
Riki menunggu di mobilnya. Melirik ponselnya terus menerus. Ia berkali-kali menghela napas, mencoba mengurangi keluhan.
"AAGH! Mana bisa seperti ini! Daniel ini benar-benar," geramnya. Ia keluar dari mobilnya dan membanting pintu. Baru hendak lanjut mengumpat, ponselnya sudah berdering.
Riki mengangkat panggilan masuk meskipun sebenarnya itu tidak berguna.
"Aku melihatmu."
"Bangsat!" Riki melotot pada sebuah mobil yang menuju ke arahnya. Panggilan itu sudah dimatikan sepihak sebelum ia menyelesaikan kata-kata mutiaranya.
Mobil yang ia lihat, merapat mendekat. Daniel dan Alia keluar dari sana. Satunya dengan tatapan datar yang menjengkelkan sementara satunya lagi masih terlihat kebingungan.
Daniel melangkah mendekati Riki dan menepuk pundaknya. "Aku tahu kau pasti berhasil mendapatkan tempat ini."
Riki merasa hendak meledak saat itu juga. "Hei, kau ini benar-benar ya. Tidak ada orang yang mempekerjakan asistennya segila kau. Tiba-tiba mengenyampingkan semua tugas kantor padaku dan masih menyuruh mencari tempat ini lagi. Gila!"
"Kita sudah kesini sebelumnya, kau mau mencari apa lagi?" Daniel tetap berjalan santai. Memberi tanda pada Alia untuk mengikutinya.
"Ya, tapi kemarin pemilik tempat ini tidak mau menjual tempatnya, jadi kita sempat beberapa kali pindah lokasi. Aku harus berkeliling tadi," sanggah Riki, masih doyan berdebat.
Daniel mengangkat bahu. "Aku sudah bilang untuk fokus ke pemilik tempat ini saja. Dia pasti mau."
"Tapi tetap sulit," kukuh Riki.
"Tapi kau tetap bisa melakukannya." Daniel menjentikkan jari. "Sebab itu aku langsung ke lokasi ini."
Riki menutup wajahnya frustasi. Berdebat dengan Daniel memang tidak akan berbuah kemenangan. Mereka sampai di sebuah bangunan kecil yang tampak sederhana tetapi dengan lingkungan yang bersih.
Alia yang mengikuti dari belakang tidak punya kesimpulan apapun tentang tempat ini, jadi hanya berpikir kalau ini bagian dari urusan bisnis Daniel atau semacamnya. Ia juga tidak berniat bertanya.
"Setelah ini, aku minta agar bisa mencicipi kue-kue buatan Dewi Alia, nanti." Riki akhirnya merendahkan suaranya. Ia sudah terbiasa memanggil Alia dengan sebutan Dewi, sama seperti yang lain. Tentu saja berkat paksaan Edward dan Aslan.
"Mengapa tiba-tiba membahas itu?" Alia menyusul, tapi tidak ingin berdiri sejajar diantara mereka. Itu karena ia tidak ingin terlihat sangat kecil diantara dua pria ini.
"Ini akan jadi tempat toko kue Kakak." Daniel yang menjawab.
Alia menatap bangunan di depannya dengan raut tak percaya. "Maksudnya?"
"Masih harus dibersihkan lagi. Tapi ini akan jadi toko kue yang dulu Kakak inginkan itu." Daniel menarik Alia, membawanya masuk.
Tempat itu disinari oleh lampu kecil berwarna kuning yang memberikan warna temaram. Alia baru melihat ruang depan sebelum menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti? Kita belum melihat dapur dan pantry." Daniel tidak mengerti alasan Alia berhenti tiba-tiba.
"Ini terlalu banyak. Kakak tidak bisa menerimanya," tolak Alia dengan kepala tertunduk.
Daniel menatap Alia. Lalu melirik Riki yang berjalan di belakang. Pria berkacamata itu mendengus sebelum pergi keluar, mengerti maksud Daniel yang ingin meminta waktu berdua.
__ADS_1
"Apa yang terlalu banyak?" Daniel perlahan mengangkat wajah Alia agar menatap ke arahnya. "Ini hadiah. Bukan, ini hasil investasi Kakak."
"Tapi ini benar-benar terlalu banyak. Bagaimana cara Kakak membalasnya?"
Daniel mengulas senyum tipis. Ia menarik dua kursi terdekat yang ada disana. Mengajak Alia duduk agar lebih tenang.
