Sisterzone

Sisterzone
Teman Baru


__ADS_3

"Hai, kita bertemu lagi."


Alia terperangah saat melihat Kevin sudah menunggunya di depan pintu khusus karyawan.


"Kevin? Kau sedang apa disini?" tanya Alia heran. Ia melirik pintu karyawan di belakangnya yang menyisakan sedikit ruang terbuka untuk melihat jam disana. Hari sudah malam dan kafe sudah tutup satu jam lalu. Ia dan beberapa pekerja lainnya baru selesai beres-beres dan mempersiapkan keperluan untuk esok hari.


Kevin yang menyadari arah tatapan Alia melebarkan senyum. "Aku menunggumu sejak Kafe tutup tadi. Aku ingin mengantarmu pulang."


Alia menggaruk kepalanya canggung. Ia tidak enak hati menolak saat Kevin mengatakan sudah menunggunya sejak satu jam lalu.


"Kak Aaal!"


Alia reflek menoleh ke belakang. Seiring dengan suara teriakan itu, pintu karyawan terbuka lebar. Risa muncul disana dengan raut wajahnya yang selalu riang. "Karena Kak Alia tidak diantar malam ini. Ayo kita jalan bersam-ups!"


Risa menutup mulutnya sambil melotot. Saat ia menurunkan tangan, barulah terlihat senyum jahilnya. "Ahem... maaf mengganggu."


Alia baru hendak memberikan penjelasan sebelum Risa mengangkat kedua tangannya ke depan, membentuk pose mendorong udara. "Kak Alia diam dulu. Hei, Kakak tampan disana! Jaga Kak Aliaku dengan benar, ya... Aku sudah merestui kalian," teriaknya.


"Sudah larut, Risa. Jangan teriak-teriak."


Beberapa teman kerja Alia keluar dengan wajah masam. Tetapi semuanya kompak berekspresi sama dengan Risa tadi saat melihat pemandangan di depannya. "Ahem... Ayo Risa. Sebaiknya kita tidak mengganggu."


Salah satu wanita muda lainnya menggaet lengan Risa dan menyeretnya pergi. Teman-temannya yang lain mengikuti sambil geleng-geleng kepala. Terutama saat Risa masih sempat melambaikan tangan dan mengacungkan jempolnya.


Alia menjadi sedikit panik. Ia tidak ingin ditinggal hanya berdua dengan Kevin, apalagi harus pulang dengan pria itu. Tetapi ia tidak bisa langsung pergi meninggalkannya begitu saja.


"Um... Kevin, maaf. Tapi aku akan ikut bersama mereka. Jadi-"


"Kevin, kau benar-benar disini."


Alia dan Kevin sama-sama menoleh ke pintu lagi. Disana Wilda sedang tersenyum cerah. Ia menenteng tas kecilnya sembari berjalan mendekat.


"Ah, syukurlah. Saya kira kamu akan keberatan dengan permintaan saya," ujar Wilda yang terkesan seperti basa basi.


Sebagai jawaban, Kevin menggelengkan kepala sambil tersenyum ramah. "Tentu saja tidak. Saya justru senang mendapat tugas ini. Sebelumnya, Alia sudah menolak mentah-mentah tawaran untuk diantar pulang."

__ADS_1


Alia menatap bergantian antara Kevin dan Wilda. Raut wajahnya semakin memburuk saat menyadari kesepakatan yang sudah dibuat dua orang di depannya itu.


"Alia memang begitu. Saya harap kalian bisa lebih dekat setelah ini. Jaga dia baik-baik ya, Kevin," pesan Wilda.


"Ti-tidak usah. Aku bisa jala-"


"Sssttt... Kau diam Al. Ikuti saja perintahku kali ini," potong Wilda sambil menempelkan jari di bibirnya. "Sekarang, kau ikut Kevin atau aku akan marah kali ini."


Alia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa seperti anak gadis yang dipaksa berkencan oleh lelaki pilihan orang tuanya. Sama sekali tak ada celah baginya untuk menghindar.


"Ayo, kita segera pulang, Alia." Kevin dengan senyum ramahnya melangkah duluan. Ia tak akan melewati kesempatan ini atau Alia bisa saja memberikan alasan lain yang membuatnya tidak ingin diantar.


Namun, itu sedikit berlebihan. Apalagi Alia tak punya alasan apapun untuk menahan dirinya dari dorongan Wilda yang terlalu bersemangat mengantarnya sampai di depan pintu sebuah mobil. Kevin dengan senang hati membukakan pintu mobil itu dan menutupnya sebaik mungkin saat Alia yang ada di bawah paksaan Wilda sudah masuk ke dalam.


"Keselamatan Alia bergantung padamu, Kevin. Saya percaya kamu bisa bertanggung jawab dengan itu." Wilda mengubah wajahnya menjadi tajam dan serius, seakan dirinya beberapa saat lalu adalah pribadi yang berbeda.


Kevin mengangguk. "Saya berjanji."


Wilda tidak berkomentar apapun lagi dan membiarkan Kevin mulai masuk mobil. Di dalam, Alia hanya tersenyum canggung dan lebih banyak melirik jendela. Kevin juga tidak berbicara saat mobil yang mereka kendarai mulai melaju pelan.


