Sisterzone

Sisterzone
Mulai pembicaraan


__ADS_3

"Haah…"


"Aduh, tidak ada makan malam buatan Dewi lagi."


Keluhan keluar dari mulut Aslan dan Edward. Mereka menemukan dapur masih sekosong pagi tadi. Dichey menatap kebingungan pada ekspresi kecewa mereka berdua. Ia menatap Riki, meminta penjelasan tanpa berkata-kata.


Riki menjelaskan alasan kemurungan dua pria itu pada Dichey sambil sesekali melirik Daniel. Pria itu memasuki dapur dengan tenang, tidak terganggu pada keluh kesah dua orang yang sudah duduk dengan masam di meja makan.


"Oh, kalian sudah pulang." Carla berjalan memasuki dapur. Terlihat santai saat mengambil minum. Ia baru akan meninggalkan tempat itu ketika Daniel menghentikannya.


"Bagaimana dengan Alia?" tanya Daniel dengan ekspresi datar.


Carla mengangkat bahu tak peduli. "Mengapa tanya padaku? Kak Daniel harus mengeceknya sendiri."


Carla melanjutkan langkahnya dengan ringan. Saat di pintu dapur baru ia berbalik lagi. "Oh, Kak Daniel lebih baik membawa sesuatu. Dia tidak ada keluar dari kamarnya seharian ini."


Daniel mematung mendengar ucapan itu. Ia berdiri dengan cepat dan menggulung lengan kemejanya. Mulai mengambil peralatan masak.


"Wah, Daniel akan memasakkan makanan!" seru Edward.


"Masakannya lumayan, sih. Bolehlah," komentar Aslan dengan cengiran lebar.


Daniel menoleh dan menatap mereka tajam. "Aku hanya akan membuat satu porsi makanan. Kalau kalian ingin ikut makan, bantu aku agar bisa selesai cepat."


Sekelompok pria itu saling memandang. Tiga orang segera berdiri sementara Dichey menyusul meski sedikit bingung.


Aslan baru mendorong kursinya saat Riki menahan bahunya. "Lebih baik kau tidak ikut membantu."


"Aku masih ingin tidur dengan tenang malam ini. Perkataan Riki sudah benar. Kau siapkan alat makan saja." Edward ikutan menepuk pundak Aslan dan berjalan mendekati Daniel diikuti Dichey.


Carla yang masih berdiri di ambang pintu tertawa tanpa ada seorangpun yang sadar. Ia memperhatikan kesibukan di dapur lalu melenggang pergi.


"Jangan kira dengan mendukung idemu, aku langsung menyerah dengan kapalku. Alia dan Daniel, kalian berlayarlah segera." Carla bersenandung riang. Perasaannya seharian ini sangat bagus. Ia tak sabar melihat hasil dorongannya malam ini esok pagi.


Daniel menyelesaikan masakannya dengan cepat. Setelah mengisi semangkuk sup sayur kilatnya dan meletakkan segelas air putih di nampan, ia langsung pergi. Meninggalkan sisanya untuk empat orang yang tersisa disana.


"Memang tak buruk. Tapi ini kurang."


"Haruskah kita memesan makanan lagi dari luar?"


Empat pria itu menghela napas bersamaan. Akhirnya sepakat melakukan putar botol untuk menentukan siapa yang akan membayar seluruh pesanan mereka.


Di kepala Daniel hanya ada bayangan Alia yang sedang memegang perutnya kelaparan. Ia menaiki tangga dan berdiri tepat di depan kamar Alia.


Tok Tok Tok...


Daniel mendekatkan telinganya setelah mengetuk perlahan, ia mendengar suara langkah kaki dari dalam. Perasaannya sedikit lega karena itu artinya Alia tidak sedang berbaring kesakitan. Langkah kaki itu mendekat ke pintu. Ketika Daniel sudah mengira Alia langsung membukakan pintunya, langkah kaki itu tiba-tiba berhenti.

__ADS_1


"Siapa?"


Daniel sedikit ragu bersuara. Namun, rasanya sedikit menangkan bisa mendengar suara Alia setelah seharian ini. "Aku."


Alia di balik pintu itu terdiam. Tidak memberi tanggapan segera.


"Kau belum makan, kan? Aku bawakan makanan."


Sunyi sesaat.


"Sudah," jawab Alia. "Tolong pergi."


"Belum. Kau tak ada keluar seharian ini."


"Sudah."


Daniel menghela napas. "Jangan berbohong."


"Kenapa pula harus bohong?" Nada suara Alia terdengar kebingungan. "Siapa yang bilang begitu?"


"Carla."


Hening lagi.


"Sudahlah, pergi Daniel. Pintu ini tak akan terbuka juga untukmu." Alia menyudahi pembicaraan itu dengan melangkah pergi.


Nampan berisi sup sayur yang Daniel buat diletakkan di dekat pintu. Ia menghela napas dan berjalan pergi, menuruni tangga dengan cepat.


Di dalam kamar, Alia masih menatap pintu itu dari atas ranjangnya. Langkah lebar dan berat menjauh dari depan pintu. Meski begitu, Alia tetap tidak berniat untuk memastikan kepergian Daniel. Takut salah mendengar dan pria itu malah masih berdiri di depan pintunya.


