Sisterzone

Sisterzone
Perayaan


__ADS_3

"Marah?" tanya Daniel, melirik Alia di sebelahnya.


Alia menoleh, tapi kemudian kembali menatap lurus ke depan. Memilih tidak menjawab. Ia memang lebih pendiam dari biasanya. Tapi dirinya sendiri tidak paham bagaimana menjelaskan situasinya. Harusnya ia sangat kesal pada Daniel yang menariknya secara tiba-tiba. Namun, yang seharusnya terjadi itu malah tidak berdampak apa-apa. Alia merasa biasa saja. 


Diamnya Alia lebih dihabiskan untuk berpikir. Ketika Daniel bertanya dan dia tidak menjawab, bukan artinya ia sungguh marah. Alia hanya sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan itu sendiri.


Memusingkan.


Alia menggelengkan kepala pelan dan bersandar di kursi mobil. Kembali mengingat kejadian beberapa menit lalu.


Harus Alia akui, ia sempat berharap bisa benar-benar menyukai Kevin. Kecupan tadi sempat membuatnya seperti tersetrum dan jantungnya berdebar kencang. Tapi setelah itu, benar-benar kosong. Alia tidak lagi merasakan apapun. Bahkan ia merasakan sedikit kemarahan atas kelancangan yang dilakukan pria itu. Untung Kevin sudah antisipasi dan meminta maaf duluan. Alia juga bersyukur karena Daniel sudah menariknya dari tempat itu sehingga tak perlu menghadapi situasi canggung yang bisa terjadi. Mungkin itu juga yang membuat Alia tidak bisa marah padanya.


"Ini jalan kemana?" tanya Alia heran. Ia merasa tidak melalui jalan ini sebelumnya. "Apa mau lewat jalan tembus?"


Daniel melirik Alia, diam-diam menghela napas lega. Ia khawatir Alia akan diam terus hingga sampai rumah. Jika itu terjadi, maka artinya kemarahan wanita itu sudah di tahap kedua.


Tahap pertama, tentu saja saat Alia benar-benar mengamuk. Kalau ini, bisa reda dalam beberapa jam saja. Tahap kedua adalah saat Alia terus diam dan berbicara hanya di keperluan mendesak saja. Tiga hari paling lama Alia pernah marah pada Daniel pada tahap ini. Saat itu Daniel terlambat pulang ke rumah, padahal waktu pulang sekolah sudah berjam-jam lalu. Ia ingat Alia sampai hampir menangis karena khawatir saat Daniel tiba di depan rumah. Alia semakin marah saat tahu keterlambatan Daniel karena mencoba mencari pekerjaan sampingan untuk membantu kondisi mereka saat itu.


Daniel sedikit bergidik setiap mengingatnya. Alia yang biasanya ceria menjadi pendiam selama tiga hari penuh. Tahap ketiga jelas lebih mengerikan. Tapi itu hanya terjadi sekali saat Alia bahkan tidak mau memandang orang tuanya saat itu. Ya, hanya terjadi sekali saat orang tua mereka masih ada. Alia tidak pernah marah sebesar itu hingga sekarang.


"Ada perayaan hari jadi Kota Pusat sore ini di alun-alun. Kita kesana untuk melihat-lihat. Apa Kakak keberatan?"


Alia masih menatap ke depan, memikirkan tawaran itu. "Sepertinya menyenangkan. Kakak tidak menolak."


Daniel menjadi lebih terinspirasi setelah melihat sudut bibir Alia yang mulai terangkat.


"Ada bazar disana."


"Banyak makanannya?" Alia menoleh, langsung tertarik.


"Makanan, minuman, permainan, pakaian, semuanya. Hari ini di alun-alun sangat ramai," jelas Daniel, merasa berhasil memancing Alia setelah melihat matanya berbinar. "Mereka juga punya acara utama yang tak kalah menarik."


