
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...DE LUNE EXAS...
Mikha yang baru selesai dari perkumpulannya, melihat Yukkie yang sedang termenung seorang diri di dalam kelas. "Ada apa dengan wajah cantik yang terlihat layu ini princess?" Mikha menggoda Yukkie yang saat itu tengah berwajah masam.
"Sedang memikirkan pangeran Rain lagi?" Tebaknya. Sebagai salah satu teman terdekat Yukkie, Mikha tahu betul hanya perihal Rain sajalah yang mampu membuat seorang Yukkie kehilangan semangatnya.
"Diam lah, jangan ganggu aku." Yukkie menolak keberadaan Mikha. Kepalanya sedang pusing karena cintanya masih juga tak berbalas, padahal berbagai macam cara sudah Yukkie lakukan. Tapi tetap saja tak bisa meluluhkan hati Rain.
Dan sekarang, bahkan hampir sepekan Rain tak juga menampakan batang hidungnya di kampus, bagaimana Yukkie tak kehilangan semangat.
Jika penyemangat hidupnya malah menghilang tanpa kabar seperti ini. "Waw.. santai girl. Jangan lampiaskan kekesalan mu padaku. Katakan ada apa, hem?" Mikha duduk disebelah Yukkie siap untuk mendengarkan semua keluh kesah sahabatnya..
"Rasanya mau gila memikirkan ini. Menyebalkan." Yukkie berwajah masam saat mulai bercerita. "Gila, kenapa? apa maksudmu ini tentang Rain?"
"Kamu pikir siapa lagi, tentu saja Rain. Hanya pangeranku tercinta saja yang bisa membuatku merasa tak berdaya seperti ini." Yukkie menambahkan. "Ya.. Ya.. baiklah. Lalu dimana masalahnya?" Ujar Mikha yang sejak awal sudah bisa menembak penyebab kegalauan hati Yukkie.
"Masalahnya hari ini Rain tidak datang ke kampus lagi. Ini sudah hampir satu minggu. Kau tau bagaimana rasanya bukan?" Yukkie semakin merasa sedih karena tak bisa melihat wajah tampan Rain, sang pujaan hatinya.
"Kenapa tidak pergi kerumahnya saja? kau bisa bertanya langsung kenapa Rain tidak pergi ke kampus bukan? selain itu kalian juga bisa bermesraan." Mikha memberi usulan. "Akan ku temani." Dibalik usulan tersebut, Mikha juga ingin melihat si pria idola..
Yukkie bersedekap lalu menunjukkan muka kesal, "Aku sudah pernah pergi kerumah Rain. Tapi penjaga di sana bahkan tak membiarkan aku masuk." Mengingat hal itu memang membuat hati Yukkie bertambah kesal.
"What.. are you kidding me? seorang anak walikota tidak dibiarkan masuk, apa ini nyata" Mikha sedikit tak percaya dengan kenyataan yang didengarnya, baginya hal seperti ini sangatlah lucu bisa dialami seorang Yukkie.
Pasalnya, dimanapun mereka berada, di restoran, cafe, bahkan di kampus, tak ada yang berani menolak permintaan gadis itu. Tapi sekarang, ternyata ada tempat yang tak mengijinkan gadis itu untuk berbuat sesukanya.
Tak bisa menyembunyikan rasa gelinya, Mikha pun tertawa.
"Kau pikir ini lucu?"
Ups.. "Maafkan aku princess. Hanya saja tak bisa ku bayangkan bagaimana wajah mu saat itu." Melihat tawa Mikha membuat Yukkie mendengus tak suka. "Sungguh maafkan aku, tapi ini benar-benar lucu."
"Pergilah. Aku tak suka melihat tawa bahagiamu itu, sebaiknya aku pergi dan bertanya langsung pada kak Viloen." Yukkie mengambil tas miliknya dan berniat pergi keruang kerja Viloen.
__ADS_1
"Hei.. hei.. tunggu aku. Aku boleh ikutkan?" Mikha membujuk dengan gaya khasnya. "Whatever."
Tak ingin berlama-lama Yukkie pun sudah melenggang menuju ke ruang kerja Viloen, rektor muda yang merupakan kakak dari Rain.
...VIP Room...
"Kenapa kalian ada di sini?" Wilona sedikit terkejut saat melihat keduanya yang sudah berada di ruangan Viloen.
"Kak Viloen ada ditempat? aku ingin bicara." Yukkie menyampaikan tujuannya. Saat mendengar bagaimana cara gadis itu bicara, Wilona menghela nafas panjang.
"Maaf. kak?" Wilona menajamkan suaranya. "Kau memanggil pimpinan kampus ini dengan sebutan Kak? kau serius nona..?" Ujar Wilona yang tak suka dengan attitude seorang mahasiswi yang ditunjukan oleh Yukkie.
Tapi gadis itu tak mau repot-repot untuk memperbaiki kesalahannya ataupun meminta maaf pada Wilona, "Pimpinan tidak ada ditempat. Sebaiknya kalian kembali, dan ku peringatkan, perbaiki sikap anda nona." Kecam Wilona.
"Maafkan teman saya Miss dan terima kasih." Mikha buru-buru membawa Yukkie keluar dari ruangan Viloen. Meskipun merasa sedikit kecewa karena tak bisa melihat sang idola, tapi Mikha tak sebodoh itu untuk melawan seorang dosen..
