gigitan kecil pada bibir Daniel. Namun, keragu-raguannya membuat gigitan itu tidak begitu kuat dan justru terkesan bermain-main.


Tetapi itu cukup berhasil. Daniel terjengit karenanya dan menjauhkan wajahnya.


Alia dan Daniel sama-sama berlomba mengais oksigen disekitar. Keduanya terengah-engah dengan wajah yang sama memerah.


"Nakalnya," bisik Daniel yang terdengar sensual. Suara serak dan berat Daniel membuatnya terdengar seksi.


Alia mendorong dan berontak sekuat tenaganya saat Daniel hendak melanjutkan ciuman mereka tadi. Ia berhasil meloloskan diri meski pinggangnya sampai menubruk meja Daniel. Alia menutupi bibirnya yang kemerahan dengan mata melotot penuh amarah.


"Kau gila! Apa yang kau pikirkan?!" teriak Alia. Ia tahu ini cukup terlambat, tetapi dengan sadar sepenuhnya seperti ini, amarahnya menjadi terkumpul.


"Alia," panggil Daniel.


"Kak Alia!" Alia mengoreksi sambil terengah-engah. Ia merasakan amarah yang sangat besar sampai kesulitan mengatur napasnya. "Panggil aku Kakak! Aku Kakakmu!"


Daniel berdiri dari kursinya, mencoba mendekat. Tetapi tindakannya itu membuat Alia mundur dengan cepat.


"Jangan maju lebih dari itu!" perintah Alia.


Daniel menghela napas. Ia ingin maju dengan langkah cepat dan menggapai Alia sebelum wanita itu menjauh. Tetapi melihat Alia yang begitu waspada dengannya membuat Daniel mengurungkan niat. Ia tidak ingin Alia justru takut atau lebih buruk, membencinya karena ini.


"Sebenarnya dimana letak salahnya?" Alia memegang kepalanya yang kembali dilanda sakit. "Bagaimana bisa kau, sampai berpikir seperti itu."


"Al-"


"Minta maaf dan katakan kalau kau hanya bermain-main. Kakak akan memaafkanmu jika kau melakukannya." Alia terus bergerak mundur.


Daniel terdiam. Dengan tegas ia menggelengkan kepalanya. Memberikan jawaban yang membuat lutut Alia melemas.


"Aku tidak bohong dengan perasaanku. Aku memang mencintaimu. Ini bukan main-main atau sejenisnya." Daniel kini tak tahan hanya diam. Ia melangkah maju menuju Alia yang sudah tepat di depan pintu.


"Kakak akan sangat membencimu kalau sampai kau menyusul Kakak nanti. Jernihkan pikiranmu dan jangan berbicara hal gila seperti ini lagi." Alia menunjuk Daniel, Baru kemudian dengan tangan bergetar ia membuka pintu ruangan itu dan berlari keluar. Meninggalkan Daniel sendirian disana.


Daniel tidak bisa menyusul Alia karena ucapannya itu. Ia akhirnya hanya memegang kepalanya dan menatap kue serta teh di mejanya yang sudah dingin. Ia mengempaskan tubuhnya di kursi, memikirkan kembali yang sudah terjadi.


"Ah, aku memang pencemburu," gumam Daniel sedikit frustasi. Ia tidak bisa menahan rasa panas hatinya tadi dan malah berakhir dengan mengungkapkan semua perasaannya. Benar-benar jauh dari rencananya semula yang lebih ingin memendamnya saja.


Daniel bisa memastikan kemarahan Alia ada di puncaknya. Tahap ketiga, mungkin. Tetapi untuk satu hal, Daniel menganggap itu sepadan.


Kemarahan dan bibir manis Alia benar-benar sepadan.


Daniel tersenyum kecil, mengenang tragedi ciuman beberapa saat lalu.

__ADS_1


"Tak apa, sedikit masalah juga tidak begitu buruk."


__ADS_2