SPELL

SPELL
SPELL-36


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Rain dan Seir sedang berada di ruang pribadinya saat pintu itu tiba-tiba saja terbuka dengan kekuatan yang cukup besar. Membuat suara tawa cekikikan dari keduanya pun terhenti.


Sepasang mata yang tengah berkaca-kaca menatap marah pada keduanya.


"Rain.. apa-apaan ini?" Suara Yukkie meninggi saat melihat tangan Rain yang terpaut dengan jari-jari manis milik Seir.


Rain mengernyit. Bukan ia tidak tau maksud dari pertanyaan itu, tapi yang membuatnya bingung adalah kenapa ia harus menjelaskan hubungannya pada seseorang yang sama sekali tak berkaitan dengan urusan pribadinya.


Rain menghela nafas lalu berdiri dengan memasang wajah tak suka atas sikap Yukkie yang seolah-oleh memiliki hak dan kendali atas apa yang Rain lakukan. "Kamu yang apa-apaan? kamu pikir sedang berada dimana?"


Rain menghampiri Yukkie sementara Seir hanya memperhatikan keduanya. Meskipun Seir merasa sedikit terkejut, tapi ini bukanlah sesuatu yang besar baginya. Seir yakin Rain tak perlu bantuan untuk mengatasi gadis seperti Yukkie.


"Kalau-kalau kau lupa. Aku harus mengingatkan mu." Rain mendekatkan wajahnya. Dada Yukkie terlihat naik turun karena menahan amarah.


"Rain, apa maksud anak-anak mengatakan bahwa kau dan.." kini Yukkie mengalihkan pandanganya. Ia sedang menatap marah pada Seir..


A a a... itu dia. Tatapan marah yang ditujukan pada Seir.


"Perempuan itu.." Rain juga menatap pada Seir mengikuti tatapan marah Yukkie. "Ahh.. gadis cantik yang duduk di sana?" ujar Rain sambil tersenyum lalu mengedipkan mata pada kekasihnya.


Seir hampir saja tergelak karena sikap acuh Rain yang terlihat sengaja menyulut kemarahan Yukkie.


Yukkie kembali menatap Rain, dan kini air matanya benar-benar sudah jatuh. Yukkie benar-benar merasa sakit hati mendengar pujian yang terlontar dari mulut Rain untuk gadis sialan yang jelas-jelas telah merebut pria pujaan hatinya.


"Ada apa dengan pacarku?" tanya Rain, dengan sikap masa bodohnya. "Ada yang salah dengannya?" sepertinya katanya, Rain tak berniat menyembunyikan hubungannya dengan Seir.


Justru dengan bangga, Rain akan memamerkan hubungan mesra mereka. Rain tak suka jika ada orang yang berusaha mengusik hubungan percintaannya. Apalagi orang itu adalah Yukkie.


"Dan sepertinya, kau juga tahu bahwa kau tidak boleh memasuki ruangan ini sesuka mu. Kau tidak bisa membaca tulisan itu..?" Rain melirik ke pintu.


'Privat Room' tulisan yang tertempel di pintu, "Ah.. mungkin kau tidak melihatnya karena terburu-buru." Rain tersenyum maklum.


Ia memasukkan kedua tangannya di saku celana jins hitamnya yang kini semakin mendominasi penampilannya.


"Jadi, ada apa? kalau tidak ada urusan maka pergilah. Kami sedang berkencan, dan kau hanya mengganggu waktu berharga kami." peringat Rain pada Yukkie.


"Apa? Kalian..?" Yukkie bahkan tak sanggup mengulang perkataan Rain dengan mulutnya sendiri. Selama ini dirinya lah yang sudah mencintai Rain.

__ADS_1


Bahkan ia telah melakukan banyak hal untuk menjaga dan memastikan bahwa Rain akan menjadi miliknya, tapi sekarang..


