Sisterzone

Sisterzone
Laporan Felix


__ADS_3

Rafka tersentak saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Ia mengusap wajahnya, berusaha menghilangkan kantuk. Sekali lagi Rafka tertidur di ruang kerjanya. Ia menatap pintu kerjanya, memerintahkan siapapun di luar untuk masuk.


Pintu itu terbuka, menampakkan Felix yang masuk dengan senyum khasnya. "Saya membawa laporan terbaru, Tuan Rafka."


Rafka mengangguk, meminta Felix berbicara sementara ia mendengarkan. Rafka sekali melihat jam, sudah dua jam ia mengambil waktu tidur. Malam masih terlalu muda, tetapi bagi Rafka yang tidak mengenal keteraturan waktu tidur, hal ini bukan masalah besar.


"Ada tiga informasi yang kami dapatkan, Tuan Rafka." Felix mulai menjabarkan dan meletakkan beberapa berkas ke meja Rafka. "Pertama, kami berhasil mendapatkan kabar terbaru tentang pria itu, Daniel Anggara. Pria ini bersama dengan wanita yang sama saat di bandara lima tahun lalu."


Felix mencoba tenang, meskipun setiap kali melapor pada Rafka, perasaan takut terus membayanginya. Laporan ini termasuk yang cukup krusial baginya. Ia selalu tahu Rafka menyimpan revolver peraknya di balik laci meja itu.


"Bagaimana dengan identitas wanitanya? Sudah didapatkan?" Rafka menatap beberapa foto yang ada diantara berkas-berkas itu.


"Namanya Alia Redalia, Kakak Daniel Anggara," jawab Felix.


Rafka meletakkan lagi foto-foto itu. Foto yang diambil dari jauh, tetapi cukup untuk mendapatkan karakter wajah dua orang yang berdiri di sebuah jembatan kanal. Rafka Kini menghujam Felix dengan tatapan tajamnya yang mampu menarik kehangatan tempat itu, membuat Felix sedikit bergetar. "Dalam lima tahun yang kuberikan, baru sekarang kau melaporkan ini. Apa sesulit itu mencari identitas wanita ini?"


Felix meneguk ludah. "Tuan, maafkan saya. Wanita bernama Alia ini seperti mempunyai pendukung yang patut diperhitungkan. Sangat sulit menemukan latar belakang wanita yang terlihat biasa ini. Dia dulunya bekerja untuk sebuah Kafe bernama WR Coffee, sebelum beberapa hari lalu pindah kesini. Tinggal bersama Daniel Anggara."


"Jelaskan lebih jauh tentang mereka," perintah Rafka.


"Daniel Anggara dan Alia Redalia adalah saudara. Meski begitu, kami masih menyelidiki apa mereka sungguh saudara kandung. Orang tua dari Alia bernama Astrid dan Ezra, keduanya sudah wafat dan wanita itu menjadi tulang punggung di usia sembilan belas tahun." Felix menarik napas, menunggu Rafka berkomentar.


"Identitas orang tua si wanita ini jelas, sementara si pria hanya mengikuti karena statusnya sebagai saudara. Tapi hanya dengan begini saja, status saudara mereka cukup untuk diragukan. Berapa usia Daniel sekarang?"


Di usianya yang tak lagi muda, Rafka tetaplah sosok yang begitu tajam.


"Saat ini usianya dua puluh tiga tahun. Kami juga berpikir demikian, sehingga pencarian tentang itu masih belum dihentikan." Felix diam-diam bernapas lega, merasa Rafka masih menunjukkan respon positif.


"Saat kejadian lima belas tahun lalu, usianya sudah delapan tahun. Benar-benar kebetulan." Rafka menghitung cepat, memikirkan segala kemungkinan. "Anak ini sepertinya cukup cakap di usianya yang muda. Kau melaporkan sebelumnya tentang perusahaan yang dibangunnya. Bukankah potensi perusahaan itu cukup besar?"


Felix mengangguk cepat. "Benar. Produk terbaru mereka sempat menembus pasar dan penjualannya bisa dikatakan melebihi produk pasar kita yang telah ada sejak bertahun-tahun. Dan bukan sekadar tren saja, tapi benar-benar menjangkau pasar secara luas."

__ADS_1


"Dengan perginya kesini, bagaimana dia mengurus perusahaannya di luar negeri?"


"Sepertinya Daniel ini hendak mengubah poros perusahaannya kesini, Tuan. Produksinya disana tetap berjalan, tetapi disaat yang sama, perusahaannya juga dikembangkan dengan cepat disini," jelas Felix.


Rafka tersenyum dingin. "Bahkan jika wajahnya tak mirip dengan Si Bajingan Alex itu, dia tetap menjadi saingan bisnis yang berbahaya."


Felix mengangguk setuju, lebih agar membuat Rafka tidak tersinggung.


"Kau bilang ada yang menjadi pendukung Alia? Apa sudah diperiksa?" tanya Rafka, membuka berkas lainnya.


"Itu akan berkaitan dengan informasi kedua yang saya sampaikan." Felix mengatur napas dan suaranya. "Ini berkaitan dengan perusahaan lain yang berfokus di Kota Barat, Tuan. Kita kembali berurusan dengan PT Wibijayasana lagi."


