
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Seir melihat pada jam tangannya, saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Seir tak mengira jika dirinya akan tinggal lebih lama bersama dengan Rain. "Kau dari mana Ella?"
Suara Jhon yang tiba-tiba menginterupsi membuat dada Seir berdegup kencang, "Papa..? papa sudah pulang. Aku baru saja kembali dari rumah teman, kami mengerjakan tugas."
Seir mulai merasa gugup karena harus berbohong pada papa nya, tapi mau bagaimana lagi, Seir tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Jhon.
"Tumben sekali." Jhon tersenyum, "Hem. Ada tugas yang harus di selesaikan secepatnya." sahut Seir cepat. Rain lah tugas itu. Dan Seir harus menyembunyikan kenyataannya.
Maafkan aku papah. Pria gila itu membuat aku harus berbohong.
"Baiklah. Papa senang melihat mu mulai mau bergaul dengan banyak orang sayang, itu baik untukmu." ujar Jhon yang masih duduk di ruang tamu dengan majalah di tangannya.
"Seir, kemarilah sayang." Seir menghampiri papanya dan duduk tepat di sebelah Jhon. "Ada apa papa?"
"Papa akan pergi ke kota dan akan berangkat lusa, ada pekerjaan yang harus papa selesaikan di sana. Mungkin papa akan kembali di akhir pekan. Apa kau tidak masalah jika papa meninggalkan mu sendiri?" Jhon menunggu jawaban Seir dengan tatapan cemas.
Tapi Seir sangat tahu apa yang ada di pikiran papanya saat ini, mereka bahkan hampir tak pernah berpisah lama.
"jangan khawatir papa. Aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku." Seir tersenyum untuk menghilangkan kecemasan di wajah papanya.
Jhon mendesah pelan seraya menggelengkan kepalanya cepat, "Tapi papa tetap khawatir Ella. Sejujurnya, papa ingin sekali kau ikut saja dengan papa." ujar Jhon.
Meninggalkan putri kesayangannya seorang diri bukanlah ide yang baik. Tapi membawa Seir pun hanya akan membuat putrinya itu tinggal seorang diri di kamar hotel.
Perjalanan kali ini akan mengharuskan Jhon bertemu dengan beberapa klien penting untuk bisnisnya.
"Jadi papa ingin aku ikut?" Jhon mengangguk. "Setelah itu papa ingin aku mengulang semua mata kuliah ku saat aku pergi berlibur bersama papa?" sambung Seir kembali mengulas senyum samar.
Tentu bukan itu yang Jhon inginkan, begitu juga dengan Seir.
"Atau begini saja, bagaimana kalau kau menginap di rumah uncle Rofhten untuk beberapa hari? Papa akan lebih tenang jika meninggalkan mu di sana." usul Jhon. Rasanya itulah ide terbaik untuk mereka saat ini. Terlebih lagi untuk putri tercintanya.
"Tapi pa, itu akan merepotkan keluarga uncle. Lagi pula papa hanya pergi beberapa hari bukan?" Tinggal bersama Verrel bukan masalah bagi Seir, hanya saja, Seir akan merasa lebih nyaman jika ia bisa tetap tinggal dirumah mereka sendiri.
"Tidak sayang. Papa rasa ini yang terbaik. Papa akan bicara pada keluarga Rofhten secepatnya." Jhon tak ingin meninggalkan Seir dirumah seorang diri. Jhon tak ingin putri kesayangannya merasa kesepian.
Jika sudah begini, maka Seir hanya bisa menyetujui ide papanya. Lebih baik membuat pria paruh baya itu pergi dengan pikiran yang tenang.
__ADS_1
"Terserah papa saja."
...❄️...
Setelah menitipkan putrinya pada keluarga Rofhten, Jhon langsung pergi mengendarai mobilnya menuju ke pelabuhan.
Dan sekarang, tinggal Seir seorang diri yang harus membiasakan diri dirumah keluarga dari sahabatnya itu, keluarga Rofthen. Sudah lama sekali Seir tak bertemu dengan orang tua Verrel, rasanya sedikit canggung.
"Ella?" Wajah yang tersenyum dengan mata berbinar hangat, menyambut kedatangan Seir. "Oh my dear, aunty sangat senang bertemu dengan mu lagi sayang. Ayo, aunty antarkan ke kamar mu, dan buatlah diri mu merasa nyaman dirumah kami."
Sama seperti dulu, orang tua Verrel bahkan tak pernah berubah sedikitpun. Mereka selalu menjadi sosok yang hangat bagi Seir. Sosok yang selalu membuat Seir iri pada Verrel.
"Terimakasih aunty, dengan menerima ku di sini saja sudah lebih dari cukup untuk ku." Seir sungguh tak ingin merasa berutang budi terlalu banyak pada orang lain, tapi sepertinya, kali ini Seir harus pasrah pada keputusan papanya.
Saat Seir tiba dirumah itu, sosok yang dicarinya hanyalah Verrel, meskipun orang tua Verrel selalu menyambutnya dengan baik, tetap saja Seir belum terbiasa, "Apa Verrel tidak ada dirumah aunt?" tanya Seir.
Gadis itu sedang berusaha membawa barang-barangnya sendiri karena menolak bantuan dari bibi pengurus rumah.
"Verrel sedang pergi berolahraga Ella, sebentar lagi mereka juga akan pulang."
Seir menelengkan kepalanya masih tak mengerti dengan perkataan nyonya Rofthen. "Mereka aunt, maksudnya?"
"Mom.. kami pulang.." lihat, baru saja Seir ingin membahasnya, sekarang orang yang sedang dibicarakan sudah kembali kerumah.