Alia sejak awal berpikir untuk tidak membuka percakapan apapun. Ia hanya menatap jendela sepanjang jalan.


Sepotong kata dari Kevin membuat Alia menoleh dan mengerutkan dahi. "Maaf untuk apa?"


Kevin melirik dan tersenyum tipis. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah. "Apa kau ingat saat pertama kita bertemu? Kau saat itu sedang mengantar pesanan di mejaku, lalu tiba-tiba memarahi orang tua yang membentak anaknya di meja sebelah."


Alia diam sejenak, lalu menerawang ke atas, mencoba mengingat. "Ah, iya. Kalau diingat-ingat, wajahnya sangat sedih dan malu."


"Wajahku seperti itu?"


Alia menoleh dan memberi tatapan aneh. "Wajah anak itu."


Kevin tersenyum sambil berdeham kecil. Kadang Alia heran dan bertanya-tanya dalam hati, apa mungkin pria di depannya ini memang memiliki hobi tersenyum.


"Kau sangat keren saat itu. Aku yang duduk di dekat mereka dan mendengarkan sejak awal bahkan tidak melakukan apapun. Tapi kau bertindak dengan berani meski sebenarnya itu bisa mempengaruhi pekerjaanmu. Orang tua dari anak itu bahkan membuat keluhan pada Bu Wilda secara langsung. Beruntung ia membelamu saat itu," ujar Kevin.

__ADS_1


Alia mengangguk kecil, tidak memberikan komentar tambahan. Ia justru sedang memikirkan hubungan antara kejadian itu dengan permintaan maaf tadi.


"Sejak kejadian itu, aku berusaha mencari tahu tentangmu. Nama, usia, jam pulang kerja, hingga alamat rumahmu. Tapi kau jangan khawatir, aku bersumpah tidak bermaksud buruk sama sekali." Kevin melirik dengan sedikit khawatir. Ia takut Alia akan marah dan memilih turun dari mobil saat tahu yang dirinya lakukan beberapa saat terakhir.


Namun, Alia hanya menatap ke depan. Ia baru sadar kalau jalan yang ditempuh mereka memang sesuai dengan alamatnya, sementara Kevin tidak menanyakan apapun padanya sejak tadi. Ia tidak mengucapkan apapun dan cuma mengangguk kecil.


"Alia... eh, maksudku, ah tidak. Hanya saja, sepertinya kau tidak suka saat aku memanggil namamu langsung seperti ini." Kevin kini mengganti ekspresi menjadi sedikit sedih.


Alia mengangkat bahu dan bersandar di kursinya. Melihat sikap Kevin sejak tadi yang cenderung sangat berhati-hati membuat Alia bisa sedikit merasa nyaman. "Kita tidak pernah berkenalan dengan benar sebelumnya. Aku baru tahu namamu saat temanku memberitahukannya minggu lalu. Dan kau tiba-tiba langsung memanggil namaku tadi sore. Siapa yang tidak akan merasa terganggu?"


Mendengar jawaban itu, Kevin langsung salah tingkah. "Ah, kalau begitu maaf. Aku tak tahu kalau itu bisa mengganggumu."


Alia menggeleng. "Sekarang kau bisa santai. Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Lagipula aku juga melakukan hal yang sama, kan?"


"Itu tidak sama dengan yang sudah kulakukan. Jika demikian, apa kita bisa mengulang perkenalan dengan cara yang lebih baik?" tanya Kevin dengan cepat. Wajahnya sedikit memerah.


Alia mengangguk. "Baiklah. Aku mulai duluan. Perkenalkan, namaku Alia Redalia. Banyak yang memanggilku Alia atau Al."


"Aku Kevin. Kevin Reegan. Senang berkenalan denganmu, Al," balas Kevin dengan senyum lebar.


Alia menatap ekspresi antusias Kevin sebelum mulai tertawa kecil. Sama sekali tidak sadar kalau Kevin sama sekali tidak fokus berkendara dan justru sedang terpana saat memperhatikannya.


"Manisnya."


Alia selesai tertawa dan menoleh pada Kevin. "Apa kau mengucapkan sesuatu?"


Kevin menggeleng ringan. Kembali fokus pada jalanan yang lebih sepi daripada siang hari itu. "Tidak. Hanya saja, baru kali ini aku melihatmu tertawa seperti itu. Biasanya kau bahkan jarang tersenyum."


Sudut bibir Alia mengembang. "Kalau begitu, mulai sekarang kau kemungkinan bisa lebih sering melihatku tersenyum. Tahap selanjutnya setelah perkenalan adalah pertemanan. Mau jadi temanku?"


Kevin menoleh terkejut. "Serius boleh?"


"Kenapa tidak? Aku tidak keberatan menambah teman. Atau kau tidak mau jadi tem-"


"Mau!" potong Kevin cepat. "Ayo berteman!"

__ADS_1


Alia mengangguk dan tersenyum kecil hingga Kevin dengan sedikit ragu kembali mengatakan sesuatu yang tak kalah penting.


"Kalau begitu, apa kau bisa membuka blokir nomorku?"


__ADS_2