SPELL

SPELL
SPELL 23


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Tolong jawab aku Ell," Verrel menahan tangan Seir hingga membuat Seir tak bisa bergerak. "Aku melihat Rain membawa mu pergi hari itu, sebenarnya ada apa diantara kalian? apakah ada sesuatu yang tidak ku ketahui?"


Selama ini Verrel memang diam, tapi bukan karena ia tak menyadari sesuatu diantara Seir dan para sahabatnya.


Tidak hanya Bruro, tapi Verrel juga bisa melihat jelas, bahwa Rain juga menyimpan sesuatu pada Seir. Dan entah bagaimana keduanya bisa memiliki hubungan seperti itu tanpa sepengetahuan dirinya. Sungguh membuat frustasi.


Sejak awal Verrel memang memiliki firasat jika Seir tidak akan bisa ia kagumi seorang diri. Seir adalah gadis yang cantik dan juga penuh semangat.


Meskipun tak memiliki lingkungan pergaulan yang luas, tapi Seir memiliki orang-orang yang dibutuhkannya. Termasuk Verrel..


Seir selalu bersikap dewasa, dan Seir tahu bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan semestinya, karena itulah meskipun sulit di dekati, tapi Seir selalu menarik orang-orang untuk mendekat karena hal-hal baik dalam dirinya.


"Aku dan Rain tak memiliki hubungan apapun Verrel." Sahut Seir, "Kami memang membuat sebuah taruhan. Tapi itu bukan masalah besar. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."


Seir tak bisa mengatakan pada Verrel tentang taruhannya dan Rain, dan juga tentang ciuman hari itu. Meskipun Verrel sahabatnya, tapi Verrel juga merupakan sahabat dari Rain.


Seir tak ingin membuat masalah semakin besar. Sudah cukup ia dibuat pusing dengan tingkah Bruro yang selalu mengganggunya di setiap ada kesempatan. Dan sekarang, Verrel yang ingin tahu tentang kehidupan pribadinya.


Tak bisakah ia dibiarkan seorang sendiri saja?


"Kenapa Rain membuat taruhan dengan mu Ell, taruhan seperti apa yang kalian buat? kau tidak membahayakan dirimu bukan?" Verrel cukup mengenal Rain.


Selama ini Rain tak pernah memiliki ketertarikan pada seorang wanita kecuali pada Mera. Dan Rain juga tak pernah melakukan hal konyol seperti ini. Taruhan? yang benar saja.


Verrel merasa curiga dengan niat dari sahabatnya itu. Dan jika saja gadis itu orang lain, Verrel tak akan peduli, tapi ini Seir, sahabatnya, cinta masa kecilnya, dan Verrel yakin perasaannya saat ini justru semakin besar pada Seir. Verrel tak bisa diam begitu saja.


"Festival itu. Kau ingat? kami membuat taruhan tentang siapa yang akan memenangkan kompetisi. Hanya itu. Dan tidak ada yang bisa membahayakan aku dengan hal seperti itu Verrel, jangan khawatir."


Apalagi Seir yakin, bahwa dirinya lah yang akan memenangkan taruhan mereka, bukan Rain.


"Baiklah jika kau tak ingin mengatakannya Ella. Aku percaya padamu. Apapun itu, ku mohon jangan rahasiakan apapun dariku." Verrel menatap Seir dengan kesungguhan.


"Kau tau bukan kalau aku sangat peduli padamu? meskipun mereka sahabatku, aku tak akan membiarkan mereka menyakiti mu. Terutama Rain. Kau harus berhati-hati saat berada di sekitarnya."


Bukan Rain yang Verrel khawatirkan, tapi Yukkie. Gadis itu cukup berbahaya dengan posisinya saat ini. Meskipun tak pernah di beri sanksi, tapi Verrel tahu jika Yukkie pernah melakukan tindak kekerasan pada salah satu junior yang dulunya juga menyukai Rain.


Gadis itu berbahaya saat sedang cemburu, apalagi sekarang Yukkie sudah mengklaim bahwa Rain adalah miliknya. Verrel tak ingin Seir terlibat dengan gadis seperti itu. Terlalu berbahaya.


"Aku tahu Verrel. Terimakasih karena mengkhawatirkan aku. Tapi aku baik-baik saja. Dan percayalah, aku juga tak ingin terlibat terlalu jauh dengan orang-orang seperti mereka."


Sejak awal Seir memang sudah memikirkan semuanya. Ia tak akan terlibat lebih jauh setelah kompetisi itu berakhir. Ia hanya perlu memenangkan taruhannya, dan meminta agar Rain menjauh dari hidupnya. Itu saja.


"Baiklah. Aku percaya padamu Ella."


...❄️...


