
"Rin-Rin, aku bosan," keluh Wilda. Ia berbaring dengan kepala menjulur ke lantai dan kaki di punggung sofa.
Rinda yang duduk di sofa seberang sedang fokus dengan laptopnya, membalas keluhan Wilda dengan gumaman kecil.
"Ah, tidak seru sekali. Sudah di WR Coffee tak ada Alia, disini pula aku tidak dihiraukan." Wilda menatap langit-langit apartemen Rinda.
Sudah beberapa hari ia menginap disini. Kejadian di malam itu membuatnya waspada dan selalu pulang lebih awal untuk memastikan kondisi Rinda. Wilda lebih mendongak, berusaha membuat matanya bisa menatap wajah Rinda.
"Ah, masih sulit ya kalau membuat cabang WR Coffee di Kota Pusat?" Wilda berceloteh ringan, menganggap Rinda tak akan mempedulikan ocehannya.
"Kita akan membuka cabang disana bulan ini." Rinda mengambil kertas catatan, membacanya dengan senyum tipis.
Wilda membuka mulutnya tak percaya. Segera ia mencoba bangkit dari posisi anehnya. Sayangnya ia tak berhasil dan malah jatuh berdebam di lantai. "Aduuh... Leherku."
Rinda kini menatapnya aneh, heran melihat kelakuan sahabatnya itu.
Wilda sudah lega Rinda tidak menertawakannya, tetapi suara kekehan keras di pintu masuk membuatnya melotot. Dua orang memasuki tempat itu sambil tertawa.
"Semakin tua semakin tidak tau diri. Ingat, kau bukan remaja lagi." Bram menggelengkan kepala.
"Hahaha... Sayang sekali aku tidak membawa kamera videoku saat ini."
"Kau tak usah ikut-ikutan mengolok, Risa." Wilda mendengus kesal. Ia kembali duduk dengan benar di sofa. Mengalihkan pandangan karena malu.
Bram membawa Risa bersamanya. Gadis itu terlihat sudah biasa berada disini. Dengan sifatnya yang terlewat ceria, Risa bisa menjadi orang paling heboh yang menyamai Wilda disini. "Oh, jadi Kak Wilda cuma ingin diolok oleh ayahku saja? Sudahlah, menikah saja kalian."
"Apa-apaan itu?" Wilda menatap Risa seolah mengatakan kalau itu adalah ide terburuk yang pernah ia dengar.
"Risa, kalau kau begitu, nanti Ayahmu bisa murka. Kau bahkan belum meminta pendapatnya," nasihat Rinda. Ia menepuk tempat disebelahnya, meminta Risa duduk disana.
Risa langsung berjalan cepat dan duduk sambil bergelayut manja pada Rinda. "Tante Rinda, tidakkah Tante ingin menjodohkan Ayahku dengan Kak Wilda. Eh! Tunggu Ayah, kalau tidak suka, jangan cabut surat adopsiku ya. Aku sayang Ayah."
Bram menggeleng dengan tawa kecil, langsung duduk disebelah Wilda. "Kita tinggal menunggu pendapat dari calon pengantin wanita."
__ADS_1
"Kalian suka sekali mempermainkanku ya." Wilda mendengus kesal. "Rin-Rin, apa kau serius dengan perkataanmu tadi? Sungguhkah kita akan membangun cabang WR Coffee di Kota Pusat?"
Rinda diam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Seperti itulah."
Wilda tersenyum lebar, tetapi beberapa saat kemudian menjadi murung lagi. "Apa kau serius? Bukannya dirimu yang paling menolak ide itu sebelumnya?"
"Ya, kau benar. Karena itu, aku tak berniat menjadikannya cabang yang biasa saja. Keamanannya akan menjadi yang terbaik dan boleh jadi malah bisa kita manfaatkan untuk mengumpulkan informasi." Rinda kembali menatap kertas di tangannya. "Hidup bersembunyi seperti ini sangat melelahkan. Aku ingin bebas tanpa teror dari Rafka. Selain itu, jika informasi yang Bram baru kirim tadi benar, maka aku tak perlu terlalu mengkhawatirkan anak itu sebanyak dulu."
Mendengar itu membuat Wilda ikut berdiri. Ia mendekati Rinda dan duduk di lantai, menatap layar laptop Rinda. "Ah, benar. Kau sebelumnya takut membuatnya terlibat. Tapi sekarang bahkan kekuatannya hampir mengimbangi perusahaanmu. Produknya sangat digemari karena inovasi yang dibuatnya. Benar-benar cerdas."
"Wah, apa itu saudaranya Kak Alia? Gila, tampan sekali." Risa turut melihat pada layar laptop.
Tidak seperti keceriaan Risa, sisanya hanya diam.
"Apa kau tidak berkeinginan bertemu dengannya?" tanya Wilda.
"Tidak, itu tak perlu. Saat ini fokus kita adalah bertahan dan mengumpulkan kekuatan. Aku tidak bisa ceroboh disaat seperti ini." Rinda menggeleng lesu.
"Bagaimana kau bisa mengetahui kalau Rafka masih mencarimu?" tanya Wilda hati-hati.
