Sisterzone

Sisterzone
Meja makan


__ADS_3

"Eh? Sudah ada yang memesan makanan sepagi ini?"


Edward muncul di pintu dapur. Langkah gontainya menjadi bersemangat saat ia mencium aroma sedap yang menggelitik hidungnya.


"Bergabung dan jadilah kelinci percobaan," tegas Daniel saat Edward sudah mengambil tempat mengelilingi meja makan.


"Apa maksud...." Kalimat Edward terhenti. Ia menengok sejumlah makanan di atas meja dan mulai mengerti situasinya. "Apa belum ada yang mencicipi sama sekali?"


Edward mengedarkan pandangan. Semua yang hadir di meja makan itu menggeleng pelan. Ia sebenarnya cukup terkejut melihat semua berkumpul seperti ini. Riki, Daniel, dan Dichey, bahkan Carla dan Aslan juga turut hadir.


"Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanyanya pelan. Suasananya terlihat lebih suram.


"Ya," jawab Aslan. "Sesuatu yang besar, sampai Daniel sendiri yang mendatangiku."


Edward mengerutkan keningnya. Aslan sangat sulit dibujuk kecuali oleh Daniel secara langsung. Dan biasanya Daniel tidak akan mengganggunya kecuali dalam keadaan terdesak. "Terdengar sangat serius. Apa ini tentang makanan di meja?"


Mereka serempak mengangguk.


"Buatan Nona Alia. Dugaanku benar kan?"


Anggukan serempak itu terjadi lagi.


Edward bersandar lemas di kursinya. "Prinsipku sangat sederhana. Tidur, bekerja, dan makan enak. Bagaimana bisa hal yang sangat sedikit itu diganggu? Bahkan menyuruhku ikut mencoba makanan yang belum tentu rasanya seperti ini. Hmm... baunya enak sih."


"Kalau hanya bau yang sedap, Aslan juga bisa buat. Tapi apa kau bisa menilainya sebagai hidangan yang enak? Ah, itu terlalu tinggi. Hidangan yang layak dimakan oleh manusia maksudnya," komentar Riki. Bergidik sendiri saat mengingat rasa masakan itu.


Suasana menjadi lebih suram. Bahkan Carla juga memegang mulutnya. Mengingat kembali hal traumatis yang membuatnya lebih memilih sarapan dengan roti setiap hari. "Jangan ingatkan tentang itu, bodoh. Aku seperti masih merasakan makanan busuk itu di tenggorokanku."


"Salah kalian yang memintaku masak," bela Aslan.


"Itu karena kau tidak menolak!" Carla, Riki, dan Edward sama-sama berteriak kesal.


Dichey yang duduk disebelah Daniel hanya menatap pria itu, meminta penjelasan. Daniel menceritakan ulang percakapan di meja itu padanya dengan bahasa asing. Memang, hanya Dichey yang belum mempelajari bahasa lokal disini, padahal yang lain sudah membiasakan diri dan selalu bercakap-cakap dengan bahasa lokal. Dichey bahkan membutuhkan penerjemah ketika sedang melakukan pekerjaannya.


"HUGH." Dichey langsung menutup mulutnya seakan hendak muntah setelah mendengar cerita lama itu. Bisa dibilang ia salah satu korban makanan Aslan. Wajahnya memutih saat menatap hidangan di depannya.


"That's too late, Dic." Aslan menggelengkan kepala.


"Dichey," koreksinya. Ia merasa lelah pada Aslan yang tak henti mengolok namanya dimana-mana.


Hanya Daniel yang tidak merespon apapun. Ia hanya menatap jamnya, atau melihat pintu dapur, atau memperhatikan kursi kosong di depannya. Daripada memberikan kalimat penenang bagi massa ribut di dekatnya, Daniel lebih sibuk menanti kedatangan Alia. Wanita itu baru naik ke kamarnya untuk mengganti pakaian sepuluh menit lalu.


"Daniel! Biasanya masakan Nona Alia enak atau tidak?" tanya Edward sedikit histeris.


"Kalian bisa mencobanya nanti," jawab Daniel tidak peduli.

__ADS_1


"Tidak-tidak, kau harus memberitahukan kami. Ini menyangkut nyawa," tambah Edward lagi.


Daniel kali ini pura-pura tidak mendengar. Membuat seruan-seruan lain terdengar. Hanya satu hal yang menarik diantara layangan protes itu. Tidak ada seorangpun yang meminta pergi dari situasi ini. Mereka hanya mengeluh tapi tetap tak ingin beranjak.


"Eh, sudah ramai."


Serentak semua kepala menoleh ke pintu. Alia berdiri disana dengan kikuk saat semua perhatian tertuju padanya.


"Ayo bergabung, Kak," seru Daniel dengan sedikit kesal. Rasanya tidak menyenangkan melihat Alia diperhatikan oleh sebagian besar pejantan sialan disini.


"Bukannya aku sudah memintamu mengatakan pada mereka untuk makan duluan?" Alia berbicara pada Daniel dengan suara kecil, tapi keheningan aneh membuat kalimatnya terdengar jelas.


Alia menarik kursi di depan Daniel, tepat disebelah Carla. Tidak ada yang memulai bicara, padahal sebelumnya Alia bisa mendengar keributan dari luar dapur. Itu membuatnya sedikit terkucilkan. Melihat Daniel juga tidak mengatakan apapun berarti Alia harus menindaklanjuti ini sendiri.


"Um... maaf semuanya. Aku tidak memaksa kalian untuk memakannya. Jika kalian keberatan, tidak apa jika ingin pergi. Atau jika rasanya tidak enak, kalian bisa meninggalkannya atau memuntahkannya. Aku tak akan mempermasalahkan itu," ujar Alia dengan senyum terbaiknya. Wajahnya terlihat ringan, mengangkat beban siapapun yang menatapnya.


