SPELL

SPELL
SPELL-34


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Rain mengambilkan dua kaleng minuman dingin untuk dirinya dan Seir. Sementara gadis itu masih menolak untuk bersikap ramah.


Pada dasarnya, Rain sangat mengerti alasan dari kemarahan Seir. Rain sudah bersikap brengsek. Ia seperti pria bajingan yang sedang mempermainkan perasaan seorang gadis.


Ditambah lagi dengan rencana brengseknya di awal. Rain merasa malu atas sikapnya.


Tapi sungguh, saat ini Rain ingin menjelaskan semua itu pada Seir. Rain tak ingin gadis itu salah paham pada dirinya.


Seir begitu berarti bagi Rain. Meskipun ia masih belum bisa sepenuhnya melupakan Mera, tapi Rain yakin, bahwa saat ini, yang bisa mengalihkan pikirannya dari perasaan sebelumnya hanyalah Seir.


Gadis itu bagaikan mantra penyembuh bagi luka Rain. Dan Rain tak ingin kehilangan Seir. Tidak sedetik pun.


"Minumlah." Rain duduk di sebelah Seir dan menatapnya dalam. Sedikit tergelitik karena melihat wajah ketus yang Seir tunjukkan.


Gadis itu benar-benar sedang menunjukkan sikap bermusuhan. Tak mau berdamai. Seir memang cukup sulit sejak awal, dan Rain tak berharap bahwa semua ini akan mudah baginya.


"Kau tidak ingin menatap ku, Hem?" Rain merendahkan suaranya membujuk Seir. "Kau boleh tanyakan apa saja padaku, termasuk tentang Mera, Seir."


Rain mendesah dalam. Seir bergeming. "Kau mungkin sudah mendengar sebagian ceritanya dari Verrel ataupun Bruro, dan itu tak sepenuhnya salah." aku Rain.


"Mera memang cinta pertama ku. Dan wanita itu mengkhianati ku dengan memilih Daddy sebagai pasangannya. Aku marah, dan frustasi. Itu benar." Rain bahkan masih bisa merasakan kekecewaan itu setiap kali menyebut nama Mera.


"Aku bahkan marah pada diriku sendiri. Aku juga sempat marah pada Daddy. Rasanya begitu sakit melihat wanita yang kau cintai selama bertahun-tahun justru mencintai pria lain."


Tanpa mereka tahu, mereka benar-benar telah memporak-porandakan hati Rain yang tulus. Semua perasaan serta harapannya. Bahkan perjuangan Rain selama ini, semua itu tak ada artinya.


"Aku berjuang setiap hari menunjukkan ketulusan ku. Aku menjaganya dan bahkan menjadikannya prioritas ku. Tapi apa yang ku dapat, hanya kenyataan pahit yang bahkan tak pernah ku bayangkan sebelumnya." Rain tersenyum getir.


"Tapi anehnya," Rain kembali menunjukkan senyum, tapi kali ini berbeda dari sebelumnya, "Aku tak merasa terlalu terluka untuk waktu yang lama. Aku pikir aku akan terpuruk dan tak akan pernah bangkit dari rasa sakit hatiku."


Rain bahkan merasa bangga pada dirinya sendiri. Ia bisa pulih dengan begitu cepat..


"Aku yang merasa seperti menelan racun, ternyata tak begitu mati rasa setelah beberapa saat.." Rain melemahkan suaranya..


"Kau tau alasannya?" Rain menyentuh pelan rambut Seir yang menjuntai di pipinya..Seir menatap mata Rain, mata yang kini tengah berbinar yang seakan mengikat Seir dengan sangat kuat bagaikan mantra, "Karena dirimu Seir.."


Untuk sesaat dada Seir terasa sesak. Ada sesuatu di dalam sana yang menghantam Seir dengan luar biasa.


Bagaimana ia harus merespon kejujuran yang Rain ucapkan. Seir tak tahu apakah ia harus merasa sedih untuk Rain atau merasa bahagia atas kejujuran pria itu.


Seir merasa seperti sedang tertusuk-tusuk. Semua ini karena perasaannya pada pria itu. Seir jatuh cinta. Dan perasaannya nyata untuk Rain.


"Karena kau yang selalu ada di dekat ku Seir. Kita bertengkar, kita beradu pendapat, tapi terkadang kita juga bisa saling mengerti.. dan semua sikapmu membuat ku menyadari.. ternyata perasaan ku tak sedalam itu pada Mera."

