
"Apa itu tawaran sungguhan?" tanya Daniel pada akhirnya.
Alia tersenyum dengan ekspresi yang sulit dipahami. "Cobalah. Lalu aku akan melemparmu dari atas sini."
Alia terlihat serius dengan ucapannya. Ia menjadi ceria kembali saat mengalihkan pandangannya dan menatap lampion-lampion terbang itu. Sudah banyak yang melayang di atas mereka.
Cahaya kuning terang dari lilin yang dibakar mengusir gelapnya hari yang melangkah ke malam. Terlebih ini jumlahnya ratusan. Dengan lingkup pandang luas dan posisinya yang berada di atas membuat sensasi melihat bintang-bintang dari dekat. Atau begitulah yang Alia tebak dari pikiran-pikiran anak-anak kecil yang berada di bawah sana.
"Cantiknya," puji Alia.
"Memang cantik." Daniel menatap Alia dengan perasaan hangat. Meskipun sejenak ia sempat merasa kesal dengan Alia yang mempermainkannya tadi. "Dan tidak bertanggung jawab."
Ucapan Daniel jelas bukan untuk lampion-lampion itu.
"Ah, operatornya melambai ke arah kita," ujar Alia saat menatap lebih bawah.
"Beri tanda untuk menggerakkan bianglalanya," perintah Daniel.
Alia menaikkan jempolnya, tidak paham lagi gerakan apa yang bisa dijadikan tanda. Operator itu langsung bergegas melaksanakannya. Membuat bianglala itu berputar. Alia kini paham kenapa operasi bianglala ini dihentikan. Jelas ini akan mengganggu terbangnya lampion-lampion itu. Saat ini mereka sudah lumayan meninggi, jadi Alia dan Daniel bisa berputar turun. Alia melirik Daniel yang kembali diam. Mengagumi cara apapun yang membuat petugasnya mengizinkan mereka naik.
"Sekarang kita akan pulang?" tanya Alia saat mereka sudah turun dari bianglala itu.
"Sekarang? Bukannya ada yang ingin kau lakukan sebelum kembali?" tanya Daniel balik.
Alia tertawa kecil. Daniel menebak dengan sangat tepat. Ada satu yang masih ingin Alia lakukan disini sekarang.
Daniel menunjuk ke satu arah, mengajak Alia kesana. Petugas yang tadi berjaga sedang menunggu mereka dengan dua buah lampion yang sudah dirangkai tetapi belum dinyalakan
"Bagaimana kau bisa tahu ini yang kuinginkan?" Alia menatap lampion di tangannya dengan antusias tinggi.
"Wajahmu tadi seperti akan berteriak, 'aku mau menerbangkan satu juga'. Sebelumnya aku hanya menebak, ternyata benar-benar terlihat seperti itu." Daniel menjelaskan setelah mengambil satu lampion itu dan berjalan menjauh.
Alia mengikuti tanpa bertanya atau protes. Ia sedang tidak ingin mengacaukan suasana hatinya yang sedang sangat baik. Lagipula Daniel selalu membawanya ke tempat yang menarik sejak tadi.
Di dekat alun-alun kota itu terdapat sebuah kanal dan jembatan kecil yang dibuat melintangi kanal itu. Jembatan itu bahkan dibuat dari besi-besi kokoh sehingga terlihat bersih dan menawan. Tempat yang sengaja dibangun untuk rekreasi sebagai bagian dari alun-alun. Biasanya daerah ini ramai, tapi semuanya seakan tersedot ke pusat alun-alun sendiri. Membuat Daniel dan Alia menjadi pengunjung satu-satunya disana.
Alia melihat wahana bianglala yang masih terlihat dari tempatnya. Wahana-wahana itu kembali dijalankan dan cahaya terang mulai kembali merebak di alun-alun yang mereka tinggalkan.
Daniel menyodorkan lampion di tangannya pada Alia, meminta secara non-verbal agar Alia turut memegang. Setelahnya baru Daniel menyalakan lampion Alia.
"Apa ada harapan yang ingin diucapkan?" Daniel menatap Alia, membuka diam diantara mereka.
Alia berpikir sejenak, lalu mengangguk. Hari ini adalah hari terbaik baginya. Ia kira akan merasakan rasa senang ini saat bersama Kevin, tapi justru Daniel yang memberinya lebih banyak. Alia sangat berterimakasih pada Daniel yang sudah banyak memberinya kebahagiaan hari ini.
