
"Mau ambil minum lagi?" tanya Alia dengan tawa kecil.
Daniel di pintu dapur masih menganalisa situasi, tetapi akhirnya melepaskan semua pemikirannya dan melangkah masuk. Apalagi Alia sudah menyadari keberadaannya dan menyapa duluan.
"Ini masih terlalu pagi, kan?" Daniel menyipitkan matanya, melihat wajah Alia yang cemong oleh tepung.
"Tidak. Ini waktu normal untuk bangun. Lihat, Carla juga sudah bangun." Alia menunjuk pojok dapur, dekat meja makan. Seorang gadis tersungkur dengan buku menjadi bantal kepalanya.
Mau dilihat bagaimanapun, Carla jelas tidak sedang bangun. Gadis kecil itu malah seperti orang pingsan daripada tidur. Sebab itu Daniel tidak menyadari keberadaannya tadi. Saat Alia menunjuk, baru Daniel sadar.
"Apa ini bentuk pemaksaan baru?" tanya Daniel. Ia mengambil cangkir dan mengisinya dengan kantung teh serta sedikit gula.
Alia menuangkan adonan ke dalam loyang secara perlahan, terlihat sangat fokus. Tidak mendengar pertanyaan Daniel.
Daniel mengaduk tehnya yang terlebih dahulu sudah disiram air hangat. Menunggu Alia menurunkan fokusnya. Bisa dikatakan sebuah hiburan bagi Daniel yang menikmati ekspresi serius itu.
Alia meratakan permukaan adonan di loyang itu, lalu membawanya ke dalam oven. Setelah mengatur suhu, baru Alia menyelesaikan tahapan sisanya dan bernapas lega. Ia menoleh kepada Daniel yang tengah asyik mengamatinya.
"Tumben sekali kau membuat teh pagi-pagi. Biasanya hanya air putih," komentar Alia.
Daniel mengangkat dua kursi dari meja makan tanpa mengeluarkan suara. Berusaha untuk tidak mengganggu Carla. "Duduklah. Ini teh untuk Kakak. Masih suka teh, kan?"
Alia menerima teh itu dengan senyum kecil. "Terimakasih."
Daniel mengambil gelas lagi dan mengisinya dengan air putih biasa. Ia ikut duduk disebelah Alia. Wanita itu sekarang sibuk memasang penghitung waktu.
"Jadi, bagaimana Kakak bisa membujuk Carla kesini?" Daniel melirik Carla yang napasnya masih teratur, terlihat nyenyak walau dengan posisi yang tidak begitu nyaman. "Apa ada unsur pemaksaan disini?"
Daniel tahu Carla bukannya tipe early bird. Ia lebih sering melewatkan sarapan karena masih tertidur dan Daniel juga paham betapa sulit membangunkan gadis kecil itu.
"Dia bilang ingin melihat dan membantu, jadi sejam yang lalu, Kakak mengetuk kamarnya, dan membawanya kesini," jawab Alia ringan.
"Suka rela?" Daniel masih tidak percaya.
"Dia tidak terlalu senang sih, tadi. Setelah memberikan buku resep kue, dia lanjut tidur seperti itu." Alia mengangkat bahu, menjawab ringan.
"Mengapa tidak meminta bantuan pelayan saja?" Daniel mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Alia. "Banyak tepungnya."
Alia menepis tangan Daniel, sedikit kesal. Adiknya itu sekarang sering sekali tiba-tiba menyentuhnya. Dia tak tahu kalau semua yang dilakukannya secara mendadak itu kadang membuat Alia gugup juga.
"Kakak tidak ingin merepotkan mereka. Pastinya mereka sudah punya pekerjaan masing-masing," tutur Alia sambil mengusap pipinya yang tadi disentuh Daniel.
"Padahal niatku mempekerjakan mereka untuk membuat Kak Al lebih santai." Daniel menahan senyum saat menatap Alia yang hanya membersihkan sebagian kecil tepung di wajahnya.
