
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Selama hampir satu minggu tak pernah melihat Rain di kampus setelah pertemuan mereka malam itu, sekarang keduanya justru harus bertemu tepat di depan kekasih pria itu.
"Hai.. "
Hai? kau bercanda? di sini, di depan kekasih mu, dan membuatku terlihat seperti gadis pencari perhatian? yang benar saja.
"Kau menghalangi jalan." ujar Seir menatap dingin pada Rain. "Apa..?"
Tak ingin terus ditatap layaknya sebuah ancaman, Seir memilih untuk menghindari Rain. Lagi pula, ia tak ingin berurusan dengan gadis yang sejak tadi menatap tak suka pada dirinya.
"Gadis sombong!" Yukkie bersuara kesal. "Kau pikir siapa dirimu? bukankah kau yang seharusnya menyingkir?"
Seir tak ingin menanggapi perkataan Yukkie, karena itu; meskipun ingin, Seir tak membalasnya.
"Kalian benar-benar akan menutup jalan ini?" ujar Seir mendengus tak suka saat Rain, Yukkie dan gadis lainnya berdiri layaknya sebuah pembatas jalan.
"Ella..?" Verrel setengah berlari saat menghampiri Seir. "Hei, kalian di sini.." ujarnya tersenyum canggung saat melihat ketiganya berdiri di depan Seir.
"Kau juga mengenal gadis ini?" ujar Yukkie terdengar kesal saat melihat kedekatan antara Verrel dan Seir. Verrel mengangguk cepat untuk merespon pertanyaan Yukkie.
"Hei, aku sudah mencari yang kau minta. Mau melihatnya?" tanya Verrel beralih pada Seir. Tanpa menunggu lama, Seir langsung mengangguk setuju, "Baiklah."
"Sampai nanti Rain." Verrel membawa Seir untuk pergi bersamanya mengabaikan tatapan aneh orang-orang disekitar mereka.
Entah Verrel berpura-pura tak tahu, atau dia memang tak perduli dengan reputasinya, yang pasti Seir tak bisa lagi menutupi kedekatan diantara mereka.
"Apa kalian melihat itu? selama ini Verrel tak pernah dekat dengan gadis manapun. Tapi lihat sekarang.. memang apa hebatnya gadis itu." oceh Mikha yang juga tak suka melihat Seir akrab dengan salah satu pria terpopuler di kampus mereka.
"Entahlah. Mungkin gadis dari antah berantah." sambung Yukkie. Meskipun merasa kesal, asalkan bukan gadis yang menempel pada Rain, Yukkie tak akan ambil pusing.
"Rain, kau mau kan menemaniku hari ini? papa yang memintamu secara langsung." Yukkie ingin agar Rain menemaninya menghadiri acara makan malam yang diadakan di balai kota.
"Aku dengar, ayahmu akan memperkenalkan kekasihnya secara resmi." tambah Yukkie, membuat raut wajah Rain berubah tak senang.
Tanpa bicara sepatah katapun, Rain pergi meninggalkan Yukkie begitu saja. Sungguh mengejutkan karena ia mengetahui berita seperti itu dari orang lain.
Bahkan Daddy nya tak mengatakan tentang hal itu saat mereka berada dirumah.
Tanpa permisi apalagi mengetok pintu, Rain menerobos begitu saja keruang kerja Viloen.
"Rain?"
Rain sedikit terkejut, karena di ruangan itu Viloen tak sendirian. Sepertinya, kali ini Rain benar-benar telah melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Apa aku mengganggu kalian?" Rain terucap canggung. "Tidak. Aku dan sir.."
"Tidak apa-apa Will, Rain tahu tentang kita." ujar Viloen yang tak berniat menyembunyikan hubungan diantara mereka.
Rain menyembunyikan senyumnya mendengar kata-kata Viloen. Sekarang kakaknya itu sudah mulai berani secara terang-terangan mengutarakan isi hatinya.
Mengetahui hal itu membuat wajah Wilona sedikit memerah. Tak profesional rasanya saat mereka harus tertangkap basah sedang berduaan ditempat kerja seperti sekarang.
Yah, meskipun ini juga bukan sepenuhnya salah dirinya.
"Meskipun begitu, sepertinya aku juga harus pergi sekarang. Kau bicara saja dengan kakak mu." ujar Wilona menjaga suaranya tetap stabil di depan Rain.
Rain tak membalas, ia hanya menurunkan pandangannya agar tak menyinggung perasaan Wilona.
Setelah Wilona pergi, keduanya saling bertukar pandang.. baik Rain maupun Viloen sama-sama tahu apa yang ingin mereka katakan tapi tak terucap..
"Ada apa Rain, tak biasanya kau datang ke ruanganku?" Viloen tersenyum canggung mengalihkan pembicaraan.
Kini Rain kembali fokus pada tujuan awalnya tadi..
"Apa kau tahu tentang malam ini kak?" tanya Rain terdengar tak sabaran. "Yukkie mengatakan padaku jika malam ini Dad akan.." Rasanya Rain masih tak bisa menyebut nama Mera sebagai kekasih Daddy nya.
