Sisterzone

Sisterzone
Kue


__ADS_3

Alia benar-benar mencoba berbagai resep kue hari itu. Mulai dari kue-kue kecil hingga kue berat. Setelah lewat tengah hari barulah ia beristirahat. Meski tidak benar-benar istirahat karena Alia masih akan menghias kue-kue buatannya. Tetapi ia melakukannya dengan lebih santai.


"Ah, kenapa sulit sekali?!" keluh Carla. Ia sudah mencoba menghias kue, tetapi nyaris tidak ada hasil buatannya yang membuat puas.


Alia akhirnya menyelesaikan semua dan merapikan hiasan Carla yang berantakan atau sekadar ditinggal begitu saja karena pembuatnya kesal.


"Kau hias cupcake saja."


"Nanti, krimnya miring."


"Kalau begitu berikan glaze di donat."


"Aku mau menabur sprinklernya saja."


Alia menggelengkan kepala. Carla sudah sangat kesal daritadi. Pastinya ia sudah menyerah duluan.


"Lihatlah anak paling berbakat ini, meletakkan hiasan donat pun tak bisa," olok Alia dengan tawa kecil.


Carla mendengus kesal, tetapi tidak membantah ejekan itu. Alia semakin tertawa geli melihat respon Carla yang biasanya akan mengamuk saat direndahkan begitu.


"Ini, cobalah. Daritadi kau menahan untuk memakannya karena mau dihias, kan? Sekarang coba yang sudah kuhias ini." Alia menyodorkan sebuah cupcake dengan krim berwarna merah muda dan taburan meises bulat kecil warna-warni.


Carla tidak menolaknya. Meski masih kesal, ia tetap memakan yang diberikan Alia.


"Bagaimana?" Alia menunggu pendapat Carla. Sangat paham kalau Carla termasuk penilai yang objektif.


"Lumayan. Tetapi lebih bagus kalau kau menambahkan sedikit adonannya lagi, ini jadi terlihat bantat, meskipun sebenarnya tidak begitu," komentar Carla.


"Itu memang yang bagian terakhir. Sisa," ujar Alia diikuti tawa keras.


"Kau memberiku sisa?" Carla menyipit kesal. Tetapi lanjut memakan sisa cupcakenya


"Ahahaha, maaf. Aku takut kau tiba-tiba membuangnya karena marah. Nah, lihat, ini yang ukurannya pas. Ada selai stroberi juga di dalamnya. Kau suka stroberi, kan?" Alia memberikan satu lagi cupcake pada Carla.


Gadis itu yang semula akan memasang raut masam jadi menormalkan wajahnya lagi. Ia mengambil cupcake itu dan kembali memakannya dengan tenang. "Ini enak."


Sekali lagi, Carla tidak suka memuji Alia. Itu karena Alia akan terus menggoda dan mengganggunya atas pujian yang ia berikan. Tetapi harus diakui, Alia memang sangat telaten mempelajari dan mencoba semua yang dibuatnya dengan sungguh-sungguh. Ini membuatnya berbakat dalam hal masak-memasak. Termasuk membuat kue sekalipun.


"Ah, hei Nira!" panggil Alia.

__ADS_1


Nira, pelayan biasa yang baru akan memutar badan saat melihat Carla di dapur langsung berhenti dan menoleh perlahan.


"Apa kau sedang sibuk?" tanya Alia dengan senyum manis.


Nira menoleh pada teman-teman sesama pelayan. "Semua pekerjaan kami sudah selesai."


Alia semakin berbinar dan meminta mereka semua masuk. Kebanyakan dari mereka masih muda dan belum terbiasa dipanggil langsung oleh seseorang yang bisa dikatakan majikan tertinggi mereka.


"Aku membuat sedikit kerusuhan. Apa kalian mau membantuku menilai?" pinta Alia sembari menyodorkan beberapa kue lain. "Aku juga tidak punya inspirasi hiasan. Apa diantara kalian ada yang paham tentang ini?"


Pelayan-pelayan itu menatap satu orang yang terlihat paling tua. Permintaan Alia tentu tidak bisa ditolak, tetapi mereka masih sangat segan untuk tugas ini. Hanya Nira yang bisa lebih santai.


"Ini enak, tetapi terlalu banyak hiasan disini. Jadinya ramai sekali. Eh, tapi aku tak begitu paham tentang ini. Bagaimana menurut Kak Sari?" Nira menatap pelayan paling tua setelah mencoba sepotong kue yang Alia buat.


Sari mengangguk, mulai menjelaskan beberapa hal. Awalnya ia kurang percaya diri, tetapi raut ingin tahu Alia yang polos dan keantusiasannya membuat Sari lebih santai dan mulai lancar mengomentari. Alia menerima semua kritik dan pujian dengan terbuka. Terkadang, ia akan menanyakan banyak hal. Termasuk kesulitan dan kesalahannya.


"Wah, Kak Sari tahu banyak," puji Alia. Benar-benar kagum dengan pengetahuan Sari.


Mendengar pujian itu membuat Sari tersenyum kecil. Tak heran Nira bisa begitu menyukai majikannya yang satu ini. Bisa dibilang, Alia pendengar yang baik dan sopan. Ia bahkan mulai memanggil 'Kak' juga karena tahu Sari lebih tua dari dirinya.


"Saya bekerja di toko kue sebelumnya, jadi tahu sedikit."


"Oh, yang cerita Kak Sari waktu itu. Katanya pemilik tokonya tiba-tiba tutup karena anaknya terlibat utang besar. Untung waktu itu ada perekrutan asisten rumah tangga disini," celetuk seorang pelayan lagi. Ia membuat teh untuk dinikmati semua atas kesimpulannya sendiri setelah melihat sikap santai Alia.


