
Daniel membuka matanya. langit-langit berwarna putih yang ia dapatkan saat pertama kali memandang. Tempat yang tidak asing baginya. Kamar rawat rumah sakit.
"Aku di mimpi ini lagi," gumam Daniel.
Ia menunggu beberapa saat, menghitung waktu dengan terus menatap langit-langit yang sama. Daniel sadar sedang dalam keadaan bermimpi. Ia mengalami mimpi ini beberapa kali dan hampir terbiasa.
"Hm? Kenapa belum datang?" Daniel berusaha menggeser posisi berbaringnya, mencari pintu ruangan itu. Ia jelas menunggu sesuatu. Hal yang sama akan berulang, dan ia tidak pernah keberatan mengalaminya berkali-kali.
"Kau melihat apa?"
Suara kecil dan manis menyapa pendengarannya. Daniel menoleh pada sisi ranjang yang lain. Seorang anak perempuan sedang menatapnya dengan mata bulat besar bermanik hitam. Rambutnya yang selegam matanya dikepang rapi.
Daniel berusaha untuk tidak tersenyum.
"Ooh! Lihat matamu! Biru gelap, cantik sekali," ujar anak itu, bergerak untuk melihat lebih dekat. Tak lama ia menutup mulutnya, menengok panik ke pintu, tetapi kemudian bernapas lega. "Aku tidak boleh terlalu berisik. Karena kau baru bangun hari ini, Ibu dan Ayah akan terkejut. Aku akan memberitahukan mereka lebih cepat sebelum perawat datang."
"Matamu sangat keren, ya. Tapi untung kau jadi adikku. Hai, Daniel. Aku Alia. Kau harus memanggilku dengan sebutan Kakak. Kak Alia. Usiaku sebelas tahun, aku suka..."
Daniel ingat, dulu ia juga tidak mendengarkan ocehan anak ini. Saat itu, pikirannya hanya bisa mencerna satu kata.
"Malaikat," gumam Daniel, menirukan dirinya dulu.
Mau sampai kapanpun, Daniel akan mengingatnya seperti itu. Ditengah kebingungannya, Alia datang seperti malaikat kecil yang memberikan cahaya. Senyum dan tawanya mengagumkan. Daniel tidak bisa mengingat apapun, bahkan jati dirinya sendiri. Kehadiran Alia memberikan ketenangan dan tempat berpegang.
Alia akan selalu menjadi sosok yang istimewa baginya. Sampai kapanpun. Seorang Kakak yang hebat. Satu-satunya orang yang membuat Daniel kagum.
Tapi apa Daniel sungguh mengagumi Alia sebagai Kakaknya?
Ataukah selama ini ia tetap mengaguminya sebagai seorang malaikat?
Sampai saat ini, Daniel menyimpan rapat pertanyaan itu. Ada sebuah dorongan asing yang membuatnya tidak bisa begitu menggapai Alia seluas statusnya sebagai adik. Entahlah... Daniel merasa tidak bisa begitu dekat dengan Alia sebagai saudaranya.
"Eh? Aaakh!" teriak Alia tiba-tiba.
Daniel tersentak kaget. Tidak pernah ada kejadian ini sebelumnya. Alia tampak jauh lebih terkejut dibanding dirinya.
"Apa?" tanya Daniel. Saat itu ia menyadari suaranya kembali seperti semula. Bukan suara bocah delapan tahun itu.
"Tidak! Kau bukan Daniel! Daniel kecil dan dia adikku. Kau siapa?" pekik Alia dengan mata melotot.
Daniel juga kebingungan. Ia melihat dari sudut pandangnya, kaki dan tangannya tidak sekecil pertama ia melihat. Daniel reflek berusaha menggapai Alia, berniat menenangkannya.
"Tidak! Jangan sentuh! Aku mau Daniel yang kecil. Aku tidak mau Daniel dewasa!" teriak Alia. Ia menggigit tangan Daniel yang terarah padanya.
Saat itu pula Daniel membuka matanya. Ruangan gelap menjadi yang pertama terlihat. Ia mengusap wajahnya. "Astaga, kenapa akhir ceritanya jadi aneh begitu?"
__ADS_1
Daniel beranjak duduk, memegang kepalanya. Ia merenungi mimpinya barusan sebelum akhirnya berdiri dan berjalan ke dapur. Tenggorokannya kering. Ia ingin mengambil air putih.
Langkah Daniel melambat saat menyadari seseorang sedang berada di dapur. Ia kembali melanjutkan langkahnya saat menyadari pita biru gelap yang mengikat rambut orang itu. Hanya ada satu orang yang rajin memakainya. Dia juga yang menodong Daniel untuk meminta bendanya kembali.
"Kak?"
Alia menoleh cepat, membelalakkan mata saat melihat Daniel sedang berjalan ke arahnya.
"Daniel?"
"Sedang apa?" tanya Daniel. Ia mendekat dan melihat potongan bawang yang dikerjakan Alia.
"Kakak ingin membuat sarapan. Ini sedang menyiapkan bahan," jawab Alia. Kembali sibuk memotong-motong.
Daniel mengangkat sebelah alisnya. Melirik jam tangannya. "Menyiapkan sarapan dari pukul lima subuh?"
Alia tertawa kecil. "Kau tahu jam segini memang waktu biasa untuk bangun. Kakak merasa harus melakukan sesuatu daripada hanya berbaring di kamar. Oh ya, ini bahan-bahan dari kulkas, apa kau keberatan jika Kakak mengambilnya sebagian?"