__ADS_1


Mata Rain mulai berkaca-kaca. Sulit bagi Rain untuk menelan kata-katanya. Semua pengakuan ini adalah isi hatinya. Rain tak ingin menyembunyikan semuanya lebih lama lagi.


"Sekarang kau tau, kan? aku begitu menyukai mu. Dan perasaan ini bukan karena aku ingin menjadikan mu pelampiasan jika kau berpikir demikian, aku benar-benar menyukaimu Seir."


Mata Rain kembali berbinar, dan Seir bisa merasakan setiap ketulusan dalam pengakuan pria itu. Sama seperti Seir yang menyukai Rain, pria itu juga membalas perasaannya.


"Aku menyukaimu bahkan sebelum aku benar-benar menyadarinya. Kau terasa begitu penting untuk ku. Dan perasaan ini tak sama dengan apa yang ku rasakan pada Mera." ucap Rain.


"Kau berbeda Seir." Rain mengatakan semua yang ia rasakan pada Seir. Bagaimana ia menyukai setiap apa yang gadis itu lakukan. Perkataan sarkas nya yang selalu menentang Rain.


Tatapan tak pedulinya, bahkan sikap Seir yang selalu berubah-ubah. Semua itu membuat Rain jatuh hati pada gadis itu. Dan mengikat Rain dengan begitu luar biasa.


Untuk sesaat, Seir tidak tahu harus melakukan apa. Yang dirasakannya hanyalah perasaannya yang menghangat. Rasa sesak bahkan membuat Seir ingin memeluk Rain seberat-beratnya.


Perasaan Seir yang mulai meluap membuat Seir kepayahan menahan air matanya. Ia begitu bahagia. Bahagia karena Rain juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


Ia pikir selama ini Rain sudah berbohong dan menipu. Rain hanya mempermainkan Perasaannya saja. Seir bahkan sempat menyesali semuanya, tapi.. "Hei.. jangan menangis Seir." Rain memeluk Seir yang mulai terisak.


"Aku minta maaf.. aku tahu aku salah. Maafkan aku.. aku tak jujur padamu sejak awal." Rain berusaha menenangkan Seir. Tapi perasaan gadis itu terlanjur membuncah.


Bagaimana Seir tidak menangis, Rain adalah pria pertama yang membuatnya jatuh hati. Bisa di bilang Rain adalah cinta pertamanya.


Seir merasa lega karena perasaannya untuk pria itu tak berakhir sia-sia.


Rain adalah pria pertama dalam hidup Seir, dan Seir tak ingin Rain hanya mempermainkan dirinya, karena jujur saja Seir akan membenci pria itu, dan rasanya Seir tak akan bisa melakukan itu pada cinta pertamanya.


Rain hanya berharap agar Seir bisa menerima ketulusannya. Hati Rain dan bahkan kebahagiaan Rain kini hanya berpusat pada Seir. Ia hanya ingin memiliki gadis itu. Tak lebih.


Seir yang masih berada dalam pelukan Rain hanya bisa mengangguk untuk menyetujui permintaan Rain, ia tak bisa berkata-kata karena hatinya sedang bahagia. Seir tak ingin melakukan kesalahan, karena ia juga ingin bersama dengan Rain.


"Kau mau?" tanya Rain memastikan sekali lagi. "Hmm.. aku mau.." sahut Seir terisak.


Mendengar jawaban Seir benar-benar membuat kelegaan yang luar biasa bagi Rain. Batu berat yang menghantam pundaknya sudah hilang. Beban yang mengikat hatinya, kini telah pergi.


Akhirnya, harapan Rain bisa terwujud. Sekarang Rain sudah menjadikan Seir sebagai miliknya. Rain sangat bahagia. Ia benar-benar bahagia.


"Hei, lihat aku.." Rain menghapus air mata di pipi Seir, dan mencium mata gadis itu bergantian.. "Aku mencintai mu Seir," Rain tersenyum, dan Seir menyukai senyuman Rain. Tampan.


Kekasihnya sangat tampan dan juga hangat..


"Aku juga.." Sahut Seir disertai suara serak dari sisa tangisannya. Sekarang mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih. Bahkan tanpa taruhan bodoh itu.


Rain mengangkat tubuh Seir dan mendudukkan gadis itu di atas tubuhnya sementara Rain membelai punggung Seir dengan hangat. Untuk sesaat dada Seir berdebar dengan cepat.


Seir menatap malu karena di perlakukan seperti itu secara tiba-tiba oleh Rain, "Kau tau Seir, mulai hari ini aku akan memanggil mu kesayangan ku."