"Nah itu mereka." Seir mengembangkan senyumnya mengikuti arah pandang dari nyonya Rofthen.
"Seir..?" sosok di samping Verrel juga nampaknya dibuat terkejut.
"Hai.. kalian baru pulang?" Seir tersenyum canggung. Bagaimana sekarang, tidak hanya Verrel, tapi ada Rain juga di sana.
"Kau datang, kenapa tidak memberitahu ku?" Verrel menghampiri Seir dan memeluk Seir untuk sesaat.
Dengan sikap santainya, dengan cepat Verrel mengambil alih barang-barang yang ada ditangan Seir tanpa sempat Seir hindari.
"Seir akan tinggal bersama kita beberapa hari kedepan, uncle Jhon menitipkannya di sini sementara uncle menyelesaikan pekerjaannya di kota." nyonya Rofthen mengambil alih untuk menjawab pertanyaan dari putranya.
"Sungguh?" Verrel tersenyum senang. Verrel sudah lama mengharapkan hal seperti ini terjadi lagi. Dulu Seir sering menginap dirumahnya, terutama nyonya Deep sedang mengurung diri untuk melukis.
"Aku sudah seperti anak kecil." bisik Seir merasa canggung. Sementara sosok yang berdiri di belakang Verrel hanya menatap keduanya dengan tatapan tajam.
"Tapi aku senang." Verrel tak mengira jika sampai dengan akhir pekan ia akan selalu bersama dengan Seir. Hal ini merupakan kabar yang menggembirakan bagi Verrel.
Tapi tidak ada untuk ku! Rain hanya bisa menatap risih saat melihat kedekatan antara Seir dan Verrel.
__ADS_1
"Anak-anak masuklah, kita akan sarapan bersama."
...❄️...
Setelah menyelesaikan sarapan, Seir membantu nyonya Rofthen untuk membereskan perlengkapan makan yang telah mereka gunakan, sedangkan Verrel dan Rain berada di ruang santai.
"Kau tidak pulang?" tanya Verrel melihat Rain yang begitu nyaman berbaring di sofanya alih-alih cepat pulang seperti biasa.
"Kenapa, kamu tidak suka melihat aku di sini? karena kau ingin berduaan saja dengan Seir?" sahut Rain bernada sinis.
Rain merasa kesal karena Seir harus menginap beberapa hari dirumah Verrel. Sedang ia sendiri mengetahui bagaimana perasaan sahabatnya itu pada Seir.
Rain tak ingin Verrel dengan bebas berbicara dan melakukan banyak hal bersama Seir sedangkan waktu yang di miliknya begitu terbatas.
Verrel tersenyum samar mendengar kata-kata Rain, "Karena itulah uncle menitipkan Ella dirumah ku kawan, agar kami menghabiskan waktu bersama. Kami sering melakukan itu bahkan sejak kami masih kecil." ujar Verrel membanggakan setiap kenangannya dengan Seir, dan semua itu hanya di miliki oleh dirinya.
"Tapi itukan dulu." sudah beberapa tahun berlalu dan keduanya baru bertemu lagi sekarang, mustahil mereka masih merasa nyaman sama seperti saat mereka masih kecil dulu, setidaknya itulah yang Rain pikirkan tentang hubungan keduanya.
"Apa bedanya? Aku yang dulu dan aku yang sekarang masih tetap Verrel. Begitu juga dengan Ella, tidak ada yang berubah dari kami masing-masing sobat. Bagiku dan bagi Ella, hubungan kami tak akan berubah canggung hanya karena kami sempat terpisah beberapa tahun lamanya."
"Lihatlah sekarang? apa kau bisa bayangkan bagaimana dekatnya kami dulu? aku bahkan tak bisa melupakan satu hari pun saat kami masih kecil." Verrel tersenyum samar.
Verrel yakin dengan apa yang dirasakan hatinya. Sejak bertemu lagi dengan Seir, Verrel tak pernah diperlakukan seperti orang asing. Bahkan perasaan canggung pun tak ada diantara keduanya.
Seir selalu menyambut dengan hangat dan juga memperlakukan Verrel sama seperti mereka masih kecil dulu. Karena itulah, Verrel semakin yakin bahwa perasannya benar-benar nyata untuk Seir.
"Cih. Kepercayaan macam apa itu. Kalian bukan sahabat yang berusia enam dan tujuh tahun lagi. Pikiran mu benar-benar konyol." celetuk Rain yang langsung bangun dari berbaring nya.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Seir yang tiba-tiba saja bergabung dengan keduanya. Dari kejauhan Seir memperhatikan pembicaraan keduanya yang terlihat menarik dan membuatnya ingin tahu apa yang sedang kedua pemuda itu bicarakan.
"Kami membicarakan dirimu." Sahut Rain cepat, sementara Verrel terlihat gugup mendengar jawaban Rain.
Cih.. lihat. Katanya tak ada perasaan canggung, tapi apa yang ku lihat sekarang? kesal Rain dalam hati.
"Aku? ada apa dengan ku?" Seir menunjuk dirinya sendiri. "Kami ingin mengajak mu pergi, kebetulan aku mendapat undangan dari seorang teman. Kau mau ikut kan?" ujar Verrel menatap Seir dengan mata berbinar.
"Boleh saja. Lagi pula aku belum terlalu tau tentang pulau ini. Aku akan ikut kalian." Seir tersenyum manis pada Verrel.
Sedang Rain hanya menatap keduanya dengan wajah kaku..
"Cih.. mudah sekali di bohongi."
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...