Rafka menaikkan satu alisnya, merasa tertarik. Alexan Group, perusahaan yang ia buat sesungguhnya adalah gabungan beberapa industri besar yang mencakup banyak bidang. Meski semua hanyalah kedok besar untuk menutupi dunia gelap yang ia kendalikan, tetap saja keberadaan tiap industri itu cukup vital.


Tak banyak kendala yang Rafka lalui selama menjalankan itu semua seorang diri di puluhan tahunnya ini. Namun, akhir-akhir ini ada hal yang cukup menyita perhatiannya. Itu karena ada beberapa hambatan yang terjadi khusus di Kota Barat. Masalah itu selalu berkaitan dengan PT Wibijayasana ini. Tetapi kekuatan perusahaannya bisa diperhitungkan, sehingga Rafka harus turun tangan sendiri untuk mengatasinya tanpa kekerasan.


"Kalian sudah menyelidiki perusahaan ini?" tanya Rafka dengan nada dingin.


"Namanya sungguh Bramasta Wibijayasana? Bukan Bramasta Wibisana?" Rafka memotong cepat. Di matanya terdapat kilatan emosi.


Felix sedikit terkejut. "Benar. Bramasta Wibijayasana."


"Selidiki itu," perintah Rafka. Ia menautkan jemarinya di atas meja dengan pandangan kosong. "Harusnya Wibisana. Sama seperti Alex Wibisana. Aku tak pernah mendengar nama Bramasta, tapi dia bisa saja berkaitan."


Felix tidak bisa berkomentar kalau Rafka mulai berlebihan, tetapi ia tetap mengangguk paham. Berjanji untuk melaksanakannya.


"Astrid. Rasanya aku juga pernah mendengar nama ini. Ya, orang ini yang selalu disebut Rinda, dulu." Senyuman mengerikan terbentuk di bibir Rafka. "Beritahu informasi ketiga."


"Kami menemukan Asmarinda Putri, Tuan."


Rafka mendongak cepat. Mata hazelnya melebar. "Jangan bermain-main dengan informasi itu, Felix. Kau tahu bercanda denganku tidak akan menghasilkan hal-hal baik."

__ADS_1


Felix mengangguk sambil tertunduk, tangannya terulur untuk menunjuk satu berkas yang belum Rafka buka. "Kami memang menemukannya, tetapi hanya itu. Dia kembali menghilang, kami kehilangan jejaknya lagi."


Rafka dengan cepat merobek berkas itu dan mengambil foto-foto yang berserak. Foto seorang wanita usia empat puluhan tahun yang sedang menatap tepat ke depan dengan mata amber keemasannya yang tajam.


Tunggu, menatap ke depan, menatap kamera?


Senyum miring terbentuk di wajah Rafka. Dari foto-foto ini, semua memiliki kemiripan. Asmarinda, atau Rinda, selalu dengan tepat menatap kamera. Seakan tahu ada yang mencoba mengambil gambarnya diam-diam.


"Dia sengaja melakukannya. Sengaja menampakkan diri." Rafka mulai tertawa pelan. Jantungnya berdetak sangat kencang tanpa ia ketahui penyebab pastinya.


"Dia terlihat disekitar WR Coffee, tempat yang sama dengan Alia bekerja. Kabar lain, WR Coffee akan membuka cabangnya di Kota Pusat untuk pertama kalinya setelah sangat berhasil di Kota Barat," tambah Felix.


Ucapan itu membuat Rafka terdiam sejenak. Setelah itu senyumnya terkembang dan ia mulai tertawa keras. "Aku paham semuanya. Benar! Seperti itu. Semuanya saling berkaitan."


Felix tertegun. Baru kali ini ia melihat Rafka tertawa seperti itu. Sebuah kepuasan terdengar sangat jelas di tawa itu. Meski demikian, tetap saja perasaan Felix tetap tidak nyaman.


"Kau melakukan tugasmu dengan baik, Felix. Lima tahun yang kuberikan padamu kau pergunakan dengan baik. Bagus. Kali ini aku akan membuat rencana besar lainnya. Kau bisa pergi sekarang." Rafka bertepuk tangan kecil.


Felix untuk pertama kalinya merasakan kelegaan besar di dadanya. Kali ini dia aman. Felix dengan cepat berpamitan dan pergi dengan segera, khawatir emosi Rafka menjadi tidak stabil lagi, atau ucapannya tadi hanya sarkasme belaka.


Rafka melihat Felix menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Rafka seorang disana. Rafka menatap foto Rinda sekali lagi, kali ini dengan senyum pahit yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun.


"Pada akhirnya kau memilih untuk berhadapan lagi denganku."


Rafka menatap kosong ke depan, mengingat mimpinya saat tertidur tadi.


Api besar dan tembakan-tembakan. Sebuah jalanan pegunungan yang curam. Mobil yang terbakar. Seorang pria yang tertatih-tatih dan revolver di tangan Rafka yang digunakan untuk membunuh pria itu.


Itu hanya potongan-potongan dari ingatan terdalamnya. Meski begitu, ia lebih mengingat keseluruhan kejadian itu saat dirinya dalam keadaan sadar seperti ini.


Pembunuhan paling memuaskan yang pernah dilakukannya dan pencarian paling menyesakkan yang pernah dialaminya. Rafka benci harus mengingat kembali, tetapi ia tak akan bisa melupakan hari itu.

__ADS_1


Lima belas tahun lalu, hari dimana ia membunuh Alex Wibisana.


__ADS_2