SPELL

SPELL
SPELL-35


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Saat mobil Rain tiba di depan rumah keluarga Deep, mobil Verrel sudah terparkir di sana dengan alami. Seakan menyiratkan eksistensi pria itu dalam keluarga Seir.


Rain mengerutkan keningnya tak suka dengan kenyataan bahwa Verrel terlalu sering mengunjungi rumah Seir.


Ini bukan tentang Seir. Karena Rain tahu bahwa kekasihnya tak memiliki perasaan apapun pada sahabatnya itu, tapi sebaliknya.


"Sepertinya Verrel ada di dalam, mau masuk sebentar?" Seir tersenyum tanpa menyadari ketidaksukaan Rain terhadap hubungan pertemanan keduanya.


"Hmm.. bagaimanapun aku harus berpamitan pada Uncle." Rain masih bisa memaklumi jika saja Rain tidak tahu bahwa Verrel sangat menyukai kekasihnya.


"Ayo." Seir tersenyum manis. Dan itu saja sudah cukup membuat dada Rain berdebar-debar. Seir terlalu manis untuk dilihat banyak orang. Rasanya Rain ingin membungkus Seir dan menyimpan gadis itu dalam sakunya.


"Papa.. Verrel.." Sapa Seir yang di ikuti oleh Rain layaknya seorang pengawal. "Sayang, kalian sudah pulang?" Jhon tersenyum menyambut putrinya. Tapi Verrel justru melayangkan tatapan kesal pada Rain.


"Kalian mengerjakan tugas?" tanya Verrel dengan nada meragukan alasan Rain membawa Seir pergi sebelum nya. "Hemm.."


"Tadinya iya," Sela Rain. Tak akan ia biarkan keberadaan Verrel mengusik hubungannya dengan Seir. "Tapi setelah itu kami pergi makan malam. Tidak apa-apa kan uncle?" Rain mengabaikan Verrel dan hanya tersenyum manis pada Jhon.


"Uncle tidak masalah selama Ella menyetujuinya." Sahut Jhon bersikap netral. Lagipula persetujuan putrinya lah yang lebih penting.


"papa, Rain ingin berpamitan." ujar Seir mengingatkan; jika kekasihnya itu harus segera pulang. Rain sudah berjanji untuk bersikap baik.


"Benarkah? tak ingin duduk dulu, lagi pula.."


"Sepertinya Rain benar-benar sedang sibuk Uncle." Sela Verrel. Ia tak ingin Rain lebih lama berada di sana. Apalagi jika yang dilakukan Rain hanya ingin mengganggu waktu berduaannya dengan Seir.


"Benar Uncle. Aku harus segera pulang. Dan kau juga.." tekan Rain memperingatkan Verrel. "Kenapa aku harus pulang, yang sibukkan dirimu."


Verrel tak suka jika Rain mulai ikut campur dan selalu menginterupsi keberadaan dirinya. Rain bukan siapa-siapa. Verrel sudah mengenal Seir dan keluarganya bahkan sejak mereka masih kecil.


Rain kembali tersenyum, "Ini sudah malam kawan. Uncle lelah, dan Seir juga. Kami mengerjakan tugas yang cukup menguras tenaga beberapa jam sebelumnya."


Rain menunjukkan wajah penuh pengertian pada dua sosok yang saat ini tengah menatap bergantian pada mereka.


"Ella..?"


"Hmm, Rain benar.." Seir meregangkan kedua tangan dan juga bahunya. Nice.. Rain tersenyum senang karena Seir bisa mengerti maksud hatinya. Kekasihnya memang pintar karena cepat membaca situasi.


"Aku ingin segera beristirahat Rell. Kamu bisa lebih lama di sini jika Papa bersedia menemanimu berbincang."


Jhon mengernyitkan sedikit dahinya setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut putrinya. Kenapa harus dirinya yang dilibatkan dalam perdebatan kedua pemuda itu.


