Sisterzone

Sisterzone
Rencana Alia


__ADS_3

"Sangat memalukan melihat pria dewasa menangis seperti itu," komentar Riki sembari mengisi piringnya.


Edward mengusap matanya. "Aku sangat terharu Dewi Alia sudah mau keluar dari kamarnya."


"Hah, seharian kemarin kita hanya makan dari luar. Sialan, siapa yang tak rindu masakan ini." Aslan membela Edward meski ia tampak lebih normal juga untuk hari ini. "Kau harus menyesuaikan ekspresi dengan tubuh besarmu, Dic."


Dichey menikmati makanannya dengan mata berkaca-kaca. Ia semakin ingin menangis mendengar panggilan Aslan yang masih tidak berubah. Berbeda dengan mereka, Dichey jarang kembali ke rumah ini. Masakan Alia menjadi salah satu yang paling dirindukannya.


Daniel seperti biasa, hanya diam mendengarkan. Ia melirik pintu dapur tempat Alia keluar beberapa saat lalu. Meski sudah berkenan keluar kamar, Alia terang-terangan menghindarinya.


"Bagaimana dengan belajarmu, Dic?"


Dichey semakin pasrah saat Riki juga ikut memanggilnya dengan singkatan itu. "Aku sudah sedikit paham. Translatornya sangat bagus dalam mengajar."


"Translatormu mungkin takut kau akan menghajarnya." Aslan menanggapi.


"Ya, ya. Pasti takut." Edward ikut menggelengkan kepalanya.


Dichey menggaruk belakang kepalanya sambil menghela napas. Ia tak menolak ejekan itu. Beberapa hari ini ia memang meminta belajar bahasa dari translatornya. Sangat sulit jika ia terus mengandalkan translator saat pergi kemana-mana. Daniel juga mendukung ide itu.


"Kau harus lebih banyak tersenyum agar mereka tak takut padamu," saran Daniel dengan wajah tanpa ekspresinya.


Keempat pria itu menatap Daniel seperti melihat sebuah kesalahan.


"Astaga, kau sungguh memberikan saran itu?"


"Aku setuju dengan sarannya. Tapi kalau Daniel yang mengatakannya, itu seperti omong kosong."


"Aku pikir kau orang terakhir yang akan memberi saran begitu."


Daniel menanggapi dengan tatapan dingin. Memang, dibanding siapapun, Daniel selalu jadi orang yang serius. Melihatnya tersenyum seperti kelangkaan besar. Sebab itu mereka sering terperangah setiap punya kesempatan melihat Daniel berbicara dengan Alia.


Dichey hanya tertawa miris. Berbeda dengan tubuhnya yang kekar dan perawakannya yang menakutkan, ia sebenarnya hanya pria dengan hati lembut. Namun, jika sudah di medan berbahaya atau saat menjadi inspektur latihan, kegarangannya semakin bertambah-tambah. Tak heran kalau translatornya masih merasa takut padanya.


"Kukira masalahmu dengan Alia sudah selesai. Tapi sepertinya tidak begitu," ujar Edward. Ia memperhatikan Alia tadi yang langsung buru-buru keluar saat Daniel masuk ke dapur.


Aslan dan Riki sama-sama menatap Edward seakan ini terakhir kalinya mereka melihat pria awut-awutan itu.


"Tidak perlu dipikirkan," jawab Daniel dengan sorot dingin. Tatapannya tajam melirik Edward.

__ADS_1


Sekali lagi Edward merasa ingin menggunting mulutnya sendiri yang terlalu banyak bicara. Tak heran dua pria sialan di dekatnya menatap sedih seperti sudah yakin akan tanggal kematiannya.


Daniel tidak menghiraukan lagi. Melihat sepiring roti dan segelas susu yang Alia bawa saat keluar tadi, ia bisa menebak dimana Alia saat ini.


"Hei, Daniel. Aku selalu ingin menanyakan ini. Kau selalu sibuk saat di kantor. Sulit menanyakannya langsung padamu disana." Riki menjadi lebih serius. Ia tidak mau mengungkit kebiasaan yang dilakukannya dengan tidak bicara pada Daniel setelah pulang, meski tentu saja itu yang menjadi alasannya tak pernah mendapat jawaban ini. "Apa kau pernah punya masalah dengan Rafka Alexan sebelumnya?"


"Ah, iya. Itu juga pertanyaanku. Dari yang kuperiksa, pria itu tidak pernah sekalipun menekan perusahaan lain secara terang-terangan begini. Dia hanya melakukannya pada kita. Motifnya juga tidak jelas." Edward ikut nimbrung, tidak ingat kalau tadi ia hampir kena masalah karena ucapannya.


Daniel menyipitkan matanya. "Aku baru sekali berurusan dengan Rafka Alexan. Di masalah ini saja tentunya. Rasanya tak pernah terlibat masalah dengannya. Kalian juga tahu kita sangat berhati-hati disini."


"Aneh sekali. Ya… untung bagi kita krisis itu sudah selesai ditangani. Sebab itu, Daniel. Apa hari ini aku boleh tak ikut ke kantor?" Aslan menyengir lebar.


Daniel berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Riki sendiri sudah cukup."


Edward ikut bertepuk tangan. Baru beberapa hari dan dia sudah cukup muak pergi ke tempat itu. "Syukurlah. Aku juga sudah lelah. Tenang, aku sedang mengembangkan perangkat baru, Daniel. Disini, aku juga tak akan bermalas-malasan."


"Aku akan membantu Dic kalau begitu," timpal Aslan tak mau kalah.


