SPELL

SPELL
SPELL 39


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Suasana di ruangan pribadi milik Rain dan para sahabatnya kini terasa tak nyaman.


Rain yang di penuhi emosi, masih berusaha ditenangkan oleh Seir, sedangkan Verrel sendiri sedang mengganti pakaiannya yang basah Karena melindungi Seir dari kerumunan mahasiswa yang marah sebelumnya.


"Rain, ada apa sebenarnya dengan mu? kenapa kau bisa marah seperti tadi?" Seir sungguh mencemaskan kekasihnya.


Selama ini Rain sudah sering di cap sebagai pembuat onar, dan Seir tidak ingin menambah daftar panjang tersebut.


Seir sendiri masih tak tahu kenapa semuanya bisa terjadi. Tepat setelah mata kuliah berakhir tiba-tiba saja dirinya di serang.


Dan yang lebih gilanya, Seir sendiri tidak tahu apa penyebab kemarahan tersebut ditujukan pada dirinya.


Belum lagi kehadiran Rain yang membuat suasana di dalam kelas menjadi semakin runyam. Amukan Rain benar-benar semakin memperburuk situasi.


Saat ini Seir bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Verrel juga sama. Verrel tak mau mengatakan apapun pada dirinya meskipun mungkin saja Verrel juga tak tahu alasan di balik semua ini.


"Rain?"


Seir menatap dalam wajah Rain. Kekasihnya menggeleng cepat seraya memeluk Seir dengan erat.


Rain berusaha mengatur nafasnya perlahan, mencoba untuk menahan semua perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.


Dan sialnya, Rain masih saja marah mengingat tentang apa yang dialami Seir sebelumnya.


Ditambah lagi dengan perlakuan orang-orang serta pandangan mereka terhadap Seir saat ini. Semuanya benar-benar membuat Rain semakin marah.


"Bae, dengar.. apapun itu, aku akan tetap percaya padamu. Jangan khawatir, aku akan melindungi mu, semuanya pasti akan baik-baik saja." Rain memeluk Seir lebih erat.


Baru saja Rain menyelesaikan kata-katanya, ponsel Seir kini telah di banjiri oleh banyak notifikasi pesan yang masuk.


Seir merasa sedikit terkejut karena biasanya ia tak mendapatkan pesan kecuali dari orang-orang terdekatnya.


Tapi sekarang, ia justru mendapatkan banyak notifikasi pesan dari orang-orang yang tidak dikenal..


..."Apa kita bisa berkencan malam ini, aku suka melihat tubuhmu. Aku akan bayar mahal." 1...


..."Hai cantik, kau tipe ku sekali. Bagaimana jika kita mencoba gaya baru, kau mau melihat kemampuan ku? aku akan memuaskan mu." 2...


Seir mengernyit membaca semua pesan yang masuk tersebut. Ia tak mengerti maksud dari pesan-pesan itu. Isinya jelas seperti spam.


..."Bagaimana dengan ini? kau suka..? berapa lama kau tahan, aku bayar 3x lipat kalau kau mau bermain sepanjang malam." 3...


Kali ini pesan dengan gambar tak senonoh yang Seir terima.


Melihat raut wajah kekasihnya, Rain langsung mengambil ponsel dari tangan Seir dan memeriksa pesan-pesan yang masuk tersebut. Wajah Rain kembali memerah karena marah.


Nafasnya semakin memburu saat melihat isi pesan-pesan tersebut. Emosi yang tadi sudah mulai tenang kini kembali tersulut. Brengsek!


"Rain, kenapa..?" Tatapan Seir terlihat bingung. Ini pertama kalinya ia mendapatkan pesan seperti itu.. apa maksud dari semua pesan yang di tujukan padanya?


Rain menghapus semua pesan tanpa meminta persetujuan dari Seir, dan dalam diam, Seir mencoba untuk mencerna apa yang baru saja dilihatnya.


Seir bingung apa alasan ia harus menerima pesan yang berisikan hal-hal tak senonoh tersebut dan bagaimana bisa nomor ponselnya di miliki oleh banyak orang.


Selama ini Seir bahkan tak memberikan nomor ponselnya pada orang asing, hanya orang-orang terdekatnya saja yang memiliki nomor ponsel miliknya.


Tok..Tok..


"Miss Deep, anda di panggil keruang komite kesiswaan." Mrs. Greta, asisten Viloen mendatangi Seir di dalam ruangan.

__ADS_1


Sontak saja kedatangan wanita itu membuat tubuh Rain menegang. Rain mulai resah. Rain tau apa artinya panggilan tersebut.


