
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Bae, selamat pagi." Rain tersenyum saat menyongsong kekasihnya yang baru saja keluar dari dalam rumah. Tidak lupa Rain juga memberikan kecupan singkat di pipi Seir yang terlihat menggoda untuk di sentuh.
"Selamat pagi juga Rain. Kau sudah sarapan?" Rain tersenyum sambil mengangguk, "Hem, aku sudah sarapan bersama kak Viloen tadi. Kita berangkat sekarang?"
"Ya. Ayo.."
Saat Seir ingin masuk ke dalam mobil, Jhon juga bersiap untuk pergi ke kantornya. Karena mendengar suara mobil Rain berbalik untuk menghampiri Jhon, "Selamat pagi uncle.." Sapa Rain.
Saat ini Rain sudah bersikap lebih santai dari sebelumnya karena sekarang ia sudah memiliki hubungan resmi dengan Seir, yaitu sebagai kekasih.
"Selamat pagi juga Son. Hati-hati lah saat mengemudi. Jangan lupa kau sedang membawa putri ku yang berharga." Peringat Jhon sambil tersenyum.
"Siap, Uncle. Aku akan menjaga Seir dengan baik. Percayalah padaku." balas Rain. Jhon hanya tersenyum melihat wajah putri nya yang juga tengah berbinar mendengar kata-kata Rain.
Dasar pemuda perebut perhatian. Jhon hanya tersenyum.
"Bye papa, sampai bertemu nanti." Seir juga melambaikan tangannya pada Jhon.
"Sampai nanti sayang." Jhon merasa senang karena bisa melihat putri nya bisa bergaul dan tak lagi menutup diri seperti sebelumnya. Terutama saat Seir bersama Rain.
Putrinya terlihat sangat bahagia..
"Aku sungguh iri melihat kedekatan antara kau dan Uncle Bae. Kau sepertinya sangat menyayangi uncle, begitu juga sebaliknya." Rain tersenyum samar.
"Kau tidak dekat dengan keluarga mu? sepertinya hubungan kalian juga terlihat harmonis." sahut Seir menatap wajah kekasihnya.
"Hem. Kami juga dekat.. dulunya." Rain tersenyum. Tapi Seir bisa melihat jika senyum itu hanya sebuah senyum yang di paksakan.
Mengingat bagaimana cerita yang Seir ketahui, wajar saja jika saat ini hubungan Rain dan keluarganya masih belum bisa pulih seperti dulu. Tapi Seir sungguh berharap, jika suatu hari nanti, Rain benar-benar bisa melupakan Mera.
Menyadari semua kenyataan itu, dada Seir berdebar tak karuan. Apakah ini artinya ia cemburu pada wanita itu? pada masalalu Rain..?
...❄️...
Setibanya di kampus, Rain dan Seir selalu menunjukkan kedekatan keduanya pada semua orang. Mereka sepakat untuk tak menutupi kenyataan itu.
Dan semua itu tentu saja tak lepas dari pandangan Verrel yang sudah menunggu kedatangan keduanya bersama dengan Bruro.
Dari kejauhan Seir bisa melihat wajah Verrel yang sedang tersenyum saat menatap dirinya. Seir melambaikan tangan dengan wajah tersenyum senang.
Verrel benar-benar datang. Tadinya Seir khawatir jika hari ini Verrel masih tak ingin bertemu dengan dirinya dan juga Rain, tapi sepertinya hari ini akan menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
"Hei, what's up Bro!" Bruro menyapa keduanya, "Hai juga untuk mu angel." Bruro tersenyum manis seperti biasanya pada Seir.
Melihat hal itu Rain langsung menautkan tangannya kembali pada tangan Seir. Dan pemandangan itu tentu saja tak lepas dari perhatian Bruro.
"Hei, ada apa dengan tangan itu." Wajah Bruro sedikit terkejut melihat Rain yang seakan bergelayut manja pada Seir, pria itu sedang menunjukkan kepemilikan dirinya. "Selamat pagi Rell.." Seir juga menyapa sahabatnya.
Verrel tersenyum hangat seperti biasanya saat menatap Seir, sungguh wajah yang Seir rindukan. "Selamat pagi Ell." Melihat keduanya, Rain sedikit terusik, tapi tak bisa ia pungkiri, jika ia juga merasa senang sahabatnya itu ada di sana.
"Senang melihat mu lagi." Sapa Rain juga, tapi Verrel tak membalas, pemuda itu hanya mengangguk sambil tersenyum samar pada Rain.
__ADS_1
Verrel hanya tak ingin bersikap ramah pada Rain. Itu saja.