Hanya Riki yang bermuka masam disini. Tahu benar kalau ia akan jadi asisten paling sibuk seharian ini.


...****************...


Alia tersenyum tipis. "Kau tak ada di kamarmu. Tentu saja kupikir kau sudah bangun. Lagipula mengapa kau tidur di perpustakaan? Ini cukup dingin."


Carla merenggangkan ototnya sebelum duduk bersila di depan Alia yang ikut melantai dengannya. "Kalau aku terus di kamar. Aku tak akan bangun sampai sore. Setiap dini hari aku selalu terbangun dan pindah kesini."


"Kau selalu terbangun begitu setiap hari?" tanya Alia.


Carla menguap. Sulit membaca maksud ekspresinya yang masih bercampur dengan kantuk. Ia tidak menjawab. Pandangannya teralih pada ponsel Alia yang ada di dekatnya. "Kau sudah dapat ponselmu kembali?"


Alia melirik ponselnya lalu mengangguk. "Daniel memberikannya saat berpapasan di dapur tadi. Aku langsung pergi setelah itu."


"Bodoh."


"Coba ucapkan itu sekali lagi." Alia mencubit pipi Carla dengan tarikan yang kuat. "Kau juga tadi malam berbohong pada Daniel. Dia sampai memanjat balkon."


Carla melompat menjauh. Ia memegang pipinya yang menjadi merah. Kulit pucatnya seperti terpenuhi darah. Ia memberikan tatapan horor pada Alia. "Haish, jangan cubit lagi. Sakit!"


Alia tertawa kecil. Ia menawarkan roti yang di bawanya setelah berjanji tak akan melakukan itu lagi.

__ADS_1


"Aku sedang membantumu. Apa kau mendapat kesepakatan yang bagus semalam? Kau terlihat lumayan lelah. Dan... kukira kau masih akan mengunci diri di kamar lagi hari ini," ujar Carla. Ia tetap mengambil jarak aman dari jangkauan Alia.


Alia tersenyum pahit. Tidak ada hal yang baik dari pembicaraan semalam. Alia menghela napas. "Daniel mengambil kunci kamarku. semalam juga tidak bagus. Kita tetap harus menjalankan rencana itu."


Rencana paling buruk yang bisa Carla pikirkan.


"Aku sudah meminta Ed untuk melacaknya. Tinggal menghubunginya saja." Carla memberi penjelasan.


Alia mengangguk. Ia lalu memeriksa ponselnya.


"Aku tebak nomor pria itu sudah tak ada." Carla menopang dagu, tertawa kecil.


Mendengar itu membuat Alia penasaran juga. Memang benar. Ia tidak menemukan nomor Kevin di ponselnya, pun sisa pesan mereka. Meski begitu, Alia merasa ini bukan hal yang besar, jadi ia tidak mempermasalahkannya.


"Bagus juga. Saat itu dia sangat menggangu, kan?" Carla terus berkomentar.


"Daripada itu, apa kau membawa nomor wanita itu?" tanya Alia.


Carla memutar bola matanya malas. "Aku sungguh berharap kalian menyelesaikan masalah ini tadi malam. Biar kuberitahu, membawa wanita ini ke dalam masalahmu akan membuatnya jadi lebih rumit."


"Mengapa begitu? Apa dia sangat parah?" Alia terlihat ragu.


"Aku sudah banyak bertemu orang. Dia cukup menakutkan. Obesesinya pada Kak Daniel sedikit berlebihan." Carla merinding jika mengingat wanita yang dimaksudnya.


Alia jadi terlihat lebih ragu lagi. Saat ia masih kebingungan, ponselnya tiba-tiba berdering. "Ah, ini dari Kak Wilda."


Tanpa menunda, Alia langsung mengangkat teleponnya. "Selamat pagi, Kak!"


Carla ikut mendengarkan sembari memakan sarapannya. Alia memang selalu mengaktifkan pengeras suaranya setiap menerima telepon.


Wilda ingin Alia datang di hari peresmian cabang WR Coffee Kota Pusat dua hari lagi. Alia terlihat terkejut karena tidak sampai sebulan Wilda memberitahukan akan membuka cabang, tetapi dalam beberapa hari sudah akan membuat peresmian.


"Astaga, Alia. Kau sungguh menanyakan itu? Apa kau sudah lupa dengan slogan WR Coffee? Cepat dan rapi. Tentu saja pembukaan cabang ini bisa selesai cepat. Yah, meski begitu memang harus banyak-banyak berterima kasih pada Rin-Rin. Dia sudah menyiapkan ini sejak sebulan lalu," cerita Wilda. Sudah ciri khasnya berbicara riang dengan cepat.


Carla saja ikut terkejut mendengar caranya bercerita di telepon.


Alia dan Wilda berbincang hampir setengah jam. Membicarakan banyak hal.


"Sayang sekali aku tidak melihat perayaan hari jadi Kota Pusat beberapa hari lalu. Padahal sepertinya seru sekali. Aku lihat di sosial media waktu penerbangan lampion itu. Cantik sekali. Ah, aku sangat menyesal tidak pergi ke sana hari itu." Wilda mengeluh.

__ADS_1


Alia terdiam. Jika mengingat hari itu, ia jadi merasa aneh sekali. Saat itu Alia sama sekali tidak sadar dengan perlakuan lembut Daniel. Jika ia kembali mengulang memori itu, Alia selalu merutuki dirinya sebagai orang bodoh yang terlalu bersemangat.


__ADS_2