"Bae, aku akan ikut dengan mu." ucap Rain yang tak ingin membiarkan Seir pergi seorang diri. Bagaimana pun juga Rain akan melindungi kekasihnya.


"Aku juga." kata Verrel yang saat itu baru selesai mengganti pakaiannya dengan yang baru.


"Rain, Verrel, kalian harus tau, sejak tadi aku mendengar.." suara Bruro terdengar cukup nyaring di depan pintu.


Pria itu baru saja tiba di ruangan setelah menyelesaikan jam kuliah pertamanya.


Melihat suasana tegang di antara orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, Bruro memutuskan untuk tak melanjutkan kata-katanya.


Bruro juga memperhatikan wajah Rain yang saat ini nampak kacau, sedangkan Seir juga tak terlihat seperti biasanya.


Ditambah lagi, ada asisten rektor di sana. Bruro merasa canggung dalam situasi tersebut.


"Rain ada apa dengan..?" Verrel menggeleng untuk memperingatkan Bruro agar tak melanjutkan pertanyaannya sekarang.


"Miss Deep, silahkan." asisten rektor menuntun mereka untuk pergi ke ruang disiplin yang dimana, di sana orang-orang yang menangani masalah seperti ini sudah berkumpul untuk menunggu kehadiran Seir.


"Tolong hanya Miss Deep saja, sebaiknya kalian menunggu di sini." ujar Mrs.Greta pada Rain dan juga teman-temannya.


"Tidak. Biarkan aku masuk. Aku ingin bicara pada kakak ku. Kau tau siapa aku bukan?" ujar Rain menyela.


"Maaf, tapi ini perintah pimpinan." Mrs.Greta bersikeras.


"Kak Viloen, ini aku Rain. Aku ingin ikut masuk bersama Seir." Rain berteriak dari depan pintu.


"Kakak taukan semua ini hanya rumor yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Aku bisa membuktikan kalau semua itu hanya rekayasa."


Rain tidak bermaksud untuk menyusahkan kakaknya dengan bersikap seperti ini, hanya saja ia tak mau membiarkan Seir menghadapi semuanya seorang diri.


"Rain. Kami akan bicara sendiri pada Miss Deep. Jadi tolong mengerti lah." Kini Wilona lah yang bersuara.


"Tapi.."


Meskipun melihat kekhawatiran di wajah ketiganya, Seir tetap tak ingin melibatkan orang lain pada masalah tersebut, terutama Rain.


Meskipun jujur saja, ia sendiri tak tahu harus melakukan apa di dalam sana. Ini pertama kalinya bagi Seir.


"Kami akan menunggu mu di sini Ell. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir, kami akan selalu ada di pihakmu." ujar Verrel menenangkan Seir.


Bruro juga mengangguk untuk memberikan dukungannya. Seir tersenyum samar. "Hem. Aku tahu. Terimakasih."


...❄️...


"Miss Deep. Kau tau bukan alasan kenapa kau di panggil ke ruangan ini? tentang video yang tersebar di situs kampus kita dan juga.."


"Bolehkah saya melihat video yang anda maksud?" Seir tak bermaksud memotong perkataan Viloen, tapi ia perlu memastikan semuanya. Sekarang.


"Karena saya sendiri tidak yakin jika penyebab dari semua kekacauan yang anda maksudkan adalah saya."


Seir tak terlihat takut sedikit pun. Bahkan gadis itu terlihat begitu tenang untuk orang yang saat ini tengah mengacaukan situs kampus dengan video tak senonoh miliknya.


Mendengar hal itu, Viloen mempertimbangkan sejenak lalu membiarkan Seir untuk melakukan apa yang ia mau. "Baiklah. Kau bisa memeriksa nya sendiri."


Seir pun langsung memeriksa situs kampus yang di maksudkan oleh Viloen lalu melihat video yang katanya adalah dirinya itu.


Video itu berisikan tentang wanita sedang beradegan tak pantas dengan seorang pria. Itu jelas bukan dirinya.


Meskipun wajah kedua pelaku tersebut tidak cukup jelas dan di samarkan, Seir yakin itu hanya perbuatan dari seseorang yang membenci dirinya saja.


Hanya karena pelaku menyebutkan namanya berulang-ulang saat melakukan hal tak pantas tersebut, ditambah lagi bentuk tubuh serta rambutnya saja yang terlihat mirip seperti dirinya, Seir tidak akan mengakui tuduhan tersebut.


Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa menjatuhkan dirinya? apa mereka sedang bercanda? Seir mulai merasa geram.

__ADS_1


"Itu bukan saya. Saya bisa membuktikan seratus persen jika itu bukan saya." ujar Seir dengan penuh keyakinan.


