SPELL

SPELL
SPELL 24


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Saat ingin mengejar Verrel yang membawa Seir pergi begitu saja setelah meluapkan kemarahannya, tak jauh dari ruang pribadinya Rain bertemu dengan Yukkie. Gadis itu juga terlihat terburu-buru saat ingin menghampiri Rain.


"Rain, syukurlah kau ada di sini." Yukkie menggandeng tangan Rain dan merapatkan tubuhnya bergelayut manja.


"Lihat ini, tangan ku terluka." Yukkie menunjukkan tangannya yang sedikit tergores akibat dorongan dan juga tepisan dari tangan Verrel sebelumnya.


"Apa kau anak kecil? luka begitu saja tidak akan membuat mu mati." ucap Rain kesal. Rain ingin segera menghindar dari Yukkie dan menemukan Seir, masih ada yang harus Rain tanyakan. Tapi kini ia tak tahu kemana Verrel membawa Seir pergi.


"Tapi ini sakit Rain. Dan luka ini karena Verrel." Yukkie bercerita seraya menekuk kesal wajahnya. Jika saja Verrel tak ikut campur, Yukkie pasti sudah memberikan Seir peringatan yang seharusnya cukup untuk membuat gadis itu berhenti berkeliaran di sekitar kekasih hatinya.


Rain mengerutkan kening saat mendengar luka ditangan Yukkie adalah ulah dari Verrel, sahabatnya. "Jangan membual. Sejak kapan Verrel menyakiti perempuan? pergilah aku sibuk." tepis Rain.


Rain pikir semua perkataan Yukkie hanyalah bentuk dari haus perhatian gadis itu pada dirinya. Dan Rain tak berniat untuk menanggapi Yukkie sedikitpun.


Saat Rain melangkah pergi, Yukkie langsung mengikuti Rain. Kali ini Yukkie bersikeras agar Rain tidak mengabaikan dirinya lagi.


"Rain kamu mau pergi kemana? bukankah kelas kita dimulai sebentar lagi? dan tentang Verrel aku tidak bohong. Verrel memang menyakiti ku. Kau bisa melihatnya sendiri kan?"


"Aku yakin itu karena kau sudah bersikap keterlaluan pada Verrel. Bukankah kita semua sudah saling mengenal sejak lama?"


Setahu Rain, sahabatnya memang bukanlah orang yang akan menyakiti wanita, apalagi bersikap kasar seperti yang Yukkie katakan sebelumnya.


Verrel memang kadang menunjukkan emosi yang sedikit berlebihan, tapi jika hal itu sampai terjadi, karena pria itu sudah tak bisa mentoleransi sesuatu, Rain sangat mengenal sahabatnya.


Lagipula, Verrel juga bukan seorang pria yang ringan tangan. Jadi Rain tak bisa percaya begitu saja pada perkataan Yukkie.


"Itulah yang membuatku heran. Selama ini Verrel tak pernah marah padaku. Semua ini pasti karena gadis sialan itu." Semua orang mulai berubah sejak kedatangan gadis yang tak tahu entah dari mana. Dan Yukkie merasa tak tenang karena keberadaan Seir.


Rain menghentikan langkahnya dan hampir saja membuat Yukkie tersandung. "Apa maksud mu? gadis yang mana maksudmu?"


Yukkie mendengus sambil melipat kedua tangannya, kesal. "Siapa lagi, tentu saja gadis baru itu."


"Maksud mu Seir?" Rain sedikit menajamkan suaranya. "Hem, gadis itu. Verrel jadi aneh semenjak bergaul dengan gadis asing itu."


Apa karena ini Verrel tadi meluapkan kemarahannya ku?


"Apa hubungannya dengan Seir, dan kenapa Verrel harus marah?" Lagi-lagi Rain tak bisa menahan dirinya, ia mendekat kepada Yukkie dengan tatapan tajam yang sarat akan keingintahuan.


Nafas Yukkie hampir tercekat karena Rain yang mendekat tiba-tiba. Ia berdebar, tapi juga merasa sedikit terintimidasi.

__ADS_1


"Aku.. tidak. Aku hanya ingin memberi gadis itu peringatan, lalu.."


"Peringatan? maksud mu?" Perasaan Rain menjadi semakin tak nyaman mendengar pengakuan Yukkie. Apakah tadi Seir mendapatkan perlakuan buruk dari Yukkie? apa Yukkie mengancamnya, atau mungkinkah..


"Rain, dengar.. aku hanya tak suka melihat gadis itu dengan sengaja menggoda mu. Kau tahu bagaimana perasaan ku bukan, aku hanya ingin gadis itu sadar diri."


"Tutup mulut mu." Rain menepis tangan Yukkie yang ingin meraih tangannya. "Sebaiknya kau minta maaf sebelum ini menjadi semakin buruk." peringat Rain dengan tatapan marah.


Kini ia tahu alasan dari kemarahan Verrel tadi. Seir terluka. Dan itu karena dirinya. Karena gadis yang terobsesi pada dirinya ini..


"Rain, dengarkan aku.. ini tidak seperti.."


"Menjauh lah dari hidup ku Yukkie. Kau benar-benar seperti virus yang ada dimana-mana. Dan itu membuatku muak."


Rain tak ingin mendengarkan apapun lagi. Sudah cukup ia mentoleransi Yukkie dan juga perbuatannya. Selama ini Rain menutup mata dengan apa yang gadis itu lakukan karena Rain pikir itu bukan urusannya.


