Sisterzone

Sisterzone
lampion


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap. Tak terasa sudah dua jam lebih Daniel dan Alia berkeliling. Sekarang sudah hampir mendekati pukul enam. Semburat oranye yang menerangi sore cerah itu juga perlahan meredup.


"Perasaanku saja atau memang sekarang jadi bertambah ramai?" Alia bertanya, mendongak ke arah Daniel.


Daniel mengangguk. Beberapa pedagang sudah menyalakan lampu, sementara wahana permainan mulai semarak dengan warna-warna terang.


"Sebentar lagi akan dimulai, sebab itu jadi semakin ramai." Daniel menatap jam tangannya, lalu menggenggam erat tangan Alia.


"Apa yang akan dimulai?"


"Puncak acaranya," jawab Daniel singkat. Tidak berniat menjelaskan. Ia lanjut membawa Alia berjalan menuju suatu tempat.


"Daniel, lihat, disana ada yang menjual sesuatu." Alia menunjuk satu arah, tapi Daniel terus membawanya pergi. Membiarkan Alia semakin kebingungan dengan tingkahnya.


"Maaf, tapi tempat ini akan ditutup selama puncak acara. Nanti akan dibuka lagi." Seorang petugas menghadang langkah mereka.


Daniel mengangguk sopan, tetapi tidak berniat menyerah. Ia melepas tangan Alia dan berbicara padanya. "Jangan kemana-mana. Aku akan berbicara sebentar."


Alia mengangguk meski tidak mengerti mengapa Daniel membawanya kesini. Ini tempat wahana bianglala. Tempat ini, atau bisa dibilang seluruh tempat wahana lainnya mulai dikosongkan. Pengunjung juga tidak ada yang terlihat kecewa atau protes. Mereka berkumpul di satu tempat yang tadinya menarik perhatian Alia. Ia berjinjit, meskipun tahu itu tidak akan banyak membantu.


"Orang satu ini sulit sekali diberitahu."


Daniel yang tiba-tiba muncul disampingnya membuat Alia terlonjak. Ia baru dua langkah dari tempatnya semula, mencoba melihat sumber keramaian itu dengan lebih jelas.


"Ka-kau sudah selesai? cepat sekali," ujar Alia kikuk. Ia melirik petugas tadi yang sedang berbincang dengan operator bianglala.


Daniel mengangguk, ia kembali menarik tangan Alia mendekati bianglala.


"Kita mau kemana? Semua orang berkumpulnya disana," protes Alia, tetapi tidak bisa menahan Daniel yang terus menariknya.


"Akan lebih bagus melihatnya dari tempat tinggi. Bianglala ini tepat berada di bagian tengah." Daniel menjawab seadanya.


"Sebenarnya, apa yang mau kita lihat?"


Daniel tidak menjawab. Mereka sudah di depan bianglala itu. Petugas tadi mengangguk ringan dan mempersilakan keduanya naik. Daniel menyuruh Alia untuk naik lebih dulu, baru ia menyusul. Begitu pintu besi yang terlihat masih baru dan kokoh itu ditutup, tak lama bianglala itu mulai bergerak.


Alia menatap ke bawah, tidak lanjut protes. Dari atas sini, semuanya terlihat bersinar. Lampu warna warni di bianglala saja sudah cantik. Di bawah juga terlihat lebih menarik. Bianglala itu mendadak berhenti saat mereka berada di atas, meskipun bukan di puncak.


"Apa bianglalanya rusak?" tanya Alia sedikit panik.


Daniel menggeleng. "Tidak."


"Lalu?"


"Sudah kubilang, akan lebih bagus melihatnya dari atas. Ini tempat yang keren, bukan begitu?" Daniel menjelaskan dengan tenang.


Alia diam sejena lalu mengangguk. Pastinya Daniel yang sudah meminta petugas tadi untuk berbicara dengan operator. "Tadi petugas itu melarang pengunjung, kan? Bagaimana caramu membujuknya?"


"Bisa tebak?" Daniel tersenyum misterius.


"Uang?" tebak Alia.

__ADS_1


Daniel tidak merespon lagi.


"Kekuatan yang satu ini memang besar sekali, ya," dengus Alia.


Perlahan Alia ikut menikmati waktunya. Ia memperhatikan ke bawah, meski sedikit ngeri oleh ketinggian tempat mereka saat ini. Perhatiannya tertuju pada massa yang mulai menyebar di bawah. Banyak dari mereka yang memegang benda kotak bercahaya di tangannya.


