
Alia berjalan menyusuri bangunan utama. Seorang pelayan perempuan mengantarnya dengan senyum lebar.
"Ini sangat luar biasa. Aku pikir hanya akan melihat ini di film-film saja," celetuk Alia, mengagumi ornamen dan hiasan elegan sepanjang perjalanannya. "Kau sendiri? Apa sudah pernah bekerja di tempat seperti ini juga sebelumnya?"
Pelayan itu kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba ditujukan kepadanya. Ia menggosok belakang kepalanya dengan ragu. "Ini yang pertama, nona. Tempat ini memang bagus sekali."
"Jangan panggil nona. Alia saja. Panggilan itu membuatku geli," tukas Alia. Ia bergidik sendiri dengan panggilan itu. Baginya itu hal yang sangat mengganggu dan merusak pendengaran. Apalagi selain Daniel, di rumah ini semuanya memanggil dengan sebutan itu.
"Nona, bagaimana bisa? Kami tetap harus-"
"Alia saja, kumohon," pinta Alia yang tiba-tiba berhenti melangkah. Ia memegangi perut dan mulutnya secara bersamaan, membuat pose seakan hendak muntah.
"Aah! Nona, eh, Al-Alia. Apa anda baik-baik saja?" Pelayan itu terkejut setengah mati.
Alia berbalik lalu tersenyum lebar, bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. "Nah, seperti itu lebih baik."
Pelayan itu menjadi salah tingkah. Menyadari itu, Alia menepuk pundaknya dengan lembut. "Terimakasih, ya. Beri tahukan yang lain agar memanggilku seperti itu juga."
Pelayan itu tidak berkata-kata. Ia hanya menatap Alia dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak banyak yang mempedulikan statusnya sebagai pelayan disini. Meskipun mendapatkan perlakuan yang baik, ia masih belum terbiasa dengan sikap dingin sebagian besar penghuni di rumah ini. Jadi senyuman dan sikap ramah Alia sangat mengharukan baginya. Apalagi ia mengetahui status Alia disini sebagai apa.
"Eh? Kau menangis? A-apa aku salah mengucapkan sesuatu? Maaf, aku tidak bermaksud..." Alia ganti menjadi panik.
Pelayan itu menggelengkan kepalanya seraya menggosok mata. "Tidak, bukan apa-apa. Saya hanya terharu dan senang dengan kebaikan hati No-maksud saya Alia. Saya harap anak-anak saya bisa meniru kebaikan ini di masa depan."
Alia seperti tersambar petir. Ia merasa pelayan ini lebih muda dari dirinya, tapi apa yang didengarnya tadi? Anak?
"Eh? Berapa usiamu?"
"Dua puluh empat," jawab pelayan itu.
"Sudah punya anak?" Alia masih terbelalak takjub.
"Iya. Satu berusia dua tahun. Yang lain usianya empat tahun. Dua-duanya perempuan."
Alia langsung bungkam. Ia merasa harus lebih banyak mengasihani dirinya sendiri. Sampai usianya sekarang, ia bahkan belum pernah berpacaran. Perubahan raut wajah Alia membuat pelayan itu khawatir. Tapi Alia segera menenangkannya, memintanya terus membawa ke perpustakaan yang dituju.
Tujuan Alia memang perpustakaan. Sesuai yang dikatakan Daniel, Alia ingin menemui seseorang. Gadis kecil bernama Carla itu sudah menarik rasa penasarannya. Alia meminta diantar sampai ia bisa melihat pintu perpustakaan itu sehingga pelayan tadi bisa kembali ke pekerjaannya.
Alia mendorong pintu perpustakaan, masuk dengan hati-hati. Mata Alia melebar, menyaksikan ruangan putih lebar yang terbagi menjadi dua lantai. Sisi kanan dan kiri sudah dipenuhi rak-rak berwarna putih yang penuh dengan buku. Alia mendongak, menatap jajaran rak penuh lainnya di lantai dua. Terkagum-kagum oleh koleksi buku-buku yang ada.
"Daniel memang menyukai buku, tapi tak kusangka ia akan berbuat segini banyak untuk perpustakaannya," gumam Alia.
Sebuah tangga kayu yang berwarna senada bersandar di salah satu rak. Alia terus melangkah. Konsep perpustakaan ini berpusat pada bagian ujung ruangan yang menyempit. Terdapat meja dan kursi panjang disana. Juga orang yang dicarinya.
