
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Apa yang kau lakukan Bruro? untuk apa semua ini?" Verrel bertanya karena tak tahu apa yang sedang terjadi di ruangan pribadi mereka.
Sejak pagi Bruro sudah memenuhi private room dengan balon yang di penuhi tulisan dan juga buket bunga mawar. Pria itu sedang dalam misi untuk menyatakan perasaannya pada seorang gadis.
"Aku akan menyatakan cinta ku kawan." Bruro tersenyum bahagia. Ia yakin dengan keputusannya. Bruro sudah cukup lama memikirkan hal ini, dan sekarang adalah waktu yang tepat baginya.
"What..? kamu serius?" Verrel merasa tergelitik dengan pernyataan sahabatnya. Ia tahu jika Bruro memanglah seorang yang mudah jatuh cinta, tapi selama ini, hanya ada beberapa gadis yang pernah menjadi kekasihnya.
Tentu saja hubungan asmara Bruro yang terakhir kali tak seheboh yang sebelumnya. Dan sekarang, sahabatnya itu sepertinya ingin memulai kehebohan yang baru.
"Aku sungguh-sungguh kawan. Aku sudah yakin dengan perasaan ku." Bruro tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia jatuh cinta, dan cintanya harus tersampaikan dengan nyata.
"Aku sudah menemui gadis pujaan hatiku kemarin, dan katanya ia tak memiliki pacar. Jadi aku tak ingin melewatkan kesempatan bagus seperti ini."
Verrel hanya bisa terkesima dengan keberanian yang dimiliki Bruro. Tak banyak orang yang memiliki keberanian seperti itu.
"Kau benar-benar sesuatu kawan. Aku mendukungmu." Verrel tersenyum senang. Suatu saat ia sendiri pun ingin melakukan hal yang luar biasa seperti ini untuk cinta pertamanya.
"Apa yang harus ku bantu?" tawar Verrel. "Kau bisa membantuku untuk membawakan yang disebelah sana kawan." keduanya nampak serius.
"Ada apa dengan semua kekacauan ini?" suara lain menginterupsi keduanya. Kali ini Rain lah yang di buat terkejut mendapati ruangan pribadi mereka dipenuhi benda-benda berwarna-warni yang membuatnya sakit mata.
"Aku ingin menyatakan cinta pada pujaan hatiku kawan. Jadi dukunglah sahabat mu ini." ujar Bruro pada Rain.
"Ayo, bantu aku membawa semuanya." Bruro meminta Rain membawakan buket bunga miliknya, sedangkan ia sendiri membawa balon-balon yang berisikan pernyataan cinta, dan Verrel membawa beberapa kotak hadiah.
"Kau benar-benar gila karena melakukan semua ini di kampus Bruro." tegur Rain. Meskipun begitu, ia merasa penasaran dengan gadis yang mencuri perhatian Bruro hingga berbuat seperti ini.
Gadis itu patut untuk diacungi jempol. "Gadis mana yang beruntung menerima pernyataan seperti ini?"
Ketiganya membuat seisi kampus heboh saat tiba di lapangan terbuka..
__ADS_1
"Ini adalah tempat terbaik kawan, aku ingin semua orang menjadi saksi perjalanan cinta ku." Bruro tersenyum percaya diri.
"Aku ingin melihat siapa gadis beruntung itu." ujar Verrel yang ikut merasa deg degan untuk sahabatnya itu.
"Aku juga." timpa Rain. "Sobat, sekarang mari bertukar dengan ku, orang lain akan salah paham jika aku yang membawa bunga-bunga ini." ujar Rain menyerahkan buket bunga di tangannya pada Bruro, dan temannya itu menyerahkan balon-balon ditangannya pada Rain.
"Bukankah sekarang lebih baik? Nah sekarang mari kita lihat gadis mana yang beruntung itu.." Verrel dan Rain sama-sama tersenyum.
...❄️...
Saat tiba di kampus, Seir langsung ditarik oleh salah seorang mahasiswi yang tak dikenalnya dan menyampaikan pada Seir bahwa seseorang sedang menunggunya di tengah lapangan.
Saat Seir tiba di lapangan terbuka itu, orang-orang sudah mulai berkerumun dan berteriak heboh melihat pemandangan yang tak biasa. Rain, Verrel dan Bruro. Semua pria populer ada di sana.
"Apa kalian yakin sudah memanggil Seir kemari?" tanya Bruro pada anak-anak dari jurusan seni. "Kami sudah memanggilnya. Mungkin dia akan tiba sebentar lagi."
Mendengar nama Seir keluar dari mulut Bruro membuat Rain dan Verrel sama-sama tersentak. Rain meneliti tulisan di balon itu satu persatu, dan benar saja, nama Seir tertulis di sana.
Menyadari jika gadis yang akan menerima pernyataan cinta dari sahabatnya adalah Seir Estelle, wanita yang sama yang juga sedang Rain incar untuk rencana balas dendamnya membuat Rain berniat mengacaukan apa yang telah Bruro siapkan.
