Sisterzone

Sisterzone
Sedikit masalah (I)


__ADS_3

Suara ketukan di pintu ruang kerja Daniel membuatnya menoleh heran. Seharusnya Riki tidak akan menemuinya saat ini. Pria itu selalu kesal selepas waktu pulang kantor, dan melampiaskannya dengan tidak akan berbicara pada Daniel hingga esok hari lagi.


"Masuk."


Pintu ruangan terdorong pelan, Alia perlahan masuk dengan senyum manisnya. Tangannya penuh dengan gelas teh dan piring kecil berisi sepotong kue.


Daniel mengira setelah meyakinkan dirinya di jembatan waktu itu, jantungnya akan puas. Tetapi setiap melihat senyuman Alia, lagi dan lagi, jantungnya tetap berdebar kuat. Daniel berdiri dengan cepat dan menyambut piring yang Alia bawa.


"Riki tidak mau membawakan ini padamu. Carla bilang, harus Kakak yang membawakan ini." Alia berjalan mendahului Daniel dan meletakkan teh itu ke mejanya. Ia lalu berbalik dan menatap Daniel lagi. "Kau juga. Kenapa tadi mendadak langsung pergi begitu?"


Daniel menutup pintu di belakangnya sebelum melangkah mendekat. Ia turut meletakkan piringnya. "Disana terlalu berisik. Benar kata anak itu, harus Kak Alia yang membawakan ini. Dengan begitu, suasananya akan lebih tenang dan menenangkan."


Carla kali ini benar-benar membantu Daniel. Tentu saja bukan itu alasan sebenarnya ia pergi begitu saja. Daniel hanya merasa kesal karena Alia masih berhubungan dengan Kevin sampai tidak menyadari kedatangannya. Terdengar kekanakan, Daniel mengakui itu. Ia merasa benar-benar lemah jika berkaitan dengan Alia.


"Kopi tidak terlalu bagus diminum malam hari. Nanti kau sulit tidur lagi. Jadi, Kakak membuat teh meski kau tak begitu suka," jelas Alia lagi. Sudah tidak mempermasalahkan hal tadi.


"Hm," gumam Daniel. Ia maju selangkah dan menyampirkan anak rambut Alia ke belakang telinganya. "Terimakasih."


Alia menahan napas saat tangan Daniel membelai telinganya ringan. Ia mengira suara Daniel juga lebih berat dan serak dari sebelumnya. Pikiran aneh yang melintas di kepalanya membuat Alia secara refleks mendorong wajah Daniel menjauh.


"Jangan tiba-tiba mendekat begitu!" seru Alia.


Daniel mengusap hidungnya. Dorongan tangan Alia cukup kuat untuk membuat hidungnya berdenyut.


"Itu kan, tidak sakit," cibir Alia melihat Daniel yang masih diam. Sesaat kemudian ia jadi sedikit khawatir. "Ma-maaf. Tidak sengaja. Apa benaran sakit?"


Daniel menangkap tangan Alia yang terulur ke arahnya. Disaat bersamaan, satu tangannya lagi menarik hidung Alia. "Tebak ini sakit atau tidak. Mengolok sebelum meminta maaf. Bagus sekali."


Beruntung Daniel melakukannya singkat saja. Alia menjauh sambil meringis dan memegang hidungnya. Sudut matanya berair. "Sakit sekali. Kau berlebihan. Kakak tidak melakukannya sekeras ini."


"Maaf diterima," ujar Daniel dengan tawa kecil. Ia memutari meja dan duduk di kursinya. Kembali menatap layar laptop dan berkas-berkas yang menumpuk di dekatnya. Ekspresinya yang semula ringan menjadi kaku begitu menatap pekerjaannya.


Alia ingin lanjut protes, tetapi urung begitu melihat wajah serius Daniel. Meski Daniel lebih sering memasang ekspresi itu setiap harinya, tetapi kali ini berbeda. Alia bisa melihat kelelahan yang terlukis samar di wajah tampan itu.

__ADS_1


"Kau tidak pergi istirahat?" Alia menarik kursi di depan meja Daniel, membawanya ke sebelah pria itu dan duduk disana.


"Sejam lagi," jawab Daniel. Ia menoleh sekilas dan mencondongkan tubuhnya ke arah Alia.


"Whoa," pekik Alia saat Daniel tiba-tiba menarik bagian bawah kursinya. Sekarang kursi mereka hampir bersentuhan. Daniel meletakkan tangannya di punggung kursi Alia dengan nyaman.


Kini Alia bisa melihat jelas daftar laporan di laptop Daniel. Ia memperhatikan sejenak lalu beralih pada Daniel sedang menguap.


"Apa akan mengganggu kalau Kakak menemanimu?" Alia bertanya.


Daniel melirik dan tersenyum tipis. Alia menanyakan itu jelas agar Daniel benar-benar beristirahat tepat satu jam lagi. "Tidak. Asalkan jangan tersenyum."


"Kenapa tak boleh senyum?"


"Nanti konsentrasiku buyar," jawab Daniel singkat.


Alia menatap Daniel kesal, menganggap Daniel tidak serius. Apa hubungan senyum Alia dengan gangguan konsentrasinya? Alia menahan pertanyaannya. Ia tidak ingin Daniel menresponnya lagi dengan jawaban-jawaban yang aneh.


Beberapa waktu berlalu dalam keheningan. Hanya suara ketikan keyboard dan kertas-kertas yang dibolak-balik.


Daniel menyandarkan punggungnya, lega karena Alia akhirnya bertanya. Sesekali ia melirik dan melihat wajah tersiksa Alia yang terus menahan diri untuk tidak bersuara.