Alia berjalan mendekat, tersenyum geli saat melihat gadis itu sedang berbaring membelakanginya di atas meja dengan satu buku di tangan.
__ADS_1
"Kepalamu bisa sakit jika kau tidur seperti itu," saran Alia.
Bagi Carla, itu seperti letupan bom di siang bolong. Ia kaget setengah mati dan langsung berguling ke bawah, mendarat sempurna dan mengacungkan benda ke arah Alia. "Sialan, apa yang kau lakukan!"
Alia sudah tersentak saat Carla berguling, tapi ia lebih kaget lagi dengan benda yang saat ini ada di tangan gadis itu. Alia mengangkat tangannya seperti penjahat yang ditodong polisi.
"Bi-bisa kau turunkan benda itu? Sangat berbahaya bermain-main dengan senjata, Carla."
Carla tetap mengacungkan pistol di tangannya, mengernyit tidak suka. "Jangan menyebut namaku sesukamu."
Alia menghela napas pelan, lalu menurunkan kedua tangannya. "Baik, baik. Aku sekarang akan mundur."
"Keluar sekalian. Tidak perlu masuk lagi," ketus Carla. Ia memastikan Alia terus berjalan mundur dan mengambil langkah pergi dari tempat itu.
Carla memutar bola mata, menurunkan pistolnya dan kembali mengambil buku yang tadi dijatuhkannya. Ia duduk di kursi panjang dan kembali memikirkan kejadian tadi. Carla merasa cukup yakin dengan kewaspadaan dan instingnya. Tapi ia bahkan tidak bisa menyadari keberadaan Alia sampai wanita itu bersuara.
"Apa sebab aku terlalu asyik dengan bukuku?" duga Carla, memperhatikan lagi buku di tangannya. "Aku harus lebih melatih kewaspadaanku."
Carla kini duduk menghadap langsung ke pintu perpustakaan agar bisa memperhatikan sekitarnya. "Ah, dia pasti ketakutan sampai tidak berani kesini lagi. Ya... Siapapun akan merasa begitu jika ditodongkan pistol seperti tadi. Semuanya akan berespon sama."
Buku tebal di tangan Carla kini tak terasa menarik lagi. Ia menghela napas, merasa kesal karena Alia sudah merusak kesenangannya dengan tiba-tiba datang kemari. Carla menoleh, menatap kosong pada rak-rak buku. Cukup lama ia menghabiskan waktu untuk melamun saja.
Bagi seorang pecinta buku sepertinya, tempat ini adalah surga. Tapi jika ia semakin memperhatikan, terutama pada jumlah buku-buku disini, maka semakin sadarlah ia pada kata yang paling dihindarinya.
Carla menggeleng kuat, menepis anggapan itu. Ia beranjak dari duduknya, berniat meletakkan bukunya lagi dan mencari tema buku yang lebih ringan. Saat ia sedang mencari-cari buku itu, seseorang sudah hadir lagi di tempat itu tanpa menimbulkan keributan.
"Aku membawakan sarapan."
Carla berteriak tertahan. Ia membalik tubuhnya cepat dan menatap horor pada Alia yang baru meletakkan nampan ke atas meja.
"Daniel bilang kau suka roti panggang selai stroberi. Kukira itu alasan hanya ada selai rasa ini dan buah stroberi di freezer. Kau belum sempat makan, kan, tadi?"
Carla masih terperangah, tapi segera menguasai diri. "Aku sudah bilang untuk tidak kembali."
"Sayangnya kau berbicara denganku. Aku kurang suka diperintah oleh orang yang lebih muda dariku. Pengalaman itu membuatku muak," jawab Alia sekenanya. Mengingat Daniel secara otomatis. "Aku tidak memasukkan apapun ke dalamnya, kalau kau khawatir tentang itu. Setelah ini, aku ingin melihat beberapa buku."
Alia melangkah pergi setelah itu. Ia menemukan tangga di sudut ruangan dan langsung menuju lantai dua, tempat beberapa rak buku bertengger disana.
Tidak ada yang bisa dilakukan Carla saat melihat Alia dengan santainya menaiki tangga. Ia akhirnya hanya menatap pada sepiring roti bakar dengan beberapa buah stroberi disebelahnya dan segelas susu putih. Carla baru akan bertekad tidak ingin memakan itu ketika perutnya tiba-tiba berbunyi keras.
