
Hari menjelang siang. Satu kata yang paling tepat menggambarkan perasaan Alia saat ini adalah...
Bosan.
Ia sudah melakukan banyak hal untuk mengusir kejenuhannya. Membaca buku yang direkomendasikan Carla, berkeliling rumah, dan melakukan apapun. Alia sempat ingin mengganggu Carla, tapi setelah gadis kecil itu menyelesaikan sarapannya, ia tak lagi terlihat. Bahkan di perpustakaan.
Bagi Alia yang selama ini selalu bekerja keras, kekosongan ini lebih membuatnya kelelahan. Awalnya ia bisa menerimanya, tapi semakin lama dirinya tak sanggup juga.
"Apa ada lagi tempat disini yang belum aku kunjungi?" tanya Alia, melorot di sofa ruang tamu.
Nira, pelayan yang menemaninya mengangguk pelan. "Ada. Kita belum melihat taman di luar. Harusnya saat siang begini akan panas, tapi ada satu tempat yang bagus untuk bersantai."
"Kalau kau berkata seperti itu, aku akan bertanya-tanya, apa ada tempat di rumah ini yang tidak digunakan untuk bersantai?" Alia meregangkan ototnya, tertawa kecil. Meskipun berkata demikian, ia kembali bersemangat untuk berjalan-jalan ke luar.
Nira tersenyum. Dia juga yang mengantar Alia ke perpustakaan kemarin. "Tentu ada. Rumah ini sebenarnya sangat sibuk."
Alia membiarkan Nira memimpin jalannya. Ia berjalan seraya memikirkan ucapan Nira. Memang, setelah sarapan tadi, ia akan kesulitan bertemu dengan mereka hingga malam hari. Riki akan membersamai Daniel untuk pergi mengurus pekerjaan dan menata kantor baru mereka.
Aslan dan Dichey entah kemana. Tapi ia yakin kedua orang itu juga memiliki kesibukan. Edward tak pernah terlihat jika bukan waktunya makan. Carla saja tidak sedang ada di perpustakaan seperti kemarin. Sesekali Alia akan bersimpangan langkah dengan beberapa pria yang selalu terlihat buru-buru. Semakin memikirkannya, Alia merasa semakin iri. Hanya dirinya yang bersantai disini.
Nira membawanya ke halaman belakang. Meskipun pepohonan pinus dan cemara masih dipertahankan, tapi suasananya tidak membuat tempat itu menjadi menyeramkan. Pepohonan itu hanya memberikan kesan sejuk dan rindang. Nira mengantarnya pada sebuah kolam buatan yang cantik. Sekeliling kolam ditandai dengan batu putih kecil, sementara kolamnya berisi tanaman-tanaman air. Bunga-bunga teratai yang sedang mekar membuat Alia sejenak lupa menutup mulutnya.
"Cantik."
Nira kembali mengajaknya ke paviliun yang berada tepat di dekat kolam. Saat dekat, barulah keduanya menyadari sudah ada yang lebih dulu berada di tempat itu.
"Perketat pengawasan di bagian sana, setelah itu hubungi Kak Daniel untuk mengurusnya lebih detil." Suara seorang gadis kecil sedang memerintah dengan tegas.
Edward dengan wajah malas tidak berkata apapun dan hanya melakukan yang diperintahkan Carla. Ia mengetik dan melakukan sesuatu dengan laptopnya.
"Ada seseorang. Hm? Dua orang ternyata," ujar Edward menoleh pada Alia dan Nira yang baru datang.
"Kalian sedang melakukan pekerjaan penting? Sepertinya aku mengganggu." Alia berdiri di luar paviliun, berniat untuk membalik badan.
"Dewi tidak mengganggu sama sekali. Ini hanya pekerjaan normal, ayo bergabung, disini cukup nyaman." Edward melambaikan tangan, meminta Alia mendekat.
Melihat itu membuat Carla berdecak. "Tadi kau malas-malasan saat ingin kemari. Baru sekarang kau bilang tempat ini nyaman?"
"Aku bilang cukup nyaman. Bekerja di kamarku jelas lebih baik. Cahaya matahari ini merusak kesehatan jiwaku."
"Lebih baik darimananya? Aku bisa gila kalau ikut denganmu di kamar jorok itu," dengus Carla kesal.