"Apa?" Alia benar-benar duduk dengan tegak dan antusias mendengar kelanjutannya.


"Rahasia." Daniel tertawa kecil.


Alia mendengus kesal. Meski begitu, ia cukup antusias dengan perayaan ini. Beberapa kali ada perayaan seperti ini juga di Kota Barat, tetapi Alia tidak pernah sempat mendatanginya karena harus bekerja. Bahkan jika itu hari libur sekalipun, ia akan menghabiskan waktunya untuk mengistirahatkan tubuh meskipun Alia lebih ingin pergi kesana.


Bisa dibilang, pergi ke perayaan ini lebih membuat Alia senang daripada ke pusat perbelanjaan manapun.


"Wah, ramainya sudah dimulai dari sini." Alia menatap ke samping saat memasuki alun-alun.

__ADS_1


Daniel memperhatikan jalan, mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya. Ia berusaha melakukannya dengan cepat setelah melihat ekspresi Alia yang seakan hendak melompat keluar saat ini juga.


"Jangan buka pintuny-"


"Apa lagi? Sudah, tidak usah berlebihan. Kakak bisa keluar sendiri," tukas Alia yang langsung keluar dari mobil tanpa menunggu. 


Daniel menghela napas, akhirnya mengikuti Alia yang sungguh-sungguh meninggalkannya jauh di depan.


"Selamat sore, Kakak cantik. Apa Kakak cantik mau membeli bunga?" Seorang anak laki-laki mendekati Alia. Tangannya membawa sekeranjang bunga dan beberapa ikat balon.


Alia tersenyum hangat, mengusap kepala anak itu. "Kau menjual berapa setangkai bungamu itu?"


Anak itu mengangkat lima jarinya seraya tersenyum senang. "Lima ribu saja. Mamaku menanam bunga-bunga mawar ini sendiri dan memangkasnya agar mereka tumbuh kembali jadi lebih cantik. Aku yang membungkus dan merapikannya. Memang tidak sebagus yang dijual di pasaran, tapi harganya juga lebih murah."


"Ini sudah sangat bagus. Kau berbakat. Apa Mamamu tahu kau menjual bunga-bunga ini?" tanya Alia lagi.


Anak laki-laki itu menggeleng. "Mama tau aku menjual balon. Tapi tidak tahu kalau aku membawa bunga-bunga ini juga. Ini kejutan. Biasanya Mama akan membuang bunganya begitu saja. Aku ingin membuktikan kalau ini tetap berguna."


Alia tertawa kecil. "Kakak akan membeli bungamu kalau begitu."


Wajah anak laki-laki itu langsung merekah bahagia. "Benarkah? Wah, Kakak cantik jadi pembeli pertamaku. Sejak tadi tidak ada yang meresponku. Ah, maaf, aku malah terus bercerita. Kakak mau berapa tangkai?"


"Dua. Ah, tiga saj-"


Alia dan anak itu sama-sama mendongak terkejut. Daniel sudah berada diantara mereka.


"Se-semua? Tapi aku punya dua belas tangkai disini." Anak laki-laki itu langsung gugup, tak berani menatap Daniel.


"Iya." Daniel mengeluarkan tiga lembar uang seratusan. "Apa ini cukup?"


Mata anak itu melebar. "Tidak-tidak, ini banyak kelebihannya. Satu lembar saja, aku tidak punya kembaliannya. Aku akan menukar sebentar."


"Tidak perlu. Berikan saja semua bunganya padaku," tolak Daniel.


Anak itu dengan cepat menyerahkan semua bunga beserta keranjangnya. Tangannya gemetar kecil saat menerima uang dari Daniel. "Ka-kalau begitu, aku berikan semua balonku sekalian."


Daniel hanya mengangguk kecil, membiarkan anak itu berbuat semaunya. Balon-balon itu diterima Alia yang ikut kebingungan.


