Sisterzone

Sisterzone
Ke kota pusat


__ADS_3

"Lagi-lagi jadi seperti ini." Wilda menyetir mobilnya sambil bergumam resah. "Apa sebaiknya aku ganti profesi saja, jadi peramal?"


Wilda kepalang panik saat menyadari ada yang tidak beres dengan keterlambatan Alia. Bisa dibilang, ini keterlambatannya yang pertama selama bekerja. Wilda yang teringat dengan firasat buruknya tadi malam jadi kalang kabut menelpon di ponsel Alia. Saat teleponnya yang tidak terjawab mencapai angka dua puluh, Wilda segera mengatur orang untuk tetap melanjutkan aktivitas di Kafe sementara ia pergi menuju rumah Alia.


Sepanjang jalan, Wilda terus memperhatikan ke kanan kirinya, berharap bisa melihat Alia berlarian di trotoar. Tapi ia tak bertemu apa yang diharapkannya itu. Wilda masih mencoba menghubungi Alia dalam perjalanan. Nihil. Kecemasan Wilda semakin bertambah-tambah.


Beruntung baginya, saat ia tepat berhenti di depan gang menuju rumah Alia, sebuah panggilan masuk membuat ponselnya yang sempat ia lempar sembarangan berdering dengan keras. Wilda tak ayal langsung mengangkat telepon itu. Harap-harap cemas menanti suara dari seberang.


"Kak Wil-"


"ALIA!"


Pemilik panggilan itu tertawa kering, hal yang membuat Wilda bisa bernapas lega.


"Kau tak apa-apa?" tanya Wilda sembari membuka pintu mobilnya, bergegas keluar. "Dengar, Alia. Saat ini aku akan ke rumahmu, jangan kemana-mana."


"Eh? Tapi aku sedang tidak ada disana, Kak."


Wilda menghentikan langkah, mengernyit heran. "Apa yang terjadi? Kau ada dimana sekarang? Apa kau baik-baik saja? Alia?"


"Aku akan menceritakan kejadiannya saat kita bertemu. Saat ini aku sedang ada di Kota Pusat. Tapi aku baik-baik saja. Kak Wilda tidak perlu khawatir. Maaf tidak langsung mengabari atau menjawab telepon dengan segera. Hari ini Alia tidak bisa bekerja, maaf Kak."


"Kota pusat?" Satu-satunya hal yang paling menarik perhatiannya adalah itu. "Bagaimana bisa? Ah, begini saja. Kirimkan alamatmu saat ini, aku akan menjemputmu sekarang."


"E-eh, itu tidak perlu. Situasiku tidak seperti yang Kak Wilda bayangkan."


"Aku akan berkunjung sekarang," tekan Wilda dengan mengganti satu katanya. Ia kembali masuk ke mobil dan memastikan Alia benar-benar mengirimkan alamat itu. Barulah Wilda memacu mobilnya dengan kecepatan maksimum yang diperbolehkan di jalan itu, menuju Kota Pusat.


Perjalanan yang seharusnya membutuhkan waktu dua jam, oleh Wilda menjadi separuhnya. Ia tidak sempat berpikir karena fokus pada lalu lintas. Barulah saat memasuki Kota Pusat, ia memelankan laju mobilnya.


"Eh? Alamat ini?" Wilda memerhatikan lagi alamat yang diberikan Alia. Wilda cukup sering berkunjung ke Kota Pusat sehingga tahu arah jalan yang ditujunya. Masalah lain, alamat itu dikenal sebagai kawasan elite di bagian terpencil yang terkenal. Sebuah pikiran buruk melintas di kepala Wilda.


"Jangan-jangan Kevin membawa Alia ke rumahnya. Tapi itu terlalu cepat. Sialan anak itu, beraninya dia bertindak sejauh ini," geram Wilda sampai menggertakkan giginya.


