SPELL

SPELL
SPELL-12


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Tempat yang sarat dengan keramaian benar-benar bukanlah tempat yang nyaman bagi Seir. Ia tak suka berbaur dengan banyak orang.


Tak suka membuat percakapan basa-basi yang akan membuat dirinya menghela nafas panjang karena bosan. Dan juga tak suka saat mendapat tatapan aneh dari orang yang bahkan tak dikenalnya.


Tapi apa boleh buat, papanya bersikeras untuk memaksa Seir ikut menghadiri undangan yang didapat setelah pulang larut malam.


Dan disinilah Seir sekarang, menghadiri pesta yang sesungguhnya sangat ingin ia hindari. Pesta ulang tahun si gadis populer. Ahh, Seir akan merahasiakan hal ini.


Bisa ia bayangkan bagaimana hebohnya Febby saat mengetahui jika dirinya ada di sini.


Pesta ulang tahun Yukkie cukup meriah. Pesta yang diselenggarakan di salah satu Vila yang berada di pinggiran pantai itu, sudah dipenuhi oleh para tamu undangan.


Villa yang indah, dan juga tepat berada di balik tebing yang berseberangan dengan tempat tinggal Seir.


Meskipun sesungguhnya Seir bisa saja menghilang dengan menyelinap dari tengah-tengah kerumunan, hanya saja Seir tak ingin membuat papanya khawatir. Tapi sepertinya, tak masalah jika ia hanya menjauh dari orang-orang yang ada di sana.


Tapi dimana tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman? sialnya Seir tak tahu menahu bagaimana tata letak dari bangunan yang saat ini dipenuhi oleh suara musik, dentingan gelas, dan juga suara percakapan yang membuat kepala Seir hampir pecah.


Cukup lama Seir memperhatikan situasi di tempat itu. Para tamu undangan semakin ramai memenuhi villa. Sedangkan gadis yang berulang tahun kini tengah menjadi pusat perhatian ditengah-tengah lantai dansa.


Seir bahkan sedikit bisa mengenali orang-orang yang berada di sekitar sang bintang.. hingga pandangan Seir tertuju pada satu titik, yaitu Papanya.


Saat ini papanya tengah sibuk berbincang dengan tamu undangan lain. Memanfaatkan situasi tersebut, diam-diam Seir menyelinap dari pintu yang terbuka di sisi barat lantai dua.


Ia menaiki tangga, melewati lorong dengan jendela terbuka serta lampu-lampu dengan cahaya temaram.


Tak menemukan apapun dilantai dua, Seir memutuskan untuk naik ke lantai berikutnya, di sana ada satu lagi jendela terbuka, dangan tirai besar yang bertiup angin. Ternyata tempat itu terhubung langsung dengan roof top.


"Ah, yang benar saja." Seir mengangkat tinggi gaunnya yang terasa menganggu. Ia juga melepaskan hills dari kakinya agar tak membuat kebisingan.


Setelah keluar dari dalam ruangan yang bising dan menemukan tempat yang jauh dari keramaian, Seir menghembuskan nafas lega. Akhirnya ia bisa menghirup udara segar..


Seir memandang jauh ke depan, angin yang menerpa wajahnya benar-benar membuat perasaan Seir menjadi lebih baik.


Syukurlah ia bisa menemukan tempat ini..


...Verrel Text. "Kau dimana, tidak pergi bersama uncle? aku melihat uncle di sini, ditempat pesta."...


Seir menghela nafas saat membaca pesan yang diterimanya.


Verrel ada di sana, di tempat yang sama dengan dirinya. Tapi Seir sedang tak ingin menunjukkan diri pada Verrel.


Seir bisa membayangkan bagaimana Verrel akan membuat dirinya menjadi pusat perhatian karena dekat dengan pria itu. Salah satu pria terpopuler dikampus.


Seir tak ingin menghadapi semua masalah yang nantinya akan di timbulkan setelah malam ini. Lebih baik ia tetap bersembunyi seperti sekarang.

__ADS_1


Baru saja Seir ingin membalas pesan Verrel, ponselnya sudah lebih dulu berdering, "Hai. Aku baru saja ingin membalas pesanmu." ujar Seir saat menjawab panggilan Verrel.


