Sisterzone

Sisterzone
Di toilet


__ADS_3

Alia memandangi refleksinya di kaca dalam toilet. Tidak ada orang lain disana selain dirinya. Sudah bermenit-menit sejak Alia ke toilet. Namun, yang dilakukannya hanya berdiri di depan kaca, melamun.


Keheningan tempat itu tak berlangsung lama.


Pintu toilet yang terbuka membuat Alia membalik tubuhnya cepat. Bukan hanya terkejut biasa. Alia sungguhan kaget Melihat karena siapa yang masuk ke toilet. Ia menatap pantulan pria tinggi di kacanya.


"Kau sedang apa disini?" tanya Alia panik. Ia berusaha memelankan suaranya. "Kau salah tempat. Ini toilet wanita, Daniel."


Daniel menoleh singkat pada pintu di belakangnya. "Aku sengaja masuk kesini."


Alia merasa gendang telinganya tidak berfungsi dengan baik. "Apa kau bilang?"


Tatapan datar diarahkan Daniel pada Alia. "Kau lama sekali di dalam. Kukira terjadi sesuatu, jadi aku langsung masuk."


"Kau terlalu sembarangan. Bagaimana jika ada orang lain disini. Kau bisa diteriaki mesum," serang Alia. Ia mulai Daniel mempunyai semacam gangguan di kepalanya. "Ah, sebaiknya kita cepat-cepat keluar dulu."


Alia menarik lengan baju Daniel. Ia baru akan menarik pintu toilet sebelum mendengar langkah kaki dan suara percakapan perempuan ke arahnya. Dengan cepat, ia berbalik dan melangkah cepat memasuki salah satu kamar kecil. Untung bagi Alia, Daniel tidak melawan tarikannya. Sangat mustahilnya bisa membawa tubuh besar Daniel kalau dia menolak.


Tepat begitu Alia mengunci pintunya, tiga orang wanita masuk ke toilet. Alia menghela napas lega diam-diam. Ia memberi tanda pada Daniel untuk tetap diam. Alia menatap cemas ke pintu, berharap para wanita itu tidak menyadari keberadaan mereka. Ia tak sadar kalau Daniel di belakangnya sedang tersenyum tipis.


Alia terlambat menyadari saat tubuhnya terangkat tiba-tiba. Daniel menggendongnya dengan gerakan cepat lalu mengambil tempat di kloset duduk. Ia melepas satu tangannya yang mengangkat kaki Alia begitu wanita itu sudah duduk di pangkuannya. Dengan cepat tangannya membungkam mulut Alia yang baru hendak refleks menjerit.


"Ssst," desis Daniel dengan sudut bibir yang terangkat.


Alia melayangkan protes lewat tatapan matanya, hendak berontak dari posisinya. Tetapi Daniel sudah mengantisipasi dengan menahannya lebih dekat. Lewat tatapan juga, Daniel menunjuk sela di bagian bawah pintu yang bisa terlihat dari luar.


"Kaki," desisnya.


Begitu Alia menyadari itu, ia tak jadi berusaha melepaskan diri. Alia memalingkan wajahnya, tahu kalau saat ini Daniel sedang menatapnya.


"Lehermu terlalu terbuka," bisik Daniel di telinga Alia.


Alia menatap Daniel penuh kecaman sembari memegang telinganya yang terasa geli oleh bisikan itu. Pilihan buruk karena sekarang ia harus menghadapi manik biru gelap Daniel yang juga menatapnya.


Warna yang dalam dan menakjubkan. Alia selalu mengagumi mata Daniel. Menatapnya selalu seperti menyelam ke dasar samudera yang gelap. Dingin dan sunyi. Misterius dan menakutkan. Tetapi itu selalu menjadi bagian yang mendebarkan.


Satu tangan Daniel bergerak mengusap anak rambut di samping wajah Alia. Bergerak ke belakang, Daniel melepas gelungan rambut hitam Alia. Membiarkannya menggantung bebas, terurai sempurna.


Daniel mendekatkan wajahnya, merendahkan suara. "Banyak yang menatapmu dengan gaya rambut ini. Aku tak suka."


Bisikan itu membuat Alia merinding. Ia mendorong wajah Daniel sekuat tenaganya. Alia melakukannya sesenyap mungkin. Wajahnya memerah tanpa bisa dihindari.

__ADS_1


"Panas!" ucap Alia tanpa suara.


"Aku juga," balas Daniel dengan senyuman yang terkesan nakal.


Alia ingin memukul kepala Daniel saat ini. Memohon dalam hati agar para wanita di luar bisa segera pergi. Alia bisa gila jika terus menerus berada dalam posisi ini.


Tiga wanita itu tentunya tidak bisa mendengar permohonan Alia. Mereka justru saling melempar canda di luar. Alia menebak wanita-wanita itu sedang memperbaiki riasannya. Ia selalu geram pada para wanita yang begitu terobsesi dengan hal ini sampai menghabiskan waktu lama dimanapun.


Cup.


Alia kembali menatap Daniel dengan wajah terkejut sempurna. Ia memegang pipinya yang mendapat kecupan ringan Daniel beberapa detik lalu. Wajahnya memerah penuh seiring dengan jantungnya yang berdetak kencang.


