
Sebuah pesan masuk membuat Alia menutup bukunya. Ia nyaris tidak memegang ponsel seharian, jadi memutuskan untuk memangkas waktu membacanya untuk melihat-lihat. Jika Carla ada disini, pasti gadis itu akan mengomelinya.
"Wah, dia cepat juga," gumamnya setelah melihat isi pesan itu.
Kevin baru saja mengirimkan alamat suatu tempat, meminta kesediaan Alia untuk bertemu di tempat itu esok sore. Alia sebelumnya sudah berjanji, lagipula ia tak memiliki agenda apapun untuk besok selain bersantai. Malah Alia menganggap pertemuan itu sebagai cara mengakhiri hari-harinya belakangan yang sedikit menjemukan.
Alia meregangkan tubuhnya setelah menaruh ponsel. Ia melirik pada pintu kaca yang menghadap ke balkon. "Sepertinya, cuaca lumayan bagus malam ini."
Saat Alia hendak mematikan lampu kamarnya, samar ia mendengar ketukan di pintu. Ketukan itu sangat kecil, seakan memang tidak ditujukan untuk diketahui orang yang berada di dalamnya. Alia bergegas ke pintu dan membukakannya.
"Eh? Ada apa, Daniel?" tanyanya heran saat melihat orang yang berdiri di depan pintu.
Daniel sedikit terkejut saat pintu itu terbuka. "Ah, Kak. Aku... Tidak bisa tidur."
Alia membukakan pintu kamarnya lebih lebar. Ia harus mendongak untuk bisa bertatapan dengan Daniel. Sambil tersenyum kecil, Alia menunggu penjelasan pria itu.
"Aku harus tidur malam ini. Masih banyak yang harus kukerjakan besok. Tapi mataku sulit terpejam," sambung Daniel seraya mengusap lehernya gugup.
Alia mengangguk paham, masih menanti alasan Daniel mengunjunginya malam-malam begini.
"Lalu... itu, maaf. Umm... Dulu aku pernah melihat Kakak tertidur. Rasanya tenang dan damai sekali. Kupikir jika aku melihat Kak Alia sejenak, bisa membantuku mendapat ketenangan tidur juga." Suara Daniel semakin mengecil. Ia menutupi sebagian wajahnya yang kembali terasa panas. Wajahnya pasti sudah memerah sekarang.
Melihat Daniel yang terlihat begitu gugup membuat Alia melepaskan tawa kecil. Sebenarnya ini cukup mengejutkannya. Daniel tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Pria di depannya yang biasa memasang ekspresi datar dan selalu melontarkan kata-kata dingin itu kini tak ubahnya seperti anak kecil yang menggemaskan. Gugup dan malu-malu.
"Lupakan tawa Kakak tadi. Apa kau membutuhkan sesuatu lagi, Daniel? Hanya ingin melihat Kakak?" Alia ingin menggoda Daniel lebih jauh, tapi ia sedikit iba pada wajah memelas yang tak pernah Daniel tunjukkan pada siapapun itu.
Daniel menghela napas panjang. Berusaha mengontrol pernapasan dan detak jantungnya. "Kalau boleh, apa aku bisa melihat Kakak tertidur? Aku akan duduk dari jauh agar tidak mengganggu."
Alia hampir tertawa lagi, tapi ia bisa menahannya kali ini. "Kakak punya penawaran lain, kau mau dengar?"
Daniel mengangguk sekali.
__ADS_1
"Ayo tidur bersama," ajak Alia dengan senyum lebar.
Terdengar biasa, tapi bagi Daniel itu seperti mendengar bom. Atau bisa jadi, ia mengartikan itu sebagai jantungnya yang secara kurang ajar berdetak dengan sangat kencang, bertalu-talu menghantam dadanya yang hanya tertutup piyama tipis.
"Me-memangnya boleh?" tanya Daniel sambil mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin Alia menyadari wajahnya yang semakin memerah atau ekspresinya yang mulai aneh-aneh.
"Memangnya tidak boleh?" balas Alia dengan cepat. Ia menarik tangan Daniel untuk masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintunya.
Daniel yang seketika menjadi lambat berpikir jadi terkaget saat Alia mematikan lampu kamarnya. "E-eh. Lam-lampunya kenapa dimatikan?"
Alia menoleh heran. "Apa kau mau tidur dengan lampu menyala?"
Daniel semakin malu. Ia menggeleng lelah, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang berseliweran di kepalanya. Entah kenapa, malam ini otaknya bekerja tidak sebaik biasanya.
"Apa kau masih ragu? Hm... Benar juga sih, kau sudah bukan Daniel kecil seperti dulu, melainkan seorang pria dewasa. Hah... Danielku sudah tumbuh besar," keluh Alia menepuk pundak tegap Daniel.
"Danielku," ulang Daniel. Ia berusaha mencegah seringaian terbentuk di bibirnya. Daniel menyukai sebutan itu.
Daniel biasanya selalu berjalan tegap, cepat, dan pasti. Namun, kali ini ia seakan lupa cara melakukan itu. Langkahnya saat ini ragu dan gemetar. Tapi ia berusaha tetap terlihat normal sampai mencapai sisi lain ranjang itu.
"Apa tidak masalah?" tanya Daniel masih ragu.