"Yups.. Itu benar. Aku dan Seir berpacaran. Ada apa? apa aku harus melaporkan apa yang ku lakukan padamu, itu yang kau mau, Hem?"


Yukkie menghapus air matanya dan mencoba untuk mengendalikan kemarahan serta kekecewaannya. "Kamu jahat Rain. Padahal selama ini aku mencintaimu.. aku..." Yukkie kembali menatap Seir..


Tatapan Yukkie membuat Seir merasa tak nyaman. Seir bisa memahami perasaan Yukkie saat ini. Jika Seir di posisi gadis itu, Seir mungkin akan melakukan hal yang sama dan ia tak akan bisa menyembunyikan kekecewaannya pada Rain.


Semua ini memang salah Rain. Salahnya karena terlalu tampan dan membuat banyak gadis terpesona pada dirinya. Ah... tiba-tiba saja kepada Seir terasa pusing.


"Kau...!" suara Yukkie meninggi saat berteriak pada Seir.."Dasar perempuan gila..! Kau telah merebut Rain dariku, kau juga.. "


"Hentikan!" Rain tak suka dengan cara bicara Yukkie pada Seir. "Jaga bicaramu Yukkie. Seir adalah kekasihku, aku tidak akan membiarkan mu merendahkannya. Walau hanya sedikit." kecam Rain memperingatkan gadis yang sedang marah itu.


"Aku yang sudah mengenalmu sejak lama Rain. Bahkan aku juga mencintaimu.. tapi kenapa.. kenapa kau harus memilih gadis sialan itu?"


"Cukup Yukkie! Cukup!"


"Rain.." Seir menyela lalu menggeleng. Seir tak mau Rain semakin menyakiti Yukkie dengan perkataannya. Meskipun tahu Rain akan menolak Yukkie, tapi bukan hal yang tepat jika Rain juga harus menyakiti Yukkie dengan kata-kata.


"Kenapa kau tidak memberikan kesempatan yang sama untuk ku Rain? padahal kau tau aku juga..." Yukkie kembali terisak..


"Perasaan ku tak bisa di paksakan, Yukkie. Aku tak menyukai mu. Aku tak pernah memiliki perasaan apapun padamu. Kau harus melepaskan perasaan sepihak mu itu. Aku tak akan pernah jatuh hati padamu."


Rain tak suka dikendalikan. Terutama jika Yukkie menganggap ia akan patuh hanya karena Yukkie adalah putri dari seorang wali kota.


"Lupakan semua obsesi mu pada ku. Karena aku tak akan pernah bisa menjadi milikmu. Tolong jangan menganggu ku lagi." Rain tak ingin memberikan kesempatan apapun pada Yukkie.


Ia jelas tak memiliki perasaan apapun pada gadis itu. Selama ini Rain diam atas sikap Yukkie hanya karena ia tak ingin ambil pusing dengan banyaknya gadis gila diluar sana yang berlomba-lomba mencuri perhatiannya. Tapi sekarang, ia tak perlu lagi melakukan itu.


"Maaf jika selama ini aku membuat mu berharap."


Rain berbalik pada Seir, "Ayo..?" Rain mengulurkan tangannya pada Seir lalu keduanya meninggalkan ruangan itu membiarkan Yukkie seorang diri di sana.


"Rain.. kau boleh saja berkencan dengan nya. Tapi aku pastikan kau akan jadi milikku." Teriak Yukkie dari balik pintu yang sudah tertutup rapat.


Gadis itu menangis kesal seraya meratapi dirinya yang tak bisa memiliki Rain..


...❄️...


"Rain.. bukankah tadi itu terlalu kejam untuknya? bagaimanapun.."


"Seir, jangan memikirkan perasaan orang lain." Rain tak ingin perbuatan Yukkie mempengaruhi kekasihnya.

__ADS_1


"Yang perlu kamu pikirkan hanya aku. Dan begitu juga sebaliknya. Jangan pernah meminta ku untuk memahami perasaan gadis manapun. Aku tak akan melakukan itu." tegas Rain.