Edward tidak peduli dengan ucapan Carla dan memilih menyambut Alia, mempersilahkannya untuk ikut duduk dan bergabung. "Dewi, kau harus meminta Daniel memberikan waktu bersantai untukku. Aku sangat sibuk bekerja akhir-akhir ini."
Carla memberi tatapan meremehkan. "Sibuk dari mana? Kau bahkan sempat menonton kartun saat aku menarikmu kesini."
"Hei, itu bukan kartun, tapi ani-"
__ADS_1
"Sama saja. Kartun," tekan Carla.
Alia tertawa kecil. "Andaikan aku bisa membantu. Saat ini, waktu luangku sangat banyak. Aku sampai bosan."
"Bagaimana bisa seseorang bosan dengan waktu luang?" keluh Edward dengan wajah penuh iri.
"Kau tidak pergi membaca buku?" tanya Carla, berusaha terlihat cuek.
Alia menggosok tengkuknya. "Sudah, tapi tetap bosan."
"Huh! Kau memang tak terlihat seperti orang yang suka buku," dengus Carla.
Edward menatap bergantian antara Alia dan Carla. Menyadari sebuah perubahan pada gadis kecil yang biasanya minim ekspresi itu. "Wah, Carla... Baru satu hari dan kau sudah berubah menjadi lebih berseri. Kedatangan Dewi Alia memang sangat berdampak, ya."
Wajah Carla langsung mengerut seketika. "Tidak ada yang mempengaruhiku! Terserah aku mau bagaimanapun. Perilakuku bukan sebab orang lain."
Edward masih mengganggu Carla, tahu kalau gadis itu berusaha menyangkalnya.
"Omong-omong, Daniel bekerja di bidang apa sebenarnya? Semua orang terlihat sibuk." Alia bertanya ringan.
Carla dan Edward saling berpandangan. Sama-sama ragu untuk menjawab.
"Kalau jawabannya memberatkan, tidak usah. Kalian lanjutkan saja pekerjaannya," sambung Alia. Ia jadi tak enak sudah menanyakan itu setelah melihat respon dua orang di depannya.
Carla menghela napas. "Kak Daniel yang meminta agar tidak menceritakan ini padamu. Tak ingin otak minimmu itu terbebani."
"Ya, sudahlah." Edward menggaruk rambut ikalnya yang berantakan. "Seperti dunia bisnis biasanya, ada beberapa masalah. Tugasku dan Carla yang mengontrol itu semua."
"Carla juga?" tanya Alia separuh tidak percaya.
"Apa maksud ekspresimu itu? Kau meragukanku? Hei, inilah maksud dari membaca buku, mengumpulkan informasi, dan bersikap bijaksana. Di usiaku yang masih dua belas tahun ini, aku sudah mampu ikut serta dalam pengawasan dan pengambilan keputusan," timpal Carla dengan menunjukkan wajah sombongnya. "Apa kau mulai merasa tidak bergun-"
"Keren. Itu hebat sekali."
Carla tidak melanjutkan kata-katanya. Pujian yang diberikan oleh Alia dengan mata kagum itu membuatnya salah tingkah. Respon yang diberikan Alia begitu tulus sampai wajah Carl memerah.
"Benar, benar. Orang yang sungguhan hebat biasanya bersifat sombong. Tak kusangka akan bertemu dengan orang itu," tambah Alia dengan wajah polos.
"Huahaha...." Tawa Edward pecah saat mendengar tambahan itu.
Nira di belakang juga menutup mulutnya, menahan sekuat tenaga agar tidak ada suara yang keluar. Kini wajah Carla berubah masam lagi.
"Bisa tidak, kalau mengatakan itu dengan muka menghina. Ekspresi jujurmu itu lebih menyakitkan," sungut Carla saat melihat Alia yang malah kebingungan dengan tawa keras Edward.
"Tapi hebat, kan? Waktu aku diusiamu, masih disibukkan dengan bermain petak umpet. Lihat, disini kau malah sibuk memikirkan hal yang bahkan sulit dilakukan olehku diumurku yang sekarang." Alia memberikan penjelasan yang menyenangkan Carla lagi.