Daniel sendiri tidak bisa menunda telinga dan wajahnya yang juga memerah. Tetapi kontras dengan raut terkejut Alia, Daniel jauh lebih tenang. Senyumnya terkembang puas.


Berada sedekat ini dengan Alia sudah cukup membuat Daniel memperbaiki suasana hatinya. Ekspresi terkejut Alia yang dicampur oleh rona wajahnya terlihat sangat manis di mata Daniel.


"Kau!" geram Alia.


"Jangan lupa kalau kau yang menarikku kesini."


Menggoda Alia dan memperhatikan wajah merahnya menjadi salah satu hal yang Daniel sukai akhir-akhir ini.


"Apa kalian tadi melihat pria muda tinggi yang ada di meja khusus? Tampan sekali."


"Ah, iya. Dari tadi aku juga menatapnya. Bagaimana bisa manusia punya wajah setampan itu?"


"Hahaha, benar sekali. Aku setuju ikut kesini karena berharap bertemu dengannya. Kulihat tadi dia ke arah toilet. Apa mungkin dia masih di toilet pria, ya?"


Percakapan itu didengar dengan baik oleh Daniel dan Alia. Tidak ada respon khusus dari Daniel. Sementara Alia merasa ingin tertawa sekaligus menangis menanggapi gosip itu.


Dari cirinya, jelas mereka membicarakan Daniel. Para wanita itu sama sekali tidak tahu kalau objek gosip mereka sedang bersembunyi di salah satu kamar kecil disini. Ikut mendengarkan dengan tenang.


Jika Alia mendengar pujian ini beberapa minggu lalu, pasti ia akan menjadi seorang kakak yang bangga. Tetapi setelah mengetahui perasaan Daniel, Alia bingung cara menerjemahkan perasaannya sendiri kali ini.


"Tapi kalian lihat wanita disebelahnya tadi. Apa itu kekasihnya? Mereka terlihat cocok, ya meski aku lebih cantik darinya."


"Apa itu? Jelas wanita itu lebih baik. Dia terlihat anggun dan elegan. Wajahnya manis juga, cocok saja dengan pria itu."


"Tenang, kawan. Mungkin saja akan ada pangeran lain yang akan menjemputmu kelak. Jangan mengganggu pasangan dengan kemistri sempurna itu. Lebih baik kita kembali sekarang, aku mau mencoba kue-kuenya. WR Coffee yang ada di Kota Barat terkenal karena makanan dan minumannya yang enak. Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini selagi gratis."


Alia yang masih mendengarkan berusaha menahan umpatannya. Sebab masih butuh sekitar dua menit lainnya sebelum mereka beranjak pergi.

__ADS_1


"Pasangan yang cocok katanya." Daniel memainkan rambut Alia dengan senyum lembut.


Tebakan itu bukan hal yang asing bagi mereka. Hampir tidak ada yang menyangka kalau keduanya adalah saudara dalam sekali nilai. Alia dan Daniel memang tidak memiliki kesamaan paras selayaknya saudara pada umumnya.


Kalimat itu bukan hal yang baru, tetapi dengan situasi mereka akhir-akhir ini, anggapan itu menjadi sangat mengganggu Alia.


"Lepas!" Alia berontak dan turun dari pangkuan Daniel dengan cepat. Ia memegang rambutnya, berusaha menggelungnya lagi.


"Aku bilang, lehermu terlalu terbuka." Daniel yang ikut berdiri dengan cepat menyentuh lembut belakang leher Alia.


Alia menghindar dengan berbalik cepat.


"Aku cemburu."


Tidak ada sorot lembut yang tersisa. Senyum juga menghilang dari wajah Daniel. Ia terlihat serius kali ini.


Tangan Alia berhenti. Ia ingin membalas dengan mengatakan kalau dirinya tak peduli dengan perasaan Daniel, tetapi kalimatnya terhenti. Alih-alih melakukan itu, Alia tidak berkata apapun dan memilih keluar dari tempat itu. Ia bergegas, takut akan ada yang datang ke toilet lagi.


Daniel menyusul di belakangnya dengan langkah lebar. Perasaannya semakin membaik karena Alia mau mendengarkan ucapan spontannya tadi.


Mereka berjalan beriringan tanpa saling berkata apapun hingga Alia berhenti tiba-tiba.


"Kau duluan," ujar Alia. Ia mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya. "Carla? Maaf, aku kembali sekarang."


Daniel tidak mendahului Alia, melainkan tetap menunggunya.


"Kau jangan main-main," seru Alia setengah panik.


Sambungan itu dari Carla. Mereka masih membicarakan sedikit hal sebelum Carla memutuskan teleponnya secara sepihak.


"Ada apa?" tanya Daniel.


Alia memijit kepalanya pelan. "Carla, dia pulang duluan. Riki menjemputnya."


"Oh, bagus kalau begitu," komentar Daniel. Ia lalu kembali melangkah sambil bersiul kecil.


Apa yang bagus dari itu?


Saat ini tinggal dirinya dan Daniel berdua.


Alia merasa ketenangannya dua hari kemarin benar-benar dibalas dengan keras hari ini.

__ADS_1


__ADS_2