Sisterzone

Sisterzone
Gang lima tahun lalu


__ADS_3

"Haha... Terimakasih," ucap Kevin saat melihat Alia sudah membuka blokiran nomornya.


Alia menggaruk pipi, menatap ke layar ponselnya dengan sedikit bimbang. Sebenarnya memblokir nomor baru yang mencurigakan bukanlah keinginan pribadinya. Itu adalah arahan dari Daniel yang mengkhawatirkan adanya kemungkinan kejahatan yang bisa terjadi.


Alia juga kembali ingat kalau ia tak bisa menghubungi Daniel seharian ini. Mereka biasa berkomunikasi setiap seminggu sekali akibat padatnya kegiatan Daniel. Alia tak pernah tahu rincian kegiatan itu sebab Daniel jarang membahasnya. Hari yang mereka sepakati adalah hari ini, tetapi tak ada satupun panggilan masuk yang datang. Daniel juga tidak mengangkat teleponnya.


Sebenarnya, Alia tidak begitu setuju dengan ide itu. Tetapi ia tidak pernah mengungkapkan keberatannya. Sudah banyak kali Daniel lupa menghubunginya. Awalnya Alia memaklumi, termasuk membiarkan perasaan menusuk yang membuatnya murung tiap berada di rumah sendirian. Tetapi setelah berkali-kali, Alia tidak bisa memakluminya lagi. Perasaan sedih itu jadi kekesalan yang memuncak.


Hanya saja, hari ini sedikit berbeda. Walau sering lupa, Daniel tidak pernah lewat menghubunginya dari satu hari. Ia pemuda yang cerdas dan pasti menyadari perbedaan waktu diantara mereka. Tetapi hingga malam, ia tak juga mendapat panggilan masuk itu. Hal ini menghapus kekesalan Alia dan menggantikannya dengan perasaan cemas.


"Apa kau memikirkan sesuatu, Al? Eh, apa aku boleh memanggil dengan nama itu?" tanya Kevin yang membuyarkan lamunan Alia.


Alia menoleh dengan sedikit kaget. Ia tidak sadar sudah menatap kosong pada layar ponselnya terlalu lama. "Ah, tidak. Tidak ada."


Kevin menatap sekali lagi. "Apa ada sesuatu yang menggangumu? Karena kita sudah berteman, kau bisa bercerita sesuka hatimu. Tetapi aku juga tidak memaksa."


"Tidak. Aku hanya memikirkan tenta- eh... Ada banyak polisi disekitar sini." Alia tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada jalanan lagi. Beberapa anggota polisi sedang mengintrogasi anak-anak muda dengan gaya ugal-ugalan di pinggir jalan.


"Oh, itu. Memang ada penyisiran malam ini. Kau tahu, kan? Daerah ini rawan terjadi kejahatan. Awalnya aku khawatir karena rumahmu ada di sekitar sini. Tapi setahuku, penyisiran itu sudah dilakukan dua malam sebelumnya untuk bagian yang dekat dengan rumahmu. Jadi, sekarang harusnya sudah aman." Kevin menjelaskan dengan lancar.


Alia tersenyum kecil. "Itu bagus. Terimakasih juga sudah mengkhawatirkanku."


"Eh? I-iya, khawatir." Kevin membuang muka ke samping, bersikap seakan sedang memperhatikan jalanan. Padahal ia sedang bersusah payah menahan senyum senang. Wajah dan telinganya sudah memerah sejak tadi.


Alia sendiri tidak memperhatikan itu. Ia ikut menatap jalanan dan memikirkan suatu ide.


"Ah, Kevin! Bisa kau turunkan aku di depan gang itu?" seru Alia.


Kevin merasa sedikit heran, tapi ia tetap merapatkan mobilnya. Rumah Alia seharusnya tidak melalui gang ini. "Kau sungguh berhenti disini? Atau apa aku yang salah mengingat gang rumahmu?"


Alia tersenyum kecil. "Normalnya bukan. Tapi ini jalan tercepat. Mobilmu tak akan bisa masuk ke gang kecil di daerah sini."