"Bukan masalah besar, sebenarnya." Daniel memainkan rambut Alia yang terurai. Tidak ada pita biru yang biasanya menghiasi legam rambut panjang wanita itu. "Hanya saja, hal-hal berjalan di luar perkiraan. Tidak apa-apa, ini hanya sedikit berbeda dari kemudahan yang awalnya dipikirkan. Aku sudah cukup mengantisipasinya."


Alia menahan tangan Daniel di belakang dengan menyandarkan kepalanya di kursi. "Apa kau keberatan jika menceritakannya lebih rinci?"


Meskipun memiliki banyak orang terpercaya disekelilingnya, Daniel tetap tidak mudah mengeluarkan semua isi hatinya. Jelas karena ia adalah seorang pemimpin. Daniel harus selalu berpikir dingin dan menenangkan semua anggotanya. Mengabaikan kekhawatirannya sendiri.


Bibir Daniel mengulas senyum lembut. Alia selalu mengerti tentangnya hanya dengan sekali lihat. Tentu saja itu sangat membantu, tetapi juga cukup mengherankan. Bagaimana bisa kepekaan Alia tidak berfungsi untuk mendeteksi perasaan Daniel yang sebenarnya padanya?


"Kami mendapat tekanan dari satu perusahaan besar. Ini sangat mendadak. Entah apa motif perusahaan itu, cukup untuk menunda keaktifan perusahaanku. Tapi tak apa. Aku benar-benar sudah memperkirakan kejadian seperti ini. Hanya tinggal eksekusi untuk menyelesaikannya saja," tutur Daniel panjang lebar.


"Jahatnya," simpul Alia. Meski begitu, ia cukup lega karena Daniel merasa bisa menyelesaikannya. Alia selalu yakin tiap kepercayaan diri Daniel selalu dilandasi alasan yang kuat, sehingga ia bisa menurunkan kekhawatirannya. "Apa perusahaan itu memang sangat besar?"

__ADS_1


Daniel mengangguk. "Alexan Group. Perusahaan terbesar di Kota Pusat. Sepertinya juga yang terbesar dari kota-kota lainnya."


Wajah Alia kembali pucat. Pertanyaan terakhirnya tadi hanya asal saja ia lontarkan. Tak tahu kalau jawabanmu akan membuat Alia kembali khawatir. "Kalau begitu, apa kau akan baik-baik saja?"


Daniel tidak bisa berhenti berpikir betapa menggemaskannya perubahan ekspresi Alia saat ini. "Kakak kira aku baru sekali mengalami ini? Dulu juga pernah, dan nyatanya perusahaanku tetap ada sampai sekarang. Tekanan seperti ini juga pernah kami alami. Perusahaannya juga hanya sedikit lebih kecil dari Alexan Group. Kalau kami yang masih lemah dulu saja bisa bertahan, apalagi sekarang."


Alia mengulum senyum. Merasa kekhawatirannya tidak berarti lagi. Ucapan Daniel itu menjelaskan mengapa Riki, Carla, dan lainnya masih tetap santai dan tenang di situasi ini.


"Kau jadi semakin aktif berbicara ya, Daniel?" Alia mengganti topik. "Dulu kau sangat pendiam seperti orang bodoh dengan wajah tampan. Mereka selalu kaget begitu tahu ternyata kau itu brilian."


Daniel terdiam. Baru menyadari juga. Ia cukup banyak berubah. Sebenarnya Daniel bukannya tidak suka bicara. Ia hanya tidak menemukan lingkungan yang cocok untuk membicarakan hal yang selevel dengan pemikirannya. Dulu, di sekelilingnya hanya ada anak-anak muda pemalas atau anak orang kaya yang enggan berbicara tentang ambisi dan cita-cita. Suka menggampangkan segala hal.


Kini Daniel menemukan partner baru yang bisa dipercaya dan tentunya lebih bisa diandalkan. Membuat setiap percakapan menjadi lebih berarti daripada hanya sekadar omongan kosong.


Yang paling berbeda tentunya antara dirinya dan Alia. Jelas ada perbedaan besar antara dulu dan sekarang, sebab itu Alia yang paling memperhatikan.


"Kau sedikit lebih ekspresif. Tapi dengar, ya. Sedikit. Benar-benar sedikit." Alia menggambarkan dengan jarinya. Mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya, membentuk celah yang sangat kecil.


Daniel terkekeh pelan. Ia bahkan tidak sadar kalau ia bisa berekspresi lain daripada yang biasa ditunjukkan. "Hanya Kak Al yang bisa membuatku begitu."


Dulu, selalu ada jarak yang membuat Daniel tidak ingin begitu dekat dengan Alia. Ia tidak begitu yakin dengan hubungan saudara diantara mereka. Daniel tidak begitu percaya diri untuk menganggap Alia sebagai Kakaknya. Bahkan, ia merasa terbebani karena Alia bekerja keras untuk dirinya yang bahkan sulit menganggapnya sebagai saudara.


Bukankah itu juga alasan utamanya ingin membalas seluruh kerja keras Alia dulu?


Saat ini, Daniel merasa tidak terbebani dengan hubungan itu. Ia sendiri yang mencoba mendekat. Penasaran dengan gejolak perasaannya dan berakhir seperti ini.


"Senyum harus lebih banyak. Dengan begitu, banyak wanita yang mendekat. Siapa tahu salah satunya wanita yang kau sukai," saran Alia.


"Kak Al suka melihatku tersenyum?" tanya Daniel.


"Tentu saja."


Daniel menurut dan memberikan senyum lembut. "Kalau begitu, aku senyum untuk Kak Al saja."

__ADS_1


"Kakak bilang, kan, untuk wanita yang kau suka." Alia menatap tak mengerti.


Daniel tidak menanggapi, mulai terpengaruh dengan ucapan Carla yang menganggap Alia memang payah tentang hal ini.


__ADS_2