"Terimakasih, Kakak-kakak sangat membantuku. Kakak Cantik pasti senang punya Kakak Tampan sebagai kekasih. Semoga hubungan kalian bertahan selamanya, ya. Aku akan pulang, selamat tinggal," pamit anak itu.


Alia ikut melambai, tidak sempat memperbaiki kesalahpahaman anak itu yang sudah berlari pulang dengan gembira.

__ADS_1


"Entah darimana dia tahu istilah dewasa itu." Alia bergumam kecil. Ia lalu membalik tubuhnya. "Wah, lihat Tuan Dermawan ini. Baru saja masuk, sudah menghabiskan banyak uang. Kau bahkan melupakan kertas cekmu, tadi. Dasar sombong."


"Kakak tidak suka aku membeli ini?" tanya Daniel tanpa ekspresi.


Alia tersenyum tipis. "Tentu saja suka. Hanya saja, ini terlalu banyak."


Daniel tidak mempedulikan protes itu. Ia mengambil setangkai bunga, lalu mendekati Alia dan memberikan bunganya. "Kak, ayo berkencan denganku."


Alia yang baru akan mengambil bunga itu jadi terhenti. "Maksudnya?"


"Hari ini saja, ayo berkencan." Daniel mengangkat keranjang berisi sebelas bunganya. "Kalau terima, ambil semua bunganya. Kalau menolak, ambil satu bunga saja."


Alia sedikit terperangah. Daniel yang terlihat sangat serius membuatnya terhibur. Alia kemudian tertawa kecil. "Ada-ada saja. Kencan aneh apa yang bisa terjadi seperti ini?"


Alia mengambil satu bunga yang Daniel sodorkan. Ia menukar balon di tangannya dengan bunga itu.


Daniel berusaha menahan kekecewaannya. Ia sudah menduga kalau Alia akan menolaknya. Tetapi jantungnya hampir berhenti berdetak saat Alia mengambil lagi keranjang di tangannya dan meletakkan satu bunganya kesana. 


Alia lalu berbalik dan berjalan duluan. Meninggalkan Daniel yang masih belum menguasai keterkejutannya.


"Hei Daniel! Apa kau tidak ingin ikut? Katanya mau kencan!" seru Alia dari kejauhan.


Daniel kembali menguasai diri ketika mendengar seruan itu. Kakinya melangkah lebar-lebar, menyusul Alia dengan cepat. Daniel menutupi senyuman lebar yang terbentuk di bibirnya dengan satu tangan.


'jadilah milikku.'


Kira-kira seperti itulah makna dua belas tangkai bunga mawar yang diberikan Daniel pada Alia. Wanita itu menerima semuanya dengan ringan, bahkan menerima tawarannya berkencan hari ini, meski Alia lebih terlihat tidak memiliki maksud yang sama dengan Daniel.


Daniel tidak berniat menjelaskan arti dua belas tangkai bunga itu. Membiarkan Alia tetap riang dengan apa yang tidak diketahuinya.


"Karena sedang berkencan, boleh kupanggil Alia saja?" tanya Daniel hati-hati setelah berhasil menyamai langkah Alia.


Alia memicingkan mata, menatap Daniel dengan curiga. "Apa kau sengaja melakukan ini agar punya alasan untuk menghilangkan panggilan kehormatan itu?"


"Hah, panggilan kehormatan," ejek Daniel. "Tidak seperti itu juga. Hanya untuk sekarang. Boleh atau tidak?"


Alia berpikir lebih lama. Terlihat seperti mempertimbangkan sesuatu yang sangat rumit. "Hanya untuk sekarang."


Daniel bernapas lega diam-diam.


Baru beberapa langkah berjalan bersama, tangkai-tangkai bunga Alia sudah berkurang. Balon-balon juga. Alia membagikannya pada beberapa orang yang lewat.

__ADS_1


Daniel tersenyum tipis. 


Alia tetaplah Alia.


__ADS_2