Kevin berniat membukakan pintu, tapi Alia lebih gesit bergerak keluar. Kevin berusaha menyusul dengan cepat.


"Aku akan mengantarmu sampai depan rumah. Bu Wilda menyuruhku menjagamu sampai benar-benar sampai di rumah," ujar Kevin buru-buru.


"Kau tak mungkin meninggalkan mobilmu sembarangan disini." Alia mengibaskan tangannya. "Kau bilang tempat ini sudah aman, kan? Kalau begitu, aku akan aman."

__ADS_1


Daniel menggeleng. "Kurasa tak masalah meninggalkan mobil sebentar saja. Walau sudah dilakukan penyisiran, belum tentu tempat ini langsung aman begitu saja. Banyak hal yang bisa terjadi dalam satu malam. Aku harap kau tidak menolak."


Alia baru hendak membantah saat ponsel milik Kevin berdering.


"Maaf, Alia. Tunggu sebentar." Kevin mengangkat telepon setelah memastikan nama pemanggilnya. "Ya Ma-"


"Kemana saja kau, anak nakal? Ini sudah larut dan kau masih berada di luar?! Apa yang kau lakukan? Cepat pulang! Apa kau akan membiarkan Mamamu makan sendirian lagi malam ini?"


Alia mengangkat alis. Ia tidak berniat menguping, tapi suara omelan dari seberang telepon Kevin memang sangat keras sampai Kevin harus menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Tunggu sebentar lagi."


"Tidak ada! Mama bilang pulang ya pulang! Dalam lima menit kau harus sudah ada di rumah. Mengerti?"


Tuut


Kevin menggaruk kepala dan mengusap wajahnya. Ia membalik badan dan menemukan Alia yang sedang menahan senyum.


"Ayolah... ini tidak lucu."


"Memang tidak lucu. Tapi waktunya sangat tepat. Kau tak mau lebih dimarahi mamamu dan aku juga tidak butuh diantar. Kita bisa sepakat," tawar Alia.


Alia menggeleng sambil mengangkat bahu. "Tak ada. Dan kau cukup pintar kalau mau memastikan pernyataan kedua. Kau pasti tahu kalau aku tidak pernah punya pacar. Semua teman kerjaku tahu itu, jadi itu bukan informasi rahasia, tidak perlu memastikan."


Kevin tertawa ringan. Ia sekarang bisa bernapas lega. Sebelumnya Kevin merasa was-was dengan jawaban Alia. Jantungnya bahkan masih berdebar, takut mendapat jawaban yang berkebalikan.


"Kalau begitu kau akan jalan sendirian." Walau gembira dengan jawaban itu, Kevin tetap merasa tidak nyaman. Ia berjalan duluan dan menunggu Alia mengikutinya sampai tepat di depan gang.


"Boleh aku tahu kenapa kau tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun hingga saat ini?" tanya Kevin saat Alia mendekat. Terdengar iseng, tetapi ia sungguh menanti jawaban Alia.


Alia menjawab dengan ringan, "aku tidak tertarik untuk bermain-main dengan perasaan. Apalagi kalau hanya untuk ber-"


"Aku suka padamu, Alia."


Alia langsung terdiam. Ia bahkan lupa menutup mulutnya.


"Kau boleh berpikir kalau pertemuan kita terlalu singkat. Tapi aku merasa seperti sudah lama mengenalmu. Aku berniat untuk serius, jadi aku tidak akan menuntut." Kevin menarik napas. Wajahnya memerah dan jantungnya berdetak kencang, lebih dari yang sudah-sudah. "Karena itu, kuharap kita tetap berteman, dan kau mengizinkanku untuk secara bertahap berusaha mengambil hatimu. Tolong jangan membenciku karena pernyataan tadi."

__ADS_1


Alia tidak mungkin tidak menyadari ketertarikan Kevin padanya. Tapi ia tak menyangka kalau pria itu akan mengungkapkan perasaannya secepat ini, jadi dirinya sendiri butuh waktu untuk menguasai diri dan mengubah ekspresi terkejutnya menjadi lebih normal.