"Kau benar-benar konyol. Ini sama sekali tak menarik." katanya dengan nada sinis. Sementara Verrel yang saat itu juga menyadari apa yang terjadi ikut melepaskan sebagian balon yang ada di tangannya.
"Kembali lah kawan. Jangan lanjutkan semua ini." Peringat Verrel. "Kau tidak cocok bersama Seir. Lupakan rencana mu ini." Kali ini Verrel serius dengan kata-katanya.
"Ada apa dengan kalian berdua? kalian mengacaukan semuanya." Bruro terlihat kesal sekaligus frustasi karena perlakuan Verrel dan Rain yang berubah seketika.
Verrel langsung berbalik pergi setelah memberikan kotak hadiah yang ia bawa pada Bruro, sedangkan Rain, mata elangnya sedang meneliti dalam kerumunan.
Dari tengah-tengah orang yang mulai berdesakan Seir melihat semua yang terjadi. Orang-orang yang bersorak karena balon-balon yang dilepaskan ke udara, serta kericuhan yang ditimbulkannya oleh Verrel dan juga Rain, serta Bruro yang sedang memegang buket mawar merah yang luar biasa besar.
"Dasar konyol!" Seir tersenyum sinis. Ia diminta untuk datang secepat mungkin hanya untuk melihat pertunjukan konyol seperti ini. Waktunya sungguh terbuang sia-sia.
Tak ingin berada di sana lebih lama lagi, Seir pun memilih untuk meninggalkan kerumunan itu.
"Seir..?" Rain menahan tangan Seir dan membawa gadis itu pergi dari tengah-tengah kerumunan.
"Lepaskan tanganku Rain." Seir menarik tangannya tapi tak bisa melepaskan diri dari genggaman Rain.
__ADS_1
Rain membawa Seir ke perpustakaan pribadi miliknya. Dimana seorang pun tak ada yang boleh masuk ke sana tanpa seijin Rain. Dan tak ada seorangpun yang akan menggangu mereka.
"Kenapa kau seperti ini." Kesal Seir yang tak tahu mengapa Rain tergesa-gesa membawanya keruangan itu.
"Seir, kau harus jadi kekasihku sekarang juga. Aku tak bisa membiarkan mu menjadi kekasih pria lain." Rain tahu berapa konyolnya ia saat ini. Tapi ia sungguh-sungguh dengan perkataannya.
Hanya memikirkan hubungan Verrel dan Seir saja sudah membuatnya tak nyaman, apalagi sekarang ditambah dengan Bruro yang juga ingin menyatakan cinta pada Seir.
Rain tak bisa membiarkan semuanya begitu saja. Seir harus menjadi kekasihnya, rencana yang sudah disusunnya selama ini tak boleh gagal begitu saja.
"Apa karena itu kau membuat keributan diluar sana?" Seir menatap tajam Rain. Ia tahu hidupnya akan kacau sejak pertama kali bertemu dengan pria itu, tapi ia tak menyangka jika akan kacau seperti ini.
"Apa kau keberatan? aku akan membuat yang lebih heboh dibandingkan tadi jika kau masih tak mau memberiku jawaban." Rain menutup jarak diantar mereka membuat Seir dalam posisi yang tak bisa menghindar meskipun ia ingin.
Rain terlalu dekat. Bahkan Seir bisa mendengar suara nafas dan degup jantung pria itu..
"Aku tahu kau gila. Tapi tak pernah ku bayangkan kau akan segila ini." itu seharusnya cacian bagi Rain, tapi entah kenapa pria itu justru tersenyum.
Dan tatapan mata Rain membuat hati Seir merasakan sesuatu. Rasa panas tiba-tiba saja menjalari punggungnya. Seir sedikit takut dengan perasaannya saat ini.
"Aku tahu Seir. Dan kau tahu hal yang lebih gila lagi?" Rain tersenyum, "Semua ini karena mu."
Seir tahu tidak seharusnya ini terjadi, tapi saat Rain mendekatkan wajahnya dan bibir pria itu menyentuh pelan bibir Seir, ia tak tahu jika rasanya akan seperti ini.
Jantung miliknya berdebar cepat, dan wajahnya terasa panas. Begitu juga dengan Rain. Dorongan dalam dirinya membuat tubuhnya bergerak dengan begitu posesif pada Seir.
"Apa kau keberatan?" bisik Rain saat melepaskan ciumannya. Seir tak bisa berkata-kata. Meskipun ia tak menyukai Rain, tapi ia juga tak membenci ciuman pria itu.
Bahkan jantungnya semakin berdebar karena menyadari betapa dekatnya mereka saat ini. Tak ada jarak diantara mereka. Rain sungguh terlalu dekat..
"Ini adalah ciuman pertama ku." Rain tersenyum. "Dan juga ciuman pertama kita. Mulai hari ini kau adalah kekasihku Seir."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1