Daniel menggeleng kecil. Alia sama sekali tidak berniat meyakinkan mereka dengan rasa masakannya. Tapi dengan ucapannya yang seperti itu pasti tetap membuat respon kembali yang unik.


"Ah, syukurlah Nona Alia ini tidak seperti saudaranya," komentar Aslan memecah keheningan sesaat.


Edward mengangguk penuh haru. "Bahkan jika aku mati setelah ini, aku akan tetap memakan masakan wanita baik."


"Ih, kalian menjijikan." Carla berdiri dan mengambil piring. Menjadi pembuka acara sarapan.


Daniel mengikuti setelahnya, lalu disusul yang lainnya. Mereka bergerak mengambil lauk yang mereka anggap tidak berbahaya.


Alia tersenyum kecut saat tak ada yang mulai berkomentar. Meskipun terlihat biasa saja dengan ucapannya tadi, Alia sesungguhnya khawatir masakannya tidak sesuai dengan selera mereka. Kalau itu benar, Alia tetap akan sulit menahan kekecewaannya.


"Teman-teman...." Edward memulai pembicaraan. Matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam. "Maafkan aku."


Melihat Edward yang mulai bersikap dramatis membuat Carla memutar bola matanya.


"Demi kalian, aku akan membawa dua piring ini ke kamar," tambah Edward, mengambil dua piring lauk.


"Itu tak perlu, kawan. Aku akan membantumu." Riki menahan piring-piring itu dengan senyum lebar.


"Kau sangat baik, tapi itu tak perlu."


"Kalian ini," decak Aslan sambil menggelengkan kepala. "Kalau begitu aku ambil dua piring ini."


"Singkirkan tanganmu dari sana," seru Edward dan Riki bersamaan ketika Aslan baru mengulurkan tangannya pada piring yang lain.


"Dichey!" Teriak mereka lagi.


Dichey yang berusaha mendorong kursi dengan membawa satu piring lauk jadi menciut oleh teriakan serempak itu. Dengan berat hati ia meletakkan piringnya.

__ADS_1


Perdebatan kecil terjadi lagi di meja itu. Masing-masing menyelinginya dengan kunyahan pada makanannya masing-masing.


"Nona Alia!"


Alia tersentak. Ia menoleh perlahan. Tiga orang pembuat keributan itu sedang serentak menatapnya.


"Y-ya?"


"Bukan Nona. Ratu," koreksi Aslan.


Edward mengangguk keras tanda setuju. "Benar, Ratu. Kami minta tolong agar Ratu membuatkan kami sarapan lezat seperti ini setiap pagi."


"Ratu," salam Aslan memberikan hormatnya.


Dichey yang memahami maksud pembicaraan ini ikut meniru Aslan. Bahkan Riki yang paling sering bertingkah serius juga mengikuti. Dalam kondisi khidmat itu, mereka tiba-tiba tersentak oleh atmosfer ruangan yang tiba-tiba turun.


"Alia bukan pembantu. Jangan seenaknya menyuruh seperti itu." Daniel memberi lirikan tajam yang dingin, membuat keempatnya menyesal sudah meminta berlebihan.


Alia mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang janggal dari ucapan Daniel. Dimana gelar kehormatan 'Kakak'-nya? Alia menggelengkan kepalanya pelan lalu memberi senyum menenangkan. "Itu bukan masalah besar, Daniel. Kalau aku bisa, akan kubuatkan lagi."


Tidak ada yang berani bersorak lebih keras di bawah tatapan Daniel. Mereka hanya menunjukkan raut bahagia dan rasa terimakasih lewat tatapan mata.


"Dia tak pantas dipanggil Ratu."


"Benar, harusnya Dewi."


"Dewi terbaik."


Daniel tidak lagi menyanggah ucapan Alia. Ia turut merasa senang dengan respon yang diterima Alia setelah melihat sekilas wajah khawatir wanita itu tadi. Sekarang dia sudah bisa menyimpan senyum lebar saat merasakan makanannya sendiri.


"Kau suka?" tanya Alia pada Carla.


"Lumayan," jawabnya sedikit enggan.


Alia mengambilkan lauk sayur dan meletakkannya di piring Carla. "Makan sayur agar tubuhmu cepat tinggi."


Carla tidak menolak dan hanya memakan apa yang diberikan padanya. Alia mengoceh tentang kesehatan di sebelahnya, sehingga ia harus pura-pura tuli. Kemampuan ini juga yang menyelamatkannya dari keributan tadi. "Hm?" gumamnya saat menyadari sesuatu.


Alia saat ini tidak sadar kalau Daniel terus menatapnya sedari tadi. Empat idiot yang masih sibuk berebut makanan itu juga tak akan menyadari. Carla terkekeh pelan, merasa beruntung.


Siapapun akan bisa tahu arti dari tatapan Daniel yang bukan seperti seorang adik pada kakaknya. Itu sorot pemujaan dan kekaguman. Carla merasa terhibur karena baru dirinya yang menyadari ini. Ia berspekulasi kalau Daniel bahkan belum menyadarinya. Carla juga tak bisa berharap apapun dari Alia. Menurutnya, kepolosan wanita itu tak akan membantu sama sekali.


"Ya sudahlah. Aku akan menunggu hal yang menarik terjadi," gumamnya kecil.


"Kau berkata sesuatu?" tanya Alia.

__ADS_1


"Aku menyadari sesuatu," koreksi Carla dengan senyum misterius.


__ADS_2