SPELL

SPELL
SPELL 40


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Apa, kau serius telah menyetujui permintaan kak Viloen Bae?" Rain kesal dan merasa tak habis pikir dengan keputusan yang telah Seir ambil.


Mengapa Seir menyetujui begitu saja hal yang seharusnya tak ia setujui. Keputusan ini pasti akan merugikan Seir.


Apalagi semuanya belum terbukti. Dan Rain yakin bahwa Seir tak bersalah. Tapi bagaimana bisa Seir menerima begitu saja semua keputusan atas dirinya.


Demi kebaikan? Apa-apaan itu..


Terlebih lagi kakaknya. Bagaimana kak Viloen bisa membuat keputusan yang tidak masuk akal seperti ini?


Tidak hanya merasa kesal, Rain juga merasa tak berdaya. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kekasihnya.


Andai saja ia punya kekuasaan seperti Viloen kakaknya, tapi apa daya, ia masih tak memiliki apapun selain gelar sebagai putra pemilik De Lune Exas. Sialan.


"Aku harus bicara pada kak Viloen. Bagaimana bisa kak Viloen memutuskan hal sepihak seperti ini. Seharusnya aku curiga saat kau mengatakan semuanya baik-baik saja tadi Bae. Pada akhirnya malah seperti ini kan!"


Seir sangat mengerti apa yang membuat Rain kesal. Karena Seir pun merasakan hal demikian. Tapi ia juga bisa mengerti mengapa Viloen membuat keputusan tersebut.


"Rain, Kak Viloen tidak salah. apa yang di katakan oleh kak Viloen itu benar. Memang ada baiknya kalau aku tidak masuk kampus untuk sementara waktu." Seir memaksakan untuk tersenyum.


"Lagipula, bukankah ini jauh lebih baik? dengan aku tidak ada di kampus, setidaknya masalah ini bisa di selidiki dengan lebih tenang."


"Anak-anak yang lain juga tidak harus merasa terganggu karena melihat ku. Dan aku juga tidak harus mendengarkan semua cibiran mereka."


"Dan yang terpenting lagi, ku juga tidak akan melihat mu membuat keributan seperti tadi." Seir menatap wajah Rain dengan sungguh-sungguh.


Ah, mengesalkan karena harus berada di posisi seperti ini. Aku benar-benar tak akan memaafkan siapapun yang telah melakukan hal rendahan seperti ini.


"Kau tau bukan betapa takutnya aku tadi melihat mu marah begitu? Jangan melakukan itu lagi Rain. Perbuatan mu tidak hanya akan merugikan dirimu. Tapi juga merugikan orang lain."


Seir merasa bersyukur karena hanya dirinya yang di panggil ke ruang kesiswaan.

__ADS_1


Setidaknya, Rain tidak mendapatkan sanksi akibat perkelahiannya dengan pria yang mencibir dirinya.


Mengingat siapa Rain, mungkin hanya Viloen lah yang bisa memberikan hukuman pada Rain, meskipun begitu, tetap saja semua itu membuat Seir khawatir.


Melihat tatapan Seir yang penuh dengan kesungguhan, kini Rain merasa bersalah dalam hatinya.


Bagaimana bisa kekasihnya lebih mengkhawatirkan apa yang akan terjadi pada dirinya di bandingkan dengan reputasinya sendiri yang telah di hancurkan karena sebuah rumor dan juga video rekayasa. Seir yang malang.


"Maafkan aku Bae. Aku sungguh minta maaf. Aku telah membuat mu khawatir. Aku egois. Maafkan aku." Rain tidak ingin menambah beban Seir. Setidaknya untuk saat ini.


"Tenang saja Ell. Aku dan Bruro akan menyelidiki semua ini. Dalam waktu dekat kita akan tau bagaimana semua video dan juga gambar-gambar itu bisa beredar di situs kampus." Verrel menyela.


"Siapapun yang melakukannya, aku janji tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Setidaknya mereka harus dikeluarkan dari kampus ini."


Verrel bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Sejak mengetahui semua rumor yang beredar di situs kampus, Verrel langsung menghubungi temannya yang ada diluar pulau untuk menyelidiki penyebaran video tersebut.


Sedangkan Bruro, pria itu telah memeriksa jaringan kampus yang saat ini telah di retas oleh seseorang.