Tapi ceritanya akan berbeda jika semua ini berhubungan dengan Seir..


Sial4n!


Lagi-lagi Rain membuat Seir terlibat dalam kekacauan karena dirinya..


Rain memasuki ruang kelas yang seharusnya Seir ikuti hari ini. Tapi ia tak menemukan Seir dimanapun. Begitu juga dengan Verrel.


Rain menghubungi ponsel Seir, tapi gadis itu tak menjawab dan juga tak membalas pesan yang Rain kirimkan.


"Ku mohon Seir, angkat ponselmu."


...❄️...


"Seir tidak apa-apa Son. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Rofhten tersenyum lembut saat melihat wajah khawatir putranya. Verrel benar-benar mencemaskan Seir.


Karena itu, meskipun Seir bersikeras menolak ajakan Verrel untuk membawanya pergi ke klinik, pada akhirnya mereka tetap berada ditempat ini. Klinik pribadi milik keluarga Rofhten.


Meskipun sedikit terkejut karena kunjungan tak terduga dari putranya, tapi Rofhten tak menanyakan apapun perihal luka yang dialami oleh putri dari sahabatnya itu.


Rofhten tak ingin ikut campur dengan urusan para muda-mudi. Bukan berarti ia tidak peduli, hanya saja, menurutnya hal ini masih bisa ditangani oleh putranya.


"Terimakasih uncle. Aku juga sudah bilang begitu pada Verrel, tapi dia bersikeras membawa ku kesini. Maaf karena kami sudah merepotkan uncle." ujar Seir.


'Oh, tidak." Sela Rofhten. "Jangan merasa sungkan begitu sayang. Jika terluka kau memang harus datang ke sini. Dan yang di lakukan putraku sudah benar." Rofhten tersenyum.


"Tapi aku benar-benar tidak apa-apa uncle, ini hanya luka kecil."


"Apa nya yang tidak apa-apa Ella." Verrel masih terlihat kesal. "Lihat, wajahmu masih memerah seperti itu. Dan tangan mu, tanganmu juga terluka."

__ADS_1


Seharusnya tadi Verrel langsung saja melaporkan Yukkie pada pihak disiplin kampus. Dengan begitu, gadis itu bisa diberi peringatan.


"Ini bukan luka besar Rell, jangan berlebihan." Seir tersenyum canggung atas perhatian yang diterimanya.


"Oleskan ini pada wajahmu Ell, dan oleskan obat yang berwarna biru pada luka tangan mu." ujar Rofhten.


"Dan.. Emm.. Apa uncle perlu mengatakan ini pada Jhon?"


"Tidak uncle. Ku mohon uncle bisa merahasiakan ini dari papa. Uncle tau sendiri bagaimana papa bukan, aku tak ingin membuat keributan.."


Lagipula hal seperti ini bukanlah hal besar bagi Seir. Seandainya Verrel tidak datang pun, Seir yakin bisa mengurus Yukkie dengan baik. Ah, sayang nya tadi ia tak sempat membalas gadis itu..


"Baiklah Ell, tapi uncle harap hal seperti ini tak akan terulang lagi." ujar Rofhten. "Dan kau Son, kau harus menjaga Seir dengan lebih baik."


"Uncle, ini tidak ada hubungannya dengan Verrel, aku.."


"Ini memang salahku Ell, kalau saja aku bisa datang lebih cepat, kau tidak akan terluka seperti ini." Verrel benar-benar merasa buruk karena hal yang dialami Seir. Terlebih lagi karena semua itu seharusnya bisa ia cegah jika saja ia tak sibuk dengan urusannya.


"Jangan begitu Rell, kau membuat ku merasa bersalah. Kau tahu ini bukan salahmu, gadis itu saja yang sudah bersikap berlebihan."


Sejak awal hal seperti inilah yang dihindari Seir. Ini jugalah alasan mengapa ia tak ingin terlibat pada orang-orang seperti Rain dan juga, Verrel, seharusnya..


Tapi mau bagaimana lagi, Seir tak mungkin berpura-pura tak mengenal Verrel hanya karena memikirkan ketenangan dirinya..


"Ell, mulai hari ini aku akan menjagamu. Aku tak akan membiarkan Yukkie atau siapapun lagi menyakiti mu seperti tadi, aku janji."


Seir tersenyum hangat saat melihat Verrel yang sedang menatap dirinya dengan wajah serius. Sejak mereka masih kecil Verrel memang selalu bersikap baik pada dirinya.


Bahkan di saat Seir merasa buruk sekalipun. Seir merasa beruntung karena memiliki Verrel sebagai sahabatnya.


"Hem. Baiklah. Kau bisa menjagaku seperti yang kau mau."


persetujuan dari Seir membuat wajah Verrel yang tadinya tegang terlihat lebih santai. Setidaknya, kali ini ia sudah mendapatkan lampu hijau dari Seir.


Verrel berjanji tak akan membuat Seir mengalami hal yang sama untuk keduakalinya.. Verrel tak akan membiarkan Yukkie atau siapapun itu menyakiti Seir, termasuk Rain!


Rofhten pun ikut tersenyum melihat putra semata wayangnya bersikap layaknya seorang pria. Ia bangga pada Verrel dan juga pertemanan keduanya.


"Uncle, sebaiknya kami pulang. Dan terimakasih sudah mengobati ku." Seir berpamitan.


"Baiklah Ell, jangan sungkan untuk main-main kerumah jika kau ada waktu luang."


"Baik uncle."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2