"Kau tidak pergi bersama uncle?" Seir berjalan pelan menuju ke pagar pembatas yang menghadap langsung ke laut lepas.


Tubuhnya kembali diterpa angin malam yang membuat Seir sedikit bergidik. "Tidak. Kau tau aku tidak suka keramaian kan? aku dirumah. Menolak untuk ikut." bohong.


Malam ini Seir berniat akan menghindari siapa saja yang ia kenal, termasuk sahabatnya sendiri. "Benarkah? padahal aku berharap kau ada di sini." Terdengar suara kecewa yang samar dari kata-kata Varrel.


"Kau ingin aku datang ke tempatmu?"


"Tidak. Tidak usah. Aku sedang mengerjakan tugasku, kau tau kan, waktu ku sudah tak banyak." lagi, Seir mengatakan kebohongan. Semakin lama mereka bicara, akan semakin banyak kebohongan yang Seir ucapkan.


"Jangan khawatirkan aku. Kau bersenang-senang saja. Bye." Seir buru-buru menutup ponselnya. Bernafas berat, setelah mengatakan sebuah kebohongan pada Verrel. Padahal Seir sudah bertekad tak akan membohongi satu-satunya sahabat yang ia miliki sekarang.


"Aku baru tau kalau kau bisa mengerjakan tugas di sini." Suara yang tak asing terdengar dari belakang Seir. Langkah kaki Rain membuat Seir bergeming.


Dari mana pria itu? bersembunyi dibalik kegelapan? apa dia barusan menguping pembicaraan ku dengan Verrel?


Seir menatap waspada pada Rain.


Pria itu berjalan mendekat menghampiri dirinya. Rain terlihat berbeda saat mengenakan setelan formal dengan rambut yang di sisir rapi. Tidak seperti bocah acak-acakan yang beberapa waktu lalu tak sadarkan diri karena alkohol.


"Kau di sini juga?" Seir sedikit terkejut tapi setelahnya otak Seir kembali berfungsi. Tentu saja Rain akan ada di sana, secara pria itu dan si gadis yang berulang tahun adalah sepasang kekasih. Bodoh.


Sepertinya, ia bahkan tak bisa mendapatkan tempat yang benar-benar tenang selain kembali kerumah. "Sepertinya aku salah tempat." Seir memungut kembali sepatu yang tadi ia jatuhkan dan bersiap untuk pergi. Seir juga tak ingin berurusan dengan Rain.


Dengan alasan apapun, sepertinya pria itu juga membutuhkan satu-satunya tempat ternyaman di villa ini. "Kau mau pergi?" Rain kembali bersuara. Pria itu berdiri sambil mendongak ke langit.


"Sepertinya kau juga membutuhkan tempat ini. Jadi akan ku berikan padamu." Seir tak berniat memulai apapun diantara mereka, apalagi hanya untuk sekedar berbasa-basi.


Rain pria menyebalkan yang membuatnya pergi keruang penyimpanan, dan menganggap dirinya sebagai asisten rumah tangga. Seir tak akan melupakan semua itu.


Belum lagi Seir melangkah pergi, suara gelak tawa terdengar semakin jelas menuju kearah balkon yang sama dengan tempat mereka saat ini.


Dengan sigap Rain menarik tangan Seir dan membawa gadis itu bersembunyi dibalik tanaman yang memiliki penerangan paling sedikit. Pohon yang memiliki tinggi sepuluh kaki dengan daun yang cukup rimbun.


"Kenapa kita bersembunyi?" bisik Seir merasa tak nyaman saat tangan Rain memeluk tubuhnya agar mereka tak tertangkap basah. Sialnya lagi, Seir merasa tak nyaman karena gaun yang ia gunakan sedikit tipis dan terbuka.


"Kau ingin menjadi bahan gosip saat kau tiba di kampus besok pagi?" Rain juga menjawab dengan berbisik. Seir bisa merasakan nafas Rain yang hangat menerpa wajahnya.


Meskipun cahaya temaram, Seir dapat melihat dengan jelas bagaimana manik segelap malam itu menatap dirinya. Intens.