"Apa itu?"


"Apa dingin?"


Alia menoleh, segera melepas tangannya yang saling merangkul. Daniel pasti memerhatikannya sejak tadi. "Di rumahmu lebih dingin daripada ini."


Daniel diam sejenak, lalu berdiri perlahan dan pindah ke tempat duduk Alia.


"Kembali ke tempatmu. Ini jadi tidak seimbang," seru Alia panik.


"Ini wahana baru. Lumayan kokoh. Tidak seimbang sedikit akan tetap aman," jelas Daniel.


Ia tersenyum kecil. Daniel selalu suka memperhatikan ekspresi Alia, termasuk kepanikan kecilnya saat ini. Daniel melepas jasnya, menyampirkan ke pundak Alia dan merapikannya. Gaun wanita itu hanya menutup sampai sikunya, memungkinkan dingin lebih terasa di hari yang menjelang malam ini.


"Nanti kau yang kedinginan." Alia berniat menolak, tetapi Daniel tidak membiarkan ia menggerakkan jas itu darinya.


"Ini masih lebih hangat daripada rumah 'kita'," tekan Daniel dengan tatapan penuh makna. Ia tidak akan membiarkan Alia berpikir macam-macam seperti saat pertama mereka hendak jalan siang tadi.


Alia tersenyum. "Terimakasih," ujarnya lembut sebelum ikut merapatkan jas itu ke tubuhnya dan kembali melihat-lihat ke bawah.


Daniel mengusap matanya, memastikan kalau apa yang dilihatnya memang sungguh nyata. Ia tertegun melihat semburat kemerahan di pipi Alia. Daniel bergerak tanpa kesadaran penuh. Sebelah tangannya sudah merengkuh kedua pundak Alia sementara ia menggunakan satu tangannya lagi untuk menolehkan wajah Alia kembali kepadanya.


Daniel hampir tidak sadar kalau ia ikut memajukan wajahnya, membuat hidung dan dahi mereka bersentuhan. Bibir kecil Alia menjadi pusat perhatiannya. Bibir yang sering menebarkan senyum itu terlihat sangat menggoda saat ini. Menarik Daniel untuk mencoba merasakannya.


PATS!


Lampu yang tiba-tiba padam membuat Daniel kembali mendapatkan kewarasannya. Alia juga ikut mengerjap, tidak mengerti situasi intim apa yang melingkupi mereka saat ini.


Daniel menjauhkan wajahnya dengan segera, melotot kaget. Apa yang barusan ia pikirkan? Bagaimana bisa ia terpikir untuk mencium Alia tadi? Daniel merasakan wajahnya memanas. Tidak. Seluruh tubuhnya sangat panas sekarang. Ia merasakan malu yang amat sangat, berharap Alia tidak mengungkitnya. Untung bagi Daniel. Lampu yang padam berhasil menyadarkannya dari perbuatan gila yang hampir dilakukannya.


"Kenapa?" tanya Alia, bingung dengan reaksi Daniel.


Danie meremas rambutnya frustasi, meski wajahnya masih terkesan datar. Wajah polos dan bingung Alia bahkan terlihat sangat manis di matanya. Daniel menggeleng, bersyukur Alia terlalu murni untuk memikirkan hal-hal yang ada dikepala Daniel.


"Tiba-tiba saja semua lampunya dimatikan. Ada ap- WAH! Daniel, lihat!" Alia berseru dan menunjuk ke bawah.


Daniel memundurkan tubuhnya, berusaha tidak begitu dekat dengan Alia. Sementara wanita itu duduk dengan tegak, sedikit waspada oleh kemiringan tempat mereka saat ini.


"Apa itu lampion?" Alia memperhatikan cahaya kecil yang terlihat mencolok di bawah. Matahari sudah sempurna tenggelam. Sementara para pedagang yang menyalakan lampu tadi serempak mematikan semua lampunya. "Daniel! Mereka mau menerbangkan lampion!"


Daniel tidak merespon. Dari posisinya ia tidak bisa menatap langsung wajah Alia, tapi ia yakin wanita itu sangat bersemangat. Berbeda dengan dirinya yang masih terus teringat perbuatan yang hampir dilakukannya tadi.