"Benarkah? Baiklah. Kalau begitu aku juga akan pulang saja Uncle. Kamu juga cepatlah beristirahat Ell.." ujar Verrel dengan senyum kecewanya.


Jhon tersenyum samar pada kedua pemuda itu. "Baiklah Son.. berhati-hatilah saat kalian kembali." Hanya Jhon yang mengantar keduanya. Seir sudah lebih dulu berbalik dan pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Meskipun Rain sedikit kecewa karena tak bisa menatap Seir sebelum pulang, tapi ada baiknya juga, karena ia bisa langsung bicara pada Verrel.


"Hei.. Aku harus mengatakan sesuatu padamu Rell." Ujar Rain menghentikan Verrel yang lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.


"Kita sudah lama bersahabat, dan aku tak ingin menyembunyikan apapun darimu."


"Tapi sebelum itu, aku ingin minta maaf padamu. Meskipun selama ini aku tahu perasaan mu pada Seir, tapi perasaanku untuknya juga sama. Aku juga menyukai Seir." Rain tak ingin menyembunyikan kenyataan yang mungkin saja sudah Verrel ketahui.


"Lalu?" Verrel memasang ekspresi tak peduli, tapi dalam hatinya ia benar-benar merasa kecewa pada Rain. Bagaimana bisa sahabatnya itu menyukai gadis yang sama dengan dirinya. Rain bagaikan duri dalam daging.


"Aku tak merencanakan semua ini Rell. Perasaan ku pada Seir memang tulus. Aku hanya ingin kau mengetahui itu." Rain berharap hubungan pertemanan mereka tak akan berkahir karena hal ini.


Verrel tersenyum sinis. "Seir memang luar biasa. Dan itu tak bisa ku sembunyikan. Aku mengenalnya sejak kami masih kecil. Dan kau tau, perasaan ku juga tak akan berubah sedikitpun untuk nya."


Rain menghela nafas mengerti dengan apa yang Verrel rasakan saat ini. Rain bisa melihat luka itu di mata Verrel. Apa yang Rain lakukan saat ini, sama seperti yang Mera lakukan pada dirinya. Dan rasanya, pasti sama.


"Aku sungguh minta maaf Rell.. aku tahu aku sudah bersikap jahat padamu, karena merebut Seir darimu.. tapi Seir juga.."


"Biarkan Seir memutuskan. Aku akan menyatakan perasaan ku padanya." Sela Verrel. Sejak awal ia memang sudah bisa membayangkan jika saat seperti ini akan datang padanya.


Tapi bagaimana dengan Rain? ia tak berniat menyembunyikan apapun dan nantinya akan membuat Verrel semakin terluka. Rain tahu bahwa ini memang salahnya karena menyukai gadis yang ternyata adalah gadis yang juga di cintai oleh sahabatnya, tapi bagaimanapun ia menolak, Rain tak bisa mengabaikan perasaannya begitu saja.


Dan tentang hubungan nya dengan Seir, Rain juga tak ingin menyembunyikan semuanya dari Verrel.


"Maafkan aku karena harus mengatakan hal ini Rell, kami sudah resmi berpacaran, aku dan Seir, Jadi.."


"Apa kau bahagia?" Verrel menatap Rain dengan penuh kekecewaan. Bahkan kini ia tak memiliki kesempatan untuk dirinya sendiri.


Sorot mata Verrel benar-benar mengingatkan Rain pada dirinya malam itu.. terluka dan kecewa.


"Kau tau Rain, kau dan Mera sama saja.. "


"Rell, aku tak bermaksud.. aku sungguh minta maaf. Aku mencintai Seir, sama seperti dirimu. Dan Seir juga mencintai aku."


...❄️❄️...


...Massage mode On...


"Sayang. Aku sudah ada di depan rumah mu." -Send.


"Baiklah, kau bisa menunggu sebentar kan? aku sedang membuat sarapan Papa." -Send.


"Baiklah." -Send


...Massage mode Off...