Tidak sulit menemukan alamat Alia, mengingat kawasan elite itu tidak banyak dihuni, hanya saja Wilda tak bisa percaya pada rumah yang ditemuinya dalam alamat ini. Daripada rumah, Wilda lebih suka menyebutnya sebagai villa yang menyerupai mansion mewah. Lokasi tempatnya yang jauh dari pemukiman dan berada di daerah perbukitan membuat tempat ini tersembunyi tetapi juga mencolok dengan keindahannya.

__ADS_1


Tapi hati Wilda tak segera tenang. "Anak sialan itu membawa Alia sampai disini?"


Wilda sempat tertahan ketika akan melewati tempat penjagaan. Beberapa penjaga keamanan meminta identitasnya, tetapi tidak langsung membiarkan Wilda masuk. Wilda tahu setidaknya prosedur seperti ini memang ada di barisan orang-orang yang begitu peduli dengan keamanan. Ia mengira dirinya takkan diizinkan masuk, tetapi penjaga keamanan itu membukakan pintu gerbang setelah menerima telepon konfirmasi.


Mobil Wilda berjalan pelan memasuki pekarangan luas kediaman tersebut. Sesekali ia tidak fokus saat melihat kerapian taman dan penataannya yang cerdas dan indah. Wilda kemudian mengikuti arahan tempat untuk parkir mobilnya oleh seorang pria yang terlihat sudah menunggu.


"Kak Wilda!"


Wilda baru keluar dari mobil saat mendengar suara lembut yang memanggilnya. Ia berbalik cepat dan menemukan Alia yang berjalan mendekat dengan senyum cerahnya yang bisa membuat matahari merasa iri.


Secepat kilat Wilda menghampiri Alia. Ia memegang bahu wanita itu dan mengguncangkannya pelan. "Apa yang sudah bajingan itu perbuat? Aku akan memotong masa depannya jika dia berani macam-macam padamu."


Alia merasa pusing kepalanya kambuh lagi oleh guncangan itu. Ia mencoba menyela, "siapa yang Kak Wilda maksud?"


"Kevin Reegan! Mana dia? Aku ingin menemuinya dan meminta pertanggungjawaban!" seru Wilda.


Alia mengangkat tangan, tersenyum pahit saat melihat ekspresi kemarahan Wilda. "Tidak, tidak. Kak Wilda salah paham. Kevin tidak ada disini?"


Mata Wilda menyiratkan kecurigaan. Menduga Alia sengaja melindungi Kevin.


Alia memegang tangan Wilda yang bertengger di pundak lalu perlahan menurunkannya. "Kita sebaiknya berbicara di dalam. Dari kecepatan Kak Wilda kesini, pasti tidak ada istirahat selama perjalanan, kan?"


Seruan Wilda dan sikapnya membuat Alia kesulitan membawa Wilda masuk ke dalam. Ia harus menjelaskan singkat beberapa hal sebelum Wilda mau ikut menurut tanpa harus bersikap meledak-ledak.


Wilda tidak sempat memperhatikan interior ruangan tamu itu. Ia duduk di tempat yang dekat dengan Alia. Wilda bisa dikatakan sudah sedikit tenang. Jadi ia meraba dahi Alia dan mengernyit khawatir.


Alia sendiri membiarkan Wilda bersikap seperti itu padanya. Sebenarnya ia hampir menangis saat mendengar Wilda sudah berada di depan gerbang setelah satu jam selesai menghubunginya. Sudah sangat lama sejak terakhir Alia merasakan perhatian yang begitu besar seperti ini. Terakhir, hanya Ibunya yang bersikap seperti ini.


'Apa seperti ini rasanya punya kakak?' pikir Alia.


Jika ia ada di posisi sama dengan Wilda, ia juga akan menempuh jalan yang sama untuk bertemu Daniel.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Wilda dengan suara rendah. Baginya, saat ini ia seperti melihat bayi kecil kesayangannya yang terluka. Memastikan bahwa luka itu tidak begitu parah tidak bisa benar-benar menghapuskan kecemasannya.


"Aku diserang beberapa pria di gang dekat rumah."

__ADS_1


"Astaga, kukira tempat itu aman. Beberapa kali lewat disana, tidak ada yang menggangguku."