"Kau yakin?" Viloen bukan bermaksud untuk meragukan ucapan Seir, terlebih karena gadis itu sekarang memiliki hubungan khusus dengan adiknya.


Karena itulah Viloen harus berhati-hati agar Rain tidak terluka lagi.


Bagaimanapun, saat ini Seir masihlah orang asing, baik di kampus dan juga di pulau tempat mereka tinggal. Tidak ada jaminan jika semua itu hanya rekayasa.


Siapa yang tau tentang apa yang gadis itu lakukan diluar sana dulu, meskipun sebenarnya itu bukan urusan Viloen, tapi karena masalahnya sudah menjadi seperti ini, Viloen tetap harus mengambil tindakan atas masalah tersebut.


Apalagi semua ini berkaitan dengan nama baik universitas miliknya, De Lune Exas.


"Ya." Tidak ada alasan bagi Seir untuk ragu sedikitpun. Karena wanita yang ada di dalam video tersebut memang bukan dirinya.


"Ada satu hal yang bisa membuktikan dengan pasti jika gadis dalam video itu bukan saya. Miss Wilona bisa membuktikannya." Kata Seir lagi.


Viloen terlihat serius saat mendengar pembelaan Seir tersebut.


"Gadis itu memiliki tanda di bagian tubuhnya, tapi saya tak memiliki tanda itu. Miss Wilona, maukah anda memeriksanya untuk membuktikan kebenaran dari perkataan ku?"


Seir menunggu persetujuan, dan Viloen pun memberikan persetujuan tersebut pada Wilona.


"Baiklah. Ayo ikut aku ke ruangan yang ada di sebelah sana." Kata Wilona.


Setelah membuktikan kebenaran kata-kata Seir, keduanya pun kembali menghadap Viloen dan beberapa orang yang tengah menunggu untuk mendengarkan kebenaran dari pernyataan Seir sebelumnya.


"Miss Deep bisa membuktikan kebenaran dari ucapannya. Saya bisa menjamin hal itu." Wilona bersuara.


Viloen tak akan meragukan ucapan Wilona. Selain sebagai salah satu dosen di De Lune Exas, Wilona adalah wanita yang bisa di percaya baik dalam perkataan maupun perbuatannya.


"Baiklah kalau begitu. Kami akan mempercayai mu Miss Deep. Kami juga akan memeriksa dan mencari tahu bagaimana serta siapa yang telah menyebarkan video tersebut. Dan juga, kami tetap membutuhkan kerja sama mu dalam hal ini." ujar Viloen.


Mendengar keputusan Viloen, dewan disiplin kampus juga menyetujui hal tersebut.


"Baiklah."


"Tapi untuk sementara, ada baiknya jika kau mengambil cuti kuliah untuk beberapa waktu." ujar Viloen lagi.


"Anggap saja ini sebagai liburan untuk mu. Kami tau jika kau mungkin merasa keputusan ini tak adil. Tapi tak baik juga bagi mu Miss Deep jika apa yang terjadi hari ini terulang kembali."


Tentu saja Seir merasa tak adil, tapi ia bisa apa. Semuanya sudah terlanjur kacau. Dan Seir memang harus menarik diri dan menjauh dari semua masalah untuk sementara.


Dan sesungguhnya, Viloen tak bermaksud untuk membuat Seir menanggung konsekuensinya, tapi semua ini akan baik bagi mereka.


Viloen hanya khawatir tentang Rain. Dengan watak dan sikapnya, bukan tidak mungkin jika adiknya itu akan mengobrak-abrik seisi kampus hanya untuk mencari si pelaku yang sudah merusak nama baik kekasihnya.


"Kau tau apa maksud ku bukan?"


"Baiklah. Saya akan mengambil cuti seperti yang anda sarankan. Terimakasih." Seir tidak bisa menolak. Ini demi kebaikan mereka bersama.


Cuti bukanlah masalah besar. Lagipula ini adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan.


Seir akan diam dan tenang seolah-olah menghilang dari semua kekacauan. Sementara masalah ini di selidiki, Seir juga harus melakukan sesuatu.


Bukan tidak mungkin jika orang-orang yang terlibat sudah merencanakan semua hal buruk pada dirinya.


Bisa saja mereka mengincarnya dan menunggu untuk melakukan hal yang lebih buruk lagi dari apa yang mereka lakukan hari ini.


Saat keluar dari ruang komite, Rain dan juga Verrel masih menunggu dengan wajah cemas.


"Bae bagaimana? mereka percaya padamu kan? kalau kak Viloen melakukan hal sebaliknya, aku yang akan bicara padanya. Aku akan... "


"Tidak Rain. Semuanya baik-baik saja. Ayo kita pergi."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2