Viloen tertunduk sesaat kemudian kembali menatap Rain. "Kau tau jika Daddy akan.."
Melihat diamnya Viloen dan juga ketenangan kakak nya sepertinya hanya Rain lah yang tak tahu tentang hal itu. Semuanya sudah di putuskan; dan Rain sepertinya tak memiliki hak untuk memberikan pendapat.
"Rain dengar,.."
"Rain, Daddy dan aku.."
Belum lagi Viloen menyelesaikan kata-katanya, pintu ruangan itu sudah kembali tertutup rapat, dan hanya meninggalkan Viloen seorang diri dengan kata-kata yang menguap begitu saja.
"Bocah itu benar-benar tak bisa mendengarkan penjelasan orang sampai selesai."
...❄️❄️...
Saat melewati lorong dilantai tiga, Rain melihat Seir dan beberapa orang gadis memasuki auditorium, entah kenapa langkah kakinya langsung mengarah ketempat yang sama, dan kini Rain sudah berada di depan pintu mencari Seir ditengah cahaya yang temaram.
Ada cukup banyak orang di atas panggung dan sedang mengerjakan beberapa dekorasi. Sebagian lainnya menyusun alat-alat musik hingga membentuk setengah lingkaran. Tapi dimana Seir..?
Rain tak bergerak sedikitpun. Hanya pandangan matanya yang menyisiri seluruh ruangan; tatapan Rain langsung terarah pada satu tempat saat mendengar dentingan piano mulai memenuhi auditorium. Itu Seir..
Gadis itu berada di sana, sedang memainkan sebuah lagu yang Rain tak tahu apa judulnya ataupun siapa penciptanya..
Tidak hanya Rain, tapi semua orang yang ada di ruangan itupun menghentikan kegiatannya sejenak untuk memperhatikan Seir..
🎵Close to you... 🎵
Seseorang mulai bernyanyi. Dan Rain mengenal suara merdu itu. Rain menuruni anak tangga satu per satu untuk memastikan kebenarannya..
__ADS_1
🎵When i met you my world began to change...
You changed everything... When i close to you..🎵
Rain terhipnotis.
Untuk sesaat ia mulai lupa dengan semua kemarahannya. Perasaannya yang tadi berkecamuk perlahan mulai menghilang, menguap begitu saja.
Yang Rain tahu, saat ini ia hanya bergerak pada satu titik, yaitu Seir.
🎵 Did you know what i feel..? you driving me crazy beb..when i close to you..
My heart can't stop singing... you.. you.. you.. when i close to you..
Say my name.. when you close your eyes..
say my name when you get a breathe..
cos i will said your name in everything i am..
when i close to you.. baby.. 🎵
Saat suara tepuk tangan memenuhi auditorium itu, Rain tersentak. Ia sudah sangat dekat dengan panggung. Rain terkejut dengan dirinya sendiri. Sejak kapan ia mulai tak terkendali seperti ini?
"Seir.. kau hebat sekali. Lagu itu terdengar indah." Febby bertepuk tangan kagum dengan penampilan sahabatnya. "Kau suka? itu hanya sebagian dari kemampuan ku." ujar Seir sedikit menyombongkan diri.
"Aku tahu kau gadis berbakat." puji Febby lagi. Tanpa sadar Rain tersenyum senang melihat Seir yang begitu percaya diri dengan kemampuannya.
Ah, lihatlah.. Belum lagi kompetisi berlangsung, aku bisa melihat kearah mana tropi akan diberikan. Rain tersenyum kecil.
"Hai, kalian di sini? aku mencari mu sejak tadi." Verrel berdiri di antara Seir dan Febby. "Wah.. apa ini? kalian diam-diam berkencan?" ujar Febby terdengar kesal.
Baik Verrel maupun Seir hanya menggeleng sambil tersenyum. Mereka kompak enggan menjawab gurauan Febby.
Sudah cukup lama sejak gadis itu mengetahui jika keduanya adalah teman sejak kecil, dan baru bertemu lagi saat di Arendelle. Meskipun awalnya Febby sedikit terkejut, tapi gadis itu cukup mudah menerima kenyataannya.
Setidaknya, Seir tahu bahwa Febby tak akan menganggap dirinya sebagai seorang saingan.
"Mau makan siang bersama? aku menemukan tempat baru." usul Verrel. "Aku boleh ikut?" Febby mengajukan diri. "Tentu saja." Seir tersenyum lembut.
"Kau sungguh teman yang luar biasa.." Febby tersenyum senang karena bisa memiliki waktu lebih lama berada di sekitar Verrel.
Saat ketiganya mulai berjalan menjauh.. kaki Rain terasa kaku. Ada sesuatu yang tak nyaman dalam hatinya saat melihat Seir yang menghilang begitu saja.
...Rain Massage...
Rain: "Aku ingin bicara? boleh aku datang berkunjung?"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...