Rain menarik lembut ceruk leher Seir dan mencium lembut bibir gadis itu. Seir suka ciuman Rain. Bibir Rain terasa lembut dan manis. Seir membuka mulutnya dan membiarkan Rain untuk menjelajahi setiap bagian dari dirinya.


Seir ingin Rain tahu, bahwa Perasaannya pada Rain bukanlah sesuatu yang main-main. Meskipun Rain adalah cinta pertamanya, Seir tak pernah menganggap bahwa bersama Rain hanyalah sebuah uji coba.

__ADS_1


"Kau benar-benar manis, Seir." bisik Rain dengan senyum samar yang menggelitik hati Seir.


Tangan Rain meraup Seir lebih dalam, pelukan Rain terasa hangat di punggung Seir. Bahkan Seir melingkarkan kedua kakinya di pinggang Rain.


Mereka saling menyesap, dan merasakan kehangatan masing-masing. Perasaan yang semakin meluap membuat sesuatu dalam diri Rain bergolak dan terasa asing. Sesuatu yang menuntut dan tentu saja tak akan bisa Rain kendalikan jika ia tak berhenti sekarang..


Ya Tuhan, hampir saja. Rain tak bisa seperti ini lebih lama lagi..


"Seir..." Ah.. ah.. Rain menahan dirinya dan juga nafasnya yang tersengal-sengal. Begitu juga dengan Seir.. Rain harus menghentikan ciuman mereka.


"Maafkan aku.." kata Rain yang langsung menggeser tubuh Seir lalu berjalan dan meringkuk di ujung sofa layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk. Tapi Telinga dan pipi Rain terlihat memerah, membuat Seir sedikit kebingungan..


"Rain, kau kenapa..?"


"Stop.." Rain mengulurkan tangannya pada Seir.. "Ku mohon jangan bergerak Seir, tetap di situ, atau aku tak akan bisa menahan diriku." ujar Rain. Ia sedang berusaha untuk mengendalikan dirinya dengan segenap kekuatannya.


Sedetik kemudian tawa Seir terdengar menggelitik Rain dan membuat rona di wajah pemuda itu semakin memerah.


"Apa kau sedang meledekku nona?" Rain menaikan alisnya, sedikit terusik. Jika saja ia belum berjanji untuk tidak melakukan hal-hal yang mungkin akan merusak kepercayaan Seir, mungkin saat ini Rain sudah memakan Seir hidup-hidup.


Seir terlalu manis dan juga menggoda untuk di abaikan begitu saja. Hah... gadis itu benar-benar seperti racun. Racun yang manis.


"Kemari lah Rain.." ujar Seir mengulurkan tangannya. Meskipun saat ini Seir tak bisa menyembunyikan rasa geli saat melihat tingkah Rain, tapi ia ingin mengatakan pada pria itu, bahwa Rain adalah pria yang baik. Bahkan mungkin sangat baik.


Rain menggeleng dengan wajah merona. "Akan berbahaya jika aku mendekati mu sekarang Seir." ujar Rain yang langsung menutup wajahnya dengan bantalan sofa.


Melihat hal itu membuat hati Seir semakin tergelitik, Rain benar-benar menggemaskan. Kekasihnya benar-benar akan membuatnya gila..


Karena Rain tak mu bergerak, maka Seir lah yang menghampiri Rain. "Lihat aku, Rain." Seir menarik pelan bantal yang Rain pegang untuk menutupi wajahnya..lihat, jantung Seir benar-benar tidak akan aman jika ditatap dengan mata itu.


"Kemari lah." Seir ingin memeluk Rain dan mengatakan bahwa.. "Kau tidak akan menyakiti ku Rain, jadi jangan pernah menghindari ku seperti tadi." ucap Seir.


"Aku tidak mau kau takut pada ku Seir. Kau tau, kan? saat inipun aku tidak ingin berbagi dirimu dengan siapapun."


Seir senang mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Rain. Artinya, Rain hanya akan menjadi miliknya, begitu juga sebaliknya.


"Itu terdengar manis.. tidak ingin berbagi." Seir suka kata-kata itu. Sangat intens dan seksi..


"Jangan menggodaku.." Rain membuang bantalnya dan memeluk erat tubuh Seir. Wangi tubuh Seir kembali menyeruak memenuhi indra Rain. Hah.. Sialan.


"Aku benar-benar bahagia Seir.. kau benar-benar mengubah segalanya dalam hidupku." Rain mencium dalam pundak Seir.


"Begitu pun aku, Rain. Aku bahagia bersama mu."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2