Melihat ketiganya berada di tempat yang sama membuat hati Seir sedikit lega. Setidaknya, ketiganya bisa bersama lagi setelah apa yang terjadi diantara mereka selama ini.
"Ayo kita masuk, aku ada kelas pagi." ajak Seir yang tak ingin lebih lama lagi berada di sana dan menjadi tontonan banyak orang.
"Rain, jelaskan dulu kenapa tangan kalian berdua menempel seperti itu.." seru Bruro yang sepertinya masih belum mengerti situasi diantara Seir dan Rain. Lebih tepatnya Bruro belum mendengar kabar tentang resminya hubungan kedua sejoli itu.
"Tak perlu di jelaskan, kau bisa melihatnya sendiri bukan?" Rain tersenyum senang saat memamerkan kemesraan hubungannya dengan Seir.
"Apa? Hei.. sejak kapan? kau berhutang penjelasan. Angel, ini tidak benar kan?"
Seir hanya tersenyum melihat Bruro. Meskipun merasa sedikit bersalah pada pemuda itu, tapi setidaknya, Bruro tak menjauhi mereka. Itulah yang ia syukuri.
"Angel...?"
"Jangan ganggu mereka!" Seru Verrel.
Verrel juga tak memberikan reaksi apa-apa. Ia cukup bisa menerima kenyataan dengan apa yang terjadi diantara dirinya dan para sahabat, yang menurutnya sedang dalam fase untuk dapat saling memahami dan dan menerima dalam segala kemungkinan, bahkan untuk yang terburuk sekalipun.
"Bae," Rain menahan Seir yang akan mengikuti mata kuliah pagi bersama dengan Verrel. "Aku akan menunggumu di tempat biasa. Selamat belajar." Rain membelai pelan puncak kepala Seir.
Seir tersenyum sambil mengangguk samar pada Rain. "Aku akan mengirimkan pesan padamu nanti. Jangan khawatir. Ada Verrel." sahut Seir. Rain hanya tersenyum samar.
Sementara Seir berjalan menuju kursinya, Rain belum juga pergi sebelum memastikan Seir duduk ditempatnya dengan aman.
Rain juga melayangkan tatapan peringatan pada orang-orang yang mungkin saja berpikir untuk mengusik kekasihnya itu.
Tapi sepertinya, ancaman seperti itu hanya berlaku saat Rain ada di sana dan menatap tajam layaknya anjing penjaga. Tapi setelah pria itu pergi, orang-orang kembali membicarakan Seir.
Kali ini semua orang tengah berbisik-bisik tentang apa yang baru saja mereka lihat. Tentu saja dirinya, Rain dan Verrel. Dengan berada ditempat yang sama saja, cukup membuat Seir menjadi topik sepanjang hari.
"Rell..." Seir menggeleng, meminta Verrel untuk tak melakukan apapun.
"Cih. Lihat. Gadis itu mulai berlagak. Dia pikir dia princess di sini. Kasihan sekali Yukkie, kekasihnya direbut begitu saja." suara tawa cekikikan terdengar jelas dari sudut belakang keduanya.
"Sepertinya kau sudah terbiasa mendengar semua ini Ell." kata Verrel dengan suara rendah. Seir hanya tersenyum.
Sebenarnya, ia tak memperdulikan semua perkataan buruk tentang dirinya yang selalu di gunjing kan sejak ia dan Rain resmi menjadi kekasih. Ahh, atau mungkin sebelum itu.
Seir sungguh tak peduli. Bahkan saat orang-orang mengatakan bahwa ia merayu Rain dan merebut nya dari Yukkie dengan menggunakan tubuhnya. Seir juga tak peduli.
"Kau tau sendiri, aku mudah beradaptasi." sahut Seir tersenyum samar. "Aku tak perlu mengurusi hal-hal tak penting seperti ini. Terlalu membuang waktu."
Lagi pula orang-orang akan berhenti bicara dengan sendirinya. Dan Seir hanya perlu fokus pada apa yang harus ia kerjakan.
...❄️...
Diruang private miliknya, Rain yang tak memiliki kelas apapun hanya bisa menatap ponselnya sambil menunggu jam kuliah Seir berakhir.
Terasa membosankan karena ia hanya seorang diri di sana. Bruro dan Verrel juga sedang mengikuti kelas. Sepertinya hanya dirinya yang terlalu santai.
"Benar-benar membosankan. Aku rindu Bae ku."
Tok..Tok..
Suara ketukan pada pintu menginterupsi Rain dari keheningannya. "Rain, bisa kita bicara?" Viloen berdiri di depan pintu sambil memandangi wajah adiknya yang terlihat tak bersemangat.
__ADS_1
"Yah.. tentu. Ada apa kak?"
