
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Melihat tatapan Mera yang penuh dengan pertanyaan membuat Rain semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Seir.
Seperti tak menyadari perbuatannya, Seir bahkan sempat meringis karena perbuatan Rain.
"Rain, lepaskan tangan Ella. Kau menyakitinya." Verrel menarik tangan Seir yang kini jadi kemerahan lengkap dengan cap tangan Rain di kulitnya yang putih pucat.
Rain yang seakan baru menyadari perbuatannya itupun langsung mengalihkan perhatiannya pada Seir. Gadis itu sedang meringis kesakitan..
"Rell, aku ingin pergi sekarang." pinta Seir. Ia merasa malu sekaligus marah terhadap Rain. "Hem, ayo kita pulang." setuju Verrel.
Verrel juga tak ingin berada ditempat itu lebih lama lagi jika akibatnya akan merugikan Seir seperti ini.
"Mera, maafkan kami karena membuat sedikit kekacauan di pestamu. Kami permisi." setelah itu Verrel dan Seir pun langsung meninggalkan pesta.
"Rain ada apa ini?" Viloen dan Bruro sama-sama menghampiri ketiganya begitu menyadari ada sedikit keributan di tempat Rain berada.
Sementara Rain masih tak bergeming. Ia hanya menatap marah pada Seir yang meninggalkan dirinya bersama dengan Verrel.
Lagi-lagi pria itu. Apa Seir memang lebih memilih untuk bersama Verrel dari pada dirinya..? padahal Rain sudah begitu jelas mengungkapkan keinginan hatinya pada Seir..
Tapi lihatlah gadis itu..
"Nona Mera, maafkan Rain atas keributan ini. Kami akan membawanya pergi." ujar Viloen mengambil alih.
"Hem, baiklah." Mera tak bisa melakukan apapun saat ini. Yang terjadi sebelumnya pada Rain, dan gadis itu, bukanlah urusan Mera. Ia tak berhak ikut campur sedikitpun.
"Rain ayo kita pulang. Jangan membuat kekacauan di sini." Peringat Viloen. Rain pun pergi bersama dengan kakak sekaligus sahabatnya Bruro.
"Ada apa Rain, kau tidak seperti dirimu. Apa kau tidak lihat bagaimana semua tamu undangan memperhatikan dirimu tadi?" Viloen benar-benar tak mengerti mengapa Rain selalu saja kehilangan kendali atas dirinya. Padahal sebelumnya Rain begitu manis..
Mau sampai kapan adiknya terus bersikap seperti ini?
"Aku tidak bermaksud membuat kekacauan di sana kak. Hanya saja sesuatu mengusik ku dan membuatku sangat marah." ujar Rain menjelaskan secara garis besar pada kakaknya.
Viloen menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan cepat.. "Rain, kakak tau kau sedang mengalami hal berat, tapi setidaknya tolong kendalikan dirimu. Tak bisakah kau melupakan Mera dan.."
"Aku tidak ingin membahas wanita itu kak." sela Rain yang tak ingin mendengar apapun tentang Mera. Saat ini kepala Rain hanya di penuhi oleh satu orang, yaitu Seir.
Kemarahan dan kekacauan tadi tak ada hubungannya dengan Mera.. bahkan Rain tak berniat melakukan selama pesta berlangsung jika saja ia tak melihat Seir di sana..
Jika sudah begini, maka Viloen hanya bisa mengelus dada. Adiknya memang keras kepala, tapi ia juga tak bisa menyalahkan Rain sepenuhnya.
__ADS_1
"Baiklah. Sebaiknya kita pulang dan berharap Daddy tidak akan membahas sikapmu di pesta tadi. Dan kalaupun Daddy melakukan itu, aku harap kau bisa menahan dirimu Rain. Hal ini tidak akan baik bagi kita semua jika terus berlanjut dengan tempramen mu yang kacau."
Rain tidak menjawab. Ia hanya memfokuskan perhatiannya ke jalanan yang sedang mereka lewati.
Apakah sekarang Seir sudah tiba dirumah? apakah Verrel mengambil kesempatan atas apa yang terjadi barusan? apakah setelah ini hubungan mereka akan semakin menjauh?
Rain mendesah cemas..
Semua pertanyaan tanpa jawaban itu telah memenuhi isi kepala Rain. Ia benar-benar tak mengerti dengan sikap Seir tadi.
Seolah-olah gadis itu memiliki kebencian pada dirinya. Seir kembali menyiratkan bahwa ia tak ingin menjadi lebih dekat dengan Rain... sama seperti awal mereka saling mengenal. Seir kembali membangun tembok tak kasat mata itu lagi.
Tembak sialan. Rain bersumpah akan menghancurkan tembok itu sampai tak bersisa.
Sementara itu, Verrel dan Seir juga baru saja tiba dirumah..
"Rell, aku akan langsung naik ke kamarku. Terimakasih sudah membawa ku pulang, selamat malam." ujar Seir yang terlihat tak bersemangat. Seir bahkan merasa terlalu lelah untuk menjelaskan pada Verrel mengapa ia bersikap seperti tadi.