"Tidak peduli, ah," celetuk Carla pada akhirnya, mengambil roti bakar yang terlihat sangat menggoda itu. Awalnya ia hanya ingin memakan sedikit, tetapi Alia yang tak kunjung turun membuat Carla tak bisa menahan untuk tidak melahap semuanya. Termasuk menghabiskan segelas susu itu.
"Sekarang bantu aku memilihnya." Alia turun beberapa saat kemudian dengan setumpuk buku. Ia langsung meletakkan buku-buku itu di meja dekat Carla. "Kau pasti lebih berpengalaman dengan buku-buku ini, jadi tolong pilihkan untukku."
Carla mengernyit, merasa Alia merepotkan. Tapi melihat senyum antusias Alia membuatnya berkomentar sedikit saat Alia membacakan sinopsis buku-buku yang dibawanya.
__ADS_1
"Yang itu punya plot cerita lumayan berat, otakmu mungkin tidak sampai."
"Itu cerita klise yang membosankan, mungkin sesuai dengan dirimu."
"Tokohnya seorang pecundang yang berubah karena seorang wanita. Cih, cerita yang tidak masuk akal."
Alia menggaruk kepalanya, akhirnya memilih satu buku yang dirasanya tidak begitu parah mendapat komentar Carla.
"Kau ini bahkan hanya membaca novel saja. Bagaimana bisa jadi lebih pintar?"
Telinga Alia terasa memanas. "Sayang sekali, otakku memang hanya mampu mengikuti alur novel. Aku tak hobi belajar, ngomong-ngomong."
Carla tersenyum merendahkan, melirik judul-judul novel yang Alia bawa.
"Apa ini semua koleksi Daniel?" tanya Alia.
"Aku ikut membantu dalam memilihkan buku sekaligus memberi ide dalam interior ruangan ini." Walau diucapkan dengan ringan, kesombongan tetap terdengar di kalimat-kalimat Carla.
"Itu keren," puji Alia dengan mata berbinar.
Carla cukup sering mendengar pujian itu, tapi pujian dari Alia sedikit berbeda. Wanita itu terlihat polos dan tulus dalam mengucapkannya, membuat Carla merasa sedikit senang.
"Sudah kuduga, kau memang anak gadis yang berbeda. Kau lebih dewasa dari kebanyakan anak-anak lain."
Seharusnya Carla juga merasa bangga dengan pujian itu. Tapi ucapan jujur Alia membuatnya lebih kesal dari yang sudah-sudah. Ia tak begitu suka disebut seperti itu.
"Tapi tetap saja. Kau ini masih anak-anak mau bagaimanapun kau bersikap, hahaha." Alia tidak menyadari distorsi ekspresi Carla dan terus menyatakan apa yang benar-benar ia pikirkan.
Sesuatu yang Carla rasa berbeda.
"Oh, satu hal lagi. Kelihatannya kau tidak menyukaiku? Apa kau punya alasan tertentu?" tanya Alia. Kini ia cukup penasaran dengan jawaban yang akan Carla berikan.
"Syukurlah kau menyadarinya? Kenapa? Kau tak suka disikapi begitu?"
"Semua orang punya hak untuk menyukai atau membenci seseorang. Aku tidak mempermasalahkan itu. Hanya ingin tahu alasan yang membuatmu tidak menyukaiku," jawab Alia tenang, tidak terprovokasi oleh ucapan Carla.
"Karena kita rival."
Alia mengerutkan kening. "Rival? Rival dari apa?"
Saat itu Carla tiba-tiba berdiri dan menjadi lebih serius. "Dengarkan ini baik-baik. Aku ini menyukai Kak Daniel. Jadi jika kau berani dekat-dekat dengannya, maka kita adalah rival."
Demi mendengar itu, Alia terdiam lalu tertawa dengan keras. "Astaga, aku tak menyangka akan mendengar itu dari mulut gadis manis sepertimu. Perhatikan ini, Carla. Aku dan Daniel adalah saudara. Bagaimana kau akan cemburu dengan calon kakak iparmu?"
Carla tidak merespon apapun, sebaliknya hanya menatap Alia yang masih terpingkal.
__ADS_1