Ia tak bisa mengendalikan perasaan orang lain. Jika ia harus memperdulikan perasaan semua orang yang menyukai dirinya, maka Rain lebih memilih untuk tak di sukai. Ia tak berkewajiban untuk memikirkan semua hal konyol itu.


Melihat sikap tegas Rain membuat Seir tersenyum lalu kembali merajut jari-jarinya pada jari-jari milik Rain, "Aku tahu, maafkan aku. Aku tak akan memintamu untuk melakukan itu lagi." ujar Seir.


Ia merasa senang sekaligus bangga pada Rain. Pria itu mampu menunjukkan sosoknya yang bisa membuat Seir semakin mempercayai Rain.


"Ah.. aku juga harus mengatakan sesuatu padamu Seir.." Rain menatap mata Seir sementara gadis itu tersenyum seraya menunggu..


"Apa?" Rain tak tahu hal yang dilakukannya saat ini benar atau salah, yang pasti Rain hanya tak ingin menyembunyikan apapun dari kekasihnya.


"Aku sudah mengatakan pada Verrel tentang hubungan kita." Rain juga tak ingin menyembunyikan masalahnya dengan Verrel lebih lama lagi. Rain tak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka nantinya.


"Hem.. itu yang ingin kau katakan?" Rain mengangguk. "Memangnya kenapa jika Verrel tahu? bukankah itu bagus, artinya aku tak harus mengatakan dengan mulutku sendiri bahwa kita sedang berpacaran."


Justru hal itu melegakan bagi Seir. Karena Rain lah yang mengatakannya pada Verrel. Apalagi keduanya adalah sahabat, setidaknya ini menjadi lebih mudah bagi Seir saat menghadapi Verrel.


Meskipun ia dan Verrel bersahabat sejak kecil, Seir tak merasa leluasa untuk mengatakan urusan pribadinya pada Verrel. Mungkin karena mereka cukup lama terpisah dan baru bertemu saat mereka sudah sama-sama dewasa. Hal itu tak nyaman bagi Seir.


"O, ya. Aku tak melihat Verrel. Apa Verrel tak datang ke kampus?" Terakhir Seir bertemu Verrel adalah seminggu yang lalu, dan setelah itu Verrel tak pernah berkunjung lagi kerumahnya. Bahkan Verrel juga tak menghubungi Seir sama sekali.


Berbeda dengan Seir, Rain sudah menyadarinya sejak awal. Karena itulah Rain tak ingin menyembunyikan kenyataan itu dari Seir. Bagaimanapun keduanya adalah sahabat dan Rain harus mengatakan yang sebenarnya pada Seir.


"Sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal ini pada mu, tapi sepertinya kau harus tahu." Rain menatap mata Seir untuk memberanikan dirinya.


"Sebenarnya aku dan Verrel bisa di bilang sedang bertengkar.." aku Rain.


"What..? kalian bertengkar?" Rain kembali mengangguk. "Tapi kenapa..? apa ada masalah diantara kalian berdua?" Seir tak pernah mendengarkan apapun dari Verrel tentang ketidak akuran kedua sahabat itu.


Memang Verrel pernah memperingatkan Seir untuk tidak berhubungan dengan Rain. Tapi itu karena gadis-gadis bar-bar yang menjadi fans Rain, bukan karena ada masalah atau..


"Ada hal yang tidak kau ketahui..dan sepertinya aku harus mengatakan semuanya padamu.." Meskipun ini bukan kapasitasnya untuk mengatakan perasaan Verrel pada Seir, tapi Rain juga tidak bisa bersikap seperti seorang pecundang.


"Rain, katakanlah ada apa sebenarnya?" desak Seir.


"Seir, sepertinya Verrel marah karena aku merebut mu darinya, karena itulah kami bertengkar."


"Apa maksud mu dengan merebut Rain, aku tak mengerti..?"


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2