"Tidak ada yang perlu dibalas. Sudah kubilang, ini hasil investasi Kak Al sendiri," jelas Daniel dengan sabar. Jika Riki melihatnya bisa menjelaskan sesabar ini, pasti dia akan kembali mengamuk sebab Daniel biasa berbicara singkat saat memberinya pekerjaan. Membuat Riki harus bekerja keras mencari tahu sendiri.
"Investasi bagaimana?" Alia masih tidak mengerti.
"Kak Alia selalu mengirim sebagian gaji Kakak ke tempatku selama lima tahun. Bahkan masih tetap mengirim meski sudah kukatakan untuk berhenti. Nah, anggap aku mengumpulkan itu semua untuk membeli tempat ini. Jadi, ini milik Kakak." Daniel memerhatikan ekspresi Alia.
Meski sempat berpikir untuk menerimanya, Alia kembali menggeleng. "Kalau kau menganggap itu sebagai investasi, harusnya sudah habis sejak Kakak tinggal di rumahmu. Kalau tempat ini untuk Kakak… Tidak. Kau sudah terlalu banyak memberi."
"Rumah kita. Bukan rumahku," koreksi Daniel. "Jangan terlalu fokus hanya karena aku yang membelinya. Bukankah ini arti saudara?"
Daniel sedikit tercekat di pilihan kata terakhirnya. Tidak begitu suka.
"Meski begitu, yang menjadi milikmu adalah milikmu. Kakak punya bagian sendir-"
"Argumentasi ini jika kuucapan enam tahun lalu, apa Kak Al akan menerimanya?" Daniel kini menatap Alia tajam. Tidak bermaksud mengintimidasi, tapi benar-benar ingin menekankan kalimatnya. "Aku bergantung pada Kakak sejak Ibu meninggal. Apa Kak Al akan suka jika dulu aku menolak semua itu dan memilih melakukannya sendiri?"
Alia menggigit bibir. Banyak yang ia pikirkan, tapi jelas itu tidak bisa dikatakan pada Daniel untuk saat ini.
"Kakak ini sulit sekali menerima. Padahal selalu suka memberi," cibir Daniel. "Apa kita menikah saja agar semua tentang hak-hak ini tidak memberatkan?"
Daniel tersenyum miring. "Makanya, terima saja. Riki bisa menangis darah kalau Kakak menolak yang ini juga. Kasihan dia."
Ucapan Daniel membuat Alia melirik Riki dari jendela kaca, melihat wajah masamnya di luar. Ia akhirnya memahami maksud pembicaraan mereka berdua tadi. Alia kembali menatap Daniel, kali ini mengangguk. "Keuntungan usaha nanti semua untuk-"
"Kak Alia." Daniel menyahut cepat. "Aku akan memberikan modal. Kakak juga perlu melakukan percobaan-percobaan, kan?"
Alia tidak mengelak. Meskipun ini memang keinginannya, Alia tidak pernah berpikir bisa benar-benar mendapatkannya. Ia juga masih belum mahir membuat kue-kue, apalagi yang pantas untuk dijual. Alia harus berlatih keras lebih dulu.
"Pembicaraan kita sudah selesai. Kak Alia tak perlu melakukan apapun lagi selain menerima." Daniel beranjak dan melangkah menuju pintu, memanggil Riki. Baru kemudian menoleh ke Alia lagi. "Kakak bisa memeriksa dapur, kami menunggu disini."
Alia sudah memantapkan hatinya. Jika ia ingin membalas Daniel, maka toko kue ini harus berhasil. Alia berdiri dan melangkah ke dapur untuk mempelajari tempat. Ia bisa memikirkan langkah lainnya untuk mengisi dapur itu.
Riki mengikuti Daniel yang kembali duduk di kursi. "Apa yang ingin dibicarakan?"
Daniel bukan tipe orang yang akan memanggil Riki untuk masuk ke dalam begitu saja. Jika bukan karena ada hal penting lain, Daniel bisa membiarkan Riki tetap berada di luar.
Daniel terlihat serius. "Apa ada laporan terakhir tentang penyelidikan?"
Riki menggeleng. "Tidak ada hasil yang memuaskan. Sudah bertahun-tahun, setelah kembali kesini, apa mereka masih mengikuti?"
Daniel tidak langsung menjawab. Ia yakin perasaannya tak salah. Beberapa jam lalu, ketika Daniel dan Alia masih di alun-alun, ada seseorang yang mengikuti mereka. Daniel mencoba mencari orang itu di keramaian, membawa Alia berkeliling. Bahkan sampai ke atas bianglala untuk mencari kemungkinan keberadaan orang itu.