Alia menggeleng. "Cukup dengan santai-santainya. Itu membosankan. Lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat daripada terus tidak berbuat apa-apa seharian."
__ADS_1
Daniel menghela napas. Alia memang keras kepala dan khusus untuk ini, dia pasti punya pendapat kuatnya sendiri. Daniel memang berniat memberi Alia waktu istirahat lebih banyak, mengingat wanita itu selalu bekerja keras sepanjang waktu dulu.
Sayangnya, Alia tetap Alia.
Senyum samar terukir di bibir Daniel. Membuat wajah datar dan dinginnya sedikit melembut. Alia membuktikan dirinya istimewa hanya dari hal-hal yang terlihat kecil seperti ini. "Biar aku saja yang membantu bersihkan."
Daniel menarik kursinya lebih dekat. Satu tangannya diletakkan pada belakang kepala Alia, mencegahnya untuk menghindar. Sementara Daniel mulai mengusap tepung-tepung di kening Alia. Lalu turun ke hidungnya.
Alia tidak sempat menolak, ia sesekali menutup matanya. Saat Daniel memberi tarikan kecil pada hidungnya, Alia membuka mata dan melotot hendak protes. Tetapi Daniel lanjut menepuk pipinya satu persatu. Terakhir, pria itu mencubit pipinya, membuat Alia mengerang tertahan.
"Ah, sakit-sakit." Alia memukul keras tangan Daniel dan menjauhkan wajahnya. Ia mengusap pipinya yang mulai memerah sebelah.
"Imut sih," gemas Daniel. Ia masih ingin melakukan itu sekali lagi.
"Imut kepalamu," sungut Alia, masih merasakan perih.
Daniel menopang dagunya, menatap Alia seakan tidak ada hari esok baginya untuk melakukan ini lagi.
Alia sendiri larut dalam lamunannya. Ia sejujurnya cukup heran dengan kelakuan Daniel yang semakin berani. Dulu memang Daniel anak yang berani, tetapi saat ini, konteksnya sangat berbeda. Ini lebih pada kejahilan pria itu yang semakin meningkat padanya.
"Sialan, bangun-bangun situasinya malah seperti ini," keluh seseorang di pojokan.
Alia menoleh penuh sementara Daniel hanya melirik sebentar. Baginya, memandangi Alia lebih menyenangkan.
"Carla, kau akhirnya bangun. Apa dadamu tidak sakit dengan tidur seperti itu?" tanya Alia.
Alia menggeleng, lalu menatap ponselnya. "Dua belas menit lagi."
"Kau benar-benar membuat kue moka?" tanya Carla lagi.
Alia mengangguk. "Setiap koki membuat kue moka di WR Coffee, aromanya sangat enak. Kak Wilda juga sering membawakan pulang kue ini. Jadi, ini cukup familiar."
Carla mendengar sambil lalu, meski sebenarnya tetap cermat. "Yang penting aku ingin menghias."
Alia menyetujuinya. Ia harus banyak latihan menghias kue. Meski sedikit-sedikit ia paham membuat, tetapi menghiasinya adalah tantangan lain.
"Itu alasanmu mau bangun sepagi ini, Carla?" Daniel ikut nimbrung dalam percakapan mereka.
Carla yang merasa diingatkan sekali lagi mencebik kesal. "Aku cuma ingin menghias kue, makanya setuju ingin membantu. Ternyata Alia malah mau membuatnya di pagi buta begini."
Alia tertawa canggung. "Aku juga tidak bisa membuat sarapan. Tadi malam kalian mengatakan kalau akan sibuk semua mulai pagi, jadi tak ada yang sempat sarapan."
Daniel mengangguk membenarkan. Hari ini memang akan sibuk. Mereka harus menyiapkan banyak hal untuk membuka perusahaan baru Daniel disini. Hanya Carla yang menolak ikut karena menganggap ini pekerjaan yang menjemukan.
