SPELL

SPELL
SPELL 30


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Berjalan seraya bergandengan tangan sambil memamerkan kemesraan seperti pasangan kekasih pada umumnya adalah keinginan hati Rain saat bersama Seir.


Tapi baru saja ia ingin menjalankan niat hatinya, Seir sudah lebih dulu memberikan tatapan peringatan pada Rain. Seir bahkan tak ingin mereka saling bersentuhan di depan umum.


Untuk sejenak, Rain lupa, bahwa Seir belum menjadi kekasihnya secara resmi. Dalam kata lain, hubungan mereka hanyalah sebatas dua orang yang saling mengenal. Itu saja, tidak lebih.


Hanya Rain lah yang menganggap Seir sebagai miliknya. Karena bagi Rain, sikap obsesif dan juga posesif yang ia miliki membuatnya tak bisa lengah sedikitpun akan keberadaan Seir.


Gadis itu bagaikan bunga dengan jutaan serbuk sari. Sedikit saja Rain mengalihkan perhatiannya, akan begitu banyak kumbang yang menghampiri, karena itulah Rain ingin segera melabeli Seir sebagai kekasih milik, Rain de Lune.


"Kau lihat, hanya berjalan di samping mu saja para gadis itu seperti ingin menelanku hidup-hidup." Seir bergidik ngeri.


Baru kali ini ia melihat tatapan sinis yang secara terang-terangan ditunjukkan pada dirinya, dan tentu saja semua ini bisa terjadi berkat seseorang..


Membayangkan begitu banyak gadis yang nanti akan menjadi musuhnya saat ia secara resmi sudah menjadi kekasih Rain bukanlah sebuah gagasan yang patut untuk dibanggakan. Justru Seir harus lebih berhati-hati.


"Mungkin bagi mereka kau seperti camilan yang menggiurkan, karena itulah mereka ingin memakan mu." Goda Rain.


"Bisa-bisanya kau bercanda di situasi saat ini Rain, kau benar-benar gila." Seir terdengar sinis saat mengikuti cara berpikir Rain yang menganggap semua orang ditempat itu bukan apa-apa bagi dirinya.


"Tenang saja. Aku akan menjadi pelindungmu." Rain tak akan membiarkan Seir diganggu siapapun, terkecuali saat itu. Rain benar-benar tak tau jika Yukkie akan menyakiti Seir.


Mendengar janji manis bagaikan racun yang bisa membunuh secara perlahan, Seir hanya menunjukkan senyum samar nya, "Kita lihat saja nanti.."


"Ell..?" Dari kejauhan Seir bisa melihat Verrel yang melambaikan tangan sambil tersenyum pada dirinya. Pria itu juga berlari kecil saat menghampiri Seir dan Rain. Benar-benar kekanak-kanakan. "Ella, kamu kemana saja. Aku cemas mencarimu sejak tadi."


Sorot mata Rain langsung nampak kesal saat melihat Verrel yang begitu dekat dengan Seir, "Kau tidak harus memegang tangannya seperti itu." Rain menepis tangan Varrel dan menatap kesal pada sahabatnya itu.


"Kenapa apa yang aku lakukan harus menjadi urusanmu?" Sahut Varrel yang tak terima dengan perlakuan Rain pada dirinya. Siapa laki-laki itu yang mulai mengusik hubungan diantara dirinya dan Seir.


"Tentu saja itu menjadi urusan ku." tantang Rain yang benar-benar tak suka dengan perlakuan Verrel yang bersikap terlalu dekat dengan Seir.


"Apa..? Cih." Verrel tersenyum meremehkan perkataan Rain.

__ADS_1


Nah lihat kan, kedua pria itu benar-benar tidak bisa akur jika Seir ada ditengah-tengah mereka. Tak ingin ambil pusing, Seir memilih untuk mengambil jalan ninja, yaitu melarikan diri.


Seir tak ingin menjadi pusat perhatian dengan berada ditengah-tengah pertengkaran keduanya.


"Maaf, tapi aku masih ada kelas." ujar Seir siap-siap berbalik pergi.


"Ell, aku mencari mu tadi tapi kau tidak ada di sana." Verrel masih menahan tangan Seir.


Rain berpindah ke sebelah Seir lalu merangkul pundak Seir dengan mesra, "Tentu saja, karena dia di kelas bersama ku." Rain menunjukkan senyum khasnya. Senyum si pria arogan.


Mendengar dan melihat tingkah Rain, membuat Verrel benar-benar merasa muak. Baru kali ini Verrel memiliki perasaan tak suka pada Rain, karena laki-laki yang adalah sahabatnya itu secara terang-terangan ingin merebut miliknya.


Verrel tak akan bisa mengendalikan dirinya jika Rain terus berbuat seenaknya seperti ini. Verrel menghela nafas lalu menatap kesal pada Rain.


"Tolong kendalikan dirimu Rain. Jangan lupa, kau punya seorang kekasih yang kau cintai bukan? Jangan ganggu Ella." kecam Verrel yang menepis tangan Rain lalu menarik Seir dan membawa gadis itu pergi menjauh.


