
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...Massage mode On...
Rain: "Kau dimana?"
Seir: "Di kelas."
Rain: "Mata kuliah apa?"
Seir: "Bukan urusan mu!"
...Massage mode off...
Rain tersenyum saat mendapati balasan yang bernada sinis dari Seir. Sejak pertemuan terakhir mereka, Seir selalu bersikap seperti ini pada Rain, dingin dan tak tertarik dengan apapun yang Rain lakukan.
Padahal rasanya mereka bisa saja menjadi sekedar teman..
Rain sendiri pun heran dengan apa yang dilakukan dirinya. Jelas ia tahu siapa Seir. Gadis itu hanyalah orang biasa. Seorang asisten rumah tangga yang kebetulan bersekolah ditempat yang sama dengan dirinya.
Tapi entah kenapa, Rain selalu merasa tertarik dengan sikap dingin yang selalu Seir tunjukkan. Seolah gadis itu memiliki sesuatu yang membuat Rain tak bisa mengabaikan nya begitu saja.
Dengan status nya, Seir sangatlah angkuh dan memiliki harga diri yang tinggi. Itulah yang membuat Seir berbeda.
Gadis itu juga tak memiliki banyak ekspresi saat berhadapan dengan Rain. Kenyataan yang membuat Rain sedikit terkejut. Benar-benar membuat penasaran.
"Kau pikir bisa mengabaikan ku seperti ini? dasar arogan!" Rain tersenyum samar saat mematikan layar ponselnya.
Setelah menyimpan benda pipih itu, Rain juga mengumpulkan semua buku dan memasukannya ke dalam ransel kemudian beranjak pergi dari tempat ternyaman nya.
"Mau kemana?" tanya Verrel yang saat itu baru saja tiba setelah menyelesaikan kelas pertamanya. "Ada tugas kelompok." Rain tersenyum sambil menunjukkan partitur yang ada ditangannya.
"Baiklah. Sampai nanti."
Verrel tak mau ambil pusing dengan sikap Rain yang mudah berubah-ubah. Sepertinya, saat ini sahabatnya itu sedang dalam mood untuk serius menjalani study. Itu bagus. Setidaknya Rain tidak akan bersikap menyebalkan.
Di depan ruang kelas sastra, Rain berdiri memperhatikan Seir yang sejak tadi tengah serius mengerjakan sesuatu. Gadis itu seperti berada di dalam dunianya sendiri. Tak terpengaruh terhadap keributan serta gangguan dari orang-orang di sekitarnya.
"Yukkie, bukankah pria yang berdiri di sana dengan penampilan menakjubkan itu adalah Rain?" Mikha menyenggol tangan Yukkie untuk mengarahkan gadis itu pada apa yang dilihatnya.
Mendengar nama pujaan hatinya, wajah Yukkie langsung berbinar. Ia mengedarkan pandangan dan mendapati sosok Rain yang selalu terlihat tampan. "Kau benar. Itu Rain. Sedang apa di sana? apa hari ini ada kelas sastra?"
__ADS_1
"Entahlah. Tanyakan saja sendiri." usul Mikha yang kemudian membuat kedua gadis itu bergegas untuk menghampiri Rain, tapi pria itu lebih dulu masuk ke dalam kelas.
"Aku menemukan mu." Rain menarik kursi hingga keduanya jadi duduk berhadapan. Seir menghentikan pekerjaannya sesaat dan melayangkan tatapan kesal pada sosok yang tiba-tiba saja menginterupsi pekerjaannya.
Yah, setidaknya Rain sudah bisa menebak bagaimana reaksi yang akan Seir tunjukkan saat melihat dirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara sinis Seir menunjukkan bahwa saat ini ia benar-benar merasa keberatan atas keberadaan Rain. Ditambah lagi orang-orang yang menatap heran pada mereka. Sialan.
Seir kembali melanjutkan pekerjaannya mencoba untuk mengabaikan keberadaan Rain yang dirasa mengganggu.
"Mencari mu, tentu saja." Rain tersenyum samar, kemudian mengambil sesuatu dari dalam ranselnya. Sementara pria itu terus memperhatikan Seir yang bersikap acuh, seisi kelas mulai heboh bergunjing tentang Rain, terlebih karena pria itu menghampiri Seir disaat seperti ini.
"Jika tak ada yang ingin kau katakan, sebaiknya kau pergi. Kau mengganggu pekerjaan ku." Seir bersuara cukup nyaring karena risih mendengar orang-orang yang berbisik tentang dirinya.
Rain tersenyum karena menyadari situasi yang membuat Seir terlihat tak nyaman. "Baiklah. Aku hanya ingin memberikan ini."
Partitur yang tadi Rain bawa diletakan di atas meja Seir. "Aku sudah mengerjakan bagian ku. Dan ku rasa kita perlu latihan seperti yang kau katakan."
Seir mengerut kening sesaat, lalu membuka partitur yang Rain berikan. Isinya sedikit diluar ekspektasi. Seir kira Rain hanya akan mengerjakan bagiannya seperlunya saja, tapi ternyata pekerjaan pria itu cukup mengesankan.