"Aku akan mendedikasikan harapanku untuk dirimu saja. Nah, begini harapannya. Semoga kau bisa bersama-sama dengan wanita yang kaucintai, selamanya." Alia menatap lampionnya dengan serius. Berharap benda itu benar-benar akan membawa harapannya ke atas dan menjadikannya nyata.
"Aku tidak butuh harapan yang seperti itu," gerutu Daniel.
__ADS_1
"Perlu, tau! Kau harus segera mendapatkan pacar. Kau terlalu kesepian sampai mengajak kencan Kakakmu sendiri." Alia menatap Daniel sembari menggelengkan kepalanya.
Daniel menunduk, mengamati lampionnya. "Apa itu, padahal aku sama sekali tidak kesepian."
Daniel mengelak dari cap itu. Ia meminta Alia berkencan atas dasar keinginan penuhnya. Mengatakan kalau ini semua hanya untuk menghilangkan sepi seperti membuat pernyataan yang menghina Alia sendiri. Daniel menatap Alia dengan tatapan lembut dari yang sudah-sudah.
Alia juga sedang menatapnya. Tanpa tahu isi pikiran Daniel, Alia memberikan senyuman manisnya.
"Kalau begitu, aku akan berharap untuk wanita bernama Alia juga. Semoga Alia bisa berbahagia dengan pria yang mencintainya. Selamanya." Daniel ikut memohon secara serius.
Senyum Alia menjadi tawa kecil. Ia tidak berniat memprotes harapan itu meski kedengarannya tidak adil baginya.
"Sudah? Ayo terbangkan," seru Alia riang. Ia bergerak sedikit menjauh dari Daniel. "Ayo hitung bersama."
"Satu… dua… tiga!" Mereka menghitung bersama-sama.
Dua lampion itu mulai naik, bergabung dengan yang lainnya. Beberapa lampion yang dilepaskan di awal sudah mulai turun, membuat lampion keduanya terlihat seperti berbeda karena terbang ke atas sendiri. Beberapa lampion memang terbang ke arah mereka, memberi pantulan keemasan di kanal.
Alia terus memperhatikan dua lampion yang mereka lepaskan. Tidak menyadari kalau Daniel lebih tertarik menatapnya daripada lampion-lampion itu.
Daniel melangkah mendekati Alia. Saat wanita itu menyadari, ia sudah di sampingnya, merapikan jas yang kini Alia pakai dengan penuh, tidak sekadar sampiran saja.
Tubuh mungil Alia seperti tenggelam di jas besar itu. Tapi ia terlihat nyaman. Alia membiarkan Daniel mengelus kepalanya, meredam kekesalannya dengan mantra yang ia ulang-ulang. 'Sabar, hanya saat ini saja.'
Daniel memajukan tubuhnya, mengecup puncak kepala Alia.
Daniel menulikan pendengarannya, membiarkan Alia berucap semaunya.
Bukannya ini yang Daniel suka?
Rona pipi Alia yang memerah menunjukkan selain kaget, wanita itu juga sedang gugup. Alia menutupinya dengan mengomel panjang lebar.
Daniel sebelumnya ragu dan takut dengan perasaannya. Tetapi malam ini, ia sudah memastikan semua. Benar, hanya satu langkah terakhir. Daniel dengan cepat meraih Alia ke dalam pelukan erat. Kali ini, ia melakukannya dengan penuh kesadaran.
Alia yang tidak mengantisipasi gerakan itu jadi terdiam kaku. Tidak lagi lanjut bicara. Bagaimana cara mendeskripsikan perasaannya saat ini? Alia jarang terkoneksi dengan Daniel lewat sentuhan seperti ini. Daniel yang tiba-tiba memeluknya tanpa sebab seperti ini membuat Alia lebih gugup. Ia tahu, sama seperti dirinya, Daniel juga canggung dengan banyak sentuhan.
"Ini untuk penutup kencan-kencanan kita." Daniel berbisik di telinga Alia yang memerah, tersenyum kecil karena tahu telinganya pun pasti bernasib sama. "Beri aku izin."