Terdengar hitungan mundur dari bawah sana. Mata Alia semakin berbinar. Ikut menghitung hingga waktunya habis. Beberapa lampion itu diterbangkan. Tidak langsung serentak, meski sudah dihitung. Mereka memberi jarak melepasnya, membuat udara dipenuhi warna-warna terang.


"Dari atas kita bisa melihat semuanya. Dibagian sana juga ada. Itu juga" Alia menunjuk ke banyak arah. Terus mengoceh tak peduli Daniel mendengarkan atau tidak. "Kau benar. Lebih bagus melihat dari tempat yang tinggi. Oh, ada yang bergerak kesini."

__ADS_1


Daniel hanya memperhatikan Alia, terkadang harus membuang muka jika ia menatap terlalu lama. Daniel selalu percaya dengan kemampuan pengendalian dirinya. Tapi bersama Alia selalu membuatnya mempertanyakan kemampuannya itu, sementara ia menyimpan pertanyaan lain.


Mengapa harus Alia?


Daniel memijat kepala, merasa semua ini semakin aneh baginya.


"Daniel, apa kau pernah mendengar mitos bianglala?" Pertanyaan Alia membuyarkan lamunan Daniel. Wanita itu tersenyum lebar. "Katanya jika pasangan kekasih saling menyatakan cinta di atas bianglala, hubungan mereka akan awet sampai pernikahan. Keren, kan?"


"Lalu, hubungannya dengan kita apa?" Daniel mengerutkan kening. Belum mengerti konteks percakapan ini.


"Ayo coba!" Alia sangat antusias dengan ide ini.


Sistem di kepala Daniel mendadak seperti tidak berfungsi. "Hah?"


"Ayo coba," ulang Alia.


"Tapi kita bukan pasangan. Tidak." Daniel bersikap menolak, tapi ia lebih berharap Alia lebih memaksanya saat ini.


"Memang. Karena kita sedang berpura-pura. Yang ini juga pura-pura. Tidak usah terlalu serius." Alia mengibaskan tangannya santai, seakan tidak peduli dengan pendapat Daniel.


"Aku mencintaimu, Daniel." Alia tersenyum lembut, sesaat kemudian tertawa keras. "Siapa sangka rasanya akan segeli ini. Daniel, balas cepat. Jangan biarkan cintaku bertepuk sebelah tangan, hahaha."


Alia tidak sadar kalau ucapannya membuat Daniel mematung. Jantungnya seperti berhenti berdetak sejenak, lalu kembali berdetak dengan kecepatan ekstra. "I-itu lumayan berbahaya."


"Apanya yang berbahaya?" Alia masih tertawa kecil. "Kalau aku mengucapkannya berulang-ulang kali pun, kau akan tetap hidup."


"Mati lebih baik daripada itu." Daniel menimpali.


"Kau tak suka ya?" Alia mulai memperhatikan Daniel. "Wajahmu sering sekali memerah, loh. Kenapa bisa begitu? Padahal berekspresipun tidak."


Daniel menutupi sebelah wajahnya dengan satu tangan. Ia menghela napas. Menyandarkan punggungnya dengan keras, membuat gerbong mereka bergoyang. Alia langsung memukul lengan Daniel dengan mata melotot.


"Kita bisa mati jatuh kalau kau bergoyang terus," cela Alia.


"Aku sudah mati duluan sejak tadi," tanggap Daniel tidak terlalu peduli. "Katakan sekali lagi."


"Apa?" Alia memegang besi disekitarnya kuat-kuat.


"Ucapan, aku mencintaimu." Daniel mengumpulkan tekad.


Alia mengangguk. "Oh, aku juga mencintaimu, Daniel."


Tawa Alia kembali terdengar, membuat Daniel merengut. Ia tidak ingin mengulang ucapannya itu. Daniel mengira akan sulit mendapatkan kembali suasana romansa seperti tadi. Ini justru terasa seperti Alia yang sedang menjahilinya.


"Dan, ada satu lagi yang kutahu dari teman-teman kerjaku yang menonton banyak drama." Alia terlihat masih punya ide untuk menjahili Daniel.


Daniel hanya menghela napas pasrah dan mengangguk.


"Setelah menyatakan cinta masing-masing, mereka lanjut berciuman."


Daniel terdiam, lalu menengok ke bawah. Memikirkan apa lebih baik melompat dari sini daripada menghadapi Alia yang selalu tepat memanah hatinya.

__ADS_1


__ADS_2