"Ada-ada saja." Wilona menggeleng pelan kepalanya. Pantas saja Viloen terus menghubungi dirinya untuk datang keruangan pria itu, ternyata untuk mengurus para gadis nakal.
"Apa mereka sudah pergi?" Viloen menjulurkan kepalanya dari balik pintu membuat Wilona yang saat itu sedikit melamun tak bisa berkata-kata.
Melihat tingkah Viloen saat ini, mengingatkan dirinya bagaimana tingkah Rain. Bahkan pria itu sudah empat kali bolos dari kelas wajib yang Wilona ajarkan. Benar-benar menyebalkan!
"Cih.. Kalian sama-sama menyebalkan." Ujar Wilona yang langsung pergi meninggalkan ruang kerja Viloen..
"Hei.. miss Wilo.. terimakasih.." Seru Viloen setengah suara..
...ANOTHER PLACE...
...MENSION DE LUNE...
Philip melihat ke monitor dan mendapati sebuah mobil terparkir tepat di depan pagar yang tertutup. Tak lama kemudian, ternyata Rain lah yang keluar dari dalam mobil tersebut. "Tuan muda." sapa Philip yang baru saja membukakan pintu.
"Daddy sudah pergi?" Rain melemparkan kunci ditangannya ke atas meja, "Sudah tuan, begitu juga dengan tuan Viloen." ujar Philip.
"Baiklah. Philip, tolong bawa mobil yang ada di depan dan pergilah ke bengkel milik keluarga Aston. Setelah selesai kembalikan ke alamat ini." Rain meninggalkan catatan di sana.
"Baik tuan."
Setelah Rain naik ke kamarnya, Philip langsung menghubungi Viloen. "Tuan muda Rain baru saja kembali ke rumah." lapor Philip. Setelah menghubungi Viloen, Philip langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh Rain.
__ADS_1
Tak lama setelah kepergian Philip, Viloen juga sudah tiba dirumah. Sudah satu minggu lamanya Rain menghindar, dan selama itu juga Viloen selalu membuat alasan agar Rain tidak diketahui oleh ayah mereka. Dan sekarang, giliran Viloen lah yang ingin menuntut penjelasan dari adik bungsunya itu.
"Rain kau tidur?" Viloen masuk ke kamar Rain dan melihat adiknya sedang berbaring di atas ranjang. "Ada apa kak? rasanya Philip baru saja mengatakan jika kakak tidak ada dirumah, kenapa sekarang ada di kamarku?" Rain bicara sambil tertelungkup menutupi wajahnya.
Ia bahkan tak ingin repot-repot memperbaiki posisinya, untuk bicara pada Viloen. "Rain, ada apa dengan mu? apa kau ada masalah lain? dengan kekasihmu?" Seperti biasa Viloen akan mencecar Rain dengan begitu banyak pertanyaan.
Rain tak menjawab. Viloen masuk ke dalam kamar dan bersandar di tepi pintu. "Bicaralah padaku Rain. Apa kau punya masalah dengan kekasihmu?" Viloen mengulang pertanyaannya.
"Apa kalian sedang bertengkar? atau jangan-jangan..?" Viloen mengurungkan sejenak pertanyaan yang sudah berada diujung lidahnya itu.
"Ya. Kami sedang bertengkar. Kakak puas?" Rain menjawab dengan sebenarnya. Viloen menganggukkan kepala samar.
"Apa ini masalah yang bersifat pribadi Rain? kau bukannya akan memiliki seorang baby kan? ya maksudnya meskipun benar sekalipun setidaknya kau..." Viloen benar-benar merasa cemas melihat adiknya.
"Apa kakak sedang bermimpi?" Rain memberengut tak suka mendengar kekhawatiran kakaknya yang sedikit berlebihan, ditambah lagi kondisinya yang masih dalam keadaan setengah sadar.
"Bayi..? apa-apaan itu.. mungkin maksud kakak Daddy yang akan segera memiliki bayi.'' Rain terdengar tak suka saat menyanggah perkataan Viloen.
"Rain.."
"Pergilah kak. Aku hanya ingin beristirahat." Pinta Rain yang kembali berbaring menyembunyikan wajahnya. "Baiklah. Kalau memang kau baik-baik saja, itu bagus. Kakak hanya mau bilang, senang melihat mu pulang dik.."
Viloen hanya bisa mengelus dada setelah meninggalkan kamar Rain. Sebelumnya, meskipun Rain marah, ia tak pernah sampai bersikap seperti ini pada Viloen.
Inilah yang Viloen cemaskan. Viloen tak suka saat mendapati ikatan kekeluargaan mereka merenggang hanya karena suatu hal yang tidak seharusnya..
...one massage...
...MERA...
..."Aku ingin kita bertemu. Luangkan waktu mu untukku."...
Rain melempar jauh ponselnya. Setelah waktu yang cukup lama, Mera baru mencarinya. Apa wanita itu baru ingat jika ia telah menyakiti hati seseorang?
Ah, atau jangan-jangan Mera hanya ingin mengatakan agar mereka jangan sampai bertemu lagi? Cih..
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...