"Ranjang ini sangat luas. Muat untuk tiga atau empat orang. Kalau cuma dirimu, ya, tidak masalah." Alia sudah menaiki ranjangnya. Melempar bantal ke dekat Daniel dan melebarkan selimutnya.
Daniel menggaruk kepalanya canggung. "Bukan itu yang kumaksud."
"Lalu apa? Bukannya biasa kalau kakak dan adik tidur bersama?" Alia tersenyum kecil, lalu menarik selimutnya. "Selamat malam, Daniel. Buatlah dirimu nyaman agar bisa tidur."
Daniel kembali menghela napas. Benar. Hal yang biasa kalau sesama saudara tidur seranjang. Apa yang dipikirkannya? Bahkan jika mereka sama-sama dewasa sekalipun, tidak akan menghapus status saudara keduanya. Daniel ikut menaiki ranjang, berusaha membuat jarak dari Alia.
Lama ia mencoba menutup mata, tapi tak kunjung bisa membawanya tertidur, padahal malam mulai mencapai puncak. Daniel memiringkan tubuhnya, menatap punggung Alia yang sedang membelakanginya. Wanita itu lupa melepas pita yang mengikat rambut hitamnya. Daniel mengulurkan tangan, tapi jaraknya terlalu jauh. Baik dirinya maupun Alia masing-masing berada di ujung ranjang.
__ADS_1
Daniel ingin mendekat untuk mencapai Alia. Ia ingin menyentuh lembut tiap helai rambut wanita itu. Tapi firasatnya mengatakan, jika ia bergeser sedikit saja, tak tahu apa yang akan dilakukannya nanti.
Aneh. Apa yang membuat Daniel khawatir seperti ini? Bukankah Alia itu kakak kandungnya? Ia merasa hanya berdiri di tempat yang sama tetapi tidak mampu menggapainya karena rasa takut atas kemampuan pengendaliannya.
Jantung Daniel yang akhir-akhir ini sering berdebar-debar kembali membuat ulah saat Alia tiba-tiba membalik badannya. Wanita itu mendesah pelan sambil mengucek matanya. Ia menatap Daniel dengan sayu, tetapi berusaha untuk mengulas senyum lembut. "Aduh, maaf. Kau sudah disini, tapi Kakak tidak membantu sama sekali."
Daniel terpaku pada pemandangan di depannya. Otaknya tidak bisa berpikir dengan baik saat Alia menggeser tempatnya berbaring hingga di dekat tangan Daniel yang terentang. Alia berbaring miring juga dan mengambil tangan Daniel itu, menggenggamnya erat. "Apa begini cukup? Kakak tidak tahu apa ini bisa membantu tidurmu."
Selesai mengucapkan itu, Alia kembali menutup matanya. Tak lama kemudian, napasnya menjadi teratur, tanda wanita itu sudah tertidur.
Tubuh Daniel menjadi kaku. Ia bisa merasakan deru napas Alia di tangan yang digenggam olehnya. Pandangan Daniel tak bisa lepas dari wajah Alia yang damai dalam tidurnya.
Ya, itu yang dia cari. Wajah damai itu membuatnya lebih tenang. Alia adalah penawarnya, tapi juga sekaligus racunnya. Alasan yang membuat Daniel sulit tertidur juga karena Alia, dan wanita itu juga yang menjadi alasannya merasa lebih baik.
Daniel sesungguhnya penasaran. Ia ingin mencaritahu alasan mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar. Daniel melewatkan waktu di kantor dengan anggapan akan mengalami itu lagi. Jika benar, maka Daniel akan langsung menuju rumah sakit untuk periksa. Tapi debaran jantungnya itu tak terjadi lagi selama ia menjalani pekerjaannya.
Ia semula mengira kalau dirinya salah menduga. Tapi tiba-tiba jantungnya berbuat gila lagi saat dirinya bertemu atau bahkan sekadar melihat Alia di waktu pulang dan makan malamnya tadi.
Daniel cukup tertekan memikirkan ini. Perasaan nyaman dan senang setiap kali bertemu Alia dan dorongan asing yang membuatnya ingin berdekatan dan menyentuh wanita itu membuat Daniel sedikit frustasi. Daniel menatap tangan kecil Alia yang menggenggamnya mulai mengendor. Dengan cepat, Daniel membalas genggaman itu dengan lebih erat. Tubuhnya bergerak sendiri, menolak pernyataan waras otaknya.
Jarak wajah Daniel dan Alia hanya dibatasi oleh tangan mereka yang saling bertautan. Daniel kembali merasakan gejolak dadanya, tapi ia tak mencoba melawan. Sebaliknya, Daniel berusaha menikmati detak jantungnya yang membawa perasaan nyaman itu.
"Aku seperti orang yang jatuh cinta, ya?" gumam Daniel dengan suara kecil.
Butuh beberapa detik hingga ia membuka matanya cepat dengan perasaan terkejut. Apa yang barusan ia katakan? Kini Daniel merasa debaran jantungnya menjadi menyakitkan. Tidak ada perasaan nyaman seperti tadi. Sebuah kesadaran membawanya pada dugaan paling rasional yang bisa ia berikan.
"Tidak mungkin. Apa aku benar-benar...."
Daniel menatap Alia dengan cermat. Mulai menyadari tiap hal aneh yang terjadi padanya akhir-akhir ini.
"Apa aku menyukai Kakak?"
__ADS_1