Seir tak tahu jika kekhawatiran Verrel akan secepat ini terjadi pada dirinya. Baru saja Seir selesai membicarakan semuanya, dan sekarang sumber masalah lainnya sudah datang.

__ADS_1


"Aku ingin bicara padamu. Ikut aku." ujar Yukkie berbalik arah dan meminta Mikha untuk membawa Seir bersama dirinya.


Melihat Seir yang di bawa oleh kedua gadis itu, para mahasiswa lain mulai bergosip dan menyebarkan kabar tersebut kemana-mana.


Setibanya dilantai atas, Seir masih diam mengikuti kedua gadis itu. Meskipun Seir bisa sedikit menebak alasan ia di seret ketempat ini, tapi Seir juga tak punya alasan untuk menolak.


Apapun yang ingin gadis itu katakan, Seir akan coba mendengarkan. Mungkin saja sesuatu yang cukup mendesak.


"Apa yang mau dibicarakan?" Seir tak tahu mengapa ia harus di bawa ketemp. Ruang rekreasi yang sepertinya sudah cukup lama tidak digunakan. Dan tak ada seorangpun di sekitar mereka.


Tak mungkin gadis di depannya itu merencanakan sesuatu yang jahat bukan? meskipun sebenarnya Seir bisa menghadapi keduanya dengan mudah.


"Kau. Gadis yang entah dari mana asalmu.." Yukkie mendekat dan menatap tajam wajah Seir. "Sejak awal, aku sudah tak suka padamu." begitu pun aku. ujar Seir dalam hati. "Tolong jaga tingkah mu itu, dan jangan terlalu dekat dengan priaku."


Yukkie benar-benar terlihat marah saat bicara pada Seir. Ia sudah cukup lama memperhatikan bagaimana Rain yang selama ini selalu bersikap dingin padanya, justru selalu terlihat santai setiap kali berada di sekitar gadis yang ada di depannya itu.


Seir mengernyit. Ia merasa bingung sekaligus lucu. Seir baru saja diberi ancaman oleh sesama mahasiswi di kampus mereka. Gadis yang tidak lain adalah fans maniak dari Rain.


"Jangan bertingkah polos di depanku. Aku tahu semua yang terjadi. Sudah banyak saksi yang mengatakan padaku bagaimana gadis seperti mu menggoda Rain."


Bukankah itu sebuah tuduhan palsu? yang benar saja.


Seir mendengus lalu tersenyum sinis saat membalas tatapan Yukkie, "Kau sungguh konyol." Seir tahu jika gadis didepannya ini bukanlah kekasih Rain, melainkan gadis yang terobsesi untuk menjadi kekasih Rain. Ia sudah tahu ceritanya, tapi tak masalah.


Menghadapi gadis manja dan arogan bukanlah masalah. Seir bisa bertingkah lebih tak masuk akal jika dalam posisi terdesak seperti saat ini.


"Kau bilang apa?" Yukkie meninggikan suaranya..


"Kau benar-benar konyol. Kau pikir Rain akan berbalik dan suka padamu jika aku menjauh? kau kebanyakan menonton serial tv rupanya." Seir berdecak.


"Dan satu lagi, Rain tak semenarik itu untuk ku. Kau hanya buang-buang waktumu dengan mengancam ku seperti ini, nona arogan" bisik Seir.


"Kau ingin membuktikan perkataan ku?" gila. Rasanya Seir benar-benar sudah gila. Semua ini hanya akan semakin menyulitkan dirinya saja.


Tapi ia benar-benar kesal karena dituduh menggoda Rain, padahal sebaliknya, pria itulah yang selalu datang dan menempel seperti lintah.


Saat Seir berbalik arah dan ingin keluar dari ruangan tangannya langsung di tarik oleh Mikha lalu Seir di dorong hingga jatuh tersungkur dilantai. Tangannya juga tergores benda tajam dari pinggiran meja.


"Auw.."


Sialan. Tangan Seir terasa sakit karena terantuk dengan lantai yang dingin dan kotor.


"Berani sekali gadis seperti mu bicara seperti itu padaku. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?" Yukkie mengangkat wajah Seir dengan jarinya lalu tersenyum samar menyembunyikan semua kemarahannya selama ini.


Ia marah dan juga putus asa terhadap perlakuan Rain, tapi selama ini ia bisa bertahan.


Hanya saja melihat Rain yang menjadi lebih hangat pada gadis lain begitu membuat Yukkie terbakar, ia tak bisa menerima jika pria yang ditaksirnya justru tengah mendekati gadis seperti Seir.


Apa hebatnya gadis itu? hanya gadis biasa yang tak jelas asal usulnya, tapi mau merebut pujaan hatinya. Sialan.