"Pertanyaan apa itu? Gunakan apapun yang ada disini untuk bereksperimen. Aku memang sengaja mengisinya untuk itu," tukas Daniel sambil menggelengkan kepala.
"Terimakasih." Alia tersenyum lebar. Ia ingat pernah membicarakan tentang impiannya dulu tentang keleluasaan untuk bereksperimen membuat beragam masakan. "Kau sepertinya memperhatikan setiap ucapan Kakak dulu."
Daniel tidak menjawab.
Daniel mengangguk, berdiri dan mengambil gelas. Ia hampir lupa tujuannya datang kemari. "Aku bermimpi aneh."
"Mau cerita?"
Daniel meneguk airnya hingga tandas sekaligus. Setelahnya menatap Alia dengan cermat, lalu menggeleng pelan. "Tidak."
"Apa kau memimpikan seorang perempuan?" Alia bertanya lagi. Langsung tertawa kecil melihat perubahan wajah Daniel yang terlihat risih.
"Bukan. Tapi anak perempuan kecil." Daniel menghela napas. "Yang imut," tambahnya dengan suara pelan.
Namun, Alia sudah membalik badannya dan mengacungkan pisau. "Anak perempuan kecil? Daniel, astaga. Apa kau ped-"
"Ck, aku tidak begitu," potong Daniel dengan segera.
Alia menghela napasnya lega, ia meletakkan pisaunya dan berbalik lagi pada Daniel. "Semoga itu benar. Apa kau tahu, Carla bahkan menyukaimu."
"Aku sudah tau."
"Kau sudah tau?!" Alia memekik tertahan, matanya melebar.
"Dia tidak benar-benar menyukaiku. Hanya ucapan saja," sanggah Daniel dengan tenang. "Apa dia belum cerita?"
__ADS_1
Daniel mengetahui Alia benar-benar menemui Carla kemarin. Dia bahkan mampu bertahan tanpa terusir disana hampir dua jam. Sebuah rekor yang tak bisa diraih siapapun di rumah ini.
Alia menggeleng pelan atas pertanyaan itu.
"Kakak ingin aku menceritakan tentangnya? Anak itu punya latar belakang yang tidak biasa," tanya Daniel lagi.
Alia menatap Daniel, berpikir tentang tawaran itu, tetapi kemudian menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Dia tak akan suka. Kalau ini sesuatu yang sangat penting baginya, biarkan dia sendiri yang cerita."
Jawaban Alia membuat Daniel tersenyum tipis. Bukankah ini yang membuat Alia istimewa?
Alia kembali dengan kesibukannya. Mengira Daniel akan kembali lagi ke kamar. Tapi pria itu justru mendekat kepadanya. Berdiri di belakang Alia.
Daniel di belakang mulai menarik pita biru gelap yang mengikat rambut Alia. Membuat tiap helai rambutnya jatuh terurai. Daniel tidak tahu tujuannya melakukan itu. Ia bukan tipe orang yang suka iseng.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Astaga, Daniel. Mana bisa Kakak mengikatnya lagi dengan tangan kotor ini. Ikatkan cepat!" perintah Alia, kesal oleh keusilan Daniel.
"Biarkan terurai lebih cant- bagus."
"Tidak-tidak, ini mengganggu. Ikatkan lagi." Alia masih belum selesai, jadi tidak ingin cuci tangan lebih cepat.
Perintah itu membuat Daniel tidak bisa menahan senyumnya. Aneh, ia tidak pernah senyum selebar ini sebelumnya. Daniel tidak lagi menjawab. Ia mulai mengerjakan perintah itu.
Daniel mengumpulkan tiap helai rambut Alia menjadi satu. Sekali dua kali jemarinya bersentuhan dengan leher dan belakang telinga Alia. Daniel tidak mengerti. jantungnya mulai berdebar kuat sampai ia khawatir Alia bisa mendengarnya. Jemari Daniel mulai bergetar tipis. Ia tidak bisa mendeskripsikan kepalanya yang akan meledak karena panas.
Terdengar mengerikan. Tapi ini hal asing yang paling Daniel nikmati.
Perasaan apa ini?
Rasanya sangat asing, tapi juga menyenangkan. Daniel menyelesaikan ikatan pitanya. Gemetar tangannya membuat ikatan itu jadi tidak begitu rapi. Baru kali ini Daniel merasakan kesulitan mengikatkan rambut. Aneh, benar-benar aneh. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Mengikatkan rambut Alia bukan pekerjaan yang asing baginya.
"Sudah?" Alia menoleh pada Daniel.
Sial bagi Daniel. Detak jantungnya yang mulai mereda kini kembali berpacu lebih kuat saat pandangannya bertemu dengan iris hitam Alia. Ia tidak menjawab pertanyaan itu, hanya menatapnya intens.
"Ada apa, Daniel? Eh! Wajahmu merah lagi. Kemarin juga begini. Kau sakit, kan?" Nada bicara Alia menjadi panik.
Daniel meraba dadanya, merasakan jantungnya yang memalu-malu. "Entahlah. Jantungku juga aneh dari tadi."
"Kau harus periksa ke dokter." Alia menatap khawatir. "Minum dulu."
Alia cekatan menuang air minum, lalu menyerahkannya pada Daniel.
Daniel menerima gelas dari Alia, tapi tidak langsung meminumnya. Ia menutupi wajahnya yang memanas dengan sebelah tangan, sebelum menghela napas.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
__ADS_1