Rinda menghela napas. "Tidak ada. Aku juga tidak bisa menggapai informasi apapun tentangnya lebih jauh. Dia orang yang waspada. Akan mudah baginya mencekal informasi dan melacak siapapun yang mencoba mendekatinya. Aku tak bisa menggunakan kekuatan perusahaan. Itu akan membahayakan Bram juga."
Wilda menggeleng pelan, merasa masalah ini pelik sekali. Padahal mereka sudah mengetahui jelas siapa yang mereka hadapi. Rafka memang lawan yang sangat tangguh. Hanya orang-orang gila yang berani menantang dirinya, dan Wilda sejauh ini memang tidak bisa menganggap kumpulannya waras.
"Ah, itu sebabnya kau menggunakan nama Bram sebagai pemilik perusahaan, sementara kau mengendalikan dari belakang," simpul Wilda.
Rinda mengangguk. "Secara tertulis seperti itu. Tapi wewenang asli masih di tanganku."
"Apa kau tak takut kalau pria itu suatu saat mengkhianatimu?"
"Kau sama sekali tidak berniat mengecilkan suaramu, ya," tegur Bram sambil menggelengkan kepalanya. Pura-pura tersinggung dengan ucapan Wilda.
Wilda hanya menatap datar. Tidak peduli jika Bram akan marah atau sebagainya.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengkhianati Kak Rinda. Bisa dibilang ini bentuk tanggung jawabku juga pada Kak Alex. Aku berhutang banyak hal padanya," sambung Bram dengan suara kecil.
Wilda menoleh, mengamati perubahan ekspresi di wajah Rinda. Tapi wanita itu hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya.
"Paman Alex?" tanya Risa berusaha mengulik informasi. Sangat sulit mendapatkan informasi tentang saudara ayah angkatnya itu. Ia maklum saat tidak ada yang merespon ucapannya.
Risa hanya mengetahui kalau Alex Wibisana adalah kakak kandung beda ibu dari Bramasta Wibisana. Sebuah fakta menarik lain adalah bahwa mereka tidak terlalu akrab hingga satu kejadian yang membuat Bram merasa berhutang budi pada kakak yang awalnya ia benci itu. Alex juga mantan suami Asmarinda Putri, orang yang sedang digelayutinya saat ini. Alex dan Rinda cerai mati. Sebuah insiden terjadi bertahun-tahun lalu yang membuat Alex harus meregang nyawa.
Jika mengandalkan kemampuannya dalam merangkai dan mengolah informasi, ini berkaitan dengan Rafka Alexan. Risa berspekulasi bahwa Rafka memiliki dendam dengan Alex yang membuatnya melakukan pembunuhan tragis itu. Hanya saja, Risa tidak bisa menebak alasan atau latar belakang dendam itu. Informasinya masih terbatas.
Wilda berdeham, berusaha menghilangkan kecanggungan suasana itu. "Ah, sebenarnya karena kau berkata akan memberi kesempatan membuka cabang WR Coffee di Kota Pusat, aku jadi ingin mengatakan keinginanku juga. Aku berencana untuk pindah kesana, mencari lingkungan yang lebih baik. Aku sedikit takut di rumah lamaku. Daerah sana terlalu kosong dan sepi."
Rinda menatap Wilda lama sebelum menyipitkan matanya. "Itu hanya alasanmu, kan? Bilang saja kalau kau ingin terus bertemu Alia. Kau seperti kecanduan dirinya."
Wilda mengangkat alis lalu tertawa kecil. "Ahaha, kau menebak tepat sekali. Entahlah, rasanya aku selalu merindukan anak itu. Membuka cabang disana saja tak akan cukup. Dia pasti tidak akan mau bekerja lagi disana."
"Wah, kalau ada cabang disana, apa aku boleh bekerja ditempat itu juga?" tanya Risa antusias.
"Maaf, Risa. Sepertinya kau memang harus bekerja disana." Bram yang menjawab. Memberi senyum hangat.
"Asyiiik," sorak Risa seperti anak kecil. "Akhirnya aku bisa punya kesempatan bertemu dengan Kak Alia lagi."
Rinda menggeleng pelan. "Apa sebenarnya yang sudah dilakukan anak itu sampai kalian jadi seperti ini?"
"Kak Alia sangat baik. Rasanya sangat menenangkan berada di dekatnya." Risa mengembangkan senyum semangat.
"Kau tidak tahu bagaimana pesona anak itu, Rin. Dia seperti magnet kasih sayang. Siapapun tak akan tahan untuk tidak menyayanginya," ujar Wilda dengan tampang serius yang tidak dibuat-buat.
Rinda tertawa kecil, tidak menyangkal itu. Ia sendiri punya perasaan kasih sayang sebesar itu pada Alia. Wanita itu benar-benar membuat Rinda ingin mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjaga senyum hangat yang selalu disebarnya itu.
"Ngomong-ngomong tentang anak itu, berarti Kak Rinda sudah tidak mengirimkan boks kardus itu lagi kesana?" tanya Bram.
Rinda mengangguk. "Setelah Wilda bercerita hari itu, aku langsung menghentikan pemberian kardus kesana. Hanya satu yang sengaja kukirim untuk bulan kemarin. Sepertinya anak itu menyembunyikan hal ini dari adiknya. Setidaknya aku harus membantunya membuat alasan. Benar-benar melakukan perintah orang tuanya dengan benar."
__ADS_1