Alia meneguk ludahnya, tidak tahu harus merespon apa. Daniel terdengar serius. "Y-ya?"
"Aku tidak dengar."
Alia menarik napas, berusaha tetap tenang. "Ya, terserahmu."
Daniel tersenyum tipis. "Itu jawaban yang salah."
Alia tidak mengerti maksud ucapan Daniel. Ia mengira sudah selesai saat pria itu merenggangkan pelukannya. Tetapi ia salah mengira. Daniel justru merengkuh pinggangnya merapat dan dengan satu tangan di belakang kepala Alia, mendorongnya lembut. Alia seperti tersengat listrik saat ia merasakan bibir Daniel berada di dahinya. Mengecup di tempat yang sama dengan yang Kevin lakukan tadi siang.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa Alia lakukan selain diam. Alia menutup matanya saat Daniel tidak menghentikan kecupan ringannya itu, merambat hingga ke pelipis matanya.
Tindakan paling berani yang Daniel lakukan sejauh ini. Bukan saatnya lagi memastikan perasaannya. Ini waktunya memantapkan apa yang ia rasakan.
Daniel mencintai wanita di depannya ini.
Alia Redalia.
Kakaknya.
Bagaimana awal mula ia merasakan ini, Daniel tak tahu. Ia hanya suka memperhatikan Alia. Perubahan emosi dan ekspresinya, ketenangan dan keributannya, kelembutan dan bahkan kekeraskepalaannya, kekhawatiran serta keberaniannya. Satu satunya sosok wanita yang bersarang di kepalanya selama lima tahun di negeri orang. Hanya wanita ini. Hanya Alia.
Daniel melepas cumbuannya, tersenyum puas melihat kepatuhan Alia.
Alia yang sedari tadi terpejam, mulai membuka matanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah Daniel yang sedang tersenyum. Alia yang sudah kepalang malu merasa senyum itu seperti mengejeknya. Apalagi Daniel masih menahan pinggangnya dari tadi.
"Nakalnya!" Alia mencengkram rahang Daniel. Ia selalu heran bagaimana bisa bentuk rahang setegas dan seseksi itu ada padanya. Sekarang Alia menumpahkan kekesalannya dengan melakukan hal ini.
"Aduh, sakit. Hentikan, Kak."
Alia luluh juga dengan panggilan kehormatan yang tidak diterimanya setengah hari ini. Ia melepaskan cengkramannya dan memberontak dari pelukan Daniel.
"Aku tidak akan minta maaf," ujar Daniel mendahului Alia.
Mendengar itu membuat Alia merengut. Tahu alasan Daniel menolak meminta maaf karena izin yang diberikannya sendiri.
"Jangan melakukannya lagi. Bisa-bisa Kakak benar-benar jatuh cinta padamu." Alia memegang kepalanya, masih merasakan sisa panas tubuhnya.
"Itu terdengar ide yang bagus juga," balas Daniel.
"Apa?!"
Daniel menggeleng, menjemput Alia yang menjauh dengan mengulurkan tangannya. "Masih ada yang mau kutunjukkan. Ayo pergi sekarang, sebelum Riki jadi kesal."
Alia menyambut tangan Daniel dan ikut berjalan bersamanya. "Riki? Ada apa dengan dia?"
Daniel memberikan diam sebagai jawaban, membiarkan Alia kembali menerka-nerka. Ia melirik Alia yang sibuk berpikir sampai menjadi lebih senyap
Belum saatnya.
Daniel masih akan berperan sebagai adik sekarang. Ia tidak ingin terlalu membuat Alia terkejut. Jika memungkinkan, Alia tidak perlu tahu perasaannya untuk selamanya. Mungkin ia akan mencoba menghilangkannya seiring waktu. Daniel akan membiarkan Alia bahagia dengan lelaki pilihannya. Tetapi saat wajah Kevin tiba-tiba muncul di kepalanya ia langsung menggeleng pelan.
"Tidak, jangan dengan dia," gumam Daniel. Menolak jauh-jauh pemikiran terakhir.
"Kenapa?" tanya Alia heran. Daniel tiba-tiba menggeleng dan berbicara sendiri.
"Kak Alia jangan menikah dulu," jawab Daniel sekenanya.
__ADS_1
Alia mengerutkan kening, semakin heran dengan jalur pemikiran pemuda ini.