Sisterzone

Sisterzone
Skala besar


__ADS_3

"Kau mau kemana?" tanya Alia bingung. Ia melirik Carla di sebelahnya, meminta penjelasan Carla untuk orang yang sedang berdiri di hadapan mereka.


Carla mengendikkan bahu. Tidak ingin memaparkan tebakannya yang kembali benar.


Daniel memakai pakaian kasual tetapi rapi. Ia lebih dulu berada di pintu depan sembari memutar-mutar kunci mobilnya. "Mengantar kalian," jawabnya singkat.


Alia semakin kebingungan. Sudah dua hari berlalu sejak pembicaraannya dengan Daniel malam itu. Dalam dua hari ini, Alia sebisa mungkin menghindari Daniel. Kabar baiknya, meski Daniel membawa kunci kamarnya, pria itu juga tidak pernah mengunjunginya lagi.


Hari ini Alia berencana menuju lokasi acara peresmian cabang WR Coffee bersama Carla. Sebelumnya ia sudah berbicara pada Daniel meski sambil lalu. Carla membantu memberi penjelasan, mengatakan kalau mereka akan pergi hanya berdua saja.


"Lebih baik aku tak ikut saja kalau kalian hendak jalan bersama," tukas Carla. Ia membalik badannya ringan dan melangkah masuk.


Beruntung Alia sempat menangkap lengannya, mencegah Carla yang berniat meninggalkannya. "Kau sudah janji akan ikut."


Carla terlihat tidak setuju. Ia tak ingin menjadi seperti patung diantara dua orang yang saling berkomplikasi dalam cintanya. Sebaliknya, Alia tidak ingin hanya ditinggal berdua dengan Daniel. Setelah gagal dalam negosiasi kemarin, ia tak ingin menghadapi atmosfir canggung sepanjang perjalanan nanti.


"Kau sudah bersiap-siap begitu, lebih baik kau ikut juga," tambah Daniel. "Ayo."


Sebuah kesempatan unik bisa menemukan Carla mau bersiap-siap di jam pagi seperti ini. Daniel sendiri tahu betapa sulitnya membujuk Carla untuk melakukan ini setiap hari.


Daniel berjalan lebih dahulu, meninggalkan Alia dan Carla yang masih di depan pintu


"Kau bilang dia tak akan mengantar, tapi apa ini?" Alia mengajukan protesnya. Mereka sudah lebih dulu sepakat untuk mencegah hal ini terjadi.


"Memang! Riki bahkan sudah setuju untuk mengantar kita hari ini," bantah Carla. "Aku lupa kalau mereka libur hari ini."


Alia menyipit tak percaya. "Kau pasti sudah memikirkan ini, tetapi tidak memberitahukannya. Ini masuk tebakanmu, kan?"


"Yah, ini memang tidak bisa dihindari." Carla berjalan lebih dulu sambil menjulurkan lidahnya.


Mau tak mau Alia mengikuti Carla. Setidaknya ia bisa menghindari situasi canggung nanti dengan keberadaan Carla disana.


Namun, Alia salah besar.


Suasana itu tidak bisa diubah. Tidak ada satupun pembicaraan diantara mereka bertiga. Carla tak perlu repot-repot mengubah suasana tenang yang memang disukainya ini, pun tak peduli dengan kecanggungan yang ada. Ia terus diam di kursi tengah, melihat-lihat situasi kota.


Alia sendiri merasa seperti tercekik disini. Ia yang biasanya menjadi pencair suasana seperti dipaksa bungkam. Alia terus menatap ke jendela samping. Tidak ingin melirik sekalipun ke Daniel. Ia tak tahu bagaimana ekspresi pria itu saat ini.


"Sesuai alamatnya, harusnya di depan sana," ujar Daniel tiba-tiba.

__ADS_1


Suara yang tiba-tiba muncul dari keheningan sebelumnya membuat Alia tak ayal terlonjak. Ia menoleh dan mendapati wajah datar Daniel yang menatapnya penuh tanya. Carla di belakangnya menutupi wajahnya yang memerah karena menahan tawa.


"Ya, di depan," ujar Alia pada akhirnya. Ia kembali menatap samping, menyembunyikan pipi meronanya. Terus merutuki Carla yang justru tertawa di belakang.


Daniel sendiri tersenyum kecil. Menganggap hal kecil itu sesuatu yang sangat imut. "Ah, rasanya mau kubungkus sekarang," desis Daniel dengan suara yang hanya ia sendiri bisa mendengarnya.


Cabang WR Coffee yang dibangun di Kota Pusat hampir sama besarnya dengan yang ada di Kota Barat. Nama yang terdapat di depan gedung baru itu membuatnya menjadi mudah untuk ditemukan.


"Alia!" Wilda yang sedang berbincang dengan tamu di depan gedung itu langsung berteriak sambil melambaikan tangannya begitu menangkap sosok wanita itu dari jauh.


Wilda berbalik dengan wajah ramah pada tamu di dekatnya, mempersilahkan masuk. Sesaat kemudian ia sudah setengah berlari menjemput Alia.


"Kak Wild-ugh!"


Alia tidak menyangka yang pertama di dapatnya adalah pelukan erat dari Wilda.


"Kak Aliaaa!"


Seorang gadis remaja berlari dari parkiran, meninggalkan pria di belakangnya yang menyusul dengan tenang.


"Risa-agh!"


