SPELL

SPELL
SPELL 44


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Suara musik yang mendayu lembut dan terkesan romantis. Dekorasi mewah, hidangan lezat, hingga orang-orang penting sebagai tamu undangan terlihat begitu ramai memenuhi ballroom kapal pesiar, tempat dimana pernikahan Travis dan Mera di laksanakan.


Sebagai dua insan yang kini telah resmi menjadi pasangan suami istri, keduanya nampak memukau di depan umum.


Kedua mempelai yang kini sedang berbincang dengan para tamu seraya memamerkan senyum penuh kebahagiaan pada semua orang membuat banyak orang merasa iri.


Keduanya juga mendapatkan begitu banyak ucapan selamat atas pernikahan mereka. Lihatlah, senyum bahagia itu begitu menyilaukan, sampai-sampai menyakitkan mata.


Awalnya Seir mengira jika pernikahan yang Rain maksud akan di laksanakan di Villa milik keluarga Rain seperti yang Seir bayangkan, tapi ternyata tidaklah demikian.


Dan parahnya lagi pesta Pernikahan tersebut akan dilangsungkan selama empat hari lamanya.


Perut Seir mulai bergejolak. Memikirkan dirinya akan berada di tengah kerumunan banyak orang untuk waktu yang cukup lama membuat kepalanya mulai berdenyut.


Kalau saja Rain menceritakan detail acaranya, mungkin Seir akan memikirkan kembali untuk mengatakan, oke pada kekasihnya itu.


Ah, yang benar saja! Baru hari pertama saja aku sudah merasa seperti ini. Bagaimana dengan tiga hari lainnya, apakah aku bisa bertahan?


"Bae, kau kenapa? mau ku ambilkan minuman wajah mu terlihat pucat sekali." Rain memeluk pinggang Seir dan menuntun kekasihnya untuk pergi ke salah satu meja yang sudah di sediakan bagi para tamu undangan.


"Aku baik-baik saja Rain, hanya sedikit sesak." Seir tersenyum samar, "Kau tau, aku selalu merasa tak nyaman saat berada di tengah keramaian seperti ini."


Suasana itu benar-benar membuat Seir berkeringat dingin dan juga mual. Ia sendiri tak tahu apa penyebabnya, mungkin kah ia mabuk laut? yang benar saja!


"Maafkan aku Rain. Seharusnya kamu bisa menikmati pesta dengan lebih baik jika aku tak ikut ke pesta ini." Seir merasa tak enak hati pada Rain.


Rain melonggarkan dasinya, dan memeriksa keadaan Seir sekali lagi, "Kau mau kita pergi keatas saja, hem? mungkin kau akan merasa lebih baik di sana." usul Rain.


Karena sejujurnya Rain pun merasa sesak. Sudah cukup ia memamerkan senyuman palsunya pada orang-orang yang ia temui, bahkan untuk sekarang wajah Rain sudah terasa kaku.


Bukannya ia tak bisa merasa bahagia untuk Daddy nya serta Mera, hanya saja pernikahan ini terlalu cepat bagi Rain.


Hatinya masih belum siap sepenuhnya, karena menikahi Mera adalah salah satu mimpi Rain yang telah hancur. Rasanya, kenyataan itu masih terlalu cepat untuk di paksakan bagi dirinya.


Benar. Rain akan menerima semua kenyataan bahwa ia tak bisa memiliki Mera. Bahwa perasaan nya hanyalah cinta tak berbalas, dan bahkan ia merelakan Mera bahagia bersama Daddy nya.


Rain akan menerima semua itu. Karena sekarang ia telah memiliki Seir, dan itu terasa jauh lebih berarti bagi Rain, hanya saja, bagaimana bisa ia menjelaskan semua perasaan ini?


Ia hanya belum siap. Itu saja. Bukan karena Rain masih mencintai Mera, tapi.. karena semua kebahagiaan yang ia lihat sekarang, dulu adalah mimpinya..


"Hem, aku rasa itu jauh lebih baik. Aku benar-benar merasa tak nyaman di sini Rain."