Alia mengangguk. "Tapi sepertinya banyak yang masih harus dilakukan. Aku belum begitu mahir."


"Ini sudah pencapaian yang sangat bagus untuk pemula. Bahkan sangat bagus. Saya bisa membantu kedepannya kalau Alia ingin belajar lebih banyak." Sari tersenyum, ikut senang melihat semangat Alia.


"Benarkah? Wah, terimakasih."


Carla yang sejak tadi tidak ikut bergabung dalam percakapan hanya mendengarkan dalam diam. Ia terlebih dahulu sudah mengamankan cupcake stroberi untuk berada di dekatnya sehingga tidak ada seorangpun yang berani melirik kue yang mulai ia sukai itu.


Cukup lama perbincangan itu mengalir. Selain karena tugas pelayan-pelayan itu selesai di pagi hari, kepala pelayan juga membiarkan mereka bergabung disini atas permintaan Alia. Tentunya mereka harus kembali bekerja, tetapi akan dilakukan sore hari nanti. Mereka masih punya banyak waktu.


Di tengah perbincangan hangat mereka yang terkadang diselipkan tawa, ponsel Alia kembali berdering.


"Maaf, sepertinya aku harus mengangkat yang ini dulu." Alia langsung menuju pojokan setelah melihat nama yang tertera di ponselnya.


Ponsel itu tadinya berada tepat di depan Carla sehingga ia lebih dulu mengetahui asal panggilan itu.

__ADS_1


Kevin Reegan, siapa lagi kalau bukan pria yang mengajak Alia kencan sore kemarin. Carla tidak tahu pastinya, tetapi melihat Daniel pulang lebih malam bersama Alia membuat Carla menduga-duga kalau kencan itu gagal. Tetapi dari respon Alia, seakan tidak ada yang menjadi masalah. Alia terlihat biasa saja saat mengangkat panggilan itu.


Carla tidak sadar kalau diamnya itu membuat meja makan tempat mereka berkumpul jadi lebih hening dan mencekam. Tetapi, meski Carla sadarpun, ia takkan peduli.


Barulah ketika Alia selesai, suasana cair kembali. Tetapi kali ini selalu ada saat ketika Alia akan mengetikkan pesan di ponselnya.


"Menarik." Carla memerhatikan Alia. Melihat kecepatannya membalas pesan-pesan menunjukkan Alia sedang tidak berminat. Carla menduga-duga kalau pesan-pesan yang Alia kirim pastinya sangat singkat.


"Kak Daniel, kau masih punya kesempatan. Kevin ini sepertinya mengambil langkah buru-buru untuk mendekati Alia." Carla bersenandung riang. Meski di kepalanya sedang mempertimbangkan banyak kemungkinan. Tidak ada yang mencoba menanyakan alasan Carla terlihat bersemangat kali ini.


Percakapan itu membawa mereka hingga berlarut-larut. Para pelayan itu menyempatkan diri untuk membantu Alia beres-beres sebelum pamit menyelesaikan pekerjaan mereka yang lain.


Melihat Carla yang hanya diam sejak tadi membuat Alia ingin membuatkan lagi cupcake yang sudah habis Carla santap. Kali ini Carla membantu sedikit dalam pembuatannya, termasuk banyak memakan selai stroberi yang harusnya menjadi isian cupcake itu.


"Kau ini seperti anak kecil," tegur Alia menjauhkan selai itu.


"Kau ingin aku punya selera orang dewasa seperti kalian?" Alia merengut.


"Tidak juga. Hanya saja, kau harus menunggu sampai selesai semua." Alia menasihati sambil menjentikkan jari ke dahi Carla.


Mereka sedang sibuk menghias saat Edward yang dipaksa ikut ke kantor menubruk meja makan. Aslan menyusul dengan wajah semangat.


"Aku mencium aroma manis dari sini. Carla, berikan aku satu," pinta Aslan.


Carla menjauh dan melindungi cupcake miliknya. "Ini punyaku. Cari di freezer. Alia menyimpan banyak kue disana."


Aslan dan Edward bergegas menjalankan saran Carla. Kalau gadis kecil itu saja tidak mau berbagi, berarti ada rasa lezat di dalam makanan lain yang Alia buat kali ini.


Riki dan Daniel masuk ke dapur beberapa saat kemudian.


"Dewi, ini kurang sekali," keluh Edward.


"Kurang banyak." Aslan menimpali.


Mereka hanya memberikan setengah donat pada Riki, tidak peduli lagi. Untungnya Dichey juga tidak bisa bergabung disini sekarang. Dia jadi anggota paling sibuk diantara mereka.


Mata biru gelap Daniel sejak awal hanya terfokus pada Alia. Kerutan tipis terbentuk di dahinya saat melihat Alia yang sibuk antara ponsel dan krimnya. Hal yang sedikit mengherankan mengingat Alia biasanya fokus pada pekerjaannya.


Carla menyadari maksud tatapan Daniel. Ia berjalan santai dan memberikan satu cupcakenya. Meskipun ia terlihat sangat tak rela, tetapi Carla harus sedikit berkorban.

__ADS_1


"Saingan Kak Daniel," bisik Carla sembari tertawa kecil.


Riki, Edward, dan Aslan mengumpati Carla dalam hati. Entah apa yang dibisikkan oleh gadis itu, tetapi ekspresi Daniel jelas lebih buruk dari biasanya. Membuat suhu ruangan itu menjadi lebih dingin.


__ADS_2