Semua kesibukan itu mendorong Alia untuk melaksanakan latihan-latihannya membuat kue. Seperti yang Daniel katakan sebelumnya, ada banyak bahan-bahan membuat kue, bahkan bahan menghiasnya juga ada. Peralatan yang Daniel sediakan juga sangat lengkap, sampai Alia harus membuka internet untuk mengetahui fungsi beberapa alat yang tidak diketahuinya.
__ADS_1
Ponsel Alia yang tiba-tiba berdering membuat percakapan ringan mereka terhenti. Alia kini mengambil waktu ke pojokan untuk mengangkat panggilan telepon itu.
"Dari Kak Wilda," bisik Alia sebelum mulai menjauh.
Wilda memang sering menghubunginya di jam pagi seperti ini. Alasan ringkasnya karena tahu jadwal bangun Alia selama ini. Jadi dia tak akan khawatir mengganggu.
Pandangan Daniel tak lepas dari Alia ketika wanita itu mulai berjalan ke pojok tempat Carla tadi tertidur. Hal yang tak luput dari pengamatan Carla.
"Kak Daniel menyukai Alia, kan," bisik Carla, memastikan Alia tidak menyadari perkataannya.
Daniel mengangkat kedua alisnya. Carla orang pertama yang membahas tentang ini. "Apa terlihat jelas?"
Carla merotasikan bola matanya, meski sebenarnya merasa bersemangat karena Daniel tidak menyangkalnya. "Anak kecil saja akan tahu kalau Kak Daniel menyukainya."
"Apa Alia juga sadar tentang ini?" Daniel bertanya ringan walau sedikit panik juga. Ekspresi datarnya sangat membantu saat ini.
Gelengan kepala Carla disertainya dengan tatapan malas. "Orang bodoh sepertinya mana mungkin peka di hal-hal seperti ini."
"Tapi ini bukan suka," elak Daniel.
"Lalu?"
"Entahlah, suka terlalu dangkal. Cinta?"
"Cinta antar saudara? Sudah basi untuk berpegang pada hal itu." Carla menambahkan sambil melirik Alia yang terlihat senang dan sibuk dengan percakapannya.
Daniel menggeleng. "Memang bukan. Alia wanita yang luar biasa, kan?"
Carla menolak memuji, tetapi tidak menyangkalnya juga. Alia memang punya karakter dan daya tarik tersendiri yang membuatnya istimewa dibanding siapapun. Tetapi situasi cinta Daniel jelas cukup kontroversial.
"Bagaimana hubungan kalian kalau Kak Daniel meneruskan perasaan ini?" tanya Carla.
"Aku tak berencana mengungkapkannya." Daniel menggeleng tenang. "Tapi tetap tidak menutup kemungkinan itu terjadi di hari-hari berikutnya."
"Cemburunya Kak Daniel cukup tinggi, ya," ejek Carla, berusaha menangkap makna ucapan Daniel dan kejadian kemarin.
Keduanya serempak terdiam saat Alia sudah berjalan kembali dengan wajahnya yang cerah.
"Ada kabar baik?" tanya Daniel ringan.
Alia mengangguk penuh semangat. "WR Coffee akan buka cabang di Kota Pusat. Apa Kakak boleh kesana nanti?"
Daniel tersenyum lembut, tanpa sadar kembali menunjukkan ekspresi yang hanya bisa didapatkan Alia. "Tentu saja."
Carla yang curiga tubuhnya menjadi transparan disana jelas tidak melewatkan kesempatan ini untuk terperangah. Hampir seperti perbandingan satu banding sejuta melihat ekspresi Daniel seperti ini. Alia mungkin tak tahu kalau Daniel terlalu kaku ketika bekerja sebab pria itu selalu bersikap seperti ini padanya tiap saat.
__ADS_1
"Cinta benar-benar bisa mengubah seseorang," gumam Carla disertai dengan kekehan kecil.