Sisterzone

Sisterzone
Meja makan


__ADS_3

"Bangun, Ed. Bantu aku melacak orang gila satu ini."


"Berikan makanan di depannya dan dia akan terbangun dengan sangat cerah.."


"Masih belum ketemu?" Daniel yang tiba-tiba datang menginterupsi percakapan di ruang makan itu.


Tiga orang yang sedang duduk mengelilingi meja menoleh bersamaan, bahkan salah satunya yang setengah tidur langsung terbangun.


"Kak Daniel!" seru seorang gadis berusia sekitar sebelas hingga dua belas tahun diantaranya. Walau terlihat tidak mengeluarkan ekspresi apapun, tapi antusias gadis itu masih tetap terbaca saat Daniel berjalan mendekat. Namun, wajah gadis Itu kembali masam begitu melihat kehadiran seorang wanita di belakang Daniel. Gadis itu berdecak tak suka.


"Aslan kabur lagi. Tidak mau memimpin latihan. Dichey sendirian lagi disana." Pria berkacamata menjelaskan situasi yang tadi ditanyakan.


"Biarkan saja untuk hari ini, Riki. Nanti aku yang akan berbicara dengannya," putus Daniel. Ia mendekati meja dan menarik dua kursi, menyuruh Alia duduk disalah satu kursinya.


"Oooh, apa ini nona yang membuat kehebohan tadi malam?" tanya pria yang baru bangun dari tidurnya. Rambutnya berantakan dan kantung hitam menggantung di matanya yang sayu.


Alia tidak bisa memberi komentar apapun sehingga hanya tersenyum kikuk. Daripada itu, sejak awal ia lebih tertarik pada gadis yang wajahnya tidak asing di depannya itu. Carla, nama gadis cantik itu jika ia tidak salah. Seperti yang Alia duga, Carla tidaklah berambut dan beriris mata cokelat seperti yang diingatnya. Rambut pirang platinum dan mata biru cerahnya jauh lebih cocok dengan wajah cantik gadis itu. Jika ada yang kurang, itu adalah wajah tak sukanya yang ditujukan pada Alia secara terang-terangan.


"Daniel, ceritakan padaku seluruh kejadian tadi malam. Anak-anak pelit ini tidak ada yang mau bercerita," rengek pria itu setelah tak ada respon yang dinanti.


"Lebih baik kau kembali ke kamarmu kalau tidak ada niat membantu. Kau bisa melakukan bagian pekerjaanmu yang tidak berguna itu," ketus Riki.


"Kembalilah ke surgamu yang jorok itu. Kelaparan, lalu mati. Itu sangat sempurna untukmu Edward," tambah Carla dingin.


Wajah menyedihkan Edward semakin menyedihkan. "Lihat, Daniel! mereka mem-bully-ku. Berikan aku keadilan."


"Berisik," ujar Carla dan Riki bersamaan.


Daniel tidak terterganggu oleh keributan itu. Sebaliknya, ia lebih santai dengan memainkan ponsel miliknya. Alia di satu sisi berusaha menahan tawa dengan menutup mulutnya.


Sebelum turun dari lantai atas kamar Alia, Daniel sudah memberikan penjelasan singkat pengalamannya. Termasuk anak buah andalannya yang ia panggil ringan sebagai teman, dan pencapaiannya selama lima tahun terakhir.


Daniel menjadi seorang jenius yang lulus dengan predikat terbaik di kampusnya. Bahkan bisa menyelesaikan studi dengan jangka waktu tercepat. Padahal disaat yang sama, Daniel sedang mulai membentuk kegiatan bisnisnya. Setelah lulus, ia mengembangkan perusahannya itu dan memperoleh banyak keuntungan darinya.


Alia yang mendengarnya hampir tidak bisa percaya. Tapi melihat hasil yang dilihatnya langsung, serta sikap Daniel yang selalu serius membuatnya harus percaya. Daniel tidak pernah bercerita tentang pencapaian itu dan hanya menjawab pertanyaan Alia dengan jawaban standar.


"Apa kau akan memesan sesuatu dari luar?" tanya Edward yang terlihat bosan.


Daniel mengangguk sebagai jawaban. "Kalian bilang tidak suka masakan pelayan disini."


"Biar aku yang pilihkan!" seru Edward, dengan cepat mengambil ponsel yang disodorkan Daniel padanya.