Ditempat itu, Rain hanya bisa membeku. Ia tak bisa membalas perkataan Verrel karena hal itu memang benar adanya.


Rain masih memiliki perasaan pada seseorang.. dan ia tak bisa menyangkal hal itu.


"Ayo Ell." Seir yang saat itu masih belum mengerti maksud dari perkataan Verrel hanya bisa mengikuti kemana Verrel akan membawa dirinya.


Melihat Rain yang bergeming, menyadarkan Seir bahwa perkataan sahabatnya itu bukanlah sebuah bualan, melainkan sebuah kenyataan.


"Verrel, apa maksud perkataan mu tadi? kenapa kau bicara seperti itu pada Rain?" tanya Seir.


Meskipun otaknya bisa memahami dengan jelas, Seir hanya ingin memastikan semuanya pada Verrel. Apakah semua perkataan Verrel tadi benar adanya, ataukah hanya sebatas karena emosi sesaat.


"Aku mengatakan yang sebenarnya Ell. Kau juga akan tau nanti. Karena itu, aku mohon padamu untuk menjauhi Rain. Kedekatan kalian akan berdampak buruk bagi mu. Dan aku takut hal yang sama akan terulang lagi. Aku sungguh tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."


Verrel sungguh-sungguh mengkhawatirkan Seir. Ia tak ingin Seir dipermainkan oleh Rain. Meskipun Verrel tahu Rain bukanlah orang seperti itu, tapi segala kemungkinan bisa saja terjadi bukan?


Dan sebelum itu menjadi sebuah bencana, Verrel lebih baik menjauhkan Seir dari Rain tak peduli bagaimanapun caranya.


"Jangan lupa kalau kau juga salah satu yang seperti Rain, Verrel." celetuk Seir saat keduanya tiba di depan kelas mata kuliah yang akan Seir ikuti selanjutnya.


"Apa maksud mu Ell?" Verrel bukan Rain, dan tentu saja keberadaannya tak akan membahayakan Seir seperti yang Rain lakukan.


"Kau juga populer. Kau pikir semua pasang mata yang menatap marah padaku saat ini hanya karena Rain? Sebagian besar juga karena dirimu." Seir harus mengatakan kebenaran itu kalau-kalau Verrel lupa siapa dirinya di kampus mereka.

__ADS_1


Popularitas seringkali memanglah sangat membahayakan. Meskipun kebanyakan semua itu terjadi karena pihak ketiga..


"Kau bercanda Ella. Aku tidak.."


"Lihatlah dengan jelas Rell.. " Seir tersenyum pada pada sahabatnya membuat Verrel juga melayang tatapannya pada semua mahasiswi yang saat ini menatap penasaran dengan kedekatan mereka.


Ah, Seir juga lupa mengatakan pada Verrel, bahwa fans terberat Verrel adalah Febby, salah satu teman mereka sendiri. Yang entah bagaimana, gadis itu benar-benar sangat ahli dalam berakting.


Mengingat hal itu benar-benar membuat Seir bergidik ngeri. Bahkan teman dekat mereka sekalipun berpotensi menjadi musuh Seir. Dan semua itu karena para lelaki yang hadir dalam hidup Seir.


"Aku akan masuk ke kelasku. Sampai nanti."


...❄️...


Sejak pulang dari kampus, Seir terus mengurung diri di dalam kamar. Karena itu jugalah saat ini Verrel memberanikan diri untuk berdiri di depan pintu dan mengetuk pintu kamar Seir.


"Seir, ini aku. Apa kau tidur?" suara Verrel terdengar jelas dari balik pintu. Seir yang saat itu hanya memainkan ponselnya langsung bergegas membukakan pintu.


"Verrel, ada apa?" tanya Seir yang sedikit kebingungan, karena biasanya Verrel tak akan datang ke kamarnya seperti ini.


"Aku mau mengajak mu pergi, itupun kalau kau tidak keberatan. Dan, aku juga ingin minta maaf atas sikapku tadi pagi." ujar Verrel merasa tak enak hati karena bertindak seolah ingin mengontrol kehidupan pribadi Seir.


"Ella, aku.."


"Mau mengajak ku kemana?" sela Seir yang tak ingin membahas topik sebelumnya.


Mendengar Seir yang sedikit tertarik memunculkan senyuman kecil di wajah Verrel. "Salah satu kenalan ku mengadakan pesta di taman kecil miliknya. Pestanya hanya untuk kalangan tersendiri saja. Tidak akan banyak orang di sana. Bagaimana, kau mau ikut denganku?"


Pesta. Adalah sesuatu yang paling di hindari Seir. Jika bisa ia ingin melarikan diri dari setiap kegiatan yang bernama pesta.. terlalu melelahkan.


"Kapan?"


"Besok sore. Bagaimana?"


"Hemm baiklah, aku ikut."


"Yes. Kalau begitu aku akan menyiapkan hadiah."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2