Seir tidak hanya ingin menghindari para tamu undangan, tapi ia juga ingin menghindari tatapan bermusuhan dari Yukkie dan juga tatapan lainnya yang membuat perasaannya Seir kian lama semakin tak nyaman.


"Baiklah, ayo Bae."


Saat tiba di atas, Seir dan Rain langsung di sambut tiupan angin yang sepoi-sepoi bahkan nyaris terlalu kencang, tapi itu terasa seratus kali lebih baik dari pada berada di dalam sana.


"Rasanya benar-benar lega. Aku merasa hidup kembali" Seir tersenyum lega, begitu juga dengan Rain.

__ADS_1


"Kau tidak kedinginan Bae?" Rain memeluk Seir dari belakang hingga punggung Seir mulai terasa hangat. Salahnya karena hanya mengenakan gaun tanpa mantel. Tapi untunglah ada Rain bersamanya.


"Sekarang sudah tidak lagi." ucap Seir. Perasaan nya benar-benar menjadi jauh lebih baik saat tak ada orang di sekitar mereka.


Saat ini hanya ada dirinya dan Rain. Meskipun terlihat seperti orang yang melarikan diri, tapi itu lebih baik dari pada Seir harus melihat sesuatu yang tak ingin dilihatnya.


Pemandangan langit malam yang bertabur bintang di tengah lautan luas benar-benar pemandangan yang menakjubkan.


"Rain, bolehkah aku bertanya?"


"Hem, kau bisa menanyakan apa saja Bae?" Rain mencium pipi Seir dan sesekali mencium dalam pundak Seir yang terbuka.


"Apa kau menyesali masalalu mu? maksud ku antara kamu dan Mera? tidakkah semuanya masih terlalu berat untuk mu sekarang?"


Ulu hati Rain terasa sesak. Apakah sejak tadi Seir memperhatikan dirinya? apakah begitu mudah terlihat?


"Bae.."


"Rain, kau bisa mengatakan isi hatimu padaku. Aku juga ingin tahu apa yang kau rasakan saat ini. Aku tahu mungkin ini tak mudah untuk mu, tapi aku ingin mendengar perasaan mu yang sesungguhnya."


Tebakan Rain memang benar. Sejak awal mereka berada di sana Seir sudah memperhatikan Rain.


Meskipun Rain terlihat tersenyum, dan bahkan mengucapkan kata-kata bahagia bagi orang tuanya, tapi Seir bisa merasakan jika semua itu bukanlah sesuatu yang tulus.


Rain masih memikirkan Mera dan juga masih memiliki perasaan pada wanita itu, rasanya Seir bisa mengerti jika melihat tatapan Rain yang seperti kehilangan sesuatu dalam dirinya.


Seir hanya ingin tau apa yang Rain rasakan. Itu saja..


"Bae.. maafkan aku. Apa aku terlihat begitu di matamu? sepertinya aku memang tak bisa menyembunyikan apapun dari kekasihku." Rain mencium dalam bahu Seir.


"Saat ini mungkin aku hanya sedang bingung, tapi aku yakinkan, bahwa sekarang, aku tak memiliki perasaan apapun untuk Mera."


"Aku hanya mencintaimu. Dan kau sudah cukup untuk ku, bahkan jauh lebih dari cukup. Aku mencintaimu Bae." Rain mengeratkan pelukannya.


"Apa aku terdengar seperti perayu yang buruk?" Rain tersenyum kecil. Seir menggeleng pelan.


Bagi Seir mendengarkan isi hati Rain yang sesungguhnya merupakan satu hal yang sangat ia nantikan.


Seir ingin tahu apakah Rain benar-benar tulus padanya, ataukah ia ada hanya sebagai seorang pengganti..


"Terimakasih sudah mengatakan semua itu padaku Rain. Aku cukup lega mendengarnya, dan yah, kau memang seperti seorang perayu yang sedang kepayahan." Seir tertawa senang.


"Heis.. itu artinya, aku harus memberikan cinta yang lebih banyak untuk mu Bae. Mungkin lebih banyak dari bintang-bintang diatas sana. Apa itu cukup?"


"Ku rasa tidak." Sahut Seir.