Ditambah lagi situasi di sana yang bertambah tak nyaman, saat Keduanya sama-sama memperhatikan pasangan yang juga sedang menggunakan roof top untuk melakukan hal-hal yang disenangi anak muda, bercumbu. Sialan.


Ah, Situasi macam apa ini.


Seir bertambah kesal dengan dirinya, dengan situasi dan juga dengan Rain yang tak kunjung melepaskan tangannya dari punggung Seir.


"Bukankah kau seharusnya berada di pesta? kenapa kau ada di sini?" tanya Seir lagi. Tapi kali ini ia memalingkan wajahnya agar tak merasa canggung karena memperhatikan pasangan yang sedang sibuk memadu kasih.


"Mungkin alasan yang sama dengan dirimu. Pestanya membosankan." gumam Rain. Seir tersenyum samar. Bagaimana bisa pria ini mengabaikan kekasihnya yang bahkan belum meniup lilin ulang tahun.

__ADS_1


"Kau tau bagaimana cara agar kita keluar dari tempat ini tanpa diketahui pasangan yang ada di sana?" Seir mendongak sedang Rain juga menatap wajah Seir yang disinari cahaya temaram.


"Melompat. Kau mau?"


"Dari sini?"


"Aha. Bagaimana?"


"Kau gila."


Mendengar kata-kata Seir membuat Rain tak bisa menahan tawanya. Ssstttt... "Kau bisa membuat kita ketahuan." Seir memperingatkan Rain untuk menjaga suaranya tetap tenang.


"Aku tidak bercanda. Kalau kau mau, kita bisa melompat dari sini, di sebelah sana ada ruangan yang terhubung dengan balkon di lantai bawah, sepertinya aku bisa memanfaatkan tali atau apapun agar kita bisa turun.."


"Sepertinya kau tau betul tempat ini." Decak Seir meragukan kata-kata Rain..


Bagaimana Rain tak tahu, Villa yang saat ini digunakan oleh keluarga walikota adalah milik keluarganya.


Dan untuk tempat-tempat tersembunyi, Rain bisa menemukannya dengan mudah. Bahkan jika gadis didepannya ini ingin meninggalkan Villa sekalipun.


"Mau ikut dengan ku?"


Tak ada pilihan lain, Seir pun mengikuti Rain. Pria itu menuntunnya mengitari taman dengan langkah yang mengendap-endap layaknya seorang mata-mata.


Setelah sampai ditempat yang Rain maksudkan, Seir melihat kebawah untuk memastikan keamanan jika mereka benar-benar akan melompat dari sana. Tebing dan laut lepas. Gila.. dasar pria gila. Seir berdecak dalam hati.


Seir mengurungkan niatnya setelah memantau keadaan, ia tak ingin mati konyol hanya karena tak ingin ketahuan berduaan bersama dengan si pria populer. Tentu saja akibatnya tak akan sebanding dengan cidera tulang atau Welcome to Heaven untuk selamanya.


"Kita di sini saja. Setidaknya sampai pasangan itu pergi." putus Seir. Jujur saja ia tak mau melakukan hal-hal yang beresiko tinggi seperti yang Rain rencanakan.


"Kau takut?"


"Aku tak ingin mati konyol." Gadis itu bersuara tegas. Rain hanya tersenyum menghormati keputusan Seir. "Baiklah. Duduk disini pun tak ada ruginya. Lagipula langitnya cerah."


Rain menarik sedikit celananya lalu duduk dengan kedua kaki di tekuk. "Kemarilah. Kau tidak berniat berdiri di sana untuk seterusnya bukan?"


Dengan langkah enggan, Seir pun duduk di sebelah Rain dengan kaki yang juga ditekuk. Meskipun kali ini mereka tak bisa menatap laut, tapi setidaknya mereka tak harus menyaksikan sepasang kekasih yang entah sedang melakukan apa di balik pepohonan sana.


"Benar-benar malam yang aneh!" Seir berdecak.


Rain menyunggingkan senyum samar. "Kau yakin malamnya yang aneh?"


"Kalau tidak lalu siapa?" Seir memutar matanya karena tak ingin beradu pandang dengan Rain.


"Kau.."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2