Risa ikut memeluknya dari belakang. Memberikan tubrukan yang cukup kuat. Alia terhimpit diantara keduanya, hampir kesulitan bernapas.


"Ah, Pak Bram," sapa Alia. 


Wilda dan Risa sudah melepaskan pelukannya, membuat Alia bisa bernapas lega. 


Bram mengangguk menanggapi. Ia menoleh pada Daniel yang sedang menatapnya, lalu mengangguk sopan.


"Ah, apa ini adik Kak Al?" Risa bertanya riang. Ia bergelayut di tangan Alia sembari melirik Daniel. 


Alia mengangguk canggung. Ia memperkenalkan Daniel dengan kaku.


"Wah, benar-benar membuat iri. Adik kakak sama-sama punya paras yang enak dipandang," cibir Risa. Ia lalu menatap Carla yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. "Ah, sepertinya aku familiar dengan adik kecil ini."


Carla mengerutkan keningnya, ia jelas mengingat gadis di depannya itu. Orang yang menumpahkan minuman ke pakaiannya saat sedang menelusuri Alia di WR Coffee. 


Alia tersenyum, ia lalu berjalan mendekati Carla dan berdiri di belakangnya. "Adikku juga."

__ADS_1


Wilda dan Risa sama-sama terperangah mendengar pernyataan Alia.


Carla sendiri mendongak dengan wajah ingin protes. Tapi melihat senyum hangat Alia membuat Carla urung menolak. Pipinya sedikit bersemu.


Tak bisa dihindari, Carla merasa sedikit iri pada mereka yang terlihat begitu dekat dengan Alia, berbeda dengan dirinya yang hanya bisa menunggu Alia berbaik hati padanya. Sejenak ia yakin Alia akan melupakan keberadaan Carla. Namun, yang ada justru wanita itu memperkenalkannya dengan identitas yang Carla diam-diam selama ini. Carla merasa dadanya menghangat.


"Tidak mirip!" celetuk Risa.


Wilda di sebelahnya menjitak kepalanya pelan. "Kau ini jenis bodoh yang seperti apa, sih?"


Alia tertawa pelan. Ia menepuk pundak Carla dan merangkulnya.


"Tapi membuat iri! Gaya berpakaian dan tatanan rambut kalian sama!" Nada bicara Risa terdengar cemburu.


Alia hari ini menggelung rambut hitamnya ke atas. Ia melakukan yang sama dengan pirang platinum milik Carla. Selain itu, keduanya sama-sama setelah pakaian dengan potongan lengan pendek dan warna deep peach yang seragam.


"Ayo masuk ke dalam," ajak Wilda riang. Meski masih ingin berlama-lama disini, ia tidak bisa melakukan itu karena masih harus menyambut tamu yang lain.


Semuanya berjalan mengikuti Wilda yang berjalan paling depan.


"Kak Al tahu? Aku hampir tidak mengenal Kak Al tadi. Baru kali ini aku melihat Kak Al menggelung rambut. Biasanya cuma ikat satu rendah." Risa mengoceh terus.


Alia memegang belakang lehernya yang terbuka dengan senyum malu. "Sekarang panas sekali. Rambut bisa sangat mengganggu."


Daniel yang berjalan di belakang Alia ikut mendengarkan. Ia menatap leher Alia yang jelas terlihat sebelum memalingkan wajahnya. Berusaha menenangkan pikiran liarnya yang membuat wajahnya hampir memerah lagi.


"Pak Bram tidak memakai sarung tangan lagi-eh...."


Alia memperhatikan lebih jelas. Terdapat baretan bekas luka panjang di punggung tangan Bram. Satu hal yang menarik perhatiannya. Alia menatap Bram dengan cara yang sedikit berbeda sekarang.


Sudah lima tahun berlalu, baru kali ini ia melihat Bram tanpa sarung tangan. Setiap mengantarnya pulang, tangannya selalu tertutup. Alia tidak pernah mencoba bertanya karena takut menyinggung hal pribadi pria itu. Tetapi bukan itu yang sangat menyita perhatian Alia saat ini.


Alia tidak pernah salah mengingat bekas luka panjang seperti itu. Seseorang pernah mengantar boks kardus dengan pakaian serba hitam secara langsung ke rumah Alia. Ia selalu mengingat saat dimana dirinya mengejar sosok itu, dan tentu saja. Bekas luka panjang di punggung tangan pria itu.


Tatapan Alia berpindah antara Bram dan Daniel yang ikut berpindah ke sisinya. Jika pemikirannya benar. Maka harusnya ini bukan pertama kali Bram bertemu Daniel. Saat ini juga Alia memperhatikan mata biru gelap keduanya yang sama-sama memancarkan sorot dingin. Alia tidak pernah menyadari itu karena selama ini, Bram hanya mengantarnya di waktu sudah terlalu gelap.


"Ada apa?" tanya Daniel. Ia melihat kerutan di dahi Alia. Menandakan kalau wanita itu sedang berpikir keras.


Alia sedikit terkejut. Ia menggeleng pelan sambil menelan ludah. Alia kini memperhatikan depan dan menatap Wilda di depan yang disusul Risa. Alia merasa bulu kuduknya berdiri seketika.

__ADS_1


Jika hal-hal yang ada di pikiran Alia sungguh benar, maka harusnya ia berjalan di dalam rencana yang sudah disusun seseorang.


Alia merinding memikirkan seseorang yang dekat dengannya bisa melakukan semua ini dengan skala yang amat berkesinambungan.


__ADS_2