Tak lama, Riki meninggalkan meja makan dengan alasan ingin membantu Dichey di suatu tempat. Sementara Carla pergi tanpa mengucapkan apapun.

__ADS_1


"Apa Carla memang selalu seperti itu?" tanya Alia sambil melihat pintu masuk dapur tempat Carla terakhir terlihat.


"Seperti apa?" tanya balik Daniel.


Alia menggaruk pipinya. "Um, bagaimana aku menjelaskannya?"


"Kakak tanyakan saja padanya langsung. Tapi nanti," ujar Daniel menekankan kalimat terakhirnya saat melihat Alia yang hendak langsung berdiri.


Alia menghela napas. Merebahkan kepalanya di meja dengan wajah menghadap Daniel. "Kakak akan lama terbiasa dengan lingkungan baru ini."


Daniel memperhatikan Alia. Ia bisa menebak yang dipikirkannya. Sepanjang Daniel membawanya kemari, Alia terus menerus berdecak kagum. Wanita itu jelas tidak menyangka akan mendapat hadiah seperti ini. Tapi dengan begitu, Daniel bisa dibilang sudah menjalankan sebagian janji yang diam-diam ia inginkan dulu. "Tidak ada yang mengharuskan adaptasi secepat itu. Yang penting Kakak nyaman."


Alia membalas tatapan Daniel dengan senyum manis. "Kebaikan apa yang pernah kuperbuat sampai bisa punya adik sehebat kau?"


Daniel tidak membalas. Ia mengulurkan tangan, menyentuh perban di dahi Alia.


"Jangan memegangnya terus menerus," elak Alia.


"Apa sakit?"


Alia menggeleng, menegakkan tubuhnya lagi. "Daripada membahas ini lagi, ada hal lain yang lebih penting, kan?"


"Apa?"


Siapapun tidak akan nyaman jika berada ditengah-tengah dua orang yang sedang berbincang sendiri. Edward juga bisa merasakan lirikan tajam Daniel yang sesekali terarah padanya. Tidak ada pilihan lain selain melakukan pemesanan itu dengan cepat dan kabur dari tempat itu. Ia berlari sambil mengumpat karena gagal memahami lebih cepat seperti Carla dan Riki sebelumnya.


"Mereka semua pergi. Apa Kakak membuat mereka tidak nyaman?" tanya Alia. Ia merasa kehadirannya pasti membuat teman-teman Daniel itu tidak begitu nyaman.


"Aku yang meminta mereka pergi."


"Hm? Bagaimana caramu melakukannya?" tanya Alia sedikit heran. Seingatnya Daniel tidak pernah berkata apapun untuk mengusir mereka.


"Tidak perlu tahu. Tadi bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan." Daniel tidak bisa menahan tangannya untuk terus menyentuh Alia. Kali ini ia bermain dengan rambut hitam legamnya. "Sudah lebih panjang dari lima tahun lalu."


Alia tertawa kecil, sedikit lebih nyaman dengan hanya mereka berdua disini. Ia membiarkan Daniel memainkan rambutnya. "Sebenarnya tidak terlalu penting juga. Tapi termasuk lumayan penting untukmu."


Daniel menunggu Alia sendiri yang mengungkapkan daripada harus bertanya lagi. Ia mendekatkan wajahnya, menghirup aroma lembut beberapa helai rambut Alia yang ada di tangannya. Merasakan sensasi nostalgik yang menenangkan.


"Yap, benar. Apa kau punya pacar disana? Seorang gadis asing?" tanya Alia dengan wajah terlewat antusias. Ia sendiri memiliki gambaran kecantikan gadis-gadis asing dari Carla. Jika gadis kecil sepertinya saja secantik itu, Maka wanita-wanita dewasa disana boleh jadi sangat menawan. Alia takkan heran jika Daniel mungkin terpikat dengan salah satu wanita itu.


"Tidak ada."


Jawaban cepat dan singkat itu membuat Alia terperangah. "Bohong. Atau begini saja, pertanyaannya akan diganti. Nah, apakah kau sekali saja, ada menyukai seorang wanita disana? Pasti ada. Seseorang yang selalu ada di dalam pikiranmu tak peduli malam atau siang. Ayolah, ceritakan."

__ADS_1


Daniel menatap Alia lama, baru mulai menjawab. "Aku ada memikirkan satu orang wanita. Siang dan malam tak pernah putus. Tapi aku yakin itu bukan perasaan suka."