"Saat ini juga, aku bisa membuat mu tak bisa datang lagi ke kampus ini. Jadi jangan bertingkah jal4ng. Menjauh lah sejauh-jauhnya dari Rain, jika tak mau hidupmu hancur!" Yukkie memberikan peringatan dengan keras.


"Gadis seperti mu.." Sialan. Seir benar-benar tak bisa menahan mulutnya untuk saat ini. "Pantas saja tak ada yang menyukaimu. Selain bodoh, kau juga sangat arogan." Seir tertawa sinis.

__ADS_1


Plak..


Suara tamparan keras menghantam pipi Seir..


"Gadis sialan. Brengs3k! Apa kau bilang?"


"Yukkie, apa yang kau lakukan?" Verrel menghadang Yukkie yang hendak menampar Seir untuk kedua Kalinya.


"Kalian sudah keterlaluan." Verrel mendorong Yukki agar menjauh dari Seir. Ia juga menatap marah pada Mikha yang saat ini sedang menolong Yukkie.


"Kau baik-baik saja Ella?" wajah cemas Verrel membuat Seir mengurungkan niatnya untuk membalas tamparan Yukkie.


"Hem. Aku baik-baik saja." Verrel menarik Seir hingga berdiri dan membersihkan tangan Seir yang kotor. Setelah selesai Verrel langsung berbalik dan menatap tajam pada kedua gadis yang sudah membully Seir.


"Pergilah Verrel, jangan ikut campur. Ini urusan kami. Aku harus memberi pelajaran pada gadis tak tahu diri ini." Teriak Yukkie yang masih marah dengan perkataan Seir sebelumnya.


"Cukup Yukkie. Kau benar-benar tak bisa di biarkan. Tunggu saja. Aku akan melaporkan kalian berdua." Peringat Verrel tegas.


"Lakukan saja kalau kau berani. Tak ada yang bisa menghalangi ku di kampus ini." Sahut Yukkie yang semakin kesal atas sikap Verrel pada dirinya.


Tak ingin meladeni kedua gadis yang telah menyakiti sahabatnya Varrel pun segera membawa Seir keluar dari ruangan pengap itu.


"Apa kau terluka Seir?" Verrel memeriksa wajah dan juga tangan Seir. Verrel juga memberikan kompres di wajah Seir.


Wajah Seir memang memerah, tapi tak terluka, begitu juga dengan kakinya, hanya tangannya yang terluka. Beruntunglah karena Seir jatuh dilantai yang kosong. Dan untung saja Verrel tiba tepat waktu.


"Terimakasih Verrel dan maaf karena membuat mu harus melihat semua kejadian itu." Seir tahu jika saat ini Verrel pasti merasa cemas pada dirinya.


Apalagi sebelumnya Verrel sudah memperingatkan Seir untuk tidak terlibat dengan Rain, dan sekarang ia menuai buah pertamanya..


"Seharusnya kau langsung mengirimi ku pesan jika mereka mengganggu mu seperti tadi..!" Verrel benar-benar merasa bersalah karena tak bisa menjaga Seir dengan baik. Terlebih lagi, Seir di ganggu dilingkungan yang seharusnya bisa ia tangani.


"Berikan tanganmu, lukanya harus dibersihkan. Kau benar-benar membuatku khawatir." Verrel mengambil kain basah dan membersihkan luka Seir.


"Aku tak akan memaafkan kedua wanita jahat itu." Verrel kembali bersuara. "Aku tidak apa-apa Rell, Jangan khawatir, luka ini tak seberapa." sahut Seir.


"Ada apa ini?" Rain sedikit terkejut karena melihat Seir ada diruang pribadi mereka bersama dengan Verrel. Dan bahkan keduanya terlihat sangat dekat.


Tanpa basa-basi, Verrel langsung menarik tangan Seir dan berhenti tepat di depan Rain. Ini adalah kali pertama bagi Verrel merasa begitu marah terhadap Rain.


"Seharusnya kau tahu kemungkinan apa saja yang bisa terjadi jika kau terlalu dekat dengan Ella. Kendalikan gadis-gadis gila itu, atau menjauh lah selamanya.." pinta Verrel disertai tatapan peringatan.


Setelahnya, keduanya menghilang dibalik pintu. Rain belum bisa mencerna apa yang di maksudkan oleh Verrel. Ia baru saja menyelesaikan jam pertamanya, dan Rain sendiri tidak tahu apa yang baru terjadi diantara mereka.


Tapi tiba-tiba saja Verrel memarahi dirinya dan memintanya untuk menjauhi Seir? Sialan.


"Hei.. Verrel, Seir, tunggu aku. Jelaskan dulu ada apa sebenarnya!"


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2