"Kami percaya jika itu bukan dirimu. Kau tidak sendiri, kami selalu ada di sini untuk mendukung mu Ell."


"Verrel benar. Kami akan selalu bersamamu Bae. Aku juga akan membantu kak Viloen menyelidiki masalah ini."


Mendengar semua dukungan yang diberikan oleh kekasih dan juga sahabatnya sungguh membuat hati Seir terharu.


Sekarang ia tidak hanya memiliki Verrel di sisinya, tapi juga Rain. Seir tidak akan merasa sendirian lagi meskipun ia berada di tepi jurang yang mematikan.


"Ya.. ya.. baiklah. Ternyata inilah salah satu keuntungan yang aku terima dengan memiliki sahabat dan juga kekasih yang merupakan orang-orang terpopuler di kampus ini."


"Jangan meragukan kami." Rain dan Verrel sama-sama bersuara. Seir menautkan alisnya sambil tersenyum manis.


Well, untuk hal seperti ini, ternyata sahabat dan juga kekasihnya bisa memiliki pandangan dan sikap yang sama. Hal itu tentu saja membuat Seir merasa bahagia.


"Baiklah, tidak akan."


...❄️...


"Kau yakin tidak ingin aku temani Bae? Aku juga tidak memiliki kelas hari ini. Aku bisa menghabiskan waktu ku sepanjang hari bersama mu." Rain memelas saat mengantarkan Seir pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Di saat seperti ini, rasanya Rain bahkan tak ingin meninggalkan Seir walau hanya sebentar.


Rain takut jika Seir akan menangis jika di tinggalkan seorang diri.


"Tidak usah Rain. Aku baik-baik saja. Aku hanya akan masuk dan beristirahat. Jangan mengkhawatirkan aku seperti itu, aku akan menghubungimu nanti."


Seir sedang tidak ingin ditemani siapapun. Saat ini ia hanya ingin sendiri. Banyak hal yang harus ia pikirkan.


Dan sekarang, Seir juga harus memikirkan untuk mengatakan semua masalah yang terjadi di kampus pada papanya.


Seir harus memikirkan kata-kata apa yang tepat agar papanya tak merasa khawatir.


"Baiklah kalau begitu Bae. Hubungi aku nanti, aku menunggu." Rain mencium kening Seir dan setelahnya membawa mobilnya melaju meninggalkan kediaman keluarga Deep.


Diluar perkiraan Seir, ternyata papanya tidak pergi kemanapun. Dan apa yang di lakukan Rain sebelumnya, juga di saksikan oleh Jhon dari balkon lantai dia tempat ia berdiri sekarang.


"Apa Rain akan kembali lagi Sweet heart?" seru Jhon dengan menyilangkan tangan di dadanya.


"Hai papa?" Seir tersenyum canggung. Pasalnya, sampai saat ini Seir belum mengatakan pada papanya jika ia dan Rain resmi menjalin hubungan.


Dengan perasaan yang sedikit berdebar Seir masuk kerumah dan langsung menemui papanya.


"Papa, ada yang harus aku katakan pada papa.." ujar Seir. Tatapan Jhon yang melembut membuat perasaan Seir menjadi sedikit tenang.


"Apa ini tentang arti dari ciuman pemuda tadi sayang?" Jhon tersenyum. Wajah Seir juga merona mendengar kata-kata godaan dari papanya.


"Yah, itu juga. Tapi ada yang lainnya lagi." Seir tak berniat menyembunyikan apapun dari papanya, meskipun ia tahu nanti nya semua itu akan membuat dirinya sedikit kesulitan.


"Maafkan aku karena tak mengatakan nya lebih cepat, tentang aku dan Rain papa." Seir menjeda sejenak untuk melihat reaksi papanya. "Kami berpacaran."


Jhon sama sekali tak terkejut dengan hal itu. Tentu saja putrinya akan memiliki kekasih. Yang aneh jika tak ada satupun pria yang tertarik untuk menjadi kekasih putrinya.


"Lalu.. tentang sekolahku." ujar Seir lagi. Jhon terlihat menunjukkan wajah serius.. "Ada masalah di kampus, dan untuk sementara aku tak akan pergi ke kampus.."


"Ceritakan semuanya pada papa Ella. Jangan ada yang kau tutup-tutupi."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2