"Dewi Alia sangat hebat membuat hati seseorang jungkir balik. Ayo lanjutkan, setelah pujian, sindiran, dan pujian lagi. Selanjutnya adalah sindiran. Ayo!"
__ADS_1
"Sudah, hentikan," bentak Carla. Ia tidak ingin suasana hatinya yang sedang bagus menjadi rusak lagi. Apalagi Edward masih tidak berhenti tertawa.
"Edward sendiri, selain dengan Carla, apa tidak ada rekan lain?" tanya Alia, menghentikan tawa Edward.
Dengan senyum kecut, Edward berusaha memilah kata-katanya, takut membuat kesalahan yang dapat diputar-putar oleh Alia. "Ada beberapa, tapi aku lebih sering mengerjakan sesuatu secara terpisah. Jika mereka fokus ke pengerjaan teknologi pengembangan, maka aku otak dari itu semua. Bisa dibilang, aku cukup ahli sampai diberikan hak khusus ikut ke rumah ini."
Alia mendengarkan dengan saksama. "Seperti mandor?"
"Ahahaha... Itu benar sekali. Kerjanya hanya mengawasi dari jauh dan kebanyakan hanya bersantai," timpal Carla balas tertawa keras.
"Ah, aku tidak bisa menyangkalnya."
"Tapi kalau kemampuanmu melebihi mereka, itu berarti kau pantas mendapat julukan itu, kan?" Alia memastikan itu dengan senyum lebar.
Giliran Edward yang bertepuk tangan sementara Alia memutar bola matanya.
"Kau bilang, mereka yang tinggal disini memang yang berkemampuan. Aslan dan Dichey, bagaimana?"
Carla tersenyum kecil, tahu kalau Alia sudah penasaran tentang ini sejak kemarin. "Aslan biasanya memimpin eksplorasi atau mengecek kondisi lapangan. Dia termasuk yang paling lincah, cermat, dan Pemalas. Tidak ada yang bisa mengendalikan atau menyuruhnya kecuali Kak Daniel. Benar-benar serigala liar."
"Sebenarnya ini masih rencana. Daniel ingin mencoba peruntungan dengan membangun perusahaan di bidang jasa pengamanan. Dia sudah banyak menyusun jalannya rencana ini dengan mempersiapkan pelatihan-pelatihan. Dichey menjadi yang bertanggung jawab disini." Edward menambahkan.
"Yang pakai baju hitam-hitam itu?"
"Ya, mereka anggota pelatihan yang baru direkrut."
"Ada ruang untuk pelatihan disini?" tanya Alia lagi.
Alia dan Edward serentak mengangguk. Entah sejak kapan, mereka mulai merasa harus menjawab setiap inci rasa penasaran Alia dengan sebaik-baiknya. Respon wanita itu selalu terlihat menyenangkan.
"Riki bisa dibilang yang paling biasa saja, tapi dia seorang pekerja keras. Karena itu, dia yang menjadi asisten langsung Kak Daniel dan bersamanya kemana-mana. Kami punya satu anggota lagi. Tapi ia masih belum bisa bergabung disini. Ada urusan keluarga yang harus diselesaikannya." Carla menjelaskan dengan lugas.
"Kami adalah enam pilar utama." Edward kembali dengan gaya dramatisnya.
"Pilar kentutmu. Sudah kubilang, kau kebanyakan menonton kartun. Tidak malu denganku, huh?" cecar Carla.
"Hei, jangan lagi menyebutkan tontonanku sebagai kartun. Ini bukan kartun biasa."
"Ya, ya, ya." Carla mengibaskan tangannya tidak peduli.
"Itu sebutan yang keren, kan, Dewi? Kami ini orang-orang setia yang punya alasan masing-masing untuk bekerja di bawah Daniel. Dia sangat berkemampuan, ngomong-ngomong." Edward lanjut mengoceh.
"Satu orang lagi itu bagaimana?"
Kali ini Carla tersenyum misterius. "Khusus untuk dia, kami tak bisa menceritakannya. Itu permintaannya agar tidak berkata apapun padamu."
Alia mengerutkan keningnya. "Apa aku mengenal orang ini?"
__ADS_1
Carla tertawa kecil sembari mengangkat bahu. Ia lalu memukul keras pundak Edward dan membentaknya untuk kembali bekerja.