Apapun yang akan di katakan Viloen tentang dirinya, bahkan keluhan-keluhan dari dosen lain, Rain akan siap mendengar semua itu, sekarang. Anggap saja ia sedang mengikuti kelas ekstra.
"Apa aku melakukan kesalahan lagi?" Rain sudah siap dengan semua teguran yang akan disampaikan oleh kakaknya.
Biasanya ia tak hanya mendengarkan ocehan Viloen satu kali, tapi berkali-kali dalam satu hari, jadi Rain sudah bersiap. Jadi....
"Tidak Rain. Tidak. Ini bukan tentang sikapmu, ataupun tentang studi mu. Bukan itu." Rain bernafas lega. Tapi wajah kakaknya tak menunjukkan kelegaan sama sekali. "Lalu?"
"Ini tentang gadis itu. Kekasih mu, Seir." Wajah Rain sedikit menegang. "Ada apa dengan Seir kak?" katanya mulai serius.
"Apa gadis itu benar-benar kekasihmu? maksud ku, orang-orang sedang membicarakan nya, dan..?" wajah Viloen menunjukkan kegelisahan. "Ada apa sebenarnya kak? katakan saja. Apa ini tentang Daddy?"
Viloen menggeleng. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan ayah mereka.
"Kakak tau jika kau menyukainya tapi bisakah kau mempertimbangkan.."
"Apa maksud kakak sebenarnya?" Rain benar-benar terusik sekarang. Ia tak mengerti apa yang ingin di sampaikan oleh kakaknya, dan apa yang harus ia pertimbangkan?
"Rain, maaf jika ini mengganggu mu, tapi ini baru saja beredar di situs kampus dan sepertinya semua orang tengah membicarakannya.." Viloen menunjukkan ponselnya pada Rain.
"Brengsek! Apa ini?" Rain benar-benar geram saat melihat ponsel milik Viloen. Ia juga membuka ponsel miliknya dan melihat situs yang kakaknya bicarakan.
"Kita bicara nanti kak. Aku harus mencari Seir sekarang." Rain takut jika sesuatu terjadi pada kekasihnya. Siapapun pelakunya, Rain benar-benar tak akan memaafkan perbuatan tercela seperti ini.
Saat Rain pergi keruang kelas yang Seir ikuti, semua mahasiswa dan mahasiswi di sana tampak ramai bahkan memenuhi depan ruangan. Semua itu karena video yang baru saja beredar dan menghebohkan situs kampus.
"Dasar gadis murahan! kau pikir bisa menyembunyikan kebusukan mu dan menggoda semua pria di kampus ini?"
Yukkie dan Mikha berdiri dengan angkuhnya serta menatap jijik pada Seir. "Pergi dari kampus kami sekarang juga! Kau wanita penggoda menjijikan!"
"Ya, benar.. kau memalukan!" teriak semua orang yang ada di sana. Sementara itu, Verrel yang ada di depan Seir melindungi gadis itu dari lemparan minuman yang ditujukan pada sahabatnya.
"Kalian benar-benar gila. Apa yang kalian lakukan!" kecam Verrel yang marah dengan perlakuan orang-orang yang tiba-tiba saja menyerang Seir. Keduanya masih tak tau apa yang sedang terjadi dan kenapa orang-orang tiba-tiba saja pada Seir.
"Buka matamu baik-baik Rell.. gadis itu pelac*r. Dia tak pantas ada di sini. Keberadaanya hanya akan membuat nama kampus kita menjadi rusak." ujar Yukkie lagi.
"Minggir!" Rain mendesak masuk melewati kerumunan. Matanya terbelalak marah, saat melihat apa yang terjadi pada kekasih sekaligus sahabatnya.
"Brengsek. Siapa yang melakukan ini?" teriak Rain menendang meja dan kursi yang ada di depannya. Melihat hal itu Yukkie dan Mikha ikut terkesiap. Mereka terkejut dengan kemarahan Rain, begitu juga dengan orang-orang yang ada di sana.
"Rain..?"
Rain yang tak terima dengan perlakuan yang diterima Seir langsung mengamuk di dalam ruang kelas itu.
"Katakan padaku siapa yang berani melakukan ini, sudah ku peringatkan pada kalian sebelumnya, jangan menyentuh kekasihku sedikitpun!"
"Kenapa kau harus melindungi gadis murahan seperti ini!" seru seorang pria, dan dalam hitungan detik pria itu juga sudah tersungkur di lantai akibat hantaman tangan Rain.
"Tutup mulutmu, brengsek!"
Melihat kemarahan Rain, Seir langsung melepaskan pelukan Verrel dan berlari kearah pria itu untuk menenangkan kekasihnya.
"Rain, aku tidak apa-apa. Kita pergi saja, Hem?"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...