Meskipun begitu, ia menyesal karena hampir saja merusak pesta orang lain..
Saat ini Seir hanya ingin sendiri, ia harus memikirkan Semuanya dengan lebih baik.
"Baiklah. Good night Ella.."
...❄️...
"Mom, dimana Ella?" tanya Verrel yang tak melihat keberadaan Seir dirumahnya.
"Ella baru saja kembali kerumahnya sayang. Uncle Jhon kembali lebih cepat, dan Ella langsung pulang pagi-pagi sekali setelah menerima telepon." jelas Mommy Verrel.
"Ah.. benarkah?"
Melihat wajah kecewa putranya, mommy Verrel hanya bisa tersenyum, "Kau bisa memastikannya sendiri sayang, kau bisa mengunjungi Ella dirumahnya seperti biasa." saran nyonya Rofthen.
"Kau benar mom. Aku akan mengunjungi Ella nanti."
...❄️...
"Uncle.. selamat sore..?" Sapa Rain yang sengaja menunggu di depan rumah Seir. Untuk sesaat Rain sempat ragu untuk membunyikan bell, tapi untunglah si pemilik rumah ada di sini.
"Rain.. kenapa menunggu diluar? apa kau mau bertemu Ella?" Jhon bertanya dari dalam mobilnya, pria itu hanya menurunkan sedikit kaca mobilnya.
"Benar uncle. Aku dan Seir punya tugas kelompok yang harus kami selesaikan secepatnya. Aku ingin menjemput Seir untuk pergi ke studio. Jadi.."
"Ayo masuklah.. akan ku panggilkan Ella." tawar Jhon. Dalam hitungan detik pagar itupun terbuka lebar, dan Rain mengikuti di belakang mobil Jhon.
Meskipun harus berbohong, Rain tak menyesal telah melakukan hal itu. Rain harus bertemu Seir apapun yang terjadi. Karena itulah, Rain melakukan kebohongan itu.
__ADS_1
"Ella sayang.. ada Rain di sini. Turunlah.." Panggil Jhon dari ruang tamu..
"Rain, duduk saja dimanapun kau mau. Aku akan kembali ke kamarku, Ella akan turun sebentar lagi." Jhon tak akan membatasi putrinya untuk bertemu siapapun jika alasannya adalah tugas kuliah.
Seperti sekarang, tanpa menyadari kebohongan Rain tentang tugas tersebut, Jhon mengijinkan Rain masuk ke dalam rumahnya. Ah, sungguh kebohongan yang berbahaya.
"Terimakasih Uncle."
Setelah Jhon naik ke lantai atas dan menghilang di ujung tangga, Rain hanya bisa mondar-mandir dengan gelisah ditempatnya.
Rain khawatir jika Seir menolak untuk bertemu.. padahal Rain sendiri harus menjelaskan pada Seir yang sebenar tentang Mera dan juga hubungan mereka.
Rain tak ingin Seir salah paham pada dirinya. Meskipun awalnya ia akui, bahwa ia akan memanfaatkan Seir, tapi sekarang tidak lagi. Rain benar-benar memiliki perasaan pada Seir. Dan ia bisa bersumpah untuk itu.
"Apa yang kau lakukan dirumah ku?" tanya Seir yang berdiri di ujung tangga. Melihat kehadiran Seir, Rain langsung bergegas menghampiri Seir, sementara Seir menuruni tangga satu persatu.
"Seir, ayo kita bicara. Ada yang ingin ku jelaskan padamu." pinta Rain dengan volume Suara yang rendah.
"Tadi aku berbohong pada uncle kalau kita harus menyelesaikan tugas dan..."
"Kau berbohong pada papa?" sela Seir.. Rain mengangguk.
"Sepertinya berbohong dan menipu adalah keahlian alami mu ya.. " Seir tersenyum sinis..
Deg..
"Seir aku bisa menjelaskan semuanya. Jadi ku mohon ikutlah bersama ku." Seir tak bisa menolak permintaan Rain.
Lagi pula Seir ingin mendengarkan sendiri apa yang ingin Rain jelaskan pada dirinya. Apa pria itu akan berbohong lagi?
...❄️...
Setibanya di studio, Seir hanya berdiri di depan pintu. Ia tak berniat masuk ke dalam sana dan terjebak bersama Rain.
Dengan keberadaan Rain saat ini saja pun sudah membuat perasaan Seir tak menentu, apalagi jika mereka berada di dalam sana..
Seir takut jika hatinya akan goyah karena tatapan serta bujukan Rain. Pria itu terlalu berbahaya untuk hatinya yang sedang rentan..
"Seir ayolah.. aku tau kamu marah, tapi tolong dengarkan penjelasanku. Aku janji akan mengatakan semua hal yang ingin kamu ketahui." bujuk Rain lagi.
Seir bergeming, "Termasuk hubungan mu dengan Mera dan juga alasan sebenarnya dari hubungan kita?" Seir menatap sinis pada Rain.
"Hemm.. termasuk semua itu. Aku janji. Tak akan ada kebohongan. Aku hanya akan mengatakan kebenaran padamu, Seir."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...