__ADS_1
"Orang-orang itu masih mengikuti. Sepertinya mereka berhasil mengambil gambar." Daniel menghela napas. Alasan lain ia membawa Alia ke jembatan kanal adalah untuk memastikan keberadaan orang-orang itu. "Ada kilatan cahaya saat aku dan Alia berada di jembatan kanal alun-alun."
Riki terdiam, mengagumi kepekaan Daniel. Menyadari hal-hal seperti ini tentu hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar waspada sepanjang saat. Salah satu kehebatan yang membuat Riki bisa menjadi asistennya yang setia, meski seringkali ditindas. Ia juga harus mengakui keberanian Daniel yang mengambil risiko menggiring orang-orang itu ke tempat yang lebih sepi.
"Mereka orang-orang yang sama?" tanya Riki pada akhirnya.
"Dari tingkah laku mereka, harusnya iya. Mereka orang-orang yang sama, atau setidaknya mereka di bawah perintah orang yang sama," jawab Daniel dengan pasti.
Riki mengangguk. "Kemunculan mereka justru akan membuat kita lebih mudah menelusuri. Aku akan lanjut memeriksa ini."
Hanya orang-orang terdekat Daniel yang mengetahui tentang ini. Alia adalah pengecualian. Selama di luar negeri, Daniel selalu menyadari bahwa ada orang yang mengamatinya. Meski terdengar seperti penguntit biasa, tetapi keberadaan atau latar belakang mereka selalu menjadi misteri. Sudah lama sejak Daniel hendak mengusut orang-orang ini, tetapi ia tidak bisa mengandalkan kekerasan atau perangkap. Itu bisa-bisa justru bisa membahayakan Daniel, mengingat orang-orang itu tak pernah bertindak lebih jauh selain mengamati.
Namun, sejauh itu pula mereka kesulitan mendapatkan informasi yang berarti. Hal ini menjadikan kesimpulan bahwa latar belakang orang-orang ini pastilah cukup besar.
Daniel terlihat serius. Meski yang ia pikirkan adalah kinerja otaknya yang hanya terganggu saat ia melibatkan Alia. Dalam urusan ini, ia masih seorang yang cakap.
"Oh, satu lagi. Bisakah kau mencari seorang pemuda lagi? Aku akan memberitahu ciri-cirinya." Daniel menambahkan, mengingat kejadian menjengkelkan sore tadi.
"Apa pemuda ini berhubungan dengan mereka?" tanya Riki lebih serius.
Daniel menggeleng. "Tidak. Yang satu ini terlalu bodoh. Mustahil menjadi bagian dari mereka. Aku hanya ingin memberi pelajaran ringan saja agar anak muda sepertinya tidak terlalu banyak tingkah."
Riki menggaruk kepalanya, mengiyakan permintaan itu.
"Apa gajimu mau dinaikkan?" tanya Daniel. Melirik wajah lelah Riki.
Pria itu membetulkan letak kacamatanya. "Tidak perlu. Cukup beri aku libur satu hari saja."
"Setengah hari," tawar Daniel.
"Kau ini niat memberi hadiah atau tidak?" geram Riki.
"Tidak."
Riki mendumel kesal. Meski sudah menduganya, tetap saja jawaban itu membuatnya naik pitam.
"Alia bisa memberikan rekam jejak yang baik-baik tentangmu nanti padanya." Daniel menawarkan hal lain.
Wajah Riki langsung memerah. Ia memegang belakang lehernya canggung, membuat ekspresi salah tingkah yang membuat Daniel menggeleng. Memikirkan bagaimana bentuk wajahnya setiap kali bersama Alia.
"Apa mukaku selalu terlihat sebodoh itu?" gumam Daniel sambil menggeleng pelan.
Percakapan mereka kebetulan selesai saat Alia keluar dari dapur dan melangkah mendekati mereka dengan penuh tekad. Daniel kurang lebih memahami alasan Alia bersikap begitu.
"Kak, setelah ini kau harus menceritakan hal-hal baik Riki padanya. Jadi hubungan asmaranya juga lancar," celetuk Daniel membuat Riki semakin memerah.
Hanya Alia yang menjadi bingung. "Padanya? Maksudnya siapa?"
__ADS_1
Daniel dan Riki sama-sama berniat tidak menjawabnya.