"Baiklah. Kirimkan alamatnya padaku. Aku akan menemui mu ditempat latihan." ujar Seir memutuskan.
"Rain, kau di sini..?" suara yang menginterupsi langsung membuat raut wajah Rain berubah seketika. Yukkie dan Mikha sudah berdiri tepat disebelah Rain. Membuat pria itu memutar matanya jengah.
"Siapa gadis ini? kau baru di sini? aku belum pernah melihat mu." dengan suara arogannya Yukkie memberikan tatapan tak suka pada Seir.
Keberadaan mereka saja sudah cukup membuat masalah bagi Seir, apalagi jika ia benar-benar terlibat sesuatu dengan mereka.
"Jangan mengganggunya." Rain memperingatkan Yukkie dengan nada serius. Membuat Yukkie sedikit bergeming. "Aku punya tugas yang sama dengannya, karena itulah aku ke sini."
Rain bingung kenapa ia harus menjelaskan hal seperti ini pada Yukkie. Padahal jelas bahwa mereka tak memiliki hubungan apapun.
Tapi Rain merasa tak nyaman jika harus menimbulkan masalah bagi Seir, terlebih lagi karena Rain mengenal bagaimana sifat Yukkie..
"Benarkah? Syukurlah.. aku kira.."
"Pergilah." pinta Rain lagi. "Jangan membuat masalah." Rain melewati Yukkie. Pria itu terlihat terburu-buru, bahkan tak mengatakan apapun pada Seir. Yukkie yang tak tahu apa maksud Rain hanya bisa diam. "Apa itu tadi sebuah perhatian?" Yukkie tersenyum senang.
"Rain, sayang tunggu aku." Yukkie buru-buru mengejar Rain begitu juga dengan Mikha.
Setelah ketiganya pergi, barulah Seir bisa bernafas lega. Tapi tak lama setelahnya ia kembali menghela nafas saat Febby menghampirinya untuk memberikan tatapan yang sama anehnya..
"Ada apa?" tanya Seir yang merasa tak nyaman diberi tatapan seperti itu oleh Febby. "Ada apa dengan pemandangan barusan?" tanyanya yang juga ikut penasaran melihat Rain dan Yukkie keluar bersamaan dari kelas mereka.
"Tidak ada apa-apa. Dan aku tidak ada sangkut pautnya, jika kau ingin tahu ada apa dengan sepasang kekasih itu." Sahut Seir acuh seperti biasa.
__ADS_1
Febby meragukan perkataan Seir, tapi setelahnya ia tetap mengangguk. "Ya.. Ya baiklah." turutnya. 'Kalau begitu, apa boleh aku berkunjung ke rumah mu akhir pekan nanti..?"
Seir mengernyit karena permintaan yang tiba-tiba dari Febby. Jelas sekali bahwa gadis itu tengah mengalihkan pembicaraan, tapi meminta untuk datang dan berkunjung tentu saja membuat Seir sedikit terkejut.
"Kenapa kau ingin pergi kerumah ku?" Seir memberikan tatapan curiga pada Febby. "Hanya ingin main saja. Apa tidak boleh?"
Seir tidak tahu maksudnya dengan main yang Febby katakan. Karena selama ini satu-satunya teman yang diperbolehkan untuk datang kerumah Seir hanyalah Verrel.
Dan bagaimana jika Febby bertemu Verrel dirumahnya? bukankah itu akan menjadi masalah? terlebih lagi karena Febby adalah salah satu dari sekian banyak gadis yang mengidolakan sahabatnya.
Tidak.. tidak . Hal seperti itu, tentu saja tidak boleh terjadi.
"Akan ku tanyakan pada papa." sahut Seir singkat. "Baiklah. Akan ku tunggu." Febby tersenyum saat mendengar jawaban Seir.
Seir memutar matanya heran, "Kenapa kau harus menunggu?"
"Kenapa kau bertanya begitu, bukankah berkunjung ke rumah teman diakhir pekan sangat menyenangkan?"
"Aku rasa tidak begitu."
"Kau ini. Pokoknya aku ingin datang kerumah mu."
"Entahlah. Kita lihat saja nanti!"
...❄️...
...DE LUNE MENSION...
Travis baru saja pulang dari kantor, dan selama ini satu-satunya putra yang sering ia temui hanyalah putra sulungnya. "Viloen, dimana adikmu?"
"Rain ada di kamarnya Dad. Sepertinya sedang mengerjakan tugas." sahut Viloen dengan sebenarnya.
Travis mengangguk samar, lalu kembali bersuara, "Apa akhir-akhir ini adikmu membuat masalah?"
Viloen tau apa yang Daddynya khawatirkan, tapi untunglah karena akhir-akhir ini Rain sudah tidak membuat masalah seperti sebelumnya.
"Tidak Dad, semuanya baik-baik saja. Rain bersikap baik." Viloen tersenyum lembut saat mengingat hari-harinya yang mulai kembali damai.
"Baguslah kalau begitu. Katakan pada adikmu untuk makan malam bersama. Sudah lama kita tidak berkumpul untuk makan malam."
"Baiklah Dad. Akan ku sampaikan pada Rain."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...