Alia bernapas lega. Buku yang diberikan Carla siang tadi diraihnya. Malam masih terlalu muda untuk tidur dan Alia tidak merasa mengantuk sama sekali. Ia mulai membaca bukunya sembari melirik pintu dari waktu ke waktu.


"Carla mengarang apa lagi sampai Daniel memaksa makan. Dia, kan, tahu aku sudah makan tadi," gumam Alia sambil menggaruk kepalanya.


Sangat benar pernyataan kalau Alia menghindari Daniel. Itu bentuk protesnya, meski memang terdengar kekanakan sekali. Lagipula suasana hatinya kembali buruk karena Daniel masih memanggil langsung dengan namanya.


"Anak itu apa masih tidak menyadari kesalahannya?" Alia kembali bergumam, merasa dongkol sekali.


Alia berusaha kembali fokus ke bukunya. Tidak menghiraukan apapun lagi disekitar.


"Harusnya pintu balkonpun dikunci."


Suara berat yang tiba-tiba muncul membuat Alia terlonjak kaget. Ia menoleh cepat seraya mendekap buku. Matanya melebar saat menangkap siluet tubuh tinggi di balik tirai tipisnya. Daniel sedang membelakangi, nampak baru mengunci pintu kaca tersebut.


"Apa yang kau lakukan?!" desis Alia.


Daniel berbalik dan menyibak tirai. Ia menatap Alia sejenak lalu melangkah mendekati pintu kamar depan. Daniel membuka kunci pintunya selagi Alia masih duduk dalam keterkejutannya. Daniel membuka pintu, lalu mengambil nampan berisi mangkuk sup dan gelas di depannya. Ia kembali menutup pintu dan mengantongi kunci kamar Alia.

__ADS_1


"Makan," suruh Daniel. Ia sudah menggeser kursi di depan meja rias Alia ke dekat ranjangnya. Daniel meletakkan nampannya di atas meja dan mengambil mangkuk supnya.


"Kau memanjat balkon?" tanya Alia. Menatap bergantian antara Daniel dan tempat ia muncul tiba-tiba tadi.


"Bukan cuma Aslan yang bisa melakukan itu. Bahkan pria bongsor seperti Dichey juga bisa," jawab Daniel. Ia mengusap peluh di dahinya dengan satu tangan.


Alia meletakkan bukunya. Menatap ke sembarang tempat yang menghindarkannya dari sorot datar biru gelap itu.


"Carla bilang kau belum makan seharian ini." Daniel menunjukkan kecemasan tipis.


Alia menatap kosong sambil membuka mulutnya kecil. Dalam hatinya ia mendamprat Carla habis-habisan.


"Sudah. Malah dia yang membawakan makanan tadi."


Alia berbohong.


Lebih tepatnya, ia yang membuat makanannya sendiri. Mana bisa Alia mengatakan kalau ia sempat turun ke dapur beberapa kali hari ini. Di satu sisi ia tidak ingin membuat Carla menyiapkan makanannya atau bisa-bisa kecelakaan terjadi.


Daniel menghela napas lega. Meski sedang dikerjai oleh Carla begini, Daniel tidak bisa marah padanya. Ia justru bersyukur Alia tidak benar-benar kelaparan seharian ini. Selain itu, Carla membantunya mendapat alasan untuk bertemu Alia.


"Kau membuat sup itu sendiri?" tanya Alia.


Daniel mengangguk. Tidak akan membantu jika ia menyebutkan nama tiga orang lainnya yang hanya menatap bingung dan tidak berguna sama sekali.


"Kemarikan." Alia mengulurkan tangannya. Meminta mangkuk sup itu.


Alia menerima mangkuk sup ini karena Daniel terlihat berusaha begitu keras untuk memastikan dirinya sungguh tidak sedang kelaparan malam ini. Alia menebak kalau Daniel sampai harus berlarian untuk memutar ke depan dan memanjat balkonnya. Bulir keringat Daniel menunjukkan upayanya itu, meski tentu saja memanjat kamar orang lain bukanlah perbuatan yang sopan.


Anggap saja ini sebagai apresiasi Alia, meski bukan berarti ia langsung memaafkan Daniel begitu saja dari kejadian kemarin. Namun, seperti yang Carla katakan tadi siang, akan lebih bagus kalau ia dan Daniel membahas tentang ini dengan kepala dingin untuk sama-sama mencari solusi terbaik bagi mereka.


Selain itu, bagi Alia yang sering memasakkan makanan, ia tahu rasanya ketika orang menolak makanan yang sudah ia buat. Jadi, Alia akan tetap menerima sup buatan Daniel ini.


"Kau sendiri, apa sudah makan?"


Daniel baru hendak menggeleng saat perutnya berbunyi keras.


"Ah…."


"Pffft." Alia berusaha sekuat tenaganya untuk menahan tawa dengan menggigit bibirnya kuat. Ia berdeham beberapa kali sebelum menormalkan suaranya. "Ambillah sendok lagi. Kita makan ini bersama-sama."


Daniel hanya menatap datar. "Hanya sendok?"


"Apa ada masalah?"


"Tidak, maksudku… semangkuk berdua?"


Alia menatap Daniel lama. Baru ia mengangguk dan tersenyum penuh arti. "Ya, tentu saja. Bukankah hal yang normal jika saudara saling berbagi makanannya?"

__ADS_1


__ADS_2