"Baiklah, kalau begitu sebanyak jumlah bintang di langit dan ikan-ikan di laut. Aku akan mencintaimu sebanyak itu."


"Kau konyol sekali."


"Aku tidak bercanda Bae. Aku akan mencintaimu sebanyak itu. Sungguh. Kau harus percaya padaku." Rain meyakinkan Seir dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah. Aku akan percaya itu."


"Kau memang harus percaya padaku Bae. Karena aku tak pernah main-main saat mengatakan aku mencintaimu. Aku sungguh-sungguh."

__ADS_1


...❄️...


Tok.. Tok...


Suara pintu kamar Seir diketuk dengan cukup nyaring, membuat tidurnya yang tadinya nyaman mulai terganggu.


"Bae, bangunlah.. kita harus sarapan bersama." samar-samar Seir bisa mendengar suara Rain dari luar sana. Itu kekasihnya. Seir tidak sedang bermimpi.


"Ah.. jam berapa ini?" kepalanya terasa pusing. Bahkan kini hidungnya juga terasa tersumbat.


Semua itu karena semalam mereka terlalu lama berada di luar sana. Angin malam benar-benar tak baik bagi Seir. Ia tak mengira jika dirinya akan selemah ini.


"Selamat pagi Rain." Seir tersenyum saat membukakan pintu bagi Rain. "Bae.. kau baik-baik saja?" Rain meletakkan tangannya pada kening Seir. Karena kekasihnya itu terlihat lebih pucat dari sebelumnya.


Sepertinya Seir sedang demam.


Rain kembali mendorong Seir dengan lembut hingga keduanya kembali ke dalam lalu mengunci pintu.


"Sepertinya kau harus kembali beristirahat Bae. Kemari dan berbaring lah." Rain menuntun Seir kembali keatas tempat tidur dan menyelimuti nya.


"Jangan kemana-mana, berbaring saja di sini. Aku akan mengambil obat dan juga sarapan mu." perintah Rain.


"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit flu. Aku bisa bergabung bersama yang lain nanti, Jang khawatir Rain." Seir tak ingin menyusahkan Rain lagi.


Saat ini harusnya Rain berkumpul bersama keluarganya untuk merayakan pesta dan berbahagia bersama banyak orang.


Bukannya berada dikamar dan mengurus seorang gadis yang tumbang kar karena terkena angin malam. Hah.. benar-benar!


"Tidak Bae. Aku akan mengatakan pada Daddy jika kau tidak bisa bergabung, dan aku juga akan menemani mu di sini. Berbaringlah dengan nyaman, aku akan segera kembali."


Rain pergi tanpa sempat Seir cegah. Kekasihnya itu memang terlalu mudah khawatir. Membuat Seir merasa tak nyaman.


Di lantai dua, Rain bertemu dengan Viloen dan juga Wilona. Keduanya melihat Rain yang sedang bersama seorang pramusaji mendorong meja makanan dan juga obat-obatan.


"Rain, ada apa?" Viloen meneliti semua yang ada di atas meja tersebut. "Kau baik-baik saja bukan?"


"Kak, Miss Wilona." Sapa Rain. "Tidak apa-apa. Semua ini untuk Seir. Sepertinya Seir sedikit demam karena flu, aku hanya membawakan makanan dan obat-obatan ini." Sahut Rain.


"Kau butuh bantuan?" Wilona menawarkan diri. Rain tersenyum samar, "Tidak apa-apa Miss. Aku akan senang jika bisa mengurus kekasih ku sendiri."


"Sampaikan pada Daddy kami tak bisa bergabung kak, aku akan menemani Seir." pintanya.


"Baiklah Rain. Jika memerlukan apapun, katakan padaku."


"Hmm. Baiklah." Rain kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar Seir.


"Lihatlah anak kecil itu. Sepertinya dia sudah pandai mengurus orang lain." Viloen tersenyum memandangi punggung Rain yang semakin menjauh.


"Well, bukankah cinta memang bisa mengubah siapa saja." sahut Wilona yang merasa senang melihat perubahan Rain.


"Kau benar sayang. Karena Cinta orang memang bisa melakukan apa saja. Seperti aku."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2