Alia tersenyum pahit. "Aku melewati jalan pintasan. Kukira akan aman karena polisi sempat menyisir tempat itu, tapi itu dugaan yang salah."


"Bagaimana dengan Kevin? Apa yang dilakukannya?"


Kali ini, Alia menggigit bibir, menunduk dengan rasa bersalah. "Aku menyuruhnya pulang tanpa harus mengantar sampai rumah. Aku minta diantar sampai depan gang saja."


Wilda merasa akan meledak dengan jawaban itu. Ia ingin memarahi Alia yang begitu ceroboh. Tapi demi melihat wajah bersalah Alia, Wilda menahan dirinya dengan menghela napas panjang. Saat ini di depannya, ia seperti berhadapan dengan makhluk paling imut yang tidak mungkin seorangpun tega untuk memarahi.


"Kau ini," gemas Wilda yang langsung menarik Alia ke satu pelukan erat. "Lalu siapa yang menolongmu?"


"Adikku," ujar Alia disela pelukan. "Aku dalam keadaan tidak sadar saat dibawa ke tempat ini. Rumah ini miliknya."


Wilda memegang kedua pipi Alia dengan satu tangan. "Kau tak pernah cerita kalau punya adik yang sehebat ini."


Wilda baru menyadari saat melihat sekeliling. Kemegahan tempat ini bukan hanya nampak dari luar saja. Bagian dalam juga menakjubkan.


Alia yang mengerti maksud Wilda jadi tersenyum bangga. "Dia adik yang pernah kuceritakan dulu, kuliah di luar negeri. Siapa yang tahu justru ia membuat usaha besar yang dapat digunakan untuk hal-hal seperti ini."


Wilda terdiam, lalu mengangguk ringan. "Oh, adikmu yang itu."


Sekilas Alia bisa melihat tatapan aneh di mata Wilda, tapi ia segera menepis anggapannya.


"Kau tahu, aku sangat khawatir dengan kondisimu. Kukira kau diculik. Apalagi kemarin ada dua orang mencurigakan di Kafe. Kau ingat? Kejadian saat Risa membuat masalah dengan menumpahkan kopi ke salah satunya?"


Alia mengangguk, lalu tersenyum kecil. "Itu beberapa teman adikku yang sedang mengawasi. Mereka orang-orang baik yang menolongku."


Alia baru mendengar penjelasan lengkapnya pagi tadi. Daniel ingin membuat kejutan dengan tiba-tiba hadir di rumah mereka di Kota Barat. Sebelum itu, ia meminta Aslan dan Carla untuk mengawasi Alia yang sedang bekerja, tapi kecelakaan itu terjadi sehingga keduanya tidak lanjut mengawasi tapi memperhatikan dari jauh. Pun saat Alia pulang, keduanya tetap mengikuti walau sedikit terlambat. Alia bisa selamat dari kejadian buruk yang hampir menimpanya juga karena ditolong oleh teman-teman Daniel itu.


Wilda manggut-manggut mendengarnya. Ia kini jauh lebih lega setelah mendengar kabar itu. Setidaknya itu bukan hal yang mengancam keselamatan Alia di kelanjutan hari.


"Kak Al."


Alia dan Wilda menoleh serentak pada seseorang yang tiba-tiba memasuki ruang tamu.

__ADS_1


"Daniel," panggil Alia. Ia terlalu fokus pada pria dengan setelan formal yang lengkap itu daripada memperhatikan ekspresi Wilda. "Kak Wilda, ini adikku, Daniel Anggara. Daniel, ini bos di tempat kerja, Kak Wilda Naradani."


Daniel memberi sapaan singkat. Biasanya ia akan langsung pergi, tapi ia menemukan sesuatu yang membuat Wilda terlihat menarik untuk ditelisik. Sikap dan ekspresinya saat bertemu Daniel menjadi seperti seorang yang memiliki banyak pikiran. Alia sendiri baru menyadarinya saat Wilda menjadi lebih banyak diam. Entah dirinya yang salah menerka atau Wilda memang bersikap sedikit tidak nyaman begitu Daniel tiba dan berada disana.


__ADS_2