Meski jawaban itu terdengar tidak memuaskan, tapi Alia tetap tidak kekurangan antusias. "Benarkah? Ceritakan lebih rinci agar Kakak bisa menentukan itu perasaan suka atau bukan. Kau kan tidak ahli untuk urusan seperti ini.


"Apa yang bisa kuceritakan?" tanya Daniel sedikit bingung. "Memangnya Kak Alia ahli? sepertinya kita sama-sama buruk dalam hal ini."


Alia tidak bisa melanjut bicara, merasa Daniel tidak ada salahnya. "Ah, ceritakan saja," serunya.


Daniel mengangkat bahu, menatap Alia dengan lebih cermat. "Dia bukan orang asing seperti yang Kakak kira. Hanya perempuan sederhana dengan wajah manis dan hati lapang. Entahlah, tapi cuma dia yang kupikirkan selama disana."


Alia menyipitkan matanya. Berusaha berpikir. "Kau membicarakan temanmu yang mendapat beasiswa juga disana? Atau sebenarnya ada yang kau sukai disini sebelum kepergianmu ke luar negeri?"


Daniel tersenyum miring. "Sudah kubilang, aku tidak menyukainya dan tidak akan pernah. Apa memikirkan seorang wanita sudah pasti membuat kita berkesimpulan menyukainya?"


Alia terlihat tidak puas, tapi ia kemudian memilih menyerah. Untuk saat ini, Daniel yang keras kepala tidak akan mau mengakuinya. Alia bisa berkesempatan untuk menanyakan ini lagi di lain hari.


"Kakak sendiri, apa punya seseorang yang disukai?" tanya Daniel dengan wajah penasaran. Raut wajahnya semakin memburuk saat ia memperhatikan Alia yang sedang berpikir keras.


"Untuk saat ini belum. Tapi tergantung, jika seseorang bisa membuat Kakak menyukainya, ya berarti pengalaman cinta Kakak akan selangkah lebih baik daripada dirimu." Alia tiba-tiba teringat pada Kevin. Walau ia belum bisa membuka hatinya saat ini, tapi Alia sudah memberi kesempatan pada pria itu.


Penjelasan itu tidak membuat Daniel terlihat senang. "Siapa pria itu? Bagaimana orangnya? Sudah kenal berapa lama?"


Alia tidak jadi tertawa saat melihat wajah serius Daniel yang bercampur ketidaksukaan. Ia mengira Daniel pasti tidak senang jika Alia mempunyai kesempatan mengunggulinya dalam bidang percintaan ini.


"Seorang teman yang gigih. Dia terlihat seperti anak baik-baik. Namanya Kevin Reegan. Dia juga yang mengantar pulang kemarin," jawab Alia dari pertanyaan yang diingatnya.


"Teman? Bagaimana seorang teman bisa membuat Kakak menyukainya?" Alis tebal Daniel yang rapi sudah tajam turun ke bawah. Benar-benar menunjukkan wajah kesal yang tidak ditutupi.


"Dia sudah menyatakan perasaan sukanya. Tinggal menunggunya jawaban kembali yang sama," jawab Alia sambil menatap ke arah manapun yang tidak ada hujaman tajam tatapan biru gelap itu.


Daniel menyilangkan kedua tangannya. "Jangan dibalas kalau begitu. Dia pasti bukan pria baik-baik. Bagaimana bisa ia langsung menyatakan suka pada orang yang baru ditemuinya."


"Jangan terlalu cepat menilai orang. Sebab itu Kakak meminta waktu pembuktian."


"Kapan kalian akan bertemu lagi?" tanya Daniel sembari mengetukkan kakinya di lantai berkali-kali. Tidak ada Daniel yang tenang dan dingin. Saat ini Daniel terlihat seperti seorang pencemburu yang tidak sabaran.


Alia yang menyadari itu jadi menyesal sudah memilih jawaban seperti itu pertanyaan awal. Jika ia bilang 'tidak ada' alih-alih memiliki calon, semua tidak akan berlanjut serepot ini. Toh, Alia juga sungguh tidak memiliki perasaan apapun pada Kevin.


"Kalau bertemu lagi, entahlah. Mungkin akan sedikit sulit.


"Kalau kalian akan bertemu lagi, aku akan ikut dan memantau."


Kali ini Alia mengangguk pasrah. Daripada permintaan, ucapan Daniel lebih cocok disebut kalimat perintah. Ia tak punya pilihan lain selain setuju.

__ADS_1


__ADS_2