"Papa, sarapan mu sudah siap. Aku akan pergi sekarang." seru Seir dari arah pantry. Sementara Jhon sedang membaca majalah di pinggir kolam renang.


"Baiklah sayang. Terimakasih." sahutnya.


Seir nampak bahagia. Dan itu cukup membuat Jhon lega. Putrinya terlihat begitu hidup dan bersemangat. Hal ini benar-benar membahagiakan bagi Jhon.

__ADS_1


"Hai, kau menunggu lama?" Seir tersenyum saat menatap Rain dengan mata cemerlang nya.


"Tidak. Selama apapun aku bisa menunggu." Rain membukakan pintu mobil lalu menyusul setelahnya.


"Bae.. aku akan memanggilmu seperti itu. Aku suka kata-kata yang menyatakan teritorial ku atas dirimu." Rain mengecup pipi Seir.


"Tolonglah jangan merayu di pagi hari seperti ini. Kau membuatku malu." Seir belum terbiasa dengan sikap manis Rain. Membuat wajahnya selalu merona.


"Apa, kenapa? Apa aku harus merayu mu di malam hari? kau tau itu akan lebih berbahaya Bae.."


"Ya.. Ya.. lakukan saja sesuka mu." Saat ini Seir tak ingin berdebat dengan Rain. Pria itu punya sejuta kata manis yang siap di lontarkan jika Seir tak bersikap hati-hati.


Ah... aku benar-benar takut terkena diabetes..!


...❄️...


"Bergeser lah sedikit Rain, jangan terlalu dekat dengan ku. Kau lihat tatapan mereka?" Seir mulai merasa tak nyaman saat keduanya keluar dari lift yang di khususkan untuk para dosen dan juga para tamu penting di De Lune Exas.


Jika Rain seorang diri, mungkin bukanlah sesuatu hal aneh. Tapi sekarang, karena mereka bersama, mungkin itulah yang membangkitkan rasa penasaran orang-orang di sekitar mereka.


"Aku tidak peduli. Kalau mereka tak suka, aku akan mengeluarkan mereka semua dari kampus ini." ujar Rain, menggenggam erat tangan Seir.


"Kau akan melakukan itu?" Bukan Seir tidak tahu jika Rain memiliki kekuasaan di sana, hanya saja mengeluarkan orang-orang yang menentang hubungan mereka, bukankah sangat berlebihan?


Lagipula kebanyakan dari mereka adalah fans girl dari kekasihnya..


"Kau meragukan aku?" Rain menghentikan langkahnya membuat Seir juga menghentikan langkahnya.


"Aku serius Bae.." Suara Rain terdengar lantang. "Aku tak ingin menyembunyikan hubungan kita. Kau kekasihku, dan aku tak ingin kau malu untuk mengakui ku sebagai kekasihmu?"


"Aku?" bukan itu yang Seir pikirkan.. "Aku tak malu, hanya saja.."


"Karena itu, ku mohon jangan sembunyikan apapun dari ku Bae. Termasuk jika ada yang menganggu mu. Akan ku pastikan mereka menghilang dari kampus ini."


Rain sengaja membuat suaranya bisa di dengar.. Ia tak suka jika kejadian sebelumnya terulang lagi..


Rain tak bisa memaafkan siapapun yang berpotensi menyakiti Seir, tidak terkecuali siapapun. Dan Seir harus percaya pada dirinya.


Rain ingin menjadi kekasih yang bisa di andalkan. Terutama jika hal-hal itu menyangkut Seir..


"Hem.. Baiklah. Aku akan mengatakan padamu. Meskipun, sejujurnya.." Seir mendekati Rain dan berbisik pada pria itu, "Kau pasti tak ingin melihat bagaimana aku membereskan fans gila mu itu." Seir tersenyum.


"Wow... apa ini artinya, akulah yang harus mencemaskan sesuatu?"


"Tidak. Kau tidak harus.."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2