"Itu ucapan yang manis," jawab Alia setelah beberapa saat. Ia tertawa kecil, menampakkan gigi putihnya yang rapi. "Aku tak akan menghalangi apapun yang kau coba lakukan selama itu tidak menggangguku. Kita akan tetap berteman sampai kau sanggup membuatku membalas perasaanmu. Bagaimana?"


Jawaban itu melegakan Kevin. Ia tersenyum lebar. "Terimakasih. Aku akan berusaha."


Alia mengangguk ringan. Ia tertawa pelan lagi saat ponsel Kevin kembali berdering. Pria itu tidak menghiraukannya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Aku jalan, kalau begitu. Terimakasih, ya," ujar Alia sesaat sebelum mulai melangkah memasuki gang.


"Alia! Hubungi aku jika sudah sampai di rumah!" teriak Kevin.


Alia menoleh sedikit dan mengacungkan jempolnya, lalu kembali melangkah.


Sudah lima tahun sejak ia terakhir kali melewati gang ini. Saat itu ia hampir terlibat bahaya akibat kenekatannya melalui tempat ini sendirian. Untung di saat kritis,vDaniel sempat menyelamatkannya. Tidak ada perubahan yang berarti selama lima tahun terakhir. Tempat ini tetap sepi dan suram. Jalannya yang dulu berdebu kini menampakkan batu-batu tajamnya di tengah remang rembulan.


Alia sedikit bergidik saat angin dingin menyapa lehernya yang terbuka. Ia mempercepat langkah saat melewati tempat yang dulunya awal dari kejadian tidak mengenakkan lima tahun lalu.


Penyisiran yang dikatakan oleh Kevin sebelumnya pasti berhasil. Alia tidak menemukan seorangpun di tempat itu. Hanya langkah kakinya dan suara serangga malam yang terdengar.


Pemikiran itu hanya bertahan beberapa detik saja. Alia merasa bulu kuduknya merinding seketika saat ia mendengar suara percakapan beberapa orang pria di persimpangan gang. Ia ingat bahwa persimpangan ini tempat dirinya menjebak preman yang dulu mengejarnya dengan memukulkan sebuah balok kayu dan melempari mereka dengan batu. Di tempat itu juga Daniel menyelamatkannya.


Alia melangkah mundur dengan perlahan. Berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apapun. Ia tidak bisa meneruskan perjalanan. Pria-pria itu harusnya berada di bagian jalan yang menuju ke rumahnya.


"Hei."


Alia reflek memukulkan tas ke seseorang yang tiba-tiba bersuara dari belakangnya. Otaknya berputar cepat. Dalam beberapa detik ia sempat berharap kalau itu adalah Daniel yang secara ajaib muncul dari sana atau Kevin yang ternyata mengikutinya. Tapi yang ia lihat membuat sekujur tubuhnya dingin seketika.


Tiga orang pria yang bertubuh dua kali lebih besar darinya sedang menatap tajam. Ada juga yang sedang tersenyum sinis.


"Baru dua hari diadakan penyisiran oleh aparat. Sekarang sudah ada saja wanita yang berani melewati tempat ini," ujar salah satu diantara mereka.


Alia menelan ludah. Jalannya sudah terblokir. Ia hanya bisa menatap sekeliling, mencari sesuatu diantara gelap untuk dijadikan senjata atau apapun yang bisa membantunya.


"Hei, gendut. Kau lama sekali. Jangan sampai kalian ketahuan polisi-polisi sialan itu ya. Kita tak ingin ada penyisiran ulang di daerah ini. Eh? Apa kau membawa seorang wanita?"


Alia tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang berbicara. Itu tak lain adalah salah satu pria yang tadi bercakap-cakap di persimpangan. Kini, ada lebih banyak pria yang mengepungnya secara penuh.

__ADS_1


"Aman, bos. Jangan terlalu khawatir. Lihat, seorang wanita saja sudah menganggap tempat ini aman. Apalagi polisi-polisi bodoh